HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 17


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH (17)


Tidak terasa usia kehamilan Namira sudah memasuki delapan minggu, yang tidak Namira sangka adalah sikap Farah dan Karim, mereka kembali menerimanya dan juga anak dalam kandungan yang bukanlah cucu mereka. Sampai saat ini baik Namira ataupun Aslan tidak mengetahui jika Farah dan Karim sudah sejak lama tau ke adaan Namira yang pernah menjadi korban pelecehan, sebelum mereka memberitahukan ke duanya.


Sungguh Allah maha Rohman ya Rohim, tidak pernah mulut Namira berhenti bersyukur, terutama Aslan, dia adalah sosok suami yang sangat melindungin dan mencintai istri serta anak dalam kandungan yang bukanlah darah dagingnya.


"Assalamualaikum anaknya Abi," ucap Aslan mengelus perut Namira yang sudah terlihat sedikit menonjol.


Seketika senyuman terbit di bibir Namira, wajah yang saat ini tidak memakai cadar mengerluarkan aura kecantikan yang kata aslah masya Allah pake banget.


"Wa'alaikumsalam abi," jawab Namira menirukan suara anak kecil.


Aslan tertawa karna merasa jika suara Namira sangat lucu dan menggemaskan.


Setelah menyapa sang jabang bayi, kini Aslan ber alih pada wanita yang tengah berdiri sambil melihat bunga mawar yang baru merekah sempurn yang ada di taman kamar mereka.


Aslan tidak lagi berpisah kamar, kini mereka telah tidur sekamar, askan khawatir jika malam hari istrinya membutuhkan sesuatu. Aslan juga tidak mau terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya.


"Mau jalan-jalan ke luar, hari ini semua santri panen sayur dan ikan?" Aslan bertanya sambil menatap lembut wajah istri cantiknya.


Namira membalas senyum dan anggukan, melihat itu askan langsung memegang tanganan bahu Namira untuk membantunya berjalan, karna di lemeriksaan terakhir Dokter mengatakan jika kandungan Namira dalam kondisi lemah.


Aslan membantu Namira memakai cadar, dan membukakan pintu. Tapi ketika sampai di ujung tanga, aslan berhenti dan melihat ke bawah seolah sedang menghitung berapa banyak susunan anak tangga.


"Kenapa Bang?" Tanya Namira yang kerenanan melihat sikap suaminya.


"Kamu diam ya sayang." Setelah mengatakan itu Aslan mengangkat tubuh istrinya ala bridal style.


Namira kaget dengan apa yang di lakukan Aslan, dia langsung memeluk leher suaminya dengan erat takut jatuh.


Namira sudah tidak lagi merasa risih dengan sentuhan yang di berikan suaminya, yang dia lakukan sekarang bersyukur dan menjalani sebaik-baiknya pernikahannya bersama aslan.


Setelah sampai di bawah tangga, Aslan menurun kan wanitanya dengan amat sangat hati-hati. "Makasih Abang," ucap Namira sambil memegangi perutnya.


"Eh kenapa? Sakit ya?" Aslan nampak cemas, tangannya terulur mengelus perut itu.


"Engak pa-pa bang, cuma agak enggak enak dikit," ucapnya ujung kedua jari jempol dan telunjung beradu.


Pasangan yang kini sudah saling mencintai itu berjalan beriringan sambil bergandeng tangan menuju kebun belakang, tidak ada siapa pun kecuali mereka berdua. Karna semua penghuni rumah sedang ikut panen dengan para santri.


Benar saja baru saja melangkah ke luar pintu belakang sudah bisa melihat kesibukan para santri putri memetik dan mencabut sayur yang sudah siap panen.


"Eh kamu mau ke mana hmm?" Aslan menarik pelan lengan Namira.


Namira memutar wajahnya, dan melihat suaminya yang tengah menatapnya dengan mata sedikit memicing.


"Abang! Aku cuma mau ke sana loh! Mau ikut bantuin mereka," rajuk Namira sedikit merengek, karna dia tau aslan tidak akan mengijinkannya.


Benar saja, jari telunjuk Aslan terangkat dan di gerak-gerakan di depan wajah Namira.


"Enggak sayang," jawab Aslan tegas.


"Kita di sini aja, duduk sambil liatin mereka! kamu ingatkan apa kata Dokter hmm?" Aslan kembali mengingatkan ucapan Dokter tempo hari.


