HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 18


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH (18)


"Dion! Lu mau nggak, temenin gue ke pesantren temen lu itu. Siapa namanya? Mm ... Gus Aslan ya?" ucap Maher pura-pura lupa dan Maher mengatakannya dengan ragu, dia takut jika Dion akan curiga.


Benar saja Dion menatapnya heran dan mengernyitkan alisnya " Ada urusan apa lu ke pesantren temen gue he?!" tanya Dion sedikit curiga.


"Apa'an sih lu? Kayak orang curigaan gitu. Pesantren temen lu itu nerima donatur 'kan? nah tujuan gue datang ke sana itu mau menawarkan diri jadi donatur, secara harta gue banyak, dan gue bingung itu harta mau dibawa ke mana dan buat apa? Mendingan juga gue gunakan buat hal yang baik dan bermanfaatkan? Misalnya menjadi donatur di pesantren temen lu itu," ucap Maher berusaha menutupi, dan dengan sikap sombongnya.


"Mulai deh kumat sombongnya," ucap Dion memutar bola mata malas.


Maher pun hanya tertawa menanggapi sikap sepupunya itu. Entah kenapa sejak pembicaraan hari itu sejak Dion memberitahu jika dia memang mengenal laki-laki yang ada dalam foto itu dan mengatakan jika perempuan bercadar itu adalah istri temannya.


Maher semakin bersemangat untuk mencari keberadaan Namira. Awalnya Maher kaget ternyata perempuan itu sudah menikah tetapi "Apakah suaminya tahu jika dia sudah tidak ...?" tanya Maher pada diri sendiri.


.


Tok ..tok ..tok.. "Assalmualaikum," ucap Dion sudah sampai depan rumah Maher sesuai janjinya.


Pintu besar berwarna coklat terbuka satu bagian, memperlihatkan seorang wanita tua memakai baju kebaya dan kain jarik, dia adalah Mbok yang bekerja di rumah Maher. bisa di bilang orang kepercayaan orang tuanya Maher, dari sejak Maher masih kecil.


"Eh ada den Dion, Wa'alaikumsalam Den, mari masuk, udah di tunggu tuh! Sama den Maher!"


Perempuan tua itu pun berjalan di depan Dion, langkahnya cepat biar pun sudah berumur, si Mbok meninggalkan Dion menuju ke dapur. Dion pun langsung mencari keberadaan Maher di dalam rumah, karena tidak juga di temukan, Dion lantas pergi ke taman belakang karena biasanya Maher akan berada di taman belakang untuk melakukan olah raga.


Dion tetap tidak menemukan keberadaan Maher di taman itu, dia langsung kembali masuk dan menghampiri si Mbok yang sedang sibuk membuat minuman.


"Mahernya mana Mbak Kok nggak ada sih? Aku cari ke taman belakang juga nggak ada, ke mana sih dia?"


" Tadi ada kok, ada di taman belakang lagi olah raga. Mungkin udah naik kali ke atas. Coba aja den Dion naik ke atas pasti den Maher ada di dalam kamar, palingan lagi mandi."


Setelah diberitahu Dion langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamar Maher. Sesampainya di depan pintu Maher, dia langsung mengetuk pintu dan memanggil nama Maher,


" Her ... Maher lu di dalam 'kan! Gue masuk yah?" Dion berteriak.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar, Dion pun mengetuk-ngetuk pintu Maher sangat keras


Tok ..


Tok ..


Tok..!


Tetap saja tidak ada jawaban, walaupun Dion telah mengetuk pintu dengan sangat keras. Lantas di bukanya pintu kamar itu, kamar itu kosong, lalu Dion berjalan ke arah kamar mandi Maher.


"Her .. her! Heran gue," dengus Dion.


Akhirnya Dio keluar kamar Karena kesal, Dion pun mengambil benda pipih yang ada di kantong celana, setelah itu Dion mencari kontak atas nama sepupunya, dan ditekanlah nama kontak tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama telepon pun langsung terhubung diangkat oleh seorang yang menyebalkan yang entah saat ini ada dimana, itulah perasaan Dion saat ini, sebal dan kesal.


"Halo Luh di mana Her? Gue udah di rumah luh nih! Jadi ngak sih luh ke Pesantren? kalau nggak jadi ya udah gua mau pulang, mau jalan-jalan sama bini gue!" ucap Dion tanpa jeda karena sudah sangat kesal.


Hahahaha ....!


Laki-laki di sebrang, entah di mana malah tertawa terbahak bahak.


"Iya.. iya nih, bentar lagi gue pulang, sensi aja luh kaya anak perawan," ejek Maher.


Dion bertambah kesal dengan kelakuan sepupunya itu, apa lagi mendengar ejekannya barusan, Dion jadi teringat dengan ejekannya sendiri hari itu pada Maher.


Dion pun segera menuruni anak tangga dengan sedikit berlari. di lihatnya dua gelas minuman sudah ada di meja dekat sofa yang ada di bawah tangga.


Di minumnya air berwarna merah itu sampai tandas, Dion seperti orang habis lari marathon. Mbok yang melihatnya langsung tertawa.


