HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 11


__ADS_3

HAMIL TANPA DI SENTUH (11)


Pov Namira


Hatiku sakit karna telah menyakiti laki-laki yang sangat mencintaiku dan juga telah berhasil membuat benih-benih cinta dalam hatiku tumbuh subur.


Sudah lewat waktu isya tapi Aslan belum juga kembali, pantaslah dia bersikap seperti itu, siapa juga yang mau beristri sudah tidak suci. Sikap Aslan tadi hanya karna tidak ingin menyakitiku bukan menerimaku.


Tidak lama terdengar ketukan pintu, aku sengaja tidak menyahut, aku hanya menoleh sebentar dalu melanjutkan kembali memasukan baju-baju ke dalam koper.


Pintu di buka dan menunjukan Aslan, di nampak bingung, dan melangkah cepat mendekatiku. Rasanya aku sangat malu untuk sekedar menatapnya saja.


Aslan mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut, dia memberitahukanku jika dia telah memberitahu Abah dan Umi dan yang kebih mengejutkan lagi jika mertuaku itu menerima masa laluku. Sungguh aku bahagia sekligus ragu dengan ucapan suamiku, bisa saja ini hanya untuk menyenangkan hatiku.


Walau begitu aku tetap merasa tidak pantas, merka orang-orang baik sedangkan aku? Hanya wanita kotor dan tidak suci.


Aslan menuntunku ke taman, sungguh malam ini langit terlihat sangat indah penuh taburan bintang. Ketika Aslan memberikan sentuhan, aku berusaha tenang tidak ingin Aslan kembali kecewa. Mata hitamnya selalu tertuju padaku, dan itu sangat membuatku malu.


Ketika kami sudah sangat dekat, tiba-tiba aku merasa mual dan pusing, aku tidak mempersulikan Aslan, aku langsung berlari ke kamar mandi,


"Ada apa denganku? Apa aku masuk angin, karna terlalu lama di luar tadi?"


Panggilan terdengar, dari suaranya terdengar jika suamiku begitu khawatir. Tapi tidak mungkin aku membiarkannya masuk, dia pasti ji jik melihatku yang muntah-muntah seperti ini, tapi aku salah, laranganku tidak di indah kan oleh suamiku yang memang terlihat sangat panik.


"Kamu enggak pa-pa sayang," tanya Aslan sambil mendekat.


Aku merasakan satu tangannya menelusup masuk ke hijabku dan memberikan pijatan lembut di tengkuk, dan satunya lagi mengusap punggungku.


"Sudah? Ayo Abang bantu!"


Aku hanya pasrah ketika dia menggandengku, mual dan pusing masih menguasaiku. Aku duduk di tepian kasur menungu Aslan yang sedang merapihkan bantal.


"Abang bantu buka hijabnya yah?"


Sekarang tubuhku mendadak kaku, aku bingung karna selama ini aku tidak pernah memperlihat rambutku. aku juga malu dengan keadaanku yang saat ini pasti sudah sangat berantakan.


Karna aku sudah tidak kuat dengan rasa pusing di kepala akhirnya aku mengangguk.


Aslan mengulurkan tangannya, pelan-pelan mulai membuka hijabku,


"Kenapa aslan diam?" tanyaku dalam hati


"Apa penampilanku saat ini sangat berantakan?"


Aku sedikt memalingkan wajah, tapi Aslan menahannya dan menghadapkan wajahku sampai bertemu dengan mata hitam Aslan. Kini mata kami bertemu, saling mengikat dan hati kami sibuk berbicara sendiri.


"Puji syukur ya Allah atas segala nikmat dan anugrah mu, Engkau telah mendatang kan laki-laki seperti suamiku yang begitu menxintaiku. Jadikanlah hamba istri yang baik baginya, dan sempurnakanlah ibadah kami, amin." Rasa syukur dan doa kuucap bersama dalam hati.


Entah jam berapa aku terlelap, sekarang aku merasakan usapan lembut di bahu tanganku. Karna mata terasa berat akibat pusing, aku hanya mampu membuka mata sedikit, dan Aslan sudah duduk di dekatku.


