
HAMIL TANPA DISENTUH
Aslan terbangun oleh alarm jam yang sengaja di pasangnya. Alarm dipasang pada jam 2, untuk pengingat bagi Aslan melaksanakan sholat malam. Laki-laki itu meregangkan otot-otot tubuhnya yang berasa kaku, terutama di bagian tangan. karna semalaman istri cantiknya tidur berbantal lengannya. Walaupun merasakan pegal yang amat sangat, dirinya tetap saja senang, di karnakan Namira sudah tidak lagi canggung menerima dan menunjukan perhatiannya.
Ditatapnya wanita itu, yang masih dalam posisi miring. sejak bangun tadi Aslan sudah memindahkan kepala istrinya pada bantal. Aslan usapkan jari tangannya pada pipi wanita itu, lalu mendekatkan bibitnya ke telinga istrinya,
"Assalamualaikum, sayang," ucapnya lembut sambil mengecup pelipis Namira.
Namira menggeliat, tetapi matanya masih saja terpejam. Aslan tersenyum nakal, lalu kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Namira. Dan di tiupnya dekat telinga peŕempuan itu. Kontan saja Namira merasa kegelian dan mengusap-usap telinganya. Mata perempuan itu terbukan dan menatap Aslan. Dengan wajah cemberut Namira langsung membalikan badan memunggungi suaminya.
Hahhaha!
Maaf sayang! Abang bercanda, jangan ngambek dong?" Aslan memegang bahu istrinya dan mencoba membalikan tubuh perempuan itu agar menghadapa ke arahnya.
Kini terlihat wajah cantik Namira yang kelihatan sekali masih mengantuk. Senyum terulas dari wajah tampan laki-laki itu. Tangannya menyingkirkan anak ramput yang ada di pelipis Namira.
"Bangun yuk! Kita sholat!" ajak Aslan.
Namira bangun dengan menahan tubuhnya dengan satu siku agar posisinya menjadi duduk. Aslan membantu dengan memegangi tubuh bagian belakang istrinya. Kini Namira sudah duduk, masih berusaha mengumpulkan nyawa.
"Abang duluan aja ambil wudhu, sebentar lagi aku nyusul," ucapnya.
"Enggak sayang, kalo Abang ambil wudhu duluan, terus nanti yang bantuin kamu siapa? Udah, kamu segerin aja dulu badannya, baru deh ke kamar mandi nanti Abang bantu."
"Iya, terserah Abang aja."
"Eh.. gemesin banget sih, istri solehanya Abang," seloroh Aslan sambil tangannya menoel hidung mancung milik istrinya.
Setelah belasan menit, Namira pun turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi, tentu saja dibantu oleh suaminya. Aslan khawatir takut Namira kepleset nanti.
"Abang ke luar dulu, aku mau buang air kecil!" sungut Namira, dirinya sedikit kesal dengan sikap posesif laki-laki yang ada di hadapannya.
"Tapi pintunya gak usah di tutup, ya?!"
"Abangg!" pekik Namira.
"Sayang, Abang takut, nanti terhadi pa-pa sama kamu, gimana?"
Namira menarik nafas, guna meredakan kekesalannya, dia benar-benar tidak habis fikir dengan sikap berlebihan suami tampannya itu.
"Abangnya Namira yang paling ganteng, coba deh Abang liat!" Mata perempuan itu menunjuk ke arah dalam kamar mandi.
Aslan memajukan kepalanya, dia bingung kenapa istrinya menyuruhnya untuk melihat ke dalam kamar mandi.
"Enggak ada pa-pa sayang."
"Itu kamar mandinya bersih Abang, gak licin juga. Kan Abang sendiri yang rajin bersihin kamar mandinya, jadi Insa Allah aman buat aku." jelas Namira, yang sejak tadi belum masuk ke dalam kamar mandi. Kali ini dirinya berharap setelah ini suaminya akan mengerti.
"Iya .. iya, Abang tunggu depan pintu." Akhirnya Aslan mengalah, walaupun dirinya masih saja khawatir.
