
HAMIL TANPA DISENTUH
Satu minggu sudah Aslan berada di Jakarta. Sebetulnya tujuan Aslan datang ke Jakarta bukan hanya untuk urusan restoran saja, tetapi dia pun ingin menyelidikan semua kejadian yang menurutnya ganjil. Hari ini Aslan janji bertemu dengan orang kepercayaannya yaitu Rio. Selama sepekan juga Rio ikut mencari tau tentang laki-laki yang pernah menanyai beberapa karyawan restoran Aslan.
"Bagaimana, sudah tau lelaki itu siapa?" tanya Aslan.
"Sudah Gus. Namanya Rangga! Dari info yang saya dapat Rangga ini bekerja di Perusahaan besar, Arkhana Mager Grup. Ownernya bernama Mahendra Arkhana Mager. Tetapi Tuan Mahendra sendiri saat ini sedang mengurus perusahaannya di luar negeri. Perusahaannya yang berada di indonesia dipegang oleh seoeang CEO muda bernama Maher Arkhana Mager."
Degg!
'Maher!' Aslan mengulang nama itu dalam hati.
"Apa mungkin Maher yang sama dengan sepupunya Dion?" tanya Aslan pada Rio yang saat ini tengah menatap Aslan dengan serius.
"Tunggu ... bukankah nama panjang Dion adalah Dion Arkhana Mager?" seru Aslan.
"Kalau memang benar itu adalah orang yang sama, lalu apa maksudnya mencari infoemasi tentang saya?" Monolog lelaki itu.
Aslan semakin dibuat pusing dengan sikap Maher yang sekarang terkesan misterius.
"Menurut saya mereka orang yang sama. Sebab nama Arkhana Mager adalah nama keluarga. Yang saya tau nama Mager memang banyak, tapi ... Arkhana Mager, hanya dari keluarga Arkhana Mager grup."
"Jadi, maksud kamu, Maher memang sengaja menyuru seseorang untuk menyelidiki saya dan juga istri saya? Untuk apa?" pekik Aslan, ke Dua tangannya saat ini mengepal.
"Lebih baik Gus bicarakan masalah ini dengan Mas Dion, siapa tau Mas Dion bisa bantu." Rio memberi usul.
"Gak .. gak! Enggak mungkin saya minta bantuan Dion, secara Maher itu sepupu dia. pasti Dion tidak akan terima, bisa-bisa saya dianggap menuduh saudaranya tanpa bukti. Yang perlu saya selidiki sekarang adalah maksud dan tujuan Maher," ucap Aslan.
Tiba-tiba ponsel milik Aslan berbunyi dan menampilkan nama My Lovly Wife, dan itu adalah istrinya. Tangan laki-laki itu terangkat pada Rio, menandakan jika Aslan mau mengangkat telpon dan laki-laki itu berjalan sedikit menjauh.
"Assalamualaikum, sayangnya Abang," salam Aslan pada sosok wanita di sebrang sana.
"Wa'alaikusalam. Abang kapan sih pulangnya? Udah seminggu loh."
"Kenapa? Kangen, ya?" goda Aslan pada istrinya.
"Iya, aku kangen. Emangnya Abang! Yang gak kangen sama aku!"
"Hey, kok bilangnya kaya gitu sih! Abang seratus kali lebih kangen loh sama kamu, sama anak kita juga."
"Terus kenapa Abang belum pulang juga? Abang ... "
"Abang kenapa sayang?" tanya Aslan, mengerutkan kening.
Bukannya mendapat jawaban, justru Aslan mendengar isakan dari sebrang sana.
Hu..hu..hu....!
"Sayang, kamu kenapa? Jangan bikin Abang takut. Kamu sakit, hm? Mana Umi, kasiin ponselnya biar Abang ngomong sama Umi," ucap Aslan panik.
Istrinya itu hanya diam, lagi-lagi hanya isakan yang Aslan dengar.
"Sayang, ngomong dong sama Abang. Abang takut nih, kamu kenapa, hm? Marah ya sama Abang? Jawab dong?"
__ADS_1
"A-A-Abang ... Abang punya perem-perempuan lain 'kan? rengek Namira sambil sesenggukan.
Hahahaha ... uhuk..uhuk!