Belasan menit kemudian,

__ADS_1


"Hallo sepupu gue yang gantengnya Masya Allah, udah lama nunggu?" Maher menaik turunkan alisnya, di mata Dion terlihat menjengkelkan.


"Lu dari mana sih, sampai bulukan nih gue," ucap Dion bersungut-sungut.


Maher menepuk bahu sepupunya yang masih cemberut.


"Bentar, gue mandi dulu yah." Maher langsung lari meninggalkan Dion. dan Maher tau jika Dion akan mencak-mencak setelah dia tinggal.


"Maherrrrr ....!" teriak Dion, sambil berdiri berkacak pinggang, dan ingin mengejar Maher.


Tetapi langkahnya di hentikan oleh suara seseorang yang Dion kenal,


"Assalamualaikum kak Dion." Perempuan itu tersenyum, setelah mengucap salam.


Perempuan bergamis biru dengan kerudung syar'i senada sudah berdiri satu meter di belakang Dion. Seketika Dion mematung, ketika berbalik, terpesona dengan paras cantik perempuan yang sekarang ada di depan dia, dengan berbalut gamis biru laut, dengan jilbab senada, benar-benar membuat jantung Dion bertalu-talu.


"Sayang." Dion langsung menghambur ke dalam pelukan istrinya.


"Kamu ngapain ke sini sih? Tadi di ajak enggak mau, sekarang nyusul. ayo kenapa?" Dion menoel dagu Wulan, istri yang sudah beberapa minggu dia nikahi.


"Ehem." Maher berdehem dari atas tangga.


"Terus aja kalian pamer kemesraan, jangan lupa ini rumah gue," kata Maher, melangkah sambil menuruni anak tangga.


"Lu mandi bebek Her? Cepet banget." Dion mengejek.


Wulan yang sudah biasa melihat pertengkaran kedua sepupu itu memutar bola matanya malas menanggapi.


"Sayang, kamu mau ke mana?" cegah Dion saat Wulan akan berjalan.


"Ulan mau nunggu di luar aja, males liat muka kalian berdua," jawab Wulan sambil berlalu.


"Gara-gara luh tuh istri gue marah." Dion berlari menyusul Wulan.


Sesampainya di luar, maher langsung melemparkan kunci mobil ke arah Dion. Dia yang kaget langsung mengulurkan ke dua tangannya ke depan.


"Eh apa-apaan luh Her lempar kunci ke gue? Gue nggak mau ya disuruh bawa mobil lu, gue mau duduk di belakang berdua sama istri gue. Dan Lu aja yang bawa mobil lu sendiri," protes Dion.


" Sorry ya, lu pikir gue sopir lu berdua." Maher meninggalkan Dion, acuh dengan sungutan .


Walan cuma mesem-mesem melihat suaminya yang sedang ngedumel. " Udah-udah ayo ah!"


Ketiganya pun pergi dari kediaman rumah keluarga mager, mengendarai mobil mewah milik Maher yang tentu saja Dion yang menjadi supir nya.


"Jauh enggak On tempatnya?" Maher hanya ingin memiliki waktu untuk mengatur dirinya saat nanti bertemu gadis itu.


"On.. On.. kalau sampai ada yang dengar luh panggil gue kaya tadi, nanti di kiranya gue Oon." Dion marah, lagi-lagi dia di buat kesal.


"Bukannya emang iya, lu Oon, hahaha ....!" Maher kembali mengejek Dion.


Entah kenapa hari ini Maher yang biasanya dingin mendadak jadi pecicilan seperti Dion, yang justru berbanding terbalik dengan Dion yang tiba-tiba senjadi sensi, cepat marah, cepat tersinggung.


"Tiga jamlah, paling cepet dua jam," ucap Dion, yang sudah tidak mau meladeni Maher. Sesekali sambil melihat ke kursi belakang lewat kaca spion mobil yang ada di dalam bagian tengah, untuk melihat permaisuri hati Dion.


"Kak kita enggak beli apa dulu gitu?" tanya Wulan yang merasa tidak enak berkunjung tetapi tidak membawa buah tangan. Apa lagi yang ingin mereka kunjungi adalah seorang Kiayi.


"Ya udah terserah luh aja Lan, luh mau beli apa emangnya?" Maher yang bertanya.


"Paling buah kak, gimana?" tanya Wulan ragu.


Maher malah diam, sibuk melamun, "Kalau perempuan hamil suka nya buah apa yah?" tanya Maher di dalam hati, padahal aslinya, maher enggak tau benar atau tidak tentang dugaan dia.


"Astagfirullahalazim." Hati Maher beristigfar.

__ADS_1


"Ya udah sayang kita beli buah aja, nanti di buat parsel aja yah." Dion memberi usulan pada istrinya, yang nampak senang.


Setelah berlama-lama di jalan akhirnya mereka tiba juga di Pesantren milik keluarga Aslan. pintu kayu yang menjulang tinggi masih dalam keadaan tertutup, tidak seperti biasanya yang selalu dibuka sehabis subuh sampai menjelang isya.