"Kamu enggak boleh kecapean cantik, liat tuh ada Umi," tunjuk Aslan ke arah farah yang kini tengah sibuk memanen sawi yang di tanam secara hidroponik.


Memang sudah sejak beberapa bulan para santri mengembangkan cara betanam mereka dengan cara hidroponik, dan hasilnya sangat memuaskan mereka dan membantu meningkatkan daya jual karna di tanam secara organik.

__ADS_1


Namira mengelus perutnya, menunjukan wajah cemberut. walaupun wajahnya tidak terlihat tetapi Aslan dapat mengetahuinya dari sorot mata istrinya.


Baru selang hitungan menit kini manik mata itu berubah, yang awalnya menunjukan kekesalan sekarang berubah menjadi sendu, terlihat embun di dalamnya hanya tinggal menunggu waktu untuk tumpah.


Aslan yang tidak ingin melihat pujaan hatinya bersedih dan dia teringat ucapan Dokter 'wanita hamil mood ya seperti loler koster,naik turun.


Aslan menarik nafas dalam, dan mengembuskannya sangat panjang,


"Tenang Aslan, sabar masih ada tujuh bulan lagi," gumam Aslan mencoba menyemangati dirinya sendiri.


"Ayo sayangnya Abang kita ke sana!" ajak Aslan merangkul Namira dan berjalan pelan menyesuaikan langkah istrinya yang memang sangat pelan.


"Loh kok ke sini menantu kesayangannya Umi?" tanya Farah saat melihat ke datangan anak dan menantunya.


"Namira yang maksa Umi, tadi aslan sudah bilang duduk di sana aja." jawab Aslan sambil nunjuk ke tempat mereka sebelumnya.


Yang namanya di sebut hanya senyum-senyum terlihat dari matanya yang menyipit.


Farah geleng-geleng kepala sambil tersenyum, dan hanya memperlihat kan kedua matanya yang sedikit mengecil. sejak hamil namira sedikit keras kepala. Sebagai wanita yang juga pernah hamil Farah sangat faha dengan sikap menantu kesayangannya itu.


"Ya sudah sini deket Umi kalau memang mau bantu-bantu panen!" Farah melambaikan tangannya agar anak dan juga menantunya mendekat.


"Sudah kamu sana, bantu Ustadz Fatih panen ikan?" Farah mengusir anaknya yang seperti tidak pernah mau jauh-jauh dari istrinya.


"Enggak bisa Umi, nanti Namira siapa yang jagain, kalau aku ke sana?" jawab Aslan beralasan.


Namira tertawa tanpa suara melihat tingkah konyol suaminya, apa suaminya ini tidak melihat jika di sekitarnya banyak orang, yang bisa menjaga dan membantunya, apa lagi saat ini juga ada Farah.


"Kamu sepelehin Umi he?" Farah berkacak pinggang pura-pura marah.


Aslan cuma bisa cengengesan, sementar semua santriwati yang melihat tingkah konyol gus mereka, langsung tertawa. mereka tidak menyangka jika ternyat Gus mereka sangat bucin pada istrinya.


"Gus Aslan, mau nyari istri ke dua enggak yah?" ucap satu santriwati pada teman di samping nya yang tentu saja tidak dapat di dengar oleh yang lain.


Aslan terpaksa menuruti peritah Farah, langkah nya sengaja di pelankan berharap jika Farah berubah fikiran dan kembali memanggilnya. tetapi harapan tinggal harapan, karna sudah belasan langkah tidak juga terdengar suara memanggil namanya, laki-laki dengan balutan celana kain itu akhirnya menuruti kata hatinya, dia berbalik melihat ke belakang di mana sekarang umi dan istrinya sudah sibuk memanen sayuran.


"Isss ...! Kirain bakal manggil, eh.." Aslan bermonolog kesal, dan wajahnya berubah masam.


Kakinya kembali melangkah, baru saja mulai beberapa langkah tiba-tiba terdengar suara farah memanggil, seketika senyum laki-laki itu tercetak di wajahnya, " akhirnya." ucap Aslan senang.


Tanpa membuang waktu aslan berbalik dan melangkah. tetapi baru saja satu langkah terdengar lagi suara Farah,


"Nanti ambilin ikan gabus ya! Nih! Istri kamu kepengen makan sayur gabus pucung! Ngidam kata dia," teriak Umi.


Duarrr...


