HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 32


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH


Setelah bertemu Rio di reatoran, Aslan langsung kembali ke rumah Ayah mertuanya. Tetapi sebelumnya Aslan dan Fatih terlebih dulu mampir ke Masjid karna saat melewati tempat itu, sudah memasuki waktu sholat ashar.


Aslan dan Fatih tiba di rumah pukul 5 sore.


"Ustadz istirahat aja dulu, masih ada waktu sebelum magrib," saran Aslan.


Aslan menunjukan kamar almarhum Ayah pada Fatih. Sedangkan dia sendiri menempati kamarnya. Setelah berada di dalam kamar, Aslan mengambil benda pipih miliknya yang sedari tadi lobet. Ia pun langsung men-cas benda hitam itu. Aslan langsung menghidupkannya dan terdapat banyak panggilan tak terjawab beserta notif, semuanya atas nama My Lovely Wife. Laki-laki itu tersenyum sumringah, dan berfikir 'sekhawatir itukah istri tersayangnya?' Ah, membuat Aslan tambah bucin saja.


Aslan buka semua notif itu, dibacany sambil sesekali tertawa,


"Assalamualaikum Abang, gimana acaranya? sudah selesai belum?


Selang puluhan menit, "Abang! Kok, chat aku gak dibaca sih! Abang segitu sibuknya!" Emotikon menangis.


Aslan tertawa, memang saat itu dia sedang berdiskusi serius dengam calon investor, sehingga tak enak hati dan merasa tidak sopan, makanya ponselnya pun di mode silince.


"Abangggg!" Emotikon cemberut.


Hahahaha...! Aslan tertawa sampai menutup mulutnya, takut Fatih mendengar.


"Kamu gemesin banget sih sayang! Abang kan jadi kangen."


"Abang kalau udah baca pesan aku, langsung hubungi aku." pesan terakhir yang di kirim istrinya.


Laki-laki itu langsung menelpon wanita yang hampir satu tahun mendampinginya, sebab dirinya pun sudah merasa rindu. Sehari seperti sewindu baginya. Ah, Aslan nih memang lebay.


"Asalamualaikum sayangnya Abang." Aslan melakukan panggilan video call.


Dalam video menampakan seorang wanita dengan rambut di ikat, memperlihatkan leher jenjang putih milik istrinya. wajahnya memancarkan keteduhan, bibirnya ranum bak buah delima. Sungguh pemandangan yang membuat Aslan meneguk saliva. Seperti ada yang berdenyut tapi bukan di hati, melainkan di ... "


"Wa'alaikumsalam Abang!" sahut Namira memperlihatkan wajahnya yang lagi bete.


"Maaf sayang, tadi ponsel Abang silence, terus pas Abang mau kabari kamu lagi, eh ponselnya malah lobet," jelas Aslan sambil menangkupkan ke Dua tangannya ke depan sebagai permintaan maaf.


Tidak terasa sudah puluhan menit laki-laki itu bercengkrama dengan istrinya. Suara tarhim pun mulai terdengar, segera Aslan berpamitan pada Namira, karna mau melakukan persiapan untuk sholat magrib.


"Sayang, Abang mau persiapan dulu, yah! Tuh ... udah kedengeran tarhim dari masjid." Mata Aslan mendelik ke atas, bermaksud memberitahu jika dia mendengar suara yang berasal dari masjid.


"Abang hati-hati, ya! Jangan lupa kabarin aku terus, hm," pinta istrinya, yang terdengar sangat mesra bagi Aslan.


Setelah mengucap salam, Aslan mematikan sambungan telepon pada wanita di sebrang sana.


Terdengar ketikan pintu,


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamualaikum, Gus!" Terdengar suara Fatih.


"Wa'alaikumsalam," sahut Aslan, sembari jalan mendekati pintu.