Aku kembali memejam kan mata, guna meredahkan rasa sakit di kepala, kupaksakan membuka mata, Aslan tersenyum sambil menatapku,


"Masih sakit, masih mual?"


Satu jarinya di gunakan menyingkirkan anak rambut yang berada dekat mataku.


"Alhamdulillah udah meningan," kataku bohong.


Aku hanya tidak ingin kembali membuat Aslan khawatir.


"Mau ikutan sholat?"


Kulirik jam, sudah jam 3 lebih 15 menit. Aslan ingin mengajakku sholat sepertiga malam.


"Kalau enggak kuat jangan di paksa hmm, biar abang sholat sendiri, kamu balik tidur he. Nanti subuh baru abang bangunin lagi." tangannya kembali mengusap kepalaku.


Aku dapat merasakan perasaannya, yang seolah dalam setiap sentuhannya mengalir di tubuhku.


"Tapi enggak pa-pakan Abang sendirian? Aku bertanya sambil mengangkat sedikit tubuh untukku sandarkan.


"Enggak pa-pa dong sayang abang yang cantiknya masya Allah," jawabnya sambil mencolek daguku.


"Idihh pipinya merah, hahahah." Aslan tertawa karna berhasil menggodaku.

__ADS_1


Aku yang terlanjur malu hanya bisa tersenyum kaku.


"Bang!" panggilku.


Panggilan dan wajah serius ku mendadak membuat Aslan berhenti tertawa. Dia pun ikut menatapku serius,


"Ada apa sayang, sakit lagi?" tanya Aslan khawatir sambil menempelkan pungung tangannya di keningku.


"Pagi nanti aku mau bertemu Abah dan Umi, apa boleh?"


Sepertinya Aslan mengerti maksudku, dia pun mengangguk sebagai jawaban.


Aku tidak lagi bertanya, kubiarkan suamiku melaksanakan sholat malamnya, aku sendiri kembali membaringkan tubuh, dengan tatapan tetap terfokus pada laki-laki yang tengah menghadap Robnya.


Kembali panggilan terdengar, kali ini aku langsung membuka mata, nampak suamiku yang tampan tengah tersenyum dengan tangan yang terus mengusap rambutku.


Terdengar tarhim dari Masjid, tandanya sudah masuk waktu sholat subuh, kuangkat tubuh dan menggeser nya ke belakang bersandar. Kumpulkan nyawa dengan susah payah, merem melek mataku membuat Aslan terkekeh.


Aku pun memasang wajah cemberut, lantas bangkit berjalan menuju kamar mandi, dari daam kamar mandi masih dapatku dengar kekehan Aslan.


"Abang ke masjid dulu yah." pamit Aslan setelah aku selesai membersihkan diri.


"Tunggu Bang, aku juga mau ikut," kataku seraya mengambil sajana dan bawahan mukena, karna untuk atasannya sudah kupakai.


Aslan mengeenyitkan alis, " kamu sholat di rumah aja yah sayang!"


"Aku udah enggak pa-pa bang, sejak di sini aku belum sekali pun ke luar rumah dalem," kataku sedikit kesal.


setelah mengatakan semua, dan setelah tau jika suami dan mertuaku telah menerima masa laluku, aku merasa beban ini lepas. Aku juga sudah harus membiasakan diri untuk berinteraksi dengan orang lain agar traumaku sedikit demi sedikit hilang.


"Ya, sudah ayo, kita pergi sekarang!" ajak Aslan sambil berjalan.


Aku mengekori Aslan yang berjalan lebih dulu, saat akan menuruni anak tangga Aslan mensejajarkan tubuh nya dengan ku, dan menggenggam tangan yang sedang memegang sajadah. Melihat itu aku langsung memindahkan sajadah yang kunpegang ke tangan satunya.


Rumah nampak sepi mungkin Abah dan Umi sudah lebih dulu ke masjid. saat keluar dari gerbang rumah banyak dari santri yang menegur dan menyalamimu dan Aslan.


