HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 33


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH (33)


Setelah pertemuan hari itu dengan Aslan, Dion jadi kepikiran. Selama beberapa hari ini Dion berusaha menghubungi Maher, tetapi ponselnya tidak aktif.


"Sebetunya lu kemana sih Her? Apa yang lu sembunyiin dari gue?" Monolog Dion.


"Sayang, Abang ke rumah Maher dulu, ya?!" tanya Dion pada istrinya Wulan.


"Bukannya Abang kemarin udah ke rumah Bang Maher, ya? Kata si Mbok, Bang Maher jarang pulang 'kan?" cetus Wulan.


Dion nampak berfikir, lalu dia mengambil benda pipih miliknya yang ada di atas nakas. Lelaki itu mencari kontak atas nama sepupunya itu, lalu mengirim pesan,


"Lu di mana? Gue mau ketemuan!" Tulis Dion. Tetapi sayang pesannya cuma centang satu.


"Kenapa Bang?" tanya Wulan cemas, gak biasanya suaminya gelisa hanya karna memikirkan Maher.


"Enggak pa-pa, sayang."


Wulan menatap intens wajah tampan suaminya. Mata Wulan sampai memicing, meminta penjelasan.


"Kenapa sayang? Kok liatin Abangnya kaya gitu? Abang tambah hansom, ya? seloroh Dion sambil menaik turunkan ke Dua alisnya.


Wulan membuang muka, malas. Suaminya ini senang sekali memuji diri sendiri, walaupun pada kenyataannya memang benar, Dion memang tampan.


"Abang pergi dulu, ya? izin Dion.


"Aku ikut, ya!" pinta Wulan.


"Eh, jangan dong sayang," imbuh lelaki itu.


Wulan langsung cemberut, tetapi Dion tidak kehabisan akal, Dia langsung merayu istrinya agar tidak marah.


"Sayang, Abang bukan gak mau ngajak kamu! Abang mau ke kantor Maher. Abang takut nanti kamu kecapean terus bete nungguin Abang," Dion beralasan.


Akhirnya Wulan pun mengalah. Memang benar yang di bilang suaminya, pasti dia bakal bete kalau nungguin Dion selesai urusan dengan Maher.


"Ya udah deh, Abang boleh pergi!" ucap Wulan.


"Makasih sayang!" sahut Dion, sambil mengulurkan tangannya untuk di cium oleh istrinya.


Setelah berpamitan, Dion meninggalkan rumah menggunakan motor sport kesayangannya. Dion tidak mau kejebak macet, karna sudah jam karyawan pulang. Dion melajukan motornya pelan menuju kantor milik sepupunya itu.


Dion mengambil jalan tikus, jadi dia sedikit terhindar dari kemacetan. Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, akhirnya Dion sampai di perusahaan milik Maher. Dion langsung menuju basemen untuk memarkirkan kendaraannya. Setelah memarkirkan motor, Dion langsung berjalan menuju lif yang ada di area parkir. Dion langsung menekan tombol menuju ke lantai, di mana ruang pribadi Maher berada.


Setelah sampai di lantai itu, Dion berjalan ke arah ruangan Maher. Di depan ruangan itu ada seseibu, yang adalah sekretaris Maher.


"Mbak, Mahernya ada?" tanya Dion.


"Ada, Pak Dion. Langsung masuk aja," jawab seseIbu itu, yang sebetulnya sudah mengenali Dion.


Maher sengaja memilih wanita berumur di atas 30 tahun untuk menjadi sekretarisnya. Dia hanya tidak ingin dibuat ribet jika memiliki sekretaris muda, dikhawatirkan sekretaris itu tidak profesional dalam bekerja, malah ingin mengejar dirinya.


"Aku masuk, ya!"


"Iya Pak, silahkan."


Dion melangkahkan kakinya mendekati pintu ruangan Maher. Dion tidak mengetuk pintu, tadi dirinya sudah diberi tahu jika tidak ada tamu di dalam. Itu sebabnya Dion langsung menerobos masuk.


"Assalamualaikum," ucapnya sambil mendorong pintu.