"Ustadz!" panggil Aslan setelah membuka pintu dan menampakan Fatih yang sudah rapih memakai baju koko, kain sarung dan juga songkok berbahan rajut. Menambah ketampanan dari Ustadz muda itu.


"Tunggu sebentar, ya Ustadz. Saya persiapan dulu." ucap Aslan, yang di angguki oleh Fatih.


Setelahnya Fatih meninggalkan kamar Aslan dan menunggu di luar rumah. Sambil sesekali matanya melihat sekeliling. Tetapi saat matanya melihat ke arah jalan komplek depan rumah Namira, ekor matanya menangkap ada seseorang yang berdiri dekat pohon. Lebih tepatnya seperti bersembunyi di dekat pohon itu.


"Siapa dia?" gumam Fatih, sambil satu tangannya menyulut sebatang rokok yang tadi di ambilnya sebelum pergi ke luar.


"Kok, mencurigakan sekali gerak-geriknya!" Fatih pura-pura tidak melihat laki-laki dengan stelan jas warna hitam itu.


"Ustadz!" panggil Aslan dari depan pintu.

__ADS_1


Fatih sampai di buat kaget, saking fokusnya pada laki-laki yang baru saja pergi, dan menaiki mobil mewah berwarna hitam.


"Eh, Gus," sahut Fatih dengan ekspresi kagetnya.


Aslan mengerutkan kening, heran melihat ekspresi Ustadz muda itu, "Ustadz kenapa?"


"Em ... tadi saya gak sengaja liat laki-laki berdiri di sana!" tunjuk Fatih, ke arah pohon di sebrang jalan.


"Oh, mungkin tetangga di sini Ustadz."


"Sepertinya bukan deh Gus! Gelagatnya aneh, mencurigakan gitu," cetus Fatih.


"Ya sudah, Ustadz, lebih baik kita ke Masjid dulu. Nanti kita bahas lagi?!"


Mereka pun meninggalkan rumah, Aslan mengunci pintu terlebih dulu. Jarak Masjid dengan rumah tidaklah jauh, hanya beberapa meter saja. Sepanjang perjalanan, Aslan memikirkan apa yang tadi dikatakan Fatih, rupanya itu cukup mengganggu dirinya. Aslan teringat laki-laki yang tempo hari dia lihat seperti sedang memperhatikan rumah Ayah istrinya. 'Apa dia laki-laki yang sama?' batin laki-laki itu.


***


Aslan dan Fatih kembali setelah sholat isya. Saat sampai di halaman, Aslan melihat motor sport merah terparkir di sana, tetapi tak ada siapapun yang menunjukan pemiliknya. Ke Duanya saling tatap, mungkin dalam hati mereka saling tanya satu sama lain.


Sedikit lagi sampai depan rumah, muncul sesosok pria berpakaian sporty, dengan wajah tampan dan tinggi profosional. Laki-laki itu datang dari arah samping rumah, dan tersenyum saat melihat Aslan dan Fatih.


"Assalamualaikum," salam laki-laki itu, sambil terus berjalan menghampiri Aslan dan Fatih.


Tangannya terurur guna menyalami ke Duanya.


"Udah lama?" tanya Aslan, pada laki-laki yang tak lain adalah Dion.


"Baru Gus," jawab Dion, dan keTiganya berjalan bersama menuju rumah.


Aslan mengambil kunci di saku bajunya, lalu membuka pintu rumah lebar-lebar, sambil mempersilahkan tamunya untuk masuk. Satu persatu semuanya memasuki rumah, dan langsung menduduki sofa di ruang tamu, terkecuali Aslan.


"Sebentar, ya!" pamit Aslan pada ke Dua laki-laki yang sudah duduk nyaman di sofa empuk itu.


"Mau ke mana Gus," tanya Fatih saat melihat Gusnya akan pergi.


"Enggak usah Gus! Biar saya aja yang buatkan kopinya. Gus duduk aja temenin Mas Dion." cegah Fatih yang langsung berdiri dan berjalan ke arah dapur.


