HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 22


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH (22)


POV Aslan


Setelah meninggalkan rumah Ayah, aku tidak langsung kembali ke Pesantren dan aku pun sudah memberitahu Abah mengenai hal itu, juga tentang ke khawatiranku soal Namira.


"Sebaiknya aku ke restoran dulu." Mobil aku lajukan langsung menuju restoran.


Selama di perjalanan aku menyempatkan diri menelpon Namira, padahal diriku baru saja pergi, entah kenapa sudah rindu, sekaligus khawatir.


Aku pasang earmod di lubang telinga agar tidak mengganggu karna saat ini aku sedang mengendarai mobil.


"Wa'alaikumsalam sayangnya Abang," aku menjawab ucapan salam perempuan di sebrang sana.


"Oh.. lagi ngobrol sama Ayah, tapi kamu baik-baik sajakan sayang?" tanyaku sedikit cemas.


"Alhamdulillah, janga lupa minum susu dan vitaminnya hm," pesanku setelah di beritahu jika dirinya baik-baik saja.


"Assalamualaikum," pamitku mengakhiri panggilan telpon.


Bukan tanpa sebab aku bersikap seperti itu, tadi sebelum bener-benar meninggalkan rumah, aku melihat ada laki-laki yang berdiri seperti sedang memperhatikan aku dan Namira.


Dari tempatnya berdiri, sepertinya dia sengaja tidak ingin terlihat, entah apa niatnya?.


"Apa laki-laki itu ...?" Aku jadi kepikiran dengan laki-laki dari masa lalu istriku.


"Ya Allah lindungi istri dan calon anak kami dari siapapun yang ingin berniat jahat," pintaku dalam doa memohon perlindungan.


Setelah menempuh perjalan yang tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya aku sampai di restoran milikku.


Restoran arabian style, itulah konsep restoranku. karna memang menu spesial yang ada di restoran ini adalah nasi kebuli, aku sengaja membuat restoran bergaya arabian style, karna aku sangat suka dengan makanan khas negara Arab, yaitu nasi kebuli.


Sebetulnya tidak hanya nasi kebuli yang menjadi andalan dari restoran kami, ada juga shawarma, adalah makanan yang dibuat dari daging ayam, kambing atau domba diiris tipis lalu direndam di tusuk berbentuk kerucut, lalu terakhir dipanggang diatas panggangan, dan masih banyak lagi makanan Arab lainnya.


"Assalamualaikum, Gus," salam satu karyawan menghampiri.


Satu orang pegawai yang menjadi tangan kananku langsung menyambut ketika melihat ke datanganku sejak masih berada di luar.


"Wa'alaikumsalam, bagaiman restoran? lancar?" tanyaku saat sudah masuk menanyakan keadaan restoran ini.


Laki-laki yang baru berumur 21 tahun itu mempersilahkan aku untuk ke ruangan khusus staf. Di restoran ini aku memang tidak menyediakan ruang khusus, alasannya karena aku jarang berada di restoran. Aku pun ingin orang yang menjadi tangan kananku menempati satu ruangan bersama pegawai yang lain tujuannya agar lebih mudah mengawasi.


"Gus, coba anda lihat ini?" tunjuk Rido ke monitor cctv, setelah kami duduk.


Di sana menunjukkan laki-laki yang hampir sama usianya denganku, laki-laki dengan stelan jas bermarna maron terlihat sibuk menanyakan sesuatu pada salah satu pegawaiku.


"Siapa dia?" tanyaku pada Rido.


"Saya juga tidak tau Gus, awalnya saya pikir dia hanya pelanggan biasa, tapi ketika pegawai kita memberitahu saya, jika ada yang menanyainya tentang Gus, saya jadi curiga. Masalahnya pertanyaannya tidak biasa Gus," jawab Rido menjelaskan.


"Memang apa yang dia tanyakan?" tanyaku kembali, aku jadi penasaran.


"Dia menanyakan tentang Gus dan juga istri, kalian tinggal di mana di Jakarta, usaha Gus apa saja, dan masih banyak lagi."timpal Rido.


"Apa tujuannya orang itu menanyakan tentang saya dan juga Namira?!" geramku sambil menggebrak meja.


Tentu saja Rido yang mendengar hanya menggelengkan kepala.


"Sudah berapa kali orang itu datang?" tanyaku dan tatapanku kembali pada layar monitor.


"Kalau tidak salah dua kali Gus." terang Rido.


'Apa orang ini ada hubungannya dengan laki-laki yang tadi aku lihat di rumah?' kataku dalam hati.


