
HAMIL TANPA DISENTUH (27)
Aslan sedang menikmati kebersamaannya bersama istrinya di halaman depan. Dari arah kejauhan Aslan melihat Karim berjalan dengan seseorang. Dapat beberapa menit Karim sampai di depan gerbang rumah.
"Assalamualaikum," ucap Karim dan Fatih berbarengan.
"Wa'alaikumsala," jawab Aslan dan Namira, sambil berdiri dan jalan mendekati Karim.
Keduanya mencium takjim tangan laki-laki tua itu, sedangkan ke Ustadz Fatih, Namira hanya menangkupkan ke dua tangannya.
"Sayang, kamu masuk duluan ya," suruh Aslan pada istrinya, yang di angguki oleh Namira.
Aslan memperhatikan langkah istrinya sampai punggungnya menghilang di balik pintu, setelahnya berjalan menyusul Karim dan Fatih yang sudah lebih dulu duduk di kursi taman.
"Tumben Ustadz, sore gini mampir," tanya Aslan, sambil menjatuhkan pan-t*tnya di kursi.
"Iya Gus, ada yang ingin saya sampaikan, sebetulnya Kiayi juga bisa menyampaikan ke Gus Aslan, tapi Kiayi malah ingin saya yang menyampaikan langsung." Ustadz Fatih menjelaskan sesuai pesan Karim di Masjid tadi.
"Karna Ustadz yang bertanggung jawab jika soal pembudidayaan ikan." Karim menimpali.
Aslan yang mendengar percakapan ke duanya merasa bingung, tapi dia tidak ingin menyela, Aslan hanya menunggu Ustadz Fatih menjelaskan.
"Begini Gus, tadi ada yang datang namanya Maher, beliau menyumbangkan bibit ikan yang sangat banyak," jelas Fatih.
"Maher?" Aslan mengulang perkataan Fatih dalam hati, "Kok saya seperti kenal nama itu," lanjutnya bergumam.
"Gus kenal sama Mas Maher?" tanya Fatih, yang ternyata mendengar gumaman Aslan barusan.
"Itu loh yang datang bersama Nak Dion, sewaktu kamu pergi ke Jakarta." Karim mengingatkan.
"Oh iya, Aslan ingat Bah, sebelum Aslan balik ke sini, dia juga chat Aslan. Kata Rido sih dia datang ke restoran nyari Aslan."
"Loh, kalau betul seperti itu, kenapa tadi waktu Abah ajak mampir Nak Maher menolak?"
"Mungkin karna hari sudah petang Kiayi jadi Mas Maher takut mengganggu." Kali ini Fatih yang menyahut.
Karim mengangguk, "Bisa juga seperti itu," ucap Karim.
"Tapi kok Aslan jadi penasaran ya Bah, kenapa dia ingin bertemu dengan Aslan?"
"Mungkin dia mau kasih tau Gus tentang keinginannya menyumbangkan bibit ikan, tapi dia kuatir mengganggu Gius, makanya Mas Maher datang, memberikan secara langsung." Fatih ikut menduga.
"Sudah-sudah tidak boleh berprasangka pa-pa untuk hal yang belum jelas, nanti timbulnya ghibah dan jadi fitnah." Karim mengingatkan ke duanya.
__ADS_1
"Ya sudah Kiayi, Gus, saya pamit sebentar lagi masuk magrib.
"Silahkan Ustad," jawab Karim, sambil tangannya menyambut uluran tangan Fatih.
Setelah kepergian Fatih, ke duanya pun beranjak meninggalkan taman dan menuju masuk ke dalam rumah.
Aslan langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setelah berdiri depan pintu kamar, Aslan tidak langsung mengetuk pintu, tapi dia malah masuk kamar sebelahnya setelah diam sebentar.
"Baiknya aku mandi dulu di kamar ini." Monolog Aslan setelah berada dalam kamar.
Sementara di kamar sebelah seorang perempuan tengah duduk di tepian tempat tidur, menunggu suaminya yang belum juga datang.
"Kok Bang Aslan belum juga masuk yah? Gak mungkinkan jam segini masih ngobrol." Namira melirik jam dinding. "Lebih baik aku melakukan persiapan untuk sholat magrib."
Dia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama untuknya menyelesaikan ritual mandi, karna hari pun hampir magrib, jadi Namira memilih untuk sekedar cucian.
Setelah selesai berganti baju, Namira memperiapkan kain, baju koko juga peci untuk di pakai suaminya nanti. Semuanya di letakan di atas kasur seperti biasa.
Ceklek...!
Terdengar pintu di buka, membuat Namira menoleh dan melihat siapa yang datang.
"Kok baru masuk Bang? Memang Ustadz Fatih baru pulang?" tanya Namira setelah Aslan mendekat.
Dia baru sadar jika penampilan suaminya sudah rapih, matanya menyipit memperhatikan penampakan suaminya.