Seketika Aslan seperti di hempaskan, ada yang sakit tapi bukan di badan, harapannya pupus untuk bisa berdekatan dengan istri cantiknya yang sangat di cintainya.


Aslan langsung memutar haluan mempercepat langkahnya, saat ini wajahnya pasti sudah memerah, dan terdengar suara tawa farah menggema di udara.


Hahahahaha ....!


Seperti itulah kiranya tawa dari perempuan tua yang menjadi cinta pertama dirinya.


"Memang benar jangan pernah berharap pada manusia, berharap lah hanya kepada Allah," batin Aslan.


**

__ADS_1


Duhh Aslan yang udah bucin berat, mudah-mudahan gak ada badai yang mengusik kebahagian Namira dan Aslan.


Tapi sayang sekali, tanpa Aslan ketahui badai itu bersiap datang untung menghantam keutuhan rumah tangganya bersama wanita yang sangat dia cintai.


Aslan melanjutkan langkahnya menuju empang tempat di mana Ustadz Fatih sedang panen ikan.


"Di sana ada gak yah ikan gabusnya?" tanya Aslan, yang sangat berharap dia bisa mendapatkan ikan yang diinginkan oleh istrinya.


Tidak butuh waktu lama Aslan telah sampai di empang, dan terlihat Fatih dan para santri putra tengah sibuk mengambil ikan, dengan menebar jaring di empang.


"Assalamualaikum, Ustadz!" ucap Aslan dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Yang dipanggil pun menoleh, "Wa'alaikumsalam, Gus!.


Aslan mendekati Fatih yang saat ini mengenakan celana selutut, karna tidak mungkin baginya turun ke air menggunakan celana panjang apa lagi kain sarung.


"Banyak Ustadz ikannya?" tanya Aslan, sambil matanya melihat ke arah ember besar yang ada di depan.


"Alhamdulillah, panen kali ini lebih banyak Gus. " jawab Fatih, sambil memperlihatkan hasil tangkapannya.


"Mm ... Ustadz! Apa ada ikan gabusnya?


"Gus, mau ikan gabus?"


"Iya, istri saya katanya ngidam ikan gabus."


"Kalau sekarang sih belum dapat, Gus!"


"Duh ... giman nih!"


"Gus! Gimana kalau kita nyemplung aja ke empang, kita go-go (mencari ikan dengan menggunakan tangan di dalam lumpur empang )," tawar Fatih.


"Boleh juga Ustadz, ayo!"


Ke duanya berjalan mendekati sisi empang yang lain, lalu menceburkan diri. Aslan sangat antusias mencari ikan yang sangat di inginkan oleh istrinya.


Baginya dapat memenuhi ngidam Namira membuatnya menjadi seorang laki-laki yang sangat di butuhkan.


"Ustadz! Dapat nih!" Aslan mengangkat ke dua tangannya ke atas yang sedang memegang ikan gabus seukuran telapak tangan.


Tapi sayang kebahagiaannya hanya sebentar, karna ikan itu terlepas dari tangannya dan melompak lagi ke air.


Hahaha ....!


Fatih tertawa, melihat tingkah konyol Gusnya yang langsung mengerjar ikan yang tadi melompat, ditambah lagi Aslan tercebur, yang membuat semua badannya basah, apa lagi rambutnya yang menempel tanah lumpur.


Tekad Aslan sungguh besar, dia kembali memasukkan ke dua tangannya ke dalam air, dengan membungkuk. Aslan terus berjalan dengan posisi badan membungkuk, dan tangan terpendam ke dalam lumpur, guna mendapatkan kembali ikan gabus.


Fatih yang melihat itu merasa tidak tega. Lalu dia berteriak memanggil bebarapa santri untuk membantu, agar cepat mendapatkan ikan gabus yang diinginkan oleh istri Gusnya.


Setelah satu jam lamanya, satu santri berteriak, "Dapat!"


Aslan langsung melangkah cepat menghampiri santri itu, yang sudah memasukan tangkapannya ke dalam ember yang di bawanya sedari tadi.


Mereka semua pun kembali naik ke darat. Walaupun Aslan kecewa pada dirinya sendiri sebab bukan dia yang mendapatkan ikannya.


"Enggak pa-pa lah, yang penting dapat ikannya," ucapnya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Aslan pun langsung kembali ke rumah, dia sudah tidak sabar ingin memberikan ikan gabus tangkapannya, eh salah, tapi tangkapan santrinya. Aslan ngaku-ngaku aja nih.


__ADS_2