Aslan tertawa sampai terbatuk-batuk, istrinya ini sangat lucu sekali. Kenapa jadi posesif.
"Sayang Abang yang paaling Abang cinta ... Gak pernah ada perempuan lain di dalam hidup Abang sampai kapan pun selain kamu, hm." ungkap Aslan.
"Abang belum pulang karna masih ada urusan sayang. Tapi Abang janji, besok atau lusa Abang balik, hm," ujar Aslan.
"Abang janji?" tanya wanita di sebrang sana.
"Insa Allah sayang, pokoknya begitu urusan selesai, Abang langsung balik," jawab Aslan.
Panggilan pun di akhiri ke Duanya setelah mengucap salam. Setelah itu Aslan kembali menghampiri Rio yang sekarang tengah asik menikmati bakso yang baru saja dipesannya. Tak lupa Rio pun memesankan satu untuk atasannya yang sekarang sedang berjalan ke arahnya.
"Maaf, Gus. Saya makan duluan," ucap Rio setelah Aslan ada di depannya.
"Enggak pa-pa. Tadi saya lupa nyuru kamu buat pesan duluan," jawab Aslan.
"Bakso yang satu lagi, kamu aja, ya yang habiskan. Soalnya saya buru-buru harus cepat pulang. Tadi istri saya kasih kabar kalau Ismi, adik sepupunya akan ke Jakarta hari ini." Aslan memberitahu pada pemuda itu saat dirinya sudah duduk.
"Ismi....! Rio membekap mulutnya.
Aslan mengerutkan kening, meresa heran dengan sikap Rio yang terlihat berlebihan.
"Kenapa, kamu?! Kok kaya kaget gitu," tanya Aslan.
"Enggak pa-pa sih, Gus. Kaget aja."
Hehehe....! Rio cengengesan memperlihatkan deretan giginya yang putih. Aslan cuma geleng kepala, melihat ke absurtan orang kepercayaannya itu.
"Ya, sudah, kamu langsung balik aja ke restoran, ya."
"Baik, Gus."
*****
Setelah berpisah, Aslan langsung melajukan mobilnya ke rumah. Ada satu pesan dari iatrinya yang memberitahukan jika Ismi telah sampai di rumah Ayah mertuanya. Aslan bergegas berjalan ke arah mobil dan langsung pulang sebab di rumah hanya ada Fatih.
Tidak butuh waktu lama, laki-laki itu tiba dan memarkirkan mobil di halaman rumah. saat dirinya keluar dari mobil, terlihat Fatih sedang duduk di luar.
"Assalamualaikum, Ustadz!" salam Aslan setelah lebih dekat dengan Ustadz muda itu.
"Kok di luar, Ustadz?" tanya Aslan sambil menjatuhkan bobotny di kursi.
"Wa'alaikumsalam, Gus. Ismi sudah sampai, Gus," sahut Fatih.
"Saya juga sudah di beritahu istri saya tadi sebelum pulang ke rumah," cetus Aslan.
Saat mereka sedang asik mengobrol, datang perempuan muda berumur 18 tahun, dengan memakai pakaian gamis berwarna biru dengan kerudung senada. Di tangannya sudah ada nampan berisi 2 gelas kopi hitam.
"Assalamualaikum, Bang Aslan," salam perempuan cantik itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab ke Dua lelaki itu bersamaan.
"Ismi kok gak kabarin Abang kalau udah sampai Jakarta? Abang kan bisa jemput kamu ke terminal," tanya Aslan.
"Ismi gak mau ngerepotin, lagian Ismi juga kan udah besar," cetusnya.
"Em .. udah besar, ya!" seloroh Aslan sambil melirik ke arah Fatih yang tengah melihat ke arah lain.
"Gus!" panggil Fatih, sambil menoleh ke arah Aslan tapi tidak berani melihat Ismi, walaupun perempuan itu ada di depannya.
"Kenapa Ustadz?"
"Nanti kita tidur di mana? Gak mungkin 'kan di rumah ini?" tanya Fatih yang memang sudah Faham jika tidak munkin serumah dengan perempuan yang bukan muhrim.