Setelah mendengar itu, Namira langsung masuk. Namira hanya membersihkan diri, lalu mengambil wudhu. Hanya butuh waktu belasan menit dia sudah selesai dan keluar dari kamar mandi. Setelah berada di luar kembali terjadi drama dari suaminya itu. Aslan langsung memeluk bahu istrinya, sebetulnya dia juga ingin sekalian memegangi tangan Namira, tetapi itu tidak mungkin karna istrinya itu sudah berwudhu. Kali ini Namira pasrah, karna akan sia-sia saja jika ia protes dengan sikap Aslan ini.
Aslan langsung membawa Namira ke arah sofa, dan membantu istrinya duduk, "Kamu diam aja, ya! Tunggu Abang selesai ambil wudhu. Pokonya jangan ngapa-ngapain, biar Abang yang gelar sajadah. Mengerti?" ujar Aslan.
Namira cuma senyum-senyum, jujur dia bahagia mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya. Terlihat sekali jika suaminya sangat mencintai dia.
Aslan langsung berbalik dan pergi untuk berwudhu. Hanya butuh beberapa menit dia telah selesai. Aslan berjalan ke arah lemari, guna mengambil perlengkapan sholat. Lalu di gelarnya 2 sajadah. Namira langsung bangkit dari duduknya, dan menghampiri laki-laki yang baru saja selesai merapihkan perlengkapan sholat.
Namira langsung mengambil shaf di belakang Aslan. Aslan sendiri sudah berdiri dengan posisi siap menjadi imam. Sebelum memulai sholat, Aslan menyempatkan diri untuk menengok ke arah istrinya, untuk memastikan jika Namira juga sudah siap, "Sudah sayang?" tanya laki-laki itu.
"Sudah Bang." jawab Namira singkat.
Ke Dua insan itu khusuk menghadap sang Kholid. Lantunan ayat mengalir dengan indah dari bibir laki-laki itu. Setelah bebrapa rokaat mereka kerjakan, ke duanya melanjutkan dengan bacaa sholat dan zikir. Sambil menunggu masuk waktu subuh, Namira meminta suaminya untuk mendengarkannya melakukan murojaah bacaan qur'annya.
Tidak terasa sudah terdengar suara tarhim dari Masjid, Aslan berpamitan jika dia akan melaksanakan sholat subuh dengan para santri, "Sayang, Abang ke Masjid dulu yah!"
"Iya Bang," jawab perempuan yang saat ini masih memegangi mushabnya.
__ADS_1
Aslan mengulurkan tanganya, dan perempuan itu menyambutnya dan menciumnya takzim. Setelah itu laki-laki dengan baju koko dan sarung dengan warna senada itu meninggalkan kamar, sambil mengucapkan salam, "Assalamualaikum sayang."
"Wa'alaikumsalam!"
Sekitar pukul 8.00 WIB, laki-laki itu baru kembali ke rumah. Ada sedikit kegiatan di Masjid tadi bersama para Ustadz dan Ustazah, mereka kembali membahas tentang penyaluran kemampuan para santri.
"Maaf, ya sayang, Abang baru balik,"ucap Aslan setelah memberi salam.
Namira saat ini sedang berada di dapur bersama Mbok ndalem, dia sedang memasak untuk mereka sarapan. Seperti biasa Namira membuat nasi goreng ati ampela kesukaan suaminya, ditambah telur mata sapi setengah matang, itu khusus untuk Aslan. Karna ke Dua mertuanya tidak suka dengan telur setengah matang.
"Abang salin baju dulu, terus tunggu aku di ruang makan. Udah ada Umi sama Abah juga," pinta Namira.
"Siap sayang, laksanakan," Seru Aslan, sambil mengangkat tangannya memberi tanda hormat.
Si Mbok yang melihat Gusnya bertingkah seperti itu, tertawa sambil menutup mulutnya. Sedangkan istrinya cuma geleng-geleng kepala, dia tau jika suaminya sangat bucin.
"Gus itu suka lucu, ya Ning!" seloroh Mbok ndalem.
Hahahaha!
"Iya Mbok, Abang kenapa jadi bucin gitu, ya?!" ucap Namira.
"Itu karna Gus sangat cinta sama Ning," seru Mbok.
Setelah nasi goreng dan lauknya siap, Mbok membawa semuanya ke meja makan, sedang Namira di surunya untuk menunggu saja bersama yang lain di meja makan.