Aku meninggalkan restoran setelah semua urusan selesai. Pikiranku terus saja tentang dua laki-laki itu, aku semakin takut dan khawatir jika benar di antara keduanya adalah masa lalu istriku.


"Aku harus kembali ke rumah ayah! tidak mungkin juga aku meninggalkan istriku, apa lagi setelah mengetahui jika ada orang yang memata-matai kami," ucapku ketika sudah masuk ke mobil.


Langsung saja kulajukan mobil hitam ini kembali ke rumah ayah, di mana saat ini istri dan calon anakku berada.


.


"Assalamualaikum," salamku beberapa kali sambil mengetuk pintu,


Tok ..


Tok ..


Tok....!


"Pada ke mana yah?" Monologku.

__ADS_1


Aku jadi cemas dan teringat kembali pada laki-laki yang kulihat tadi pagi.


"Jangan-jangan!" ujarku dengan pikiran mulai kemana-mana.


"Sayangg! bi... bibi! aku berteriak-teriak memanggil.


Tiba-tiba terdengar suara dari samping rumah, "Abangg!" teriak suara itu, aku berlari saking khawatir.


"Assalamualaikum Abang." Namira memberi salam, dan sedikit terkejut.


Napasku tersengal, bukan .. bukan karna berlari, melainkan lelah karna perasaan khawatir yang tadi membuat jantungku berdegup kencang.


"Abang kenapa kok keringatan gitu? Terus kenapa Abang pulang lagi? Apa ada yang tertinggal?" pertanyaan beruntun keluar dari bibir wanitaku.


Namira berjalan ke meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri untuk mengambilkanku minum, saat ini Namira dan bibi sedang berada di taman belakang.


"Nih bang!" Namira menyodorkan segelas air padaku.


Aku mengambil gelas dari tangan Namira dan meminumnya sampai tandas.


Kuambil tangan Namira dan menuntunnya ke kursi taman lalu mengajaknya duduk. Raut wajah dia masih terlihat bingung, mungkin karna melihatku yang kembali tiba-tiba.


"Kamu baik-baik aja kan sayang?" tanyaku sambil satu tanganku mengelus perutnya.


"Iya Bang, aku baik-baik aja," sahut Namira sambil tangannya menggenggam tanganku.


"Abang enggak jadi pulang ke pesantren, abang juga sudah izin sama Abah," kataku menjelaskan.


Wajah Namira masih menyiratkan pertanyaan.


"Begini sayang! Selama ini kan Abang belum kasih tau kamu soal pekerjaan Abang," ucapku.


"Alhamdulillah, Abang punya beberapa usaha restoran dan cafe di Jakarta, dan saat ini semuanya sedang butuh perhatian Abang," beberku.


'Maaf ya sayang, Abang belum bisa terus terang sama kamu alasan Abang yang sebenarnya, kenapa Abang enggak jadi kembali ke pesantren,' ucapku dalam hati.


Bau ayam bakar yang sedang di panggang oleh Bibi menguar memasuki semua rongga hidung.


"Bi! Kenapa enggak beli aja ayam bakarnya?" tanyaku pada Bibi yang sedang mengucek mata, pasti karna asap.


"Aku yang kepengen ayam bakar, tapi harus buat sendiri," sahut Namira sambil menundukkan kepala.


"Sayang, coba kamu liat asapnya! Kan tidak baik buat kamu apa lagi buat si utun, kasihankan," kataku menjelaskan pada dirinya.


Namira mengangguk, dan akupun langsung bangkit membantunya berdiri dan membawa Namira meninggalkan taman, masuk ke dalam rumah.


Setelah sampai di dalam aku langsung masuk ke dalam kamar untuk menaruh tas berisi pakaian. Sementara Namira, aku langsung menyuruhnya melihat ke adaan ayah mertua.


"Gimana keadaan Ayah?" tanyaku setelah berada di dalam kamar Ayah mertua.


"Aku sedih Bang, lihat wajah Ayah, bertambah pucat," tutur Namira.


"Apa kita paksa aja Ayah ke Rumah Sakit?" lontarku.


Kami berdua diam saat melihat pergerakan Ayah. Matanya perlahan terbuka, tatapan sayupnya menatap ke arah aku dan Namira.


Lantas Namira menggenggam tangan pucat itu, di ciumnya berkali-kali, dan air mata dia sudah membasahi cadar yang masih melekat di wajah itu.


