
HAMIL TANPA DISENTUH (29)
Setelah hari di mana Maher telah melihat wanita yang mejadi calon Ibu dari anaknya, dunia Maher seolah hanya berputar tentang Namira. Dia berfikir keras, bagaimana caranya untuk mengambil bayinya nanti. Karna dengan begitu Namira dengan sendirinya akan ikut dengan dia. Maher mulai menjadi laki-laki berfikiran licik dan picik.
Saat sedang asik melamun tiba-tiba benda pipih berwarna hitam miliknya berbunyi. Maher segera meraih dan menekan tombol hijau yang menyambungkan ke duanya,
"Assalamualaikum, Tuan!" ucap laki-laki di sebrang sana melalui sambungan telepon.
"Wa'alaikumsalam, ada kabar apa Rangga?" jawab Maher, sekaligus bertanya pada asistennya.
"Apa! Gak jadi!" sahut Maher dengan nada kesal setelah di beritahu oleh Rangga, jika rumah Namira tidak jadi di sewakan.
Maher langsung memutus sambungan telpon sebelah pihak, dirinya sangat kesal. Pupus sudah harapannya untuk mengenang keberadaan Namira di rumah itu.
Maher langsung menjatuhkan bobotnya ke atas sofa, ke dua tangannya mengepal dan memukul sofa.
"Si-al! Kenapa sih! Pake gak jadi segala ...."
arghhh...!
Teriak Maher, sambil mengacak rambutnya. Untuk masalah kecil seperti itu saja sudah membuatnya frustasi. Lalu, bagaimana jika nanti dia tidak bisa mendapatkan bayinya dan juga Namira? Apa Maher akan menjadi gila?
****
Aslan mengajak Namira jalan-jalan sore keliling pesantren, "Sayang, kata Umi, tadi pagi ada tamunya Ustadz Fatih ke kebun sayur?" tanya Aslan.
"Iya Bang, kalo gak salah namanya ... Ma-Maher!"
"Maher?" Aslan mengulang ucapan istrinya.
"Kenapa Bang? Abang kenal?
"Sepertinya Abang pernah denger nama itu sayang... bentar, Abang inget-inget?" Aslan menghentikan langkahnya, dan dia nampak serius memikirkan nama Maher.
"Abang inget sekarang! Sebelum kita balik ke Pesantren, Rio kan ada chat Abang, katanya ada laki-laki yang datang ke restoran nyari Abang. Dia ninggalin no tlpon ke Abang, terus Abang chat kan dia. Dan laki-laki itu memperkenal dirinya bernama 'Maher'. Tapi abang gak tau sayang, mereka dua orang yang sama atau berbeda?" Aslan menjelaskan pada istrinya yang tengah menatapnya serius.
"Dia juga ada ngajak Abang ketemuan waktu itu! Tapi karna kita mau pergi, jadinya Abang tolak," lanjut Aslan.
__ADS_1
Lalu ke Duanya melanjutkan perjalanan. Kali ini Aslan tidak menuruti keinginan istrinya pergi ke tempat favorite Namira. Tetapi Aslan mengajak Namira ke bagian sisi Pesantren yang belum pernah Namira datangi.
Sesampainya di tanah lapang yang berumput, nampak banyak pohon mangga tinggi berbuah lebat, dengan batang besar. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, terlihat satu pohon mangga dengan batang besarnya yang terlilit tambang besar, dan di bagian bawah tambang ada papan yang sisi-sisinya di ikat tambang tadi.
Senyum terbit di wajah cantik Namira. Bagaimana tidak? Sudah sangat lama dirinya ingin bermain ayunan.
"Abang! Itu ayunan siapa?" pekik Namira kegirangan.
"Abang yang buat, itu untuk kamu sayang."
"Namira tidak lagi menjawab, seperti anak kecil dirinya langsung melangkah lebar untuk menghampiri ayunan itu.
Aslan yang melihat istrinya berjalan cepat dengan kondisi hamil besar, langsung panik dan berusaha memegang tangannya.
"Sayang ... pelan-pelan! Kasian dede bayinya! Lagian ayunannya juga gak bakal pergi kok. Nanti kamu bisa main sepuasnya," seru Aslan yang berhasil memegang tangan Namira.
Namira malah tertawa kecil di balik cadarnya. Dirinya sampai lupa jika sedang hamil.
"Maaf Abang! Aku lupa."
Aslan menggenggam tangan Namira dan berjalan bersama ke arah ayunan. Namira memandangi ayunan yang sudah di lilit bunga di bagian tambangnya.
"Wah! Cantik banget ayunannya. Makasih ya Bang." ucapnya sambil menyadarkan kepala di bahu Aslan.
