HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 30


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH (30)


Suara tarhim terdengar dari Masjid, menandakan sebentar lagi kumandang azan. Sepasang suami istri tengah bersiap untuk melaksanakan sholat magrib. Seperti biasa Aslan akan melakukan sholat magrib di Masjid sampai menjelang Isya dia akan berada di sana. Kebetulan hari ini giliran dia yang harus mengajarkan para santri putra.


"Abang berangkat, ya?" tanya Aslan, yang masih tak enak hati karna kejadian tadi.


"Iya," jawab istrinya singkat.


Perempuan yang sudah berbalut mukena biru itu mengambil tangan suaminya dengan tangan yang tetap di lapisi mukena, karna dia sudah terlanjur mengambil wudhu. Dirinya juga tidak ingin membatalkan wudhu suaminya.


Di arahkan telapak tangan milik suaminya ke arah kening yang tertutup mukena, setelah itu Aslan pun pergi meninggalkan kamar. Dia berangkat ke Masjid bersama Kiayi. sedangkan Umi dan Mbok ndalem tetap berada di rumah, karna Farah tau jika menantunya tidak ikut berjamaah. Namira sudah jarang ikut berjamaah dengan para santri, dikarenakan kandungannya yang sudah terasa berat. Di usia kandungan yang sudah memasuki 7 bulan ia sudah sering merasa perut bagian bawahnya kram. terkadang ia juga merasakan mulas yang menurut dokter itu hanya kontraksi palsu.


"Assalamualaikum, Ning," ucap Mbok ndalem sambil mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Namira dari dalam kamar, sambil berjalan mendekati pintu dan membukanya.


"Ayo Ning, sudah di tunggu Umi di musholah."


"Iya Mbok, aku juga udah siap."


Ke Dua perempuan beda usia itu menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Mbok ndalem terlihat khawatir melihat Ningnya yang seperti kesusahan, "Hati-hati Ning," kata si Mbok, sambil tangannya memegangi lengan Namira.


"Iya, Mbok. Makasih, ya!"


Di dalam musholah telah ada Farah yang sudah menggelar sajadah, satu sajadah di depan dan dua sajadah di belakang. Sholat magrib akan di pimpin oleh Farah sebagai imamnya.


"Assalamualaikum, Umi!" ucap menantu Farah dan si Mbok berbarengan.


Farah menoleh dan membalas salam ke Duany, " Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Kumandang azan telah terdengar, ke Tiganya duduk hikmat mendengarkan seruan sholat sambil menjawab setiap seruan kumandang azan. Setelah kumandang azan berakhir, ke Tiga perempuan beda generasi itu menunaikan Tiga rokaat dengan khusuk.


****


Setelah melaksanakan sholat isya berjamaah, seperti yang sudah dijadwalkan, Aslan yang mendapat giliran mengajar. Sebetulnya dia hanya menggantikan salah satu Ustadz yang sedang berhalangan datang untuk mengajarkan para santri baru.


Aslan mengajarkan kitab safinatun Najah, adalah sebuah kitab yang berisikan dasar-dasar ilmu Fiqih. Tetapi untuk malam ini Aslan akan mengajarkan Kitab Kuning, dengan metode bandongan. Metode di mana mendengarkan seorang guru membaca, menterjemahkan sekaligus menerangkan. Sering kali mengulas buku-buku islam dalam bahasa Arab. Lalu setiap murid memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan baik arti maupun keterangan tentang kata-kata. Para santri menyebut pelajaran itu dengan istilah 'Nyoret'.


****


Aslan kembali ke rumah pukul 10.00, sebetulnya dia selesai mengajar sebelum pukul 10, tetapi karna Ustadz Fatih mengajaknya membicarakan tentang rencananya untuk mengembangkan kemampuan para santri, agar ilmu yang mereka pelajari lebih bermanfaat untuk diri mereka. Dan juga agar para santri memiliki pendapatan. Tentu tujuannya untuk membantu para orang tua santri agar tidak terlalu terbebani oleh masalah keuangan.


Aslan membuka pintu kamar setelah mengucap salam, tetapi ia tidak menemukan perempuan yang di carinya. Gegas dia menuruni anak tangga dengan cepat, rasa khawatir sekarang menyelimuti pikiran laki-laki itu.


"Mbok, liat Namira?!" tanya Aslan panik, saat bertemu Mbok ndalem.


"Ning, ada di kamar Umi, Gus."


"Assalamualaikum, sayang!" Dia sedikit berteriak.


Aslan terus berjalan ke arah taman yang ada di kamar Farah. Dan benar saja ke Dua wanitanya sedang duduk santai dengan 2 gelas teh di atas meja.


"Kamu ni, ya! Bikin Abang khawatir aja!" cetus Aslan.