Setelah pintu terbuka, nampak Maher yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Maher menoleh pada suara tadi, matanya memicing melihat Dion yang sekarang tengah berjalan mendekatinya.


Maher sengaja kembali ke Jakarta, karna ia diberi tahu oleh Rangga jika Aslan pun sedang berada di Jakarta.


Dion langsung mengambil duduk di kursi kosong di hadapan Maher. Tanpa basa basi Dion langsung bertanya, "lu ke mana aja, he? Kata si Mbok lu jarang pulang. Ada apa Her? cerca Dion.


Maher bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sofa yang ada di depan meja kerjanya. Dion pun mengekori sepupunya itu. Saat ini ke Duanya telah duduk di sofa empuk berwarna hitam tersebut.


"Mau minum apa?" tanya Maher basa- basi.


"Enggak usah, gue udah kenyang tadi udah minum segalon di rumah," seloroh Dion dengan nada bercanda tetapi wajahnya malah terlihat serius.


Maher yang memperhatikan gelagat saudaranya itu sejak tadi, merasa jika ada sesuatu yang penting yang akan di bicarakan oleh Dion.


"Ada apa, On? Kenapa dari baru sampai muka lu kaku begitu? Udah kaya kanebo kering aja lu!" goda Maher.


"Gua ada mau ngomong serius sama lu!" tandas Maher.


"Lu mau ngomong apa sih? serius bener."


"Lu ada urusan apa sama Gus Aslan, sampai-sampai lu cari dia terus ngajak ketemuan?" ujar Dion.

__ADS_1


"Aslan yang cerita ke lu?" celetuk Maher.


"Iya! Beberapa hari lalu, dia ngajak ketemuan sama gue. Terus dia nanya soal lu. Dia cuma mau mastiin lelaki yang ngajak dia ketemuan adalah lelaki yang sama dengan saudara gue, elu!


"Lu ada urusan apa sama Aslan, Her?" tanya Dion mengintimidasi.


"Gue cuma mau bilang ke dia, kalau gue pengen nyumbang bibit ikan buat pesantrennya. Itu aja!" jelas Maher, berbohong.


"Gua kenal lu dari orok, gak mungkin cuma karna lu kepengen nyumbang sampai segitunya. Biasanya juga lu suru tuh asisten lu yang ngurusin ... tapi sekarang ... "


"Jujur sama gue, Her?" desak Dion.


'Gak mungkin gue jujur sama lu, On, kalau gue adalah ayah dari anak yang dikandung istri sahabat lu. Dan gue juga yakin, kalau Aslan juga gak mau sampai lu tau.' ucap Maher dalam hati.


"Beneran gak ada pa-pa! Gue kan mikirnya itu Pesantren punya teman lu, kok berasa gak enak aja kalau gue suru si Rangga buat ngurusin semuanya. Gue jugakan pengen silaturahmi sama teman lu. teman lu, teman gue juga 'kan?"


Dion diam mencerna kata-kata sepupunya. Dion merasa ada benarnya juga apa yang dikatakan lelaki itu, jika temannya adalah temannya juga.


"Fine! gue terima alasan lu. Tapi kenapa lu sampai jarang pulang, he? Cewe mana yang udah nahan lu?" Selidik Dion.


"Ataqfirullahalazim, lu fikir gue Maher yang dulu? Gue ada urusan bisnis. Lagian lu juga tau, papa gue ada di luar negeri ngurusin perusahaan yang di sana! Ya, otomatis semua perusahaan di sini gue yang tanggung jawab."


"Bener juga sih, hehehe....! ucap Dion cengengesan.


Dion melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah menunjukkan angka 11.30 WIB.


"Isoma yuk! Bentar lagi zuhur," ajak Dion.


"Ayo!" jawab Maher singkat.


Ke Duanya meninggalkan ruangan, dan berjalan menuju lif. Di tekannya tombol menuju lantai bawah. Sesampainya di bawah, Dion dan Maher memutuskan untuk berjalan ke Masjid, karna memang jaraknya yang tidak terlalu jauh. Masih satu area dengan kantor. Sesampainya di depan gerbang Masjid, Maher kembali melihat tukang buah yang tempo hari dia pengen. Dari situlah Maher mendapat firasat tentang kehamilan Namira.


