
HAMIL TANPA DI SENTUH (8)
"Ya Allah, hamba sungguh tidak mengerti dengan sikap suami hamba, mengapa dia seperti biasa saja. Apa sunggu-sungguh dia mau menerimaku apa adanya? Aku yang sudah tidak suci, aku yang hina." Namira tidak juga beranjak dari sajadah sejak sholat magrib tadi.
Aslan seperti biasa mengikuti jamaah sampai isya nanti, baru setelahnya dia kembali.
Namira terus beristigfar, berzikir memohon ampunan atas segal dosa-dosanya. Sekarang Namira sangat takut, jika pada akhirnya Aslan tidak menerima dan menceraikan nya akan kah Aslan akan memberitahukan kenyataan yang sesuangguh nya kepada sang Ayah. Tidak, Namira tidak akan membiarkan itu terjadi, dia akan memohon agar Aslan tidak memberitahukan Ayahnya.
Menunggu masuknya waktu isya Namira membaca Qur'an untuk menenangkan hati.
Sementara di tempat lain ada laki-laki yang saat ini duduk bersimpuh menghadap Robnya dengan khusyu. Aslan melakukan hal yang sama mengadu kepada sang pemilik ketentuan, untuk kebaikan dalam rumah tangganya.
Bukan, bukan karna Aslan membenci Namira tetapi Aslan merasa bersalah kepada istri nya. Bagaimana bisa dia membiarkan Namira
sampai terluka seperti sekarang. Laki-laki macam apa yang tidak bisa menjaga wanita yang di cintai.
"Bodoh... aku benar-benar bodoh, kenapa waktu itu aku tidak terus menjaga nya, sekalipun hanya dari jauh." Aslan terus menyalahkan dirinya atas kejadian naas yang menimpa Namira.
"Ya Allah kenapa Kau berikan cobaan itu kepadanya? Mohon ampuni aku ya Allah bukan maksudku mempertanyakan segala yang sudah engkau takdirkan. Hamba pasrah ya Allah, hamba yakin akan ada hikmah di balik semua ujianmu."
"Berikan kesabaran dan kekuatan kepadanya, dalam menjalani ujian dan cobaan. Jadikanlah hamba laki-laki yang akan selalu mendampingi setiap langkah nya, dan berikan kebaikan bagi rumah tangga hamba, amin." Aslan mengusap wajah di akhir doanya.
***
Setelah kembali dari masjid aslan tak langsung menemui Namira, sesuai ucapannya Aslan pergi untuk menemui farah dan karim yang sudah menunggu Aslan di kamar.
Salam dan ketukan bersamaan, tidak butuh waktu lama Farah membuka pintu untuk putra satu-satunya.
"Wa'alaikumsalam, masuk nak! Abah sudah nunggu."
Benar, Karim tengah duduk di taman belakang khusus kamarnya. Di meja kecil sudah ada 3 cangkir minuman, yang lebih dulu di buat farah. 2 bangku taman, dengan 1 bangku terpisah dan sekarang di duduki Aslan.
"Kata Umi, ada yang mau di bicarakan?" karim membuka obrolan
Aslan diam, bingung, entah dari mana memulainya. Aslan berfikir apa bisa ke dua orang tua nya menerima kenyataan tentang Namira seperti dirinya.
Ya, sejak mengetahui kebenaran Namira, Aslan telah bertekat akan tetap mencintai dan menerima Namira sebagai istri. Aslan masih ingat dengan ucapannya waktu itu, jika dia akn menerima Namira apa adanya sekaligus kekurangannya. dan di sini lah Aslan akan membuktikan ke pada Namira dan ke dua orang tuanya.
"Nakk!" panggil Farah yang melihat Aslan melamun.
Farah berjalan mendekat dan mengelus lembut punggung Aslan, sambil tersenyum dan berucap,
"Apa yang mau kamu katakan hmm? Apa tentang Namira?" ucap Farah lembut.
__ADS_1
Sontak Aslan terkejut, bagaiman mereka tau jika Aslan ingin mengtakan sesuatu tentang Namira,
"Apa mereka sudah tau?" ucap Aslan dalam hati.
Aslan menghembuskan nafas panjang, melihat tatapan ke dua orang tuanya Aslan menelan saliva, benar-benar dilema.
Aslan berjalan menghadap ke dua orang tuanya yang menduduki satu kursi, dan menjatuh kan lututnya bersimpuh sambil memegang ke dua tangan Umi dan Abahnya.
Air mata sudah bercucuran, isak tangis terdengar pilu di telinga Farah. Bagaimana tidak sebagai seorang ibu yang sangat mengenal Aslan tidak sekalipun Farah melihat putranya lemah seperti sekarang.
Karim mengangkat satu tangannya, mengusap lembut pucuk kepala Aslan,
"Ada apa nak, apa yang mengganggu pikiranmu? sampai-sampai kamu seperti ini?"
Aslan mengangkat wajah, menatap ke dua orang tua nya. jujur sebagai laki-laki dewasa tentu saja Aslan merasa malu dengan sikap nya saat ini, tapi mau bagaiman lagi rasa takut dan kecemasan nya yang membuat Aslan menjadi lemah.
