
HAMIL TANPA DISENTUH
Setelah melaksanakan sholat isya, Aslan tidak kembali ke rumah bersama Fatih, melainkan dirinya sepakat bertemu dan berbicara Empat mata dengan Maher.
"Sebaiknya kita tidak bicara di sini. Bagaimana kalau kita cari tempat lain, mungkin sambil ngopi," usul Maher.
Saat ini ke Dua laki-laki itu masih ada di pelataran Masjid. Setelah sepakat baik Aslan maupun Maher mengendarai kendaraannya masing-masing. Sementara Fatih yang langsung pulang ke rumah, di karnakan Aslan di beri kabar oleh Rio, jika dia akan datang ke rumah untuk memberikan laporan keuangan restoran.
Sesampainya di rumah Fatih tidak lantas masuk ke dalam, di karnakan ada Ismi, perempuan yang bukan mahromnya.
*****
Aslan membelokkan mobilnya ke satu cafe kopi yang memang buka sampai malam. Dari kaca spion Aslan dapat melihat mobil Maher. Setelah ke Duanya memarkirkan mobil, mereka pun mencari tempat duduk yang nyaman, mencari meja yang tidak terlalu dekat dengan pengunjung lainnya.
Ke Dua laki-laki itu duduk di bangku yang memang sedikit sepi, dan itu membuat Maher terlihat senang. Maher memang memiliki tujuan mengajak Aslan berbicara Empat mata dengannya.
"Duduk, Lan!" Tawar Maher dengan dirinya yang sambil menjatuhkan pantatnya di kursi.
Tanpa bicara Aslan langsung menempati kursi kosong yang ada di hadapan Maher.
"Memangnya apa yang mau kamu bicarakan sama saya?" tanya Aslan pada laki-laki yang ada di hadapannya.
Tuk .. tuk .. tuk ....!
Bukannya menjawab Maher malah mengetuk-ngetukan satu jarinya ke atas meja. Baru saja Maher ingin membuka mulut, datang pegawai membawakan kopi pesanan mereka. Setelah pegawai itu pergi, Maher kembali diam. Lelaki itu sedang mengatur diri juga kata-kata bagaimana cara menyampaikan maksudnya pada Aslan.
"Em ... bagaimana kabar istrimu, Namira?" tanya Maher, sambil menatap tajam pada lelaki di hadapannya.
Aslan mengerutkan kening, "Maksud kamu? Apa kamu kenal dengan istri saya?" tanya Aslan tenang, sambil satu tangannya mengaduk kopi.
"Iya, saya kenal dengan istri kamu. Tapi ... saya tidak yakin jika istri kamu kenal dengan saya," sahut Maher.
"Oh, maksudnya kamu kenal istri saya dari Dion 'kan?" Aslan bertanya sengan raut wajah penasaran.
Maher menggelengkan kepalanya, "Bukan ... "
"Sebetulnya apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya? Dan ada yang ingin saya tanyakan sama kamu! Benar, Rangga adalah orang suruhan kamu?! Kamu suru dia buat selid8ki saya juga istri saya?!" Aslan mulai sedikit emosi.
Maher tersenyum smirk, dan itu membuat Aslan bertambah emosi. Tapi dia berusaha menahan diri.
"Kamu pasti penasaran 'kan dengan sikap saya? lontar Maher.
"Gak usah berbelit-belit, lebih baik langsung saja ke intinya." geram Aslan.
"Baik, saya akan beritahu kamu apa yang ingin kamu tau tentang maksud saya mengajak bicara Empat mata, juga tentang Rangga," cetus Maher.
"Iya, benar! Rangga adalah orang kepercayaan saya. Rangga sengaja saya suru untuk menyelidiki kamu!" ungkap Maher
"Apa maksud kamu menyelidiki saya?!" berang Aslan.
"Karna saya ... saya ingin tau siapa lelaki yang akan menjadi Ayah dari A- ... "
Baru saja Maher akan memberitahukan pada Aslan tentang kebenaran dirinya, tiba-tiba datang satu laki-laki yang sangat ke Duanya kenal.
"Assalamualaikum," salam lelaki yang ternyata adalah Dion.