"Lu mau beli petis lagi?" tanya Dion sambil menepuk punda saudaranya yang tengah melamun.


"Eh, enggak," imbuh Maher.


Dua lelaki itu kembali berjalan menuju tempat wudhu, sesampainya di tempat wudhu, mereka di kejutkan oleh kehadiran Fatih yang juga sedang berwudhu.


"Assalamualaikum Ustadz!" Dion memberi salam setelah Fatih selesai.


"Wa'alaikumsalam, eh Mas Dion, Mas Maher." sapa Fatih.


"Ustadz sendirian?" tanya Maher penasaran, sambil matanya melihat sekeliling.


Dion kembali memperhatikan gelagat Maher yang tidak biasa.


"Kalau gitu saya izin duluan." Pamit Fatih.


"Silahkan Ustadz. Tolong sampaikan juga ke Gus Aslan, jika ada sepupu saya Maher. Kebetulan sekali 'kan ketemu di sini!" pesan Dion.


"Baik Mas, nanti saya sampaikan."


****


Setelah melaksanakan sholat zuhur, Dion dan Maher sudah lebih dulu ke luar, sedangkan Aslan juga Fatih masih duduk bersila, mulut ke Duanya masih berzikir. Dion bermaksud menunggui 2 lelaki itu, tetapi berbeda dengan Maher, dia ingin langsung kembali ke kantor dengam berbagai macam alasan. Tetapi bukan Dion namanya bila tidak bisa menahan sepupunya itu. Dion tidak kalah pintar mencari alasan agar Maher tetap ada di sini untuk menunggu Aslan dan Fatih.


"Apa sih lu, Her! So sibuk banget!"


"Hey, gue bukan so sibuk, ya! Tapi gue emang orang sibuk," sungut Maher.


Dion terkekeh, "iya lu orang sibuk. Tapi... "


"Tapi apa ....!


"Gue udah nanya ya, sama sekretaris lu yang cantiknya Masya Allah, hehehe ... kalau hari ini jadwal lu kosong sampai sore," ejek Dion,


Sambil memutar bola matanya malas.


Maher seperti di skak mat oleh saudaranya itu, dan pada akhirnya dirinya pun pasrah ikut menunggu Aslan dan Fatih.


Selang belasan menit menunggu, akhirnya 2 lelaki tadi ke luar Masjid.


"Eh, Dion, masih di sini?" tanya Aslan sambil berjalan menghamppiri 2 lelaki yang tengah duduk bersandar di tiang Masjid.


"Kan nungguin Gus,"


Hehehe! Aslan garuk-garuk kepala yang tak gatal.


"Ini?" tanya Aslan sambil menunjuk ke arah Maher.


Dion dan Maher bangkit dan sekarang 4 lelaki itu saling berhadapan. Sungguh pemandangan yang langka bagi kaum hawa yang sedang memperhatikan semuanya, 4 lelaki sangat tampan tengah berkumpul.

__ADS_1


"Ini Maher Gus, sepupu saya. Orang yang sama yang mencari Gus," ungkap Dion.


Aslan dan Maher berjabat tangan ala laki-laki.


"Gimana kalau kita makan siang bareng?" cetus Maher.


"Tapi On, gue ....!"


"Sepertinya Mas Maher sibuk?" cetus Aslan.


"Sibuk apa? Hari ini dia nganggur, Gus!"


Maher yang mendengar kata 'nganggur' matanya langsung melotot ke arah Dion.


"Nganggur katanya?!" gumam Maher.


"Bisa kok, cuma makan siang aja 'kan?!" pungkas Maher.


Mereka berjalan menuju ke areal parkir, dan semuanya sepakat jika akan menggunakan mobil Aslan untuk menuju rumah makan. Kali ini Dion yang membawa mobil Aslan, sedangkan Aslan sendiri duduk di sebelah Dion. Fatih dan Maher berada di tengah. Bukan tanpa Alasan Dion yang menjadi supir, pasalnya dialah yang paling hafal tempat-tempat yang merekomendasikan makanan enak. Dion memilih rumah makan sunda dengan nuansa alam. Dengan banyak saung membuat mereka lebih nyaman menikmati dan mengbrol nanti setelah makan siang.