"Oh, tenang Uatadz, itu sudah saya fikirkan. Nanti kita cari penginapan yang dekat-dekat sini aja. Biar tetap bisa mengawasi Ismi juga," beber Aslan, sambil menyeruput kopi hitam yang tadi di bawa Ismi.
"Ismi yakin mau tinggal sendiri di sini?" tanya Aslan pada perempuan muda itu, yang sekarang masih saja berdiri.
"Kenapa emangnya? Ismi berani kok!" sahut Ismi.
"Iya Abang tau kamu berani, tapi ya ... kamu ini perempuan, sendirian? Kok rasanya kurang baik, Kak Mira pasti khawatir," ucap Aslan.
"Percaya deh, Ismi bisa jaga diri kok. Abang lupa, ya! Ismi 'kan jago bela diri," protes Ismi.
"Gimana kalu Mbok, Abang suru datang lagi ke sini buat nemenin kamu?" tanya Aslan lagi pada perempuan itu.
"Terserah Abang aja lah. Ismi males berdebat sama Abang, Kak Mira juga. Ujung-ujungnya pasti Ismi yang harus ngalah," sahut Ismi sambil memutar mata malas.
Ismi sangat tau bagaimana sifat kakak sepupunya itu. Namira tipe perempuan dengan kekhawatiran tingkat tinggi pada orang yang di sayanginya. Ismi tidak ingin membuat kakaknya itu khawatir dalam kondisi sedang hamil besar, tentu akan tidak baik nanti untuk kondisinya.
Aslan pun langsung menghubungi si Mbok, guna meminta kesediaannya untuk datang kembali ke Jakarta. Untung saja si Mbok mau, setelah di beritahu jika ada Ismi yang tinggal di rumah Ayah mertuanya.
"Ayo, Ustadaz kita ke Masjid!" ajak Aslan, yang memang sudah terdengar tarhim dari toah Masjid.
"Ayo, Gus," jawab Fatih singkat.
Lelaki itu pun berpamitan pada Ismi, dan meninggalkan rumah menuju ke Masjid. Di perjalanan menuju ke Masjid yang memang tidak terlalu jauh dari rumah, Fatih melihat sosok laki-laki yang pernah di temuinya di Masjid perkantoran Maher. Dan laki-laki yang saat ini Fatih lihat adalah Maher sendiri.
Laki-laki itu tengah berbicara dengan pria paruh baya tak jauh dari pelataran Masjid. Fatih pun memberitahukannya pada Aslan.
"Gus, coba lihat!" tunjuk Fatih ke arah Maher berada.
Aslan mengikuti arah Fatih menunjuk, dan benar saja Aslan melihat Maher. Sungguh situasi ini membuat dirinya bertambah curiga. bukan bermaksud suuzon terhadap lelaki itu, tetapi kenapa semuanya serba kebetulan. Dan untuk apa Maher berada di Masjid komplek rumah istrinya. Bukannya jaraknya sangat jauh dari perkantoran miliknya? Atau memang dekat dengan rumahnya?
Aslan dan Fatih melanjutkan langkahnya menghampiri Maher dan laki-laki paruh baya itu. Dan saat sedikit lagi dekat denga ke Duanya, Maher tanpa sengaja menoleh ke arah Aslan. Lalu dirinya melambaikan tangan dan tersenyum.
"Assalamualaikum," salam Aslan dan Fatih bersamaan.
"Wa'alaikimsalam," jawab Maher dan lelaki yang bersamanya.
Ke Empatnya bersalaman ala laki-laki, dan saling bertegur sapa sekedar basa-basi. Karna waktu sebentar lagi masuk Magrib, Aslan mengurungkan niatnya untuk bertanya. Mereka pun berjalan ke tempat wudhu, dan berbarengan mengambil wudhu karna banyak kran yang dapat di gunakan. Setelah selesai, mereka mencari tempat untuk ikut berbaris membuat shaf.
Azan Magrib terdengar, semua jamaah diam mendengarkan seruan azan sambil masing-masing menjawab setiap seruan.
__ADS_1
Aslan berdiri bersebelahan dengan Maher, dan dari ekor mata Aslan, dia dapat menangkap jika lelaki itu suka mencuri pandang. Tetapi Aslan berusaha mengabaikannya. Lalu dirinya khusuk melaksanakan sholat.