Saat ini ke Empatnya khusuk menikmati sarapan, tanpa ada pembicaraan apapun. Karna memang tidak baik saat sedang makan tapi kita sambil mengobrol. Setelah selesai Aslan membuka pembicaraan pada ke Tiganya.
"Umi, Abah, Namira, setelah sarapan aku mau pamit. Hari ini aku harus ke Jakarta," jelas Aslan.
"Kok mendadak Bang," tanya istrinya.
"Baru tadi subuh, Rio hubungi Abang, katanya ada yang harus Abang periksa dan ada calon investor yang ingin ketemu sama Abang."
"Sebaiknya kamu jangan pergi sendirian, kamu bisa ajak Ustadz Fatih buat nemenin kamu. Inget! Istri kamu sedang hamil besar." Perintah Karim pada putranya.
"Iya Abah, Umi, nanti Aslan tanya Uatadz Fatihnya, takutnyakan Ustadz Fatih juga sibuk. Apa lagi sedang ada rencana menjalankan program untuk para santri," jelas Aslan pada ke Tiganya.
Aslan mengambil benda pipih miliknya di saku celana dan mencari no Ustadz Fatih, lalu Aslan menghubungi no itu. Setelah beberapa menit dia selesai berbicara dengan Ustadz Fatih.
"Gimana?" tanya Farah, dan ke Tiganya sedang menatap Aslan.
"Bisa, Ustadz Fatih bisa nemenin aku hari ini." Dia memberitahu yang dikatakan Fatih.
"Alhamdulillah," jawab semuanya serempak.
"Ayo sayang, bantuin Abang packing barang, sebentar lagi Ustadz Fatih ke rumah," ajak Aslan pada istrinya.
Ke Duanya pun berpamitan pada Farah dan Karim. Aslan menggandeng tangan istrinya, mereka menuju kamar, "Sayang, selama Abang gak ada di rumah, kamu untuk sementar tidur di lantai bawah aja yah! Di kamar tamu," pesan Aslan yang sebenarnya khawatir harus meninggalkannya di rumah.
"Terserah Abang aja, nanti aku minta bantuin sama Mbok buat pindah kamar," ujar Namira.
"Gak usah sayang, nanti sebelum Abang pergi, Abang beresin barang-barang kamu dulu buat di bawa ke kamar tamu. Biar Abang tenang sayang, ninggalin kamunya," tolak Aslan.
"Abang nih, kaya yang mau perginya lama aja."
Hehehehe....!
Ke Duanya telah sampai di dalam kamar. Namira sibuk memilih apa saja yang mau di bawanya ke kamar tamu. Dia fikir hanya untuk sementar, jadi tidak terlalu banyak yang di ambilnya. Dia juga mengambil beberapa pakaian suaminya.
Sedangkan Aslan sibuk packing baju yang akan di bawanya nanti. Dia sendiri belum dapat memastikan berapa lamanya dia ada di Jakarta.
"Memang rencanya Abang berapa hari di Jakarta?" tanya Namira.
"Abang juga belum tau sayang, tapi Abang usahakan secepatnya Abang pulang. Mungkin paling lama 1 minggu Abang di Jakarta."
"Abang nanti tinggal di rumah Ayah aja, kan Ismi juga belum datang, katanya sih bulan depan dia baru berencana ke Jakarta," tutur Namira.
__ADS_1
"Oh gitu. Ya sudah, Abang juga sekalian mau ke temu Pak RT."
"Mau apa Bang? Apa Abang belum kasih tau Pak RT kalau rumah Ayah gak jadi di sewakan?"
"Udah sayang, Abang udah kasih tau kok. Abang cuma mau titip pesan aja, kalau nanti ada saudara yang akan nempatin rumah Ayah, sekalian titip minta di awasi, apa lagi Ismi bakalan tinggal sendiri 'kan?
"Aku gak nanyain itu ke Ismi, coba nanti aku tanya dianya."
"Udah selesai belum? Abang udah nih packingnya!" ucap Aslan sambil menunjuk koper.
"Udah kok Bang, lagian gak banyak barang yang aku bawa. Barang Abang juga sama cuma sedikit aja. Lagian kan bisa di ambil lagi ke kamar kalau ada yang kurang," jawab Namira.
"Eh.. janga dong sayang! Abang gak mau yah, kamu kecapean gara-gara bolak-balik naik turun tangga," cetus Aslan.