Aku menggeser posisi berdiriku ke belakang Namira yang saat ini duduk di kursi yang hanya muat satu orang. Kubuka tali cadar yang terikat di belakang kepala dia, dan sekarang terlihat wajah cantiknya yang sudah sembab dan bengkak di bagian mata.


Kuusap lembuat punggung Namira demi menyalurkan kekuatan dan mengecup atas kepalanya dari belakang.


"Sayang ... sudah ya, jangan nangis terus," ucap Ayah dengan suara lemahnya.


"Sekarang Ayah sudah tenang... meninggalkan anak Ayah satu-satunya... jika sekarang Allah mengambil nyawa Ayah pun ... ayah iklas." Suara Ayah semakin lemah.


Tangis Namira semakin kencang, aku terus berusaha menenangkan istriku.


"Abang telpon Dokter!" kataku sambil mengambil benda pipih di kantong celana.


Belum sempat kutekan no seorang Dokter yang menangani Ayah mertuaku, Ayah langsung melarangku.


"Tidak usah... Nak," ucap ayah.


"Ayah titip Namira... jaga dan lindungi selalu putri Ayah...." lanjut Ayah.


Napas Ayah mulai terlihat sesak, Ayah selalu mendongakan kepalanya setiap ingin menarik napas.


"Ayah ... Ayah!" panggil Namira sambil menggoyang goyangkan tangan ayahnya.


Aku bangunkan Namira dari duduknya, dan membimbingnya ke kursi yang lain.

__ADS_1


"Sayang, kamu duduk sini dulu yah." pintaku sambil membantu Namira menduduki kursi plastik.


"Assalamualaikum, Gus," salam Bibi dengan wajah panik, setelah mendengar suara Namira tadi.


Bibi langsung melangkah masuk dan berjalan menghampiri Namira yang saat ini masih menangis.


"Wa'alaikumsalam," jawabku, lalu menyuruh Bibi untuk menemani Namira.


Aku pun kembali mendekat pada Ayah, duduk di bagian pinggir tempat tidur. Mata Ayah terpejam, kuambil tangan pucat itu dan memegang pergelangan tangan Ayah untuk memeriksa denyut nadinya.


Baru saja aku memegang tangannya, mata Ayah kembali terbuka, menampakan senyum, di mana dapat kulihat jika Ayah sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.


"Bim-bing A-ayah...." ucap Ayah terbata.


Aku mengangguk, sebagai tanda mengiyakan ucapan Ayah, dan Namira terlihat berdiri di bantu oleh Bibi, berjalan menghampiri ke tempat di mana Ayahnya terbaring.


Namira kembali menduduki kursi yang tadi, tangis nya tambah menjadi-jadi, sedangkan aku membimbing Ayah untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.


Walau dengan suara terbata-bata, tapi Ayah dapat mengucapkan Syahadat sampai akhir, di mana Ayah juga menghembuskan napas terakhirnya.


"Innalillahi wa inna ilaihi roziun." ucap kami bersamaan.


"Ayah... Ayah...." Panggil Namira sambil terisak.


Aku memeluk istriku dan membiarkan untuk menangis dulu sebelum Ayah menggunakan pakaian terakhirnya.


Namira memeluk pinggangku erat, dan sebelah tanganku memegang telpon untuk menghubungi Abah dan Umi.


"Assalamualaikum Bah," ucapku memberi salam pada Abah, tapi ternyata Umi yang mengangkat telponnya.


"Ayah meninggal Umi, tolong sampaikàn ke Abah," kataku, setelah Umi membalas salam.


Setelah itu panggilan aku akhiri, dan aku menoleh ke arah Bibi , memberinya kode agar mendekat,


"Bi, tolong bawa Namira ke kamar! Aku mau telpon Pak Ustadz dulu, mau kasih kabar." kataku, sambil membantu Namira berdiri.


Bibi mengajak Namira ke luar kamar sedangkan aku kembali melanjutkan melakukan panggilan kepada Pak Ustad agar beliau datang ke rumah untuk membantu proses pemakaman.


Tidak membutuhkan waktu yang lama Pak Ustadz dan para tetangga datang, bendera kuning pun sudah terpasang di pagar. Pak Ustadz pun segera melakukan proses pengurusan jenazah, aku dan Namira sepakat untuk menyegerakan proses pemakaman ayah sedangkan Umi dan Abah masih dalam perjalanan menuju Jakarta membutuhkan kurang lebih sekitar dua atau tiga jam, mereka baru bisa sampai ke rumah.