"Tadi menantu kesayangan Umi ini perutnya sakit! Umi 'kan jadi khawatir, kamu juga belum pulang. Makanya Umi ajak ke sini," sahut Farah.


Aslan yang mendengar itu langsung cemas dan mendekati istrinya. Dirinya berjongkok di hadapan perempuan yang masih berbalut mukena itu dengan lutut bertumpu satu di tanah. Aslan benar-benar di buat panik.


"Kita ke Rumah Sakit, ya?" tanya Aslan dengan raut wajah khawatir.

__ADS_1


Yang di tanya malah tersenyum, "Enggak usah Bang, aku udah gak pa-pa. Tadi cuma kram sedikit," jawab perempuan itu.


"Ya udah, kita balik ke kamar, hm! Kamu istirahat." Aslan bangkit dan memegang tubuh istrinya untuk membantunya berdiri.


"Umi, aku sama Abang balik ke kamar, ya." pamit dia pada Ibu mertuanya.


"Iya, sayang kamu istirahat, ya. Aslan! Jaga menantu kesayangan Umi baik-baik," pesan Farah, sambil melotot pada putranya.


"Iya Umi sayang! Namira kan istri Aslan, pasti aku jaga dengan sangat baik," sahut Aslan.


Aslan masih memegangi bahu istrinya, mengajaknya ke luar kamar, dan menaiki anak tangga dengan pelan. Sebenarnya Aslan ingin sekali menggendong istrinya, tetapi Namira sudah tidak mengizinkan, katanya takut Aslan tidak kuat. Aslan merasa tersinggung karna kegagahannya di ragukan. Mau bagaimana lagi, Aslan tidak ingin berdebat dengan perempuan itu.


Sesampainya di kamar, Aslan langsung membantu Namira berbaring di kasur. Laki-laki itu sudah lebih dulu membantu istrinya melepas mukena, dan saat ini rambut panjangnya tergerai indah.


Saat Aslan akan berjalan tiba-tiba Namira memegang tangannya. Aslan menoleh dan tatapan keduanya bertemu. Namira melepaskan pegangannya lalu menggeser posisinya menjadi sedikit ke tengah. Namira menepuk bagian yang kosong meminta agar suaminya duduk di sampingnya. Asal pun langsung menuruti permintaan perempuan itu.


Setelah duduk Aslan menggenggm tangan putih itu, menatap lekat mata indah dengan bulu mata yang lentik. Namira tertunduk malu karna mendapatkan tatapan mesra dari suaminya. Jantungnya di buat berdebar-debar, terlebih saat tangan laki-laki itu menyentuh lembut pipi dan bibirnya. Namira merasakan sensasi yang luar biasa dari sentuhan itu. Tetapi apa daya ke Duanya hanya bisa sebatas itu.


"Ada apa, hm? seperti ada yang mengganggu pikiran kamu? tanya Aslan, tangannya sudah berpindah memegang rambut istrinya.


"Aku minta maaf, ya! Aku takut Abang salah faham dengan kejadian tadi sore. Aku menangis bahagia melihat ketulusan Abang mau menerima dan menyayangi anak ini." Namira mengusap perutnya.


"Kamu, juga anak kita adalah tanggung jawab Abang. Anak dalam kandungan kamu itu adalah anak Abang. Abang berharap kamu dapat melupakan masa lalu dan membangun keluarga yang utuh, bahagia bersama Abang dan juga calon anak kita. kamu mau 'kan?!"


Islam yang kini duduk berhadapan dengan istrinya memeluknya dengan Musa ditangkupkannya kedua tangan kekar itu ke wajah Namira dan dikecupnya lama kening wanita itu lalu tatapan mata Aslan beralih pada perut istrinya, diusapnya lembut lalu dicium sambil berkata, "Assalamualaikum anak Abi! kamu sehat-sehat, ya di dalam sana, jangan nakal! Abi, Uma, udah nggak sabar nunggu kehadiran kamu di dunia ini. Ada nenek ada kakek, Pokoknya kita semua udah nggak sabar menantikan kelahiran kamu.


"Sekarang kita istirahat, hm!" ajak Aslan.


Perempuan itu hanya mengangguk. Aslan membantu Namira berbaring. Dan dia pun melakukan hal yang sama, membaringkan tubuhnya di samping wanita terkasihnya.

__ADS_1


Malam membuai ke Dua insan itu memasuki alam mimpi. Namira berbaring dengan posisi miring menghadap suaminya, sedang laki-laki tampan itu memeluk pinggang istrinya dengan hati-hati. Matany terus menatap wajah wanita yang selalu membuatnya rindu, wanita yang selalu ingin dilindunginya dari siapapun, terlebih laki-laki dari masa lalu itu.


__ADS_2