"Assalamualaikum Gus, Ning," ucap beberapa santri laki-laki dan perempuan ketika bertemu di depan masjid.


Aslan tersenyum dan tertawa kecil ketika memperhatikan wajahku yang terlihat kikuk,


"Tidak apa itu adalah bentuk penghormatan mereka, karna kamu sekarang adalah Ning mereka, jadi mereka meminta berkah." Aslan menjelaskan.


.


Setelah melaksanakan sholat subuh, Aslan tidak langsung mengajak ku pulang, Aslan memintaku untuk menitipkan sajadah dan mukena ke Mbok dalem yang tadi kami temui.


"Abang mau ajak aku ke mana?" Aku bertanya sambil berjalan menikmati suasana di pesantren dengan udaranya yang sejuk.


Sepertinya sinar matahari masih enggan menampakan semburat jingganya, sawah, dan kebun sayur, tidak hanya menambah kesejukan udara di sini tapi membuat mata betah berlama-lama melihat keindahannya.


Aslan mengajakku berjalan melewati pematang sawah, ada beberapa petani dan juga santri sedang memanen padi yang sudah menguning, Aslan bilang jika sawah itu juga bagian dari milik pesantren.


Setelah melewati pematang sawah terlihat tanah kosong yang di sekelilingnya ada tanaman pisang. di tanah kosong itu ada beberapa kandang ayam yang hanya di ambil telurnya saja, kambing yang di perah susunya dan tidak jauh dari tempat itu ada pembibitan ikan atau tempat para santri membudidayakan berbagai jenis ikan.


Aku sangat takjub dengan sistem pembelajaran yang ada di pondok pesantren milik mertuaku ini, gotong royongnya, kebersamaannya, kekeluargaannya, sungguh sangat terasa.


"Boleh aku tanya bang?" Kami sudah duduk di saung kecil yang di buat para santri untuk beristirahat.


Pemandangan hijau dari kebun sayur, sungguh sangat memanjakan mata, banyak santri putri sedang memetik dan mencabut sayur atau pun pohon ubi. memang untuk tugas mengolah lahan sayur di serahkan pada Ustazah yang di bantu oleh para santri putri, dan untuk ternak di serahkan kepada Ustadz, di bantu oleh para santri putra.


Aku sedikit penasaran dengan pembagian tugas itu, kenapa tidak di kerjakan bersama-sama? Aku pun menanyakannya kepada Aslan untuk menghilangkan rasa penasaran,


"Bang!" panggilku pelan.


seperti nya oandangan Aslan tengah fokus melihat kegiatan santri putri, entah kenapa itu membuat hatiku tidak nyaman.


"Apa aku cemburu?" aku bermonolog sambil memegangi dadaku.


"Kenapa hmm, mau pulang?" jawab Aslan yang sudah berbalik menghadapku.


"Emm...."


"Kenapa aku jadi gak semangat gini, beneran aku cemburu." aku berucap kembali dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa sayang, kok diem? Eggak enak lagi badannya, mual lagi, pusing lagi?" tanya Aslan dengan wajah khawatir.


Aslan bangkit dan mengambil tanganku, aku oun ikut berdiri. saat Aslan menarik tanganku, lantas ku hentikan. Aslan berbalik melihatku dan mengernyitkan alisnya.


"Aku enggak mau pulang sekarang, aku ingin ikut bantu mereka." kataku menunjuk ke kebun sayur, di mana banyak para santri putri sedang panen aneka macam sayuran.


"Ya sudah tapi jangan lama-lama yah, kamukan baru meningan. Oh iya, nanti sore kita ke rumah sakit yah!"


"Ke rumah sakit?" kataku mengulang pertanyaan Aslan.


"Iya, Abang enggak mau kamu kenapa-napa, Abang takut kamu kena asam lambung."


"Justru aku lebih khawatir jika aku bukan terkena asam lambung, melainkan..." ucapku dalam hati, menahan.


Semenjak semalam aku merasakan mual dan ousing aku sudah berfikir yang tidak-tidak. tapi aku berusaha mematahkan keyakinanku dengan kenyataan jika aku telah mens**uasi setelah kejadian itu.