"Umii, abahh! Ada yang ingin Aslan katakan tentang Namira, tapi Aslan ragu."
Farah dan Karim diam ingin memberi ruang pada putranya. Aslan kembali menarik nafas,
"Namira...." kerongkongan Aslan seperti tercekat.
"Ya Allah mudahkanlah jalan hamba, berikanlah keberanian ke pada ku, dan lapangkan lah hati kedua orang tuaku." doa Aslan dalam hati.
Sambil tertunduk duduk bersimpuh dengan ke dua tangan bertumpu pada paha, Aslan mulai berucap,
"Umii, abahh! Namira telah menjadi korban pelecehan," ucap aslan pelan di akhir kalimatnya.
Tidak ada suara yang Aslan dengar, hanya ada kesunyian. dan Aslan menyadari sepertinya Umi dan Abahnya ingin memberikannya kesempatan.
"Aslan juga baru tau tadi siang, Namira mengatakannya. jujur aslan sangat sakit mendengarnya. bagaimana bisa..."
Sambil menahan tangis, dengan suara yang menjadi berat tak beraturan membuat Aslan sedikit kesulitan untuk berkata-kata.
"Bagaimana bisa, Namira diam selama ini, bahkan ayah pun tidak tau atas musibah yang terjadi."
Kini terdengar isakan kecil dari suara Aslan.
"Aku yang salah, aku laki-laki bodoh. Abah sudah memberiku kesempatan tapi ku sia-sia kan, Aslan yang bersalah karna tidak mampu melindungi dan menjaga nya." Aslan sudah tak kuat dan menjaduhkan kepalanya di atas pangkuan Farah.
Seketika air mata Farah luruh, apa yang di simpan dirinya dan juga suaminya, sekarang Aslan sudah tau.
Sedang kan karim merasa bersyukur pada akhirnya Namira dapat berkata jujur. Sengaja Farah dan Karim tidak memberitahu aslan sedari awal karna mereka melihat Aslan mencintai namira dengan tulus. karnanya mereka yakin jika Aslan dapat menerima keadaan Namira.
__ADS_1
Karim bangkit dan membantu putra nya untuk berdiri, di dudukannya Aslan di tenga-tengah Farah dan dirinya, di genggamnya tangan Aslan oleh Farah, sedang kan karim mengusap lembut punggung Aslan.
"Apa kamu menerima kejujuran Namira?" tanya karim dengan suara lembut tidak sedikit pun terdengar kemarahan.
Aslan mendongak melihat Farah dan Karim bergantian, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya, Umi, Abah, Aslan mau menerima Namira apa adanya, sekali pun sekarang sudah tau jika Namira sudah tidak...." Aslan tidak berani melanjutkan kata-katanya.
"Abah dan umi pun menerima Namira dan tetap mengganggap Namira menantu Umi." Farah menimpali.
Sungguh itu membuat Aslan terkejut, dan dia sangat bersyukur karna memiliki orang tua yang sangat mengerti dengan perasaan anaknya.
"Sungguh Umi, Abah?" tanya Aslan memastikan.
Farah dan Marim tersenyum, dan membuat aslan mengusap wajahnya dengan ke dua tangan dan berucap syukur,
"Alhamdulillah Abah, Umi, terima kasih."aslan mencium tangan Abah dan Uminya bergantian.
Sekarang di wajah Aslan hanya ada senyuman, tidak sabar rasanya untuk bertemu kekasih halal nya dan memeluk erat wanita yang amat di kasihinya itu.
Sebelum pergi meninggalkan kamar orang tuanya, Aslan di berikan nasihat,
"Aslan! pesan Abah, jaga selalu istrimu bantu dia melewati dan melupakan masa lalunya dan menghilangkan traumanya."
"Iya nak, jangan pernah kamu ungkit lagi masalah itu, anggap tidak pernah ada kejadian apapun."
Setelahnya Aslan keluar kamar dan berjalan dengan langkah lebar, dan sedikit berlari ketika menaiki anak tangga. Aslan sudah tidak sabar untuk bertemu wanita cantiknya.
Debaran jantung seperti iringan musik, bertalu-talu mengikuti setiap langkah yang entah kenapa seperti jauh, padahal letak kamarnya masih terlihat dengan pandangan.
"Sungguh hati meresahkan," ucap aslan sambil mengelus dada, dan tersenyum sepanjang langkahnya.
Tokk...tokk..
Tidak ada sahutan,
"Tok..tok.. assalamualaikum," ucap aslan dengan suara sedikit kencang.
Aslan menggoyang goyangkan kakinya seperti orang kesemutan, sungguh sangat tidak sabaran.
Tetap tidak ada jawaban, Aslan nekat hendak membuka pintu yang ternyata tidak di kunci,
Ketika pintu di buka, satu pemandangan yang membuat Aslan menatap sendu,
__ADS_1
"Namira!" panggil Aslan, masih berdiri di depan pintu.