Aslan yang melihat sikap Fatih, merasa tidak enak hati, "Syukron Tadz!" Aslan sedikit berteriak."


"Afwan," sahut Fatih sambil terus berjalan menuju dapur.


Aslan mengambil tempat di sofa yang ada di sebelah Dion. Sambil menunggu Fatih, ke Duanya bertanya kabar,


"Gimana kabar kamu dan istri?" tanya Aslan


"Alhamdulillah, Gus, kabar kami baik. Istri juga sedang hamil sekarang," jawab Dion tersenyum senang mengingat kehamilan Wulan, istrinya.


"Alhamdulillah, selamat ya! Semoga Ibu dan anak di berikan kesehatan dan kelancaran sampai persalinan, amin. Aslan mengusap wajahnya dengan ke Dua tangan.


Begitu pun dengan Dion, laki-laki itu melakukan hal yang sama, "Amin, syukron Gus."


Tak lama datang Fatih dengan membawa nampan berisa 3 gelas kopi, 2 kopi hitam dan satu kopi susu. Fatih meletakkan 3 gelas itu di atas meja, berikut kacang kulit yang sudah ada di piring.


"Ayo, di minum!" ajak Fatih.


"Masih panas, Ustadz! Bisa dower nih bibir, entar gak seksi lagi," seloroh Dion yang membuat semuanya tertawa.


"Sory, ya Ion, nyuru ente ke sini malem-malem! Apa gak masalah nih, istri di tinggal? Kalau saya tau istrimu sedang hamil, sungkan saya minta kamu datang malam gini. Saya jadi gak enak."


"Ah, kaya sama siapa saja! Santai aja Gus. Tadi juga saya udah kasih tau istri kok, kalau mau ketemuan sama Gus. Saya bilang, mumpung Gus ada di Jakata," sahut Dion.


"Ngomong-ngomong gimana kabar istri dan keluarga, Gus?" Giliran Dion bertanya kabar.


"Alhamdulillah, semuanya baik. Istri juga tengah hamil, Insa Allah mau acara 7 bulanan. Nanti datang ya, ajak istri sekalian."


"Berapa bulan Gus," Dion lanjut bertanya.

__ADS_1


Em ... 7 bulan." Aslan ragu, bagaimana tidak, dirinya takut jika Dion akan berfikir macam-macam. Sebab mereka menikah hanya berbeda hitungan hari.


"Wah! Tokcer benar Gus ini."


Hahaha....!


Aslan cuma senyum-senyum. Jujur ada perih yang menyusup ke hatinya saat mendengar ucapan Dion. Jangankan tokcer seperti yang dikatakan Dion, menjalankan kewajibannya saja sebagai suami, Aslan belum pernah, mereka hanya melakukan kontak fisik saja selama ini.


"Ehm... saya sudah seperti nyamuk aja di sini," sindir Fatih pada Dua laki-laki itu.


Hahahahha....! Aslan dan Dion kompak tertawa, melihat raut wajah tampan Fatih berubah menjadi masam.


"Maaf, Ustadz, kita sampai lupa kalau Ustadz juga ada!" canda Aslan.


"Gus nih, di kiranya saya mahluk Astral." seloroh Fatih.


Semuanya tertawa, sampai Dion mengingatkan Aslan tentang maksudnya mengundang dia datang.


"Maaf, Gus! Apa ada hal serius yang mau Gus bicarakan sama saya," tanya Dion.


"Oh iya, saya sampai lupa." Aslan menepuk keningnya dengan satu tangan.


"Begini... kata Abah kamu pernah datang ke Pesatren dengan saudaraa kamu, Maher?"


"Iya, bener Gus. Kenapa?"


