
HAMIL TANPA DI SENTUH (15)
Pov Namira
Sudah seharian ini aku diam dan berusaha menghindari Aslan, aku benar-benar tidak mengerti kenapa Aslan melarangku untuk memberithukan Umi dan Abah soal kehamilanku. Sekarang itu membebani pikiranku. Aku tidak ingin kembali mengecewakan dan menyakiti umi dan Abah yang sudah berbaik hati mau menerima kekuranganku.
Aku hanya bisa menangis sambil memukul-mukul dada yang terasa sesak. Kutarik nafas dalam agar sesak ini berkurang dan saat aku ingin berbaring, ada yang kembali mengetuk pintu,
Tok ..tok ..!
"Namira!" Suara Aslan kembali memanggil.
Memang sejak siang tadi aku mengurung diri, dan sejak tadi siang juga Aslan berusaha menemuiku. bahkan seharian ini saja aku belum makan, hanya memakan satu roti sisa kemarin. Rasanya masih kesal dan marah untuk menemui Aslan.
"Sayang." Terdengar kembali suara Aslan,
tapi entah kenapa suaranya terdengar seperti ingin merayu. Aslan kembali memanggilku sayang, aku benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sikapnya, bukankah setelah pulang setelah pulang dari rumah sakit dia menghindari ku dan itu artinya Aslan tidak menerimaku.
"Namira, tolong buka pintunya yah, kita bicara? Abang minta maaf jika sikap abang menyakiti kamu."
"Sayang, tolong buka! Pokoknya abang gak bakal pergi sebelum kamu buka pintunya dan kita ngomong."
Benar apa yang aslan katakan, masalah tidak akan selesai jika seperti ini, aku sendiri harus menanyakan sikap Aslan. Jika aslan tidak ingin menerima, aku harus iklas.
Aku berdiri dan berjalan pelan mendeketi pintu,
ceklek...!
Pintu kubuka yang memperlihatkan Aslan tengah berdiri menatapku, aku membuang muka malas karna kesal.
Tanpa menunggu, Aslan memasuki kamar dan menarik lenganku yang terus berjalan,
"Lepas!" Kuhempaskan tangan Aslan, dan itu membuat Aslan terkejut.
Aku kembali meninggalkan Aslan, berjalan menuju taman samping kamar. Aslan terus mengekori dari belakang.
__ADS_1
Kuhepaskan diri di kursi taman, dan Aslan ikut duduk di sampingku. dia terus menatapku, dan aku kembali membuang muka, ada perasaan kesal dan juga malu.
"Namira!" Panggil Aslan sambil menggenggam tangan yang berada di pangkuan.
Karna tidak juga mendaoat respon, aslan memegang daguku dengan 2 jarinya dan menghadapkan wajah ini hingga mata kami saling tatap.
Aku malu melihat mata hitam itu, dan juga takut, takut melihat ada penolakan di dalam manik itu.
"Abang minta maaf, sikap Abang kemarin malan, pasti membuat mu tersinggung dan kecewa?" tanya Aslan dengan wajah serius.
Bulir putih ajaib tanpa permisi meluncur di ke dua pipiku, suara sesenggukan telah terdengar memecah malam yang langitnya terlihat mendung, sama seperti hatiku saat ini.
Huhuhuhu ....!
Aku terus menangis dan menunduk"
satu tangan Aslan terurur mengusap pipi, saat ini aku memang tidak memakai cadar, aku mulai terbiasa memperlihatkan wajahku padanya.
Ada remasan lembut di tangan dan usapan lembut di pipi, yang membuat jantungku berdetak lebih cepat.
"Aku tau Abang sangat kecewa, dan sakit hati dengan keadaanku saat ini. aku malu, aku takut, huhuhuuu." Kutanggupkan ke dua tanganku menutupi wajah.
"Abang yang salah, dan Abang enggak marah. justru Abang malu dengan diri Abang sendiri, bagaimana bisa Abang lupa dengan janji Abang jika Abang akan menerimamu dengan segala kekuranganmu, Abang minta maaf hmm?" Aslan merendahkan dan memiringkan sedikit kepalanya guna melihat wajahku yang sudah tertunduk.