Tangan Aslan langsung terulur mengusap kepala berbalut hijab itu, dan membuka sedikut cadar yang menutuo wajah Namira. Di condongkannya wajah Aslan ke samping dan,
Cupp!
Satu kecupan mendarat di bibir ranum milik wanita itu.
"Abang, malu, nanti ada yang liat." sahut Namira malu-malu dengan wajah bersemu merah dibalik cadarnya.
Aslan membantu istrinya untuk duduk di ayunan, lalu ke dua tangan kekarnya mendorong pelan tubuh istrinya. Wanita cantik itu tertawa senang, kakinya menjuntai sambil di mainkan. Aslan yang mendengar tawa itu ikut senang. Tidak sia-sia usahanya naik ke atas pohon mangga di bantu para santri untuk mengikat tambang di batang pohon mangga tadi pagi.
"Sayang," panggil Aslan lembut. "Pulang yuk?"
"Kenapa? Aku masih pengen main ayunan Bang!" jawab perempuan itu.
__ADS_1
"Liat tuh, udah tambah sore!" Aslan menunjuk langit yang sudah menyemburkan semburat jingga.
"Gak baik loh, perempuan hamil masih ada di luar udah mau surub, Itu kata Umi."
Tanpa banyak kata Namira menurut perkataan suaminya. Dia pun mngikuti langkah suaminya yang sudah menggenggam tangannya. Ke duanya kembali ke rumah, menikmati suasana sore dengan rasa bahagia. Sepanjang perjalanan ke Duanya membahas tentang acara tujuh bulanan yang rencananya akan di laksanakan sebentar lagi.
"Bang, kata Umi, acara tujuh bulanannya pas masuk usia delapan bulan aja," ucap Namira.
"Ya udah, kita serahin aja semuanya sama Umi, ya?!"
"Iya Bang, aku manut aja."
"Gak berasa ya sayang, tau-tau sekarang kehamilan kamu sudah masuk tujuh bulan. Sebenyar lagi dedek utun lahir. Abang udah gak sabar pengen gendong," cetus Aslan penuh semangat, sambil satu tangannya mengusap perut besar Namira.
Bukannya senang mendengar ucapan suaminya, justru wajah Namira berubah murung, dan itu di sadari oleh laki-laki di sebelahnya. Aslan pun menghentikan langkahnya, dan memegang lengan wanita yang ada di sampingnya.
Di hadapkannya wanita itu, dan di tatapnya lekat manik indah milik istrinya, sambil tersenyum Aslan berkata, "Ada apa sayang? Apa ada ucapan Abang yang menyakiti hati kamu, hm?
Namira hanya menggelengkan kepala, butir bening jatuh dari ke Dua mata indah perempuan itu. Dan itu berhasil membuat Aslan menjadi panik. Ditangkupkannya ke dua tangan kekar miliknya pada wajah yang kini berubah muram, dengan cadar sudah basah karna air mata yang tidak juga berhenti.
Kini terdengar isakan kecil dari wanita itu, yang membuat hati Aslan perih. 'Entah kebodohan apa yang di lakukannya, dan membuat wanita yang sangat di cintainya sekarang terluka'. Itulah yang ada dalam fikiran Aslan.
"SeKali lagi maafin Abang, ya? Jika kamu keberatan Abang menganggap anak ini sebagai anak Abang?" ucap Aslan dengan wajah tertunduk.
Entah apa yang membuat Aslan berfikir seoerti itu, dia telah salah faham dengan sikap istrinya. kini ke Dua tangannya tidak lagi memegang wajah istrinya, ke Duanya telah ia jatuhkan kembali ke samping tubuhnya.
Namira yang melihat perubahan sikap pada laki-laki yang kini telah mengisi hati dan hari-harinya, menjadi merasa bersalah, ia berfikir tidak seharusnya dia bersikap seperri tadi. Diambilnya ke Dua tangan kekar itu,
"Bang ... maafkan aku, ya? Maksud aku bukan seperti itu. A-aku hanya malu." Suaranya lirih.
Manik ke Duanya saling bertemu, terikat untuk beberapa detik, lalu Namira tertunduk.
"Ayo sayang, kita pulang! Nanti kita bicara di rumah saja, ya?!
Pasangan itu kembali melanjutkan perjalanan tanpa ada seorang pun yang membuka obrolan. Ke Duanya asik dengan fikiran masing-masing. Tetapi Aslan sudah berjanji pada dirinya sendiri, apapun yang terjadi nanti dia tidak akan meninggalkan istrinya. Dan apapun keinginan istrinya nanti dia akan berusaha mewujudkannya.
Pasangan yang tengah bahagia itu tidak tau jika ada seseorang yang akan menjadi orang ke tiga diantara mereka.
__ADS_1