"Dion ...!" Maher hampir berteriak, lelaki itu kaget melihat kedatangan sepupunya.
Bagaimana Dion bisa sampai ke tempat ini.
"Eh, Dion. Kirain gak jadi datang ke sini," ucap Aslan.
"Maksudnya? Kamu yang ajak Dion ke sini?" Maher bertanya dengan wajah kesal.
"Kenapa? Kok lu kaya sewot gitu! Ngeliat gue ikutan nimbrung!" seloroh Dion.
__ADS_1
"Tadi lu mao ngomong apa sama si Aslan," tanya Dion. Dia menarik kursi di tengah antar Aslan dan Maher.
Maher diam, malas menanggapi pertanyaan Dion. Sebab dia tau, jika Dion akan mengamuk jika mengetahui kebenarannya dan juga Namira, istri sahabatnya.
"Woy, kenapa lu diam? Gak boleh gue tau?" cetus Dion.
"Lebih baik kamu lanjutkan apa yang tadi mau kamu katalan. Gak masalah ada Dion, toh dia sahabatku sekaligus saudara kamu." Aslan melirik pada Dion. Sedangkan yang di liring cuma senyum-senyum merasa senang karna mendapat pembelaan.
"Kok lu bisa tau gua ada di sini?" tanya Maher yang masih penasaran.
"Tadi gua telpon si Aslan, niatnya sih gua pengen ngajak dia ngopi di luar, mumpung dia di Jakarta 'kan? Eh, dia bilang, dia juga mau nongkrong bareng ma lu, ya udah dia kasih tau ke gua kalian nongkrong di mana." beber Dion
Maher menatap Dion dengan pandangan tidak suka.
"Udah, lu lanjutin tadi lu lagi ngomong apa sama Aslan?" cetus Dion, yang di angguki oleh Aslan.
Maher diam. Sekarang dia jadi ragu mau melanjutkan atau tidak tentang keinginannya untuk memberitahu perihal dirinya dengan Namira.
"Tadi kamu belum menjawab pertanyaan saya, dari mana kamu kenal dengan istri saya Namira?" Aslan kembali bertanya
"Serius Lan, dia kenal sama istri kamu?" tanya Dion pada Aslan dengan mimik wajah serius.
Aslan hanya menganggukan kepala dan ke Duanya menatap Maher yang juga menatap mereka.
"Di mana lu kenal Namira Her, kok gue gak tau?
"Emangnya lu siapa? Harus serba tau urusan gue, he!" sungut Maher
"Yee! Gitu aja sewot," ketus Dion
"Baik, gua bakalan kasih tau kalian! Terutama kamu, Aslan!"
"Gua tau, kalau Anak dalam kandungan istri lu bukan An- ..."
Dion mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh dengan sahabat juga sepupunya. Apa ada yang tidak dia ketahui? Itu yang di fikir Dion.
"Sebetulnya apa sih yang kalian bicarakan, apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari gue?" decak Dion pada ke Duanya.
"Gak ada, saua juga gak ngerti, apa yang di bicarakan sepupu kamu ini," ujar Aslan
"Kalau gitu saya pamit duluan. Assalamualaikum," pamit Aslan sambil berdiri.
"Tunggu Lan, kita bareng, saya juga mau pulang aja. Percuma kalau kamu gak ada," seloroh Dion.
Du lelaki itu jalan berbarengan meninggalkan Maher yang sekarang menatap kepergian mereka.
"Lan," panggil Dion, menghentikan langkahnya.
Dan sekarang dirinya berhadap-hadapan dengan Aslan.
"Ada apa Dion?" tanya Aslan sambil menatap Dion.
"Apa maksud dari ucapan Maher tadi? Dan sebetulnya apa yang ingin dia katakan? Apa ada sesuatu diantara kalian? Dion
memberondong Aslan dengan pertanyaan.
Sejujurnya Aslan sendiri merasa bingung dengan sikap sepuou sahabatnya ini. Dan bagaiman mungkin Maher dapat mengetahui tentang Namira juga anaknya?
"Jujur On, saya juga gak ngerti apa yang dikatakan saudara kamu itu. Saya fikir dia ngajak ketemuan sama saya karna mau ngomongan masalah bisnis?" cetus Aslan.