Tepaksa Dion berhenti tepat di depan pintu gerbang. Maher dan Wulan pun mengikuti Dion keluar dari mobil, Dion pergi ke samping untuk melihat apakah ada orang di sana, begitu pun dengan Maher,dia pergi berkeliling ke tempat sekitaran ternyata tidak ada siapa-siapa.


"Bro luh salah alamat kali, masa iya Pesantren sepi kaya gini." Maher terus sibuk melihat sekeliling.


"Sayang kamu diam aja yah, kasian nanti si utun kecapean." Dion melarang Wulan karna kondisinya yang tengah hamil.


Maher yang mendengar Dion bicara seperti itu langsung kaget karena selama ini Dion tidak pernah mengatakan apapun tentang kehamilan istrinya.


"Istri luh hamil On?" Maher langsung menghampiri ke duanya.


"Iya, alhamdulillah aku hamil Bang, baru 4 minggu," ucap Wulan sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Kok luh gak cerita ke gue, kalau bentar lagi gua mau punya ponakan." Maher sedikit kesal tapi dia ikut senang.


"Bukannya gue enggak mau kasih tau luh, tadi waktu di rumah gua udah niat mau kasih tau, ya berhubung gua kesel ama luh, lupa deh gue hehehe," jawab Dion sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Di saat mereka sedang asik mengobrol tiba-tiba pintu gerbang itu terbuka dan memperlihatkan dua orang santri laki-laki. Satu dari santri itu pun menghampiri ketiganya dan bertanya tentang tujuannya datang ke Pesantren ini,


"Assalamualaikum, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya santri yang usianya sekitar 15 tahun.


Dion dan Mahen saling bertatapan mereka berdua merasa aneh dipanggil Bapak, "Apa kita sudah setua itu ya Her?" tanya Dion sambil memegang wajahnya.


"Kita? Luh aja kali, kan sebentar lagi luh mau punya anak." Maher membuang wajahnya malas.


"Wa'alaikumsalam Dek," jawab Wulan.


"Dion, emangnya lu nggak telepon temen lu dulu? nggak ngasih kabar ke dia kalau kita mau datang ke sini?" Maher menatap Dion dengan tatapan tajam dan sinis.


Dion yang mendapatkan tatapan seperti itu dari Maher, seketika nyalinya menciut Karena bagaimanapun Dion dari dulu tidak pernah berani dengan Maher.


"Sori Her gue lupa." Dion cuma nyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Mendengar itu Maher menjadi kesal. Bagaimana tidak kesal, Maher takut jika kedatangannya ke Pesantren ini akan sia-sia saja. perempuan yang dicarinya takut tidak bisa dia temui hari ini.


"Ya udah sih Her kita masuk aja! Gue yakin kok temen gue ada, lagian juga gue ngerasa aneh deh luh kan datang ke sini cuma mau ngajuin diri jadi donatur jadi nggak masalah dong siapapun yang luh temuin nanti."


"Ya emang bener juga sih apa kata si Dion, harusnya nggak masalah siapapun yang gue temuin nanti. kan gue cuma mau ngajuin diri jadi donatur, tapikan gua nggak mungkin juga kasih tahu si Dion kalau niat gue datang ke pesantren ini bukan cuma mau jadi donatur tapi buat nemuin perempuan yang selama ini gue cari-cari." Maher bermonolog.


Akhirnya mereka bertiga kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan kendaraannya memasuki area Pesantren.


Setelah keluar dari mobil Maher pun berinisiatif menemui kedua santri itu, dia ingin menanyakan sesuatu yang ingin dia ketahui,


" Gus Aslannya ada nggak?" tanya Maher pada kedua Santri itu.


Santri itu saling tatap, seperti bertanya satu sama lain tetapi melalui tatapan mata, dan satu santri menggidikan bahu nya pada temannya yang artinya tidak tau.


"Silahkan ke rumah ndalem Pak!" ucap santri berbaju koko lengan pendek sambil mengulurkan tangan kanannya ke depan dan mengacungkan ibu jarinya.


Memang di pesantren tidak hanya di ajarkan ilmu mengaji, mengkaji dan ilmu agama lainnya tetapi tentang adab pada orang lain terutama pada yang lebih tua harus di terapkan dalam keseharian di Pesantren milik Karim.


"Rumah ndalem?" Dion mengulang perkataan ke dua santri itu.


"Rumah Kiayi maksud dia." Kali ini santri berbaju koko lengan panjang yang menyahut.


"Mari!" Santri yang baru saja menyahut tadi mempersilahkan ketiganya untuk ke rumah dalem.


Sedangkan temannya kembali ke depan gerbang untuk menutup pintu gerbang, karna tadi mereka memang mendapat giliran ditugaskan untuk mengecek keadaan didepan.


Sedari pagi para Ustadz dan Ustazah mengajak para santri untuk ke kebun, karna panen sayur dan juga ikan. Ada juga santri lainnya yang mendapat tugas kembali mengolah lahan.

__ADS_1


Hari sudah siang, kumandang azan sebentar lagi terdengar, semua santri mulai kembali ke Pesantren.


__ADS_2