Yang di tanya cuma cengengesan, "Iya maaf, ya. tadi Abang mandi sama ganti baju di kamar sebelah, sebenarnya sih gak sengaja mandi sama salin di sana."
"Gak sengaja gimana?" tanya perempuan itu, merasa aneh dengan alasan suaminya.
"Tadikan ada yang Abang mau ambil, ya udah sekalian aja Abang mandi sama ganti baju. Maaf yah sayang," ucapnya merasa tidak enak, setelah melihat pakain yang ada di atas kasur.
"Ya udah, gak pa-pa juga. Jadi besok-besok aku gak usah cape-cape nyiapin keperluan Abang," sahut Namira sambil berjalan menuju lemari untuk mengembalikan pakain milik suaminya.
"Eh.. gak gitu sayang! Abang beneran deh gak sengaja, jangan marah dong sayang, Abang janji deh gak kaya gitu lagi." Aslan menunjukan 2 jarinya berbentuk huruf V dan tangan satunya memegangi tangan istrinya yang tengah merajuk.
"Emm ....!" jawab Namira singkat.
"Udah yo, kita ke Masjid, bentar lagi nih, mau magrib. Hari ini jadwal Abang 'kan jadi imam?"
"Iya sayang, ayo." Aslan menggandeng tangan wanitanya.
Berdua berjalan menuju keluar, satu tangan Aslan di pakai membuka pintu, dengan satu tangan lagi tetap menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
Sampai di muka tangga, Aslan menghentikan langkah kakinya, " Sayang, Abang gendong, ya?" ujar Aslan.
"Ih Abang nih! Liat nih perut aku udah besar, aku gak mau nanti jatuh," tolak Namira, sambil menunjukan perutnya pada Aslan.
"Ya, sudah kalo gak mau, ayo Abang pegangin aja." Aslan mengalah pada penolakan wanita berbalut mukena itu.
Ke duanya menuruni anak tangga dengan perlahan, lebih tepatnya Aslan yang sengaja memperlambat jalannya.
.
Setelah melakukan sholat magrib dan isya, juga segala kegiatan santri di Masjid, pasangan suami itu kembali ke rumah, beristirahat dalam peraduan berselimut malam. Hanya saling menggenggam nanpa menuntut lebih, sebab ketulusan cinta yang mereka miliki.
***
Pagi yang cerah, menurut Maher. Rencananya dia akan datang lagi ke Pesantren dengan alasan ingin belajar tentang pembibitan ikan.
"Jadi gak sabar, pengen cepat-cepat siang." Monolog Maher sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.
Matahari di ufuk timur baru saja merangkak naik, Maher duduk bersantai di depan Villa mewahnya. Sesekali tangannya menyesap kopi hitam pekat lesukaan dia, dengan roti tawar tanpa selai.
Di ambilnya benda pipih yang tergeletak dekat cangkir kopi, lalu jari-jarinya menotak atik benda itu mencari kontak atas nama asistennya.
"Halo," ucapnya setelah panggilan terhubung.
"Bagaimana urusan di sana? Beres?" tanya Maher.
"Oh gitu, ya sudah kamu sering-sering aja tanya sama RT itu soal rumah Ayah Namira," perintah Maher setelah mendapat jawaban jika RT itu akan memberitahukan Aslan terlebih dahulu.
Maher bangkit dan berjalan ke dalam, untuk mengambil jaket dan kunci motornya. Dia ingin berjalan-jalan untuk menikmati pemandangan alam di sekitarannya.
Maher segera melajukan kendaraan roda duanya, dengan kecepatan sedang di susurinya jalan, yang kiri kanannya terbentang sawah yang masih hijau. Maher sengaja memilih Villa yang jauh dari warga.
Entah karna hatinya yang selalu memikirkan Namira, sampai dia tidak sadar jika dirinya sudah ada di jalan menuju Pesantren. Seketika Maher menghentikan laju motornya.
"Apa-apa'an nih! Kok bisa-bisanya gue ke jalan ini?" gumam dirinya.
"Gimana nih! Gue lanjut aja atau putar balik yah?"
Maher berpikir sebentar sebelum akhirnya memutar balik kendaraannya.
Baru saja berbalik arah, Maher malah diam di tempat, berpokir sejenak, dan kembali memutar tunggangan besinya.
"Ngapain gue pulang! Mending gue lanjut ke Pesantren, siapa tau gue bisa liat ....!"
__ADS_1
Di lajukannya kembali si hitam berbadan besi dengan kecepatan tinggi, seolah dirinya tidak sabar ingin bertemu wanita itu.
Apakah Maher akan benar-benar bisa bertemu dengan Namira? Dan apakah Namira akan siap jika nertemu dengan laki-laki yang sudah memporak porandakan kehidupannya di masa lalu?