
HAMIL TANPA DI SENTUH (12)
Pov Aslan
"Kamu langsung istirahat aja yah!" Aku hanya mengantarkan Namira sampai depan pintu kamar, setelah kembali dari rumah sakit.
Namira hanya diam mematung, entah kenapa kali ini aku seperti enggan melakukan sesuatu padanya, apa karna kabar itu? Entahlah.
Aku langsung berjalan menuju kamar tamu yang ada di sebelah kamarku, tanpa menunggu Namira masuk. Aku langsung masuk kamar mandi, menutup dan menguncinya rapat, padahal di kamar ini hanya ada aku, tapi saat ini aku benar-benar ingin sendiri.
Kunyalakan syower, membiarkan air membasahi seluruh tubuhku tanpaku perdulikan dengan pakaianku yang sudah basah.
Arrrrggh....!
Aku menggeram, menarik rambut sekuat-kuatnya.
Tanganku terkepal, meninju dinding dan membuat tanganku mengeluarkan darah.
"Kamu marah pada siapa Aslan? Pada dirimu atau pada kabar itu he?" kataku berbicara sendiri.
"Astagfirullahalazim." Aku beristigfar dalam hati.
Segera ku selesaikan urusanku di kamar mandi, dan setelah itu aku bersiap untuk pergi ke masjid karna sebentar lagi masuk sholat isya.
Saat keluar kamar sebelum menuruni anak tangga, aku menoleh sebentar ke kamar Namira, aku masih enggan, saat ini pikiranku sangat kacau, aku butuh waktu dan aku ingin mengadu kepada Robku, mencari jalan terbaik untuk masalah ini.
"Maafkan Abang," ucapku bergumam pelan, dan kembali menuruni anak tangga.
Sepanjang perjalanan ke Masjid sungguh hatiku tak tenang, aku terus memikirkan Namira sedang apa dia sekarang. aku tidak fokus bahkan terguran dari bebarapa santri aku abaikan.
"Ya Allah, apakah aku salah telah bersikap seperti ini pada istriku, padahal aku sendiri yang mengatakan jika aku menerimanya dengan segala kekurangannya." Aku bermonolog, menghentikan diri sebentar.
Tiba-tiba aku merasakan ada tepukan di punggungku, saatku menoleh,
"Assalamualaikum Gus." Ustadz Fatih sudah berdiri di belakangku.
"Wa'alaikumsalam Ustadz."
Dia melihat ke sekeliling, mungkin merasa aneh melihatku berdiam diri sendirian sedang waktu sebentar lagi masuk isya.
"Mari Gus, bentar lagi masuk waktu sholat," ajaknya tanpa berbasa basi.
"Oh..iya Ustadz silahkan," kataku sampil mengulurkan tangan ke depan mempersilahkannya jalan lebih dulu.
"Kita sama-sama Gus," ajaknya sungkan.
Aku pun menyetujuinya dan berjalan sejajar sambil membahas tentang perkembangan para santri. Aku tidak boleh mengabaikan tanggung jawabku sebagai anak pemilik pesantren ini, dan aku juga tidak boleh mencampur adukan masalah pribadi dengan tugas-tugasku sebagai penerus dari orang orang tuaku.
.
Kali ini aku yang menjadi imam, kulepaskan semua urusan duniaku, kukhusukan niatku untuk menghadap Robku.
Setelah selesai, aku pun meluangkan waktu untuk mendengarkan para santri putra yang ingin murojaah, bersama mereka sedikit membuat hati ku tenang, tapi tetap saja pikiranku tidak bisa lepas dari Namira, aku khawatir dengannya saat ini, aku takut dia melakukan sesuatu yang akan dia sesali nanti.
"Enggak .. enggak." Kumenggelengkan kepala.
"Enggak kenapa Gus, apa bacaan saya tidak benar," tanya satu santri yang saat ini ada di hadapanku, sepertinya tadi dia melihatku.
"Ehh .. bukan .. bukan kamu kok, sudah kita lanjutnya." Aku kembali memfokuskan diri mendengarkan lantunan ayat dari muridku.
Waktu sudah menunjukan pukul 11, lepas mengajar tadi aku sengaja tidak pulang, aku masih betah berada di sini, aku juga ingin melaksanakan sholat sepertiga malam di masjid. hanya terlihat beberapa santri, mereka adalah santri senior yang sedang membaca kitab. Untuk santri junior memang di harus kan kembali ke kobong (kamar tidur) masing-masing setelah jam 10, dan kembali di bangunkan nanti untuk melaksanakan sholat malam di lanjut zikir dan mengaji sambil menungu waktu subuh.