"Sebelum kepulangan saya ke Pesantren, ada orang yang mencari saya, bahkan minta bertemu dengan saya. Namanya juga Maher! Dia juga bilang, kalau dia adalah saudara kamu. Karna waktu itu saya udah mau pergi, jadi saya menolak bertemu. Dan sampai hari ini, dia tidak ada hubungi saya lagi. Saya gak gak tau Maher yang menghubungi saya orang yang sama atau gak dengan saudara kamu," jelas Aslan.


"Waktu itu juga Mas Maher datang ke Pesantren membawa banyak bibit ikan, untuk di sumbangkan pada kami," Fatih menimpali.


Dion mengerutkan kening, dia merasa aneh dengan tingkah saudaranya itu. 'Kenapa Maher kok gak ada bicara pa-pa ya, sama gue.' tanya Dion dalam hati.


"Bentar! Dion mengambil benda pipih miliknya, lalu di bukanya galeri dan mencari foto Maher di sana.


Dion memperlihatkan pada 2 laki-laki itu. Di layar ponselnya terpampang wajah dari sepupunya. "Ini Maher, saudara saya."


"Orang yang sama Gus, dengan yang memberi bibit ikan tempo hari." tandas Fatih.


Aslan pun mengambil ponselnya dan membuka aplikasi hijau. Dia mencari jejak chat dirinya dengan Rio. Waktu itu Aslan meminta di kirimkan foto Maher, yang di ambil dari CCTV restoran miliknya.


"Benar itu Maher, sepupu saya. Tapi kok saya bingung, Maher gak bicara apapun ke saya soal ikan, terus dia yang pengen ketemu Gus. Dia sama sekali gak pernah kasih tau saya," ungkap Dion.


"Apa Gus akan ada bisnis dengan Maher?" tanya Dion, yang mulai penasaran.


"Gak ada, kan saya juga sebelumnya gak pernah ketemu apa lagi urusan bisnis," jelas Aslan.


"Tunggu ... saya ingat sekarang! Dia laki-laki yang sama yang saya liat di pemakaman Ayah mertua saya. Iya, bener, dia orangnya," tutur Aslan.


"Kok saya merasa ini bukan sekedar kebetulan ya, Gus?!" lontar Fatih.


Ucapannya berhasil membuat Aslan juga Dion terdiam, mereka pun jadi berfikir yang sama. Tetapi bukan kah hal yang tidak baik jika souzon pada orang lain.


"Entahlah Ustadz, saya juga bingung dengan sikap sepupu saya itu. Waktu itu pun ia seperti tiba-tiba mengajak saya ke Pesantren dengan alasan ingin menjadi donatur. Awalnya saya berfikir biasa aja, maksudnya ... ya, wajarkan Maher yang berlebihan harta yang menyumbang. Tetapi pas sekarang mendengar kalian, saya merasa seperti ada yang di sembunyikan dia dari saya!" beber Maher.


"Sudah! Jangan berfikir macam-macam. Tidak baik berfikiran buruk pada orang lain, sementara tujuannya adalah pada kebaikan," ucap Aslan mengingatka.


Tidak terasa waktu menunjukan pukul 11 malam, Dion yang belasan menit lalu telah menerima pesan dari istrinya yang meminta dia untuk segera pulang, langsung berpamitan.


"Maksih ya, udah luangin waktu buat saya," ucap Aslan yang mengantarkan Dion sampai ke halaman.


"Sama-sama Gus, saya juga senang kok, kita bisa ngobrol."


Dion pamit dengan bersalaman ala laki-laki pada Aslan dan juga Fatih. Sepulangnya Dion Aslan tidak langsung masuk, dia duduk di kursi depan. Sambil memegang be da pipih miliknya Aslan berfikir, jika dia akan menghubungi Maher. Selagi dia ada di Jakarata.


"Baiklah, besok aku akan hubungi dia." Monolog Aslan.


Akan ada pembicaraan apa antara Aslan dan Maher jika ke Duanya bertemu?

__ADS_1


__ADS_2