"Ayo!" Aslan kembali menuntunku.


Matahari sudah menampakan sinarnya, sudah mulai hangat, dan lagi kepalaku tiba-tiba pusing.


Aslan terlihat berlari menghampiri ku saat aku memegangi pelipis dan sudah berada di antara para santriwati.


Dia langsung memegang pinggangku dan memapahku berjalan kembali ke saung tempat kami tadi duduk.


"Pokoknya kita pulang, Abang gendong hm?"


Pertanyaannya membuatku malu, aku menggeleng cepat, sebelum Aslan benar-benar melakukan apa yang baru di ucapkannya.


"Aku masih bisa jalan sendiri kok," kataku seraya bangkit dari duduk.


Aslan menatapku seolah tidak percaya jika aku bisa berjalan sendiri.


"Ya sudah, ayo!" Aslan mengulurkan tangannya.


.


Setelah melaksanakan sholat duha, aku berniat menemui Umi dan Abah, tetapi ke dua mertuaku itu tidak ada. Mbok dalem memberitahu jika mereka bersua sedang menghadiri undangan ke salah satu pesantren yang ada di kota ini juga. Mbok dalem juga memberitahuku jika malam nanti mereka baru kembali.


Tiba-tiba ada tangan yang memeluk ku dari belakang, aku sangat terkejut, takut kembali membuat tubuh ku sedikit gemetar, aku langsung menghindar.


"Astagfirullahalazim maaf bang aku enhgak tau." kataku merasa tidak enak.


Aku pikir Aslan kecewa dengan sikapku, tapi aku salah, Aslan memang laki-laki yang sangat baik.


"Enggak pa-pa sayang, Abang yang minta maaf udah ngagetin kamu," jawabnya sambil tersenyum dan mengacak pucuk kepalaku.


"Kita sarapan yah?"


Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah suamiku yang tampan itu.


Tidak terasa hari sudah sore, Aslan sudah mmberitahuku jika jadwalku dengan dokter jam 5 sore. selepas ashar kami pun berangkat ke rumah sakit tempat Aslan mendaftarkanku.


Sesampainya di rumah sakit, kami hanya menunggu satu antrian lagi, Aslan mendaftarkanku ke dokter bagian umum, karna menurut Aslan aku terkena asalam lambung, dalam hati aku berdoa semoga saja apa yang di katakan Aslan benar, aku hanya terkena asam lambung.


"Nyonya namira Aslan?" panggiLan dari suster atas namaku.


Aku gegas memasuki ruangan di ikuti Aslan. ruangan bernuasa serba putih, dengan dokter can tik dan satu orang suster yang mendampingi.


Kami pun di persilahkan duduk dan bebrapa pertanyaan tentang keluhan di ajukan padaku sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut,


"Apa yang Nyonya rasakan?"


"Saya pusing, mual, dan muntah-muntah, sepertinya saya masuk angin," kataku yang menyimpulkan sendiri apa penyakitku.


Dokter cantik itu tersenyum dan bangun dari duduknya, mempersilahkan aku naik ke atas brankas yang ada di sebelahnya, di bantu oleh suster, Dokter itu pun melakukan pemeriksaan.


"Saya buatkan surat pengantar ke dokter spesialis kandungan ya Pak, untuk memastikan, saya curiga istri Bapak sedang hamil." Dokter itu berkata sambil tersenyum.


Dokter itu tidak tau jika yang di katakan nya barusan adalah kabar yang meluluh lantakan hati dan duniaku. Kulirik tengok Aslan sebentar, diam membisu, tangannya terkepal kuat, tapi aslan segera menormalkan ekspresinya.


Aslan tersenyum menunjukan raut bahagai mendengar kabar itu, dan aku hanya diam mematung, perasaan ku saat ini campur aduk, aku takut dan yang pasti Aslan sudah tidak akan sudi lagi menerimaku setelah ini.


Saat ini aku tengah mengandung anak dari laki-laki lain. lelaki yang memaksakan dirinya hadir di dalam kehidupanku.

__ADS_1


__ADS_2