Aku merebahkan tubuh terlentang dengan ke dua tangan ku letakan di belakang kepala, menatap ke atas dengan pikiran selalu pada Namira.
__ADS_1
Kucoba memejamkan mata, untuk tidur walau hanya sebentar agar dapat melaksanakn sholat malam.
.
Terdengar lamat-lamat suara mengaji, kupaksakan membuka mata melihat sekeliling, ternyata masih ada beberapa santri.
Kupaksa duduk tubuh yang berasa lemas, mengumpulkan nyawa sebentar, di rasa sudah agak tegar aku pun bangkit melangkah ke kamar mandi masjid, sekedar memberaih kan diri. dan lanjut mengambil wudhu.
Kulirik jam dinding Masjid, jarum pendeknya sudah menunjuk angka 3, aku pun mempersiapkan diri untuk melakukan sholat sepertiga malam.
"Apa saat ini Namira pun sedang melakukan sholat malam?" tanyaku dalam hati.
Ku lepaskan semua urusan dunia, dengan khusus aku menghadap Robku, kuhayati setiap bacaan yang kulafazkan, mencoba mencari ketenangan dalam setiap sujudku.
Beristigfar dan zikirku lantunkan setelah selesai, agar jiwaku menjadi tenang, kutadahkan ke dua tanganku, memohon ampunan dan jalan untuk masalah yang ku hadapi. Aku benar-benar memasrahkan semuanya kepada ilahi Robbi, apa pun nanti itulah yang terbaik.
Sambil menunggu waktu subuh, aku mengaji untuk memberi asupan pada jiwaku yang sekarang terasa sepi dan kosong, aku memang seorang Gus tapi aku juga hanya manusia biasa.
Ada tepukan di bahu, aku menoleh ke asal tepukan itu, ternyata Abah,
"Assalamualaikum Nak."
"Wa'alaikumsalam Bah," jawabku sambil mencium takzim tangan Abah.
Abah ikut duduk bersila di sebelahku, menatapku seakan tau jika aku tengah dalam masalah,
"Ada apa, ada yang ingin kamu bicarakan dengan Abah dan Umi?" tanya Abah sambil mengelus bahuku.
Aku menggeleng, tidak mungkin saat ini aku memberitahu Sbah dan Umi tentang kondisi Namira, jika kemarin mereka bisa menerima kekuranan Namira, apakah sekarang mereka juga bisa menerima kondisi Namira.
"Enggak ada pa-pa Bah, semua baik-baik aja." Kataku berusaha bersikap tenang.
"Ya sudah, ayo!" ajak Abah sambil bangkit dari duduknya.
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, aku melihat sekeliling mencari wanita yang semalaman ini tidak aku lihat.
"Enggak ada," gumamku.
"Apa... ah sudahlah, lebih baik aku pulang sekarang, jangan sampai sikapku ini membuat amira melakukan sesuatu yang akhirnya aku sesali."
Tadi aku melihat abah sudah lebih dulu pulang, bersama Ustadz Fatih juga para santri.
Kulangkahkan kaki lebar, bahkan setengah berlari, rasa khawatir tidak dapat lagi kuabaikan, ingin rasanya segera sampai rumah untuk melihat wanita yang semalam sudah kuabaikan, entahnapa yang di pikirkannya saat ini tentang sikapku semalam tadi.
Setibanya di depan pintu rumah aku sedikit membungkukan badan dengan kedua tangan memegang lutut, nafas sedikit ngos-ngosan demgam ritme jantung tidak beraturan membuat aku sedikit kelelahan. Sebetul nya bukan lelah karna berlari, tapi pikiranku saat ini yang membuat hati dan fisikku lelah.
Kubuka pintu dan mengucap salam, tidak terlihat siap pun." Tumben biasanya sudah ramai di dapur, kok aku enggak denger suara Umi?"
Penasaran aku pun melangkah menuju dapur, benar saja di dapur hanya ada Mbok dalem dan beberapa santri tengah sibuk memasak.
Aku pun kembali melangkah menaiki anak tangga bermaksud ingin lansung menemui Namira. setelah tepat berdiri di depan pintu kamar, aku jadi ragu.
"Bismillah." Aku berucap
Tok ..tok ..!
"Assalamualaikum."
Kuketuk pintu sambil mengucap salam tapi tidak ada sahutan. kucoba lagi hanya dengan mengucap salam,
"Assalamualaikum, Namira!" tetap tak ada jawaban.
Kupegang gagang pintu yang ternyata tidak di kunci, kudorong pelan, sebelum masuk, kutongolkan separuh kepalaku, sambil berucap,
__ADS_1
"Abang masuk yah."