"Emm....!" jawab Namira singkat.
Terdengar notif dari benda pipih warna hitam milik Aslan, segera dia liat, yang ternyata pesan dari Ustadz Fatih yang memberitahu jika ia telah ada di rumah.
"Ayo sayang, Ustadz Fatih udah sampai."
Aslan menarik 2 koper sekaligus. Tetapi sesampainya di depan tangga, Aslan malah meninggalkannya, dan menggenggam tangan Namira.
"Eh, Abang itu kopernya kenapa di tinggal," tanya Namira yang merasa heran.
"Kamu gimana sih sayang, kan gak mungkin Abang bawa 2 koper sekaligus kamu. Nanti kalau kamunya kenapa-napa, hm?" tandas Aslan.
Namira pun tidak lagi bicara, dirinya hanya mengikuti langkah suaminya sampai habis anak tangga. Setelah berada di bawa, Aslan kembali menaiki anak tangga untuk mengambil 2 koper yang tadi di tinggalinya. Melihat itu Namira cuma geleng-geleng kepala.
Aslan menyeret satu koper dan di masukannya ke dalam kamar tamu yang akan Namira tempati nanti selama dirinya pergi. Setelah merapikan semuanya ke dalam lemari, Aslan kembali keluar dan menghampiri Istrinya yang ternyata sudah ada Farah dan juga Karim.
Ustadz Fatih yang sedari tadi menunggu di luar, akhirnya masuk sekedar ikut pamit oada semuanya. Namira, juga ke dua mertuanya mengantarkan sampai ke depan. Aslan menyalami ke dua orang tuanya, dan berganti istrinya yang menyalaminya dengan takzim. Sebetulnya Aslan ingin mencium istrrinya, tetapi dia takut Namira akan malu karna ulahnya.
"Kita pergi dulu ,ya!" pamit ke Duanya.
"Assalamualaikum," salam Aslan dan Fatih.
"Wa'alaikumsalam." ke Tiganya menjawab berbarengan.
Setelah ke Dua laki-laki itu pergi menggunakan mobil Aslan dengan Fatih yang menjadi supirnya, Farah mengajak menantu kesayangannya ke dalam.
Sementar ke Dua laki-laki tadi telah berada di jalan utama, "Gus, kita mau kemana? Langsung ke restoran atau ke rumah mertua Gus dulu?" tanya Fatih dengan tatapan tetap fokus ke depan.
"Kita ke restoran sebentar, saya mau ketemu calon investor dulu."
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. Tetapi Aslan mengambil ponselnya dan kencari kontak atas nama Dion. Di tekannya logo telpon berwarna hijau. Tidak butuh waktu lama sambungan langsung terhubung,
"Assalamualaikum, Dion!" salam Aslan pada laki-laki di sebrang sana.
"Wa'alaikumsalam, Gus. Ada kabar apa nih Gus, tumben?" tanya laki-laki itu.
"Kebetulan saya ada urusan di Jakarta, ada waktu gak buat ketemuan?" tanya Aslan.
"Boleh, kapan, di mana?"
"Gimana kalau nanti malam di rumah mertua saya, nanti saya serlok?
"Ok, nanti sehabis isya, saya ke sana."
"Ok, makasih ya! Assalamualaikum." Aslan mengakhiri pangilannya dan kembali memasukan benda pipih itu ke saku celananya.
Waktu mertua Aslan meninggal, Dion tidak bisa datang untuk takziah, karna dia ada urusan kantor ke luar kota. Makanya Dion tidak tau rumah orang tua Namira.
"Maaf Gus, Dion itu saudaranya Mas Maher 'kan?" tanya Fatih, karna pernah mendengar nama Dion dari Kiayi.
"Itu yang saya belum tau. Tempo hari ada orang mencari saya dan namanya Maher juga. Apa Maher yang mencari saya dengan Maher saudara Dion adalah orang yang sama. Itu juga yang ingin saya tanyakan pada Dion.
Aslan penasaran, dengan tujuan Maher yang ingin bertemu dengannya. Apakah Aslan akan bertemu dengan Maher nanti? Apa Maher akan memberitahukan Aslan segalanya tentang dirinya dan juga Namira?
__ADS_1