Keadaan Namira pun sudah jauh lebih baik, Namira sudah bisa mengiklaskan, dia sadar jika Allah lebih menyayangi Ayah.


Setelah semua proses pemandian dan mengkafani selesai waktunya proses pemakaman,


"Sudah waktunya Gus!" ucap pak Ustadz memberitahu.


"Baik Pak Ustadz, saya izin sebentar mau memberitahukan istri saya," aku pamit, lalu meninggalkan Pak Ustadz, berjalan menuju kamar.


Karna tadi kondisi Namira lemas setelah menemui para pelayat, jadi aku menyuruhnya untuk beristirahat di kamar.


"Sayang ayo! Temui Ayah untuk yang terakhir kalinya, kata Pak Ustad proses pemakaman akan segera dilakukan."


Namira pun langsung bangkit dari tempat tidur, aku pun membantunya berdiri dan membantunya berjalan dengan memegang bahunya karena kondisinya yang masih lemas. Namira kembali bersimpuh di depan jenazah Ayah yang sudah dikafani, dia kembali menangis. Aku mengusap punggungnya untuk memberikan kekuatan agar iklas melepas kepergian Ayah,


"Sudah ya sayang, kamu taukan jika air mata kita itu justru tidak baik untuk almarhum, justru air mata kita akan menjadi beban dan memberatkan almarhum. Jika pun kita ingin menangis jangan dilakukan di depan jenazah, kamu tau kan sayang, air mata kita artinya apa untuk jenazah?" bisikku di telinganya.


Namira pun langsung diam dan mengangguk aku pun kembali membantunya berdiri dan memberikan kode kepada Pak Ustadz jika pemakaman bisa segera dilakukan. Pak Ustad dan beberapa orang termasuk aku membantu untuk membaringkan jenazah di dalam keranda setelahnya aku dan yang lain membawa keranda itu menuju mobil ambulans yang sudah berada di halaman depan. Sedangkan Namira hanya mengantarkan jenazah Ayah sampai pada mobil ambulans saja karena memang perempuan dilarang untuk mengikuti proses pemakaman.


" Sayang, Abang antar Ayah dulu ya ke pemakaman. Kamu tunggu di rumah aja sama Bibi, mungkin sebentar lagi Umi sama abah sampai," ucapku, sambil menyodorkan tangan pada Namira.


"Iya Bang," sahut dia sambil meraih tanganku dan menciumnya.


Di rumah, Namira tidak hanya berdua dengan Bibi tapi masih ada beberapa tetangga yang menemani dia di rumah, sedangkan saudara Namira sudah tidak lagi memilikinya.


Aku pun langsung mengendarai mobil menuju TPU, tempat peristirahatan Ayah yang terakhir. Proses pemakaman pun langsung dilaksanakan dengan hikmah. setelah selesai doa para pelayat pun meninggalkan tempat pemakaman, sedangkan aku masih berdiam diri duduk di sisi pemakaman Ayah.


"Ayah, aku janji akan selalu menjaga Namira beserta anaknya. Ayah yang tenang di sana," kataku sambil mengusap papan nisan yang bertuliskan nama Hilman.


Kurang lebih 30 menit aku berada di pusaran Ayah, aku pun memutuskan untuk segera pulang aku berjalan meninggalkan areal pemakaman menuju parkiran mobil. tetapi sebelum aku sampai di parkiran mobil ekor mataku menangkap seseorang yang sepertinya pernah kulihat tadi pagi di depan rumah mertuaku.


"Aku yakin jika orang itu adalah laki-laki yang sama yang pernah kulihat tadi pagi di rumah Namira, lalu untuk apa dia datang ke pemakaman ini?" gumamku.


Aku kembali berjalan, setelah sampai di parkiran aku segera masuk ke mobil dan melajukan kendaraanku menuju ke rumah. tidak membutuhkan waktu lama mobil sudah kuparkirkan di halaman. benar seperti dugaanku jika Umi dan Abah sudah sampai di rumah.


"Assalamualaikum," ucapku memberi salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka bersamaan.


Aku pun kembali melangkahkan kaki ke dalam setelah menyalami para tetangga dan juga Abah yang sedang mengobrol di luar.


aku melihat Umi sedang menemani Namira di dalam kamar aku pun menghampiri keduanya dan menyalami tangan Umi begitupun dengan Namira yang menyalami tanganku.

__ADS_1


Setelah melihat laki-laki itu untuk yang kedua kalinya hari ini pikiranku kembali was-was.


"Apa benar itu dia? Laki-laki dari masa lalu istriku," batinku


__ADS_2