Aku bangkit dari duduk melangkah dan berdiri sedikit jauh dari Aslan yang kini menatapku, dan aku langsung membelakanginya.
"Lebih baik kita berpisah, Abang orang baik, Abang pantas untuk mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dari aku." Aku mengatakan itu tanpa menoleh sedikit pun pada Aslan.
Terdengar suara langkah kaki Aslan mendekat, aku merasakan ada satu tangan memegang pundakku dan seketika membalikan tubuhku.
Sekarang Aslan berdiri di hadapanku, matanya terlihat memerah, apakah Aslan marah?.
Kembali helaan nafas itu di hebuskan Aslan, di pejamkannya mata, laku menatapku lekat, sulit kuartikan tatapan itu. Dan aku pun memberanikan diri mebalas tatapan Aslan.
"Kenapa kamu tega mengatakan itu? Apa kamu tidak percaya jika Abang benar-benar mencintai mu, dan Abang juga mau menerima ...." Aslan mengusap perutku yang masih rata.
__ADS_1
Aku langsung mundur, dan menggeleng cepat.
"Lihat aku Bang? Dan jangan kecewakan Umi dan Abah. Abang dengarkan apa yang Umi katakan jika Umi ingin memiliki cucu." Aku bicara sambil menangis dan memberi takananada kata cucu.
"Aku hina, kotor, aku sangat malu! Abang sebagai suami belum pernah menyentuhku, tapi lihat aku ....!
huhuhuhu ....!
Aku hamil." Suaraku pelan di akhir kata.
Tubuhku luruh jatuh ke tanah, aku sudah tidak sanggup menanggung beban ini. jika bunuh diri tidak di laknat oleh Allah, pasti aku sudah melakukannya.
"Aku memang akan segera memberikan cucu untuk umi dan Abah, tapi ini bukan anakmu." Aku terus menanggis menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan.
Tiba-tiba aku merasakan ada pelukan,
"Sayangnya Abang, kamu taukan cinta Abang denganmu karna Allah, Abang menjalani rumah tangga ini ibadah karna Allah." Kali ini suara Aslan terdengar parau, sepertinya Aslan menahan tangis.
"Tolong percaya dan biarkan Abang selalu berada di sisimu, kita jalani dan hadapi semuanya sama-sama hmm. Abang janji akan menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk anak kita." Aslan mempererat pelukannya.
Aku semakin menangis di pelukan suamiku, dan hanya ucapan syukur yang aku lantunkan di lisan dan hatiku.
"Bang ... Abang beneran enggak nyesel sama keputusan Abang menerima aku?" tanyaku dengan sesenggukan.
"Enggak akan ada penyesalan buat Abang. Abang akan menyayangi anak ini seperti anak Abang sendiri. Abang mohon kamu percaya sama Abang, itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi aku takut Bang, apa kat orang-orang, jika mereka tau tentang anak ini?"
"Kenapa harus takut sayang? Kita tidak perlu menjelaskan apapun pada mereka, jangan perdulikan apa kata orang nanti, yang terpenting kita hidup bersama dengan bahagia, hm."
"Terima kasih ya Bang, atas segala pengorbanan Abang buat aku dan anak dalam kandunganku.
Suamiku semakin memeluk erat, kunikmati saja semua kebahagiaan ini, bersama dia, yang sangat mencintaiku.
Aku ingin berusaha melupakan masa lalu yang begitu pahit. Dan juga belajar mencintai suamiku, seperti halnya dia yang sangat mencintaiku.
__ADS_1
Sungguh beruntung diri ini juga calon anakku, mendapatkan laki-laki seperti Aslan.
"Sekali lagi terima kasih, atas segalanya Abang. Aku akan terus berusaha menjadi istri yang baok untukmu. Bantu aku untuk bisa melupakan masa lalu uang telah mengjancurkan hidupku. Entah bagaimana aku jika kamu tidak hadir di hidup ku ini, Terima kasih," gumamku dalam hati.