"Ya, udah lah! Nanti saya cari tau. Saya akan tanya langsung sama dia." tandas Dion
Aslan juga Dion kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat parkir. Mereka mengendarai kendaraan masing-masing.
******
__ADS_1
"Hari ini gua gak bisa mengatakan kejujuran tentang gua dan istri lu, Aslan!" gumam Maher, yang masih duduk di tempatnya tadi.
Laki-laki itu kembali menyeruput kopinya.
"Aku akan mengambil anakku, dari kalian. Bahkan aku akan mengambil milikku, Namira!" Kembali lelaki itu bermonolog.
Akhirnya dia meninggalkan cafe.
******
Sesampainya di rumah, Aslan melihat dua laki-laki yang dia kenal sedang duduk di kursi. Aslan melihat jam yang melingkar di tangannya, waktu sudah menunjukan jam 11 mama.
"Assalamualaikum!" salam Aslan dari jauh.
Fatih dan Rio sudah melihat kedatangan Aslan sedari tadi, dan ke Duanya menjawab salam berbarengan, " Wa'alaikumsalma."
Setelah dekat dengam 2 lelaki itu, Aslan langsung menempati kirsi kosong. Dan bertanya pada ke Duanya.
"Kenapa kaliam masih ada di sini? Gak baik nanti di lihat orang. Di dalam ada anak gadis sensirian!" tegur Aslan.
"Tenang Gus, kita udah izin kok sama Pak Rt tadi," sahut Fatih.
"Mana Rio, laporan yang mau kamu kasihka ke saya," pinta Aslan.
Rio menyerahkan laporan yang tadi dia bawa. Sebetulnya itu hanya alasannya saja. Rio cuma mau bertemu dengam Ismi, adik sepupu Namira.
Aslan melihat lapiran itu, dan mwngerutkan kening, lalu berkata, "ini kan bisa kamu kasihkan ke saya besok, kenap harus malam begini kamu kasih ke saya," tanya Aslan sambil menatap pemuda itu penuh selidik.
Rio menggaruk kepalanya, sambil senyum-senyum.
"Anu, Gus ... sekalian pengen main aja," seloroh Rio.
"Pengen main sambil ketemu Ismi?" Gitu 'kan maksudnya?" Tebak Aslan teoat sasaran.
Fatih yang mendengarnya mendadak berubah ekspresinya.
"Maksudnya gimana, Gus?" tanya Fatih penasaran.
"Kamu tanya aja tuh langsung sama orangngnya?!" tunjuk Aslan dengan dagunya pada Rion
Fatih menatap laki-laki muda dan tampan itu.
"Kamu suka sama Ismi?" tanya Fatih to the point
"Ee ... gak pa-pa 'kan, Gus?" Rio malah bertanya pada Aslan bukanya menjawab pertanyaan Fatih.
Dari situ Fatih sudah bisa menyimpulkan jika Rio memang ada rasa dengan Ismi, sama seperti dirinya. Tetapi Fatih tidak seberani Rio. Apa mungkin Fatih akan kalah saing dengan pemuda yang ada di sebelahnya?
"Kenapa kamu tanya saya?"sahut Aslan.
"Tapi kamu tau 'kan, yang saya tidak izinkan jika kamu berniat oacaran! Kaluu kamu serius, kamu bisa melakukan Ta'aruf dengan Ismi," ujar Aslan.
"Apa Ta'aruf?! Fatih hampir memekik.
Rio dan Aslan menatap Fatih.
"Maksud saya, bagus kalau memang mau Ta'aruf, setelah itu lanjut hitbah, ya 'kan, Gus? ujar Fatih cengengesan.
"Oh, kirain saya Ustadz marah! Karna Ustadz juga suka sama Ismi.
Fatih hanya tersenyum. 'Kamu benar, saya memang suka sama Ismi,' gumamnya dalam hati.
"Sudah malam, ayo kita kembali ke penginapan. Kamu juga Rio, sebaiknya pulang," ucap Aslan.
Ke Tiga lelaki tampan itu meninggalkan Ismi yang berada sendirian di dalam, dan mereka kembali ke tempat mereka masing-masing.
__ADS_1