Hidangan sunda sudah tersaji, sesuai kebiasaan ketika makan tidak akan ada obrolan. Hanya kunyahan mulut yang terdengar. Setelah selesai 4 lelaki itu memesan kopi sebagai teman mengobrol.


"Oh ya, Mas Maher waktu itu nyari saya, ada perlu apa, ya?" tanya Aslan, ketika ingat tentang kedatangan Maher ke restorannya waktu itu.


Maher diam, sebetulnya dia ingin bicara 4 mata dengan Aslan. Tapi waktunya kurang pas menurut Maher.


"Gak ada yang penting sih, Gu-s ... "


"Eh, jangan panggil Gus lah, panggil nama aja," tolak Aslan.


"Saya sungkan kalau harus panggil nama. Dion aja yang sudah lama menjadi sahabat Gus masih memanggil dengan sebutan 'Gus', apa lagi saya yang baru kenal," ujar Maher.


"Itu sih, Dionnya aja yang bandel. Udah di kasih tau panggil nama aja, masih aja ngeyel," timpal Aslan sambil melirik Dion


"Enggak enak Gus, hehehe ....! sahut Dion.


"Sudah, mulai sekarang kalian panggil nama saja," pinta Aslan kembali.


"Kecuali saya, ya Gus! Enggak mungkin saya panggil Gus dengan panggilan nama. Selain tidak sopan, saya juga kan lebih muda dari Gus," tolak Fatih


"Ustadz mau bilang saya tua?" cetus Aslan, pura -pura tidak suka.


"Eh, bukan itu maksud saya Gus, maksudnya ... "


"Bercanda Ustadz!" sahut Aslan.


Fatih garuk-garuk kepala yang tak gatal.


"Mas Maher ....! Aslan berhenti karna Maher memotong kalimatnya,


"Maher, Gus! Saya di suru manggil nama tapi kamu sendiri manggil saya Mas, hahaha!


Hahahaha...! Semuanya tertawa.


"Iya, saya cuma mau ngucapin trima kasih atas sumbangan bibit ikannya. Kenapa ente gak nemuin saya waktu itu? Abah bilang ente nolak di ajak ke rumah?


"Udah sore, jadi saya gak enak."


"Kapan-kapan boleh saya ke sana lagi? Ke Pesantren?" tanya Maher


"Eh, ngapain lu bolak-balik ke sana terus? Lu mau belajar agama sama teman gue?" tanya Dion.


"Bukan, gue mau belajar ternak ikan," jawab Maher.


"Ternak! Lu kira ayam, di ternak," celetuk Dion.


Maher memegang tengkuknya, dia malu, mungkin salah sebut.


"Sama aja 'kan, Ustadz?!" tanya Maher mencari pembelaan.


"Iya, sama aja kok." jawab Fatih.


Setelah berlalu puluhan menit, semua lelaki itu mengakhiri obrolannya, masing-masing kembali ke tempat tujuan. Dion juga Maher menolak ketika Aslan akan mengantarkan mereka.


"Gak usah Lan, kita kan beda arah, biar nanti kita di jemput supirnya Maher," ucap Dion.


"Ya sudah, kalau begitu kita bersua pamit duluan. Mereka pun berjabat tangan. Aslan dan Fatih berjalan ke tempat oarkir mobil, baru saja dia akan membuka ointu mobil, terlihat satu notif di layar ponselnya. Aslan mengira itu adalah istrinya, tetapi notif itu menampakan nama Maher. Segera Aslan membukanya, karna dia merasa heran, baru saja ketemu kenpa lelaki itu berkirim pesan padanya.


"Bisa lain waktu kita bicara 4 mata?"


'Kenapa dia ngajak ketemuan berdua, ada apa?' ucap Aslan dalam hati.

__ADS_1


"Baik, nanti saya kabari waktunya."


Mungkinkah Maher serius akan memberitahu Aslan kebenaran tentang dirinya juga Namira?


__ADS_2