Kulebarkan pintu dan tubuhku sepenuhnya sudah berada di dalam, sepi. Di dalam kamar mandi pun tidak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya.
"Kemana Namira?" monologku
Sekarang jantungku berdegup jauh lebih kencang, takut? Iya, takut Namira berfikir yang tidak-tidak karna sikapku, lantas Namira pergi meninggalkan rumah ini dan aku.
Aku pun berlari menuruni anak tangga mencari ke semua ruangan di rumah ini, bahkan ke kebun sayur, siapa tau Namira sedang ingin makan sayur. ternyata tidak ada. hanya tersisa satu ruangan lagi, yaitu kamar Abah dan Umi,
"Apa mungkin Namira di sana? Jangan sampai Namira mengatakan semua yang Dokter tadi katakan.
.
Flash back on
"Setelah di lakukan pemeriksaan kita lihat hasilnya ya Tuan, Nyonya, mudah-mudahan hasilnya sesuai harapan," ucap Dokter wanita spesialis kandungan itu.
"Jika saja nanti hasilnya positif dan itu adalah darah dagingku tentu aku akan sangat bahagia, tetapi ini?" memikirkannya saja sudah membuat perasaanku sulit di artikan.
Kulihat Namira gelisa, kedua tangan nya saling bertautan meremas jari satu sama lain, dia pasti merasakan perasaan yang sama denganku, bahkan lebih.
Tidak tega rasanya melihat nya seperti itu, kuulurkan satu tangan dan menggenggam tangannya yang sudah terasa dingin.
Dokter itu membuka amplop putih yang bertuliskan nyonya Namira Aslan, saat lembaran di dalamnya telah dia pegang, Dokter itu tersenyum, aku hanya sekilas melihatnya dan kembali membuang pandangan.
"Selamat ya Tuan, istri anda hamil."
Duarrr..
Darahku seketika mengalir deras bahkan mungkin sampai ke ubun-ubun. Jantung ku berdegup lebih kencang, hatiku sakit, langsung kulepas genggaman tangan ku dengan Namira. Kulihat namira melihatku sebentar lalu menunduk dalam. Kukepalkan ke dua tanganku.
Tidak ingin dokter itu menyadari sikap ku buru-buru kunormalkan ekspresi wajahku.
"Terima kasih Dok." Aku mengucapkan itu sambil berusaha tersenyum.
"Usia kehamilan istri anda sudah 5 minggu, jadi hatus hati-hati yah, di tri mester pertama kandungan masih rentan."
"Ada yang ingin di tanyakan?" Dokter itu bertanya.
Aku sendiri apa yang harusku tanyakan, sedang Namira terdiam tapi hanya sesaat dan,
"Dok, kata Dokter usia kandungan saya 5 minggu, tapi dalam jangka waktu 5 minggu itu saya mens****si, bagaimana mungkin saya hamil?" Namira menanyakan sesuatu yang tidakku mengerti.
Aku hanya mendengarkan percakapan mereka tanpa berniat mencampuri.
"Dar*h mens***sinya berwarna apa, dan apakah dalam jumlah yang banyak?" tanya wanita di depanku.
"Hanya seperti flek, dan itu tidak seperti biasanya," jawab Namira.
"Itu bukanlah mens***si yang sesungguhnya, itu flek tanda kehamilan atau di sebut juga perdarahan implantasi. perdarahan implantasi terjadi saat sel telur yang di buahi atau embrio menempel pada lapisan dinding rahim. Jadi banyak yang mengira hai* padahal sebenarnya sedang hamil, hal ini juga yang Nonya alami." Dokter penjelaskan panjang lebar.
"Tapi Dok selama ini saya tidak merasakan mual dan muntah hanya baru hari ini saja." Namira kembali bertanya.
"Tidak semua wanita hamil mengalami yang nama nya morning sickness, bisa juga para suami yang mengalami itu." Dokter itu melihat ku sambil tersenyum.
Setelah meras cukup dan jelas kami pun keluar dari ruangan serba putih itu. kami pun memutuskan langsung pulang ke rumah, tidak ada pembicaraan sepanjang perjalanan.
Flash back off
.
Gegas aku melangkah ke kamar Umi, segeraku ketuk dan memberi salam, tapi tidak ada jawaban. Kubuka pelan pintu kamar, dan segera masuk berjalan pelas, terdengar suara isakan dari taman yang berada di kamar ini. Sampai di pintu pembatas taman dengan kamar, aku melihat wanita yang sejak tadi ku cari sekarang tengah duduk bersimpu di hadapan Umi dan Abah.
__ADS_1