HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 24


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH (24)


Aslan membacakan surah Alfatihah sebanyak tujuh kali dan surah al-insyirah sebanyak 7 Kali setelah selesai Aslan meniupkan ke perut Namira sambil mengusap ditiupkan sebanyak 11 kali, dalam hati sambil memohon kebaikan untuk istri dan calon anaknya.


.


Setelah pagi Aslan, Namira dan juga Bibi bersiap-siap untuk keberangkatan mereka menuju pesantren tetapi sebelum itu Aslan akan lebih dulu mengantarkan Bibi pulang ke kampung halamannya yang memang satu arah dengan Pesantren milik dia.


Sebelum berangkat, Aslan sudah lebih dulu menitipkan rumah Ayah mertuanya pada pak RT, jika ada yang ingin menyewa, agar menghubungi dirinya.


Merekapun akhirnya berangkat, dan tanpa mereka sadari ada seorang laki-laki memperhatikan kepergian mereka dari dalam mobil, siapa lagi kalau bukan Maher, seorang lelaki tampan yang kini sudah terobsesi dengan wanita yang telah bersuami yaitu Namira.


Maher langsung mengambil benda pipih miliknya, segera dia menekan nama asisten pribadinya,


"Halo, apa kamu sudah mengerjakan yang saya suru?" tanya Maher.


"Sudah pak, saya sudah mendapatkan sesuai keinginan tuan, lokasinya tidak jauh dari pesantren milik pak Aslan," jawab asistennya dari sebrang sana.


"Aku akan melakukan apapun untuk merebut yang harusnya menjadi milikku, baik Namira ataupun Bayi itu," ucap Maher pada dirinya sendiri.


Maherpun melajukan mobil mewahnya kembali ke kantor miliknya, karna sekretarisnya baru saja memberitahu jika dia ada pertemuan dengan klien dari luar negri.


"Untuk saja papah mau mendengarkan aku, jadi sekarang aku tidak perlu pusing memikirkan masalah perjodohan. Aku bisa fokus pada Namira dan calon anakku," monolog Aslan.


"Tenang Pah, aku sudah punya calon menantu dan bahkan bonus cucu buat papah," ucap Maher senang, walaupun dia berbicara pada dirinya sendiri.


Sepanjang perjalanan Maher tidak berhenti berbicara tentang Namira, dia sudah berhayal jika dirinya nanti akan membangun rumah tangga dengan wanita itu. Maher seperti lupa, jika dirinua telah membuat luka yang tidak mungkin termaafkan.


.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 4 jam, karna harus mngantarkan Bibi lebih dulu, akhirnya Aslan sampai di pondok pesantren milik Abahnya, yang nantinya juga akan di wariskan padanya.


Di depan halaman rumah dalem, Umi, Mbok dalem dan beberapa santri putri sudah menyambut kedatangan .ereka. Farah terlihat sangat senang dapat melihatnkembali anak dan menantu kesayangannya.


Farah langsung memeluk namira tanpa menghiraukan Aslan, "Umi, aku loh, yang anak mu," ucapnya dengan wajah yang sengaja di buat kesal.


Padahal Aslan tidak mempermasalahkan sikap Farah pada Namira, justru Aslan sangat senang melihat keakraban dua wanita yang menjadi pelabuhan cintanya.


Mereka semua memasuki rumah dengan berjalan beriringan. Farah langsung mengajak Namira menuju meja makan, "Ini lho sayang, udah Umi buatkan makanan kesukaan kamu," ucap Farah sambil menunjukkan menu kesukaan Namira.


"Kok cuma Namira aja sih Umi yang dibuatkan makanan kesukaan! Aku kok nggak sih! Umi sekarang pilih kasih nih," sahut Aslan pura-pura merajuk. Mereka semua pun tertawa dan menikmati makan siang bersama.


"Oh iya Umi, Abah ke mana ya? Dari tadi kok nggak kelihatan?" tanya Namira setelah selesai makan.


"Oh Abah tadi bilang, kalau Abah nggak bisa nemuin kalian sekarang, soalnya Abah lagi ada undangan dari Kyai sahabat Abah. Kemungkinan besok pagi Abah baru kembali," jawab Umi yang juga sudh menyelesaikan makannya.

__ADS_1


"Ya sudah, setelah ini kalian langsung istrirahat yah!" suru Farah, dia tidak ingin melihat menantunya kelelahan.


"Enggak pa-pa Umi, biar Namira bantu Mbok dalem membereskan semua," jawab Namira yang sedang menyusin piring-piring yang sudah kosong.


"Emm ... Aslan sepertinya menantu dan cucu Umi keras kepala yah! Hahaha ... sudah sana kamu ajak Namira istirahat, Umi enggak mau kalau nanti kamu kecapean."


Aslan pun bangun dan menggeser kursi yang tadi di dudukinya, "Ayo sayang, Umi benar, kamu pasti cape," Aslan memegang tangan istrinya.


Namira pun pasrah dan mengikuti langkah Aslan menuju kamar di lantai atas, tapi sebelum itu Namira menyempatkan diri untuk meminta maaf kepada mbok dalam, karena tidak bisa membantunya "Maaf ya Mbok, aku nggak bisa bantu," ucap Namira merasa bersalah.


"Enggak apa-apa ning, benar kata Umi lebih baik ning istirahat saja, kan pasti lelah di perjalanan kasaian juga kan dede bayinya, nanti perut Ning keram loh.


"Ya udah, kalau gitu kita duluan yah," ucap Aslan pamit pada ke duanya.


"Assalamualaikum," ucap Aslan dan Namira berbarengan.


Mereka pun melangkah menaiki anak tangga setelah mendapat jawaban salam dari Umi dan Mbok ndalem.


Baru saja menaiki beberapa anak tangga, Aslan berhenti dan itu membuat Namira ikut berhenti melangkah,


"Kenapa bang, kok berhenti," tanya Namira, sedikit mebalik badannya.


Tanpa menjawab Aslan langsung menggerakkan tangannya ke arah Namira, "Ayo! Abang gendong kamu sayang, nanti kamu tambah cape.


"Abangg gak usah!" teriak dirinya, namun sayang sudah terlambat, kini Aslan sudah menggendongnya ala bridal style.


"Abang, harusnya enggak usah gendong aku, badan aku kan tambah berat, nanti abang jatuh tau!" Ucap Namira dengan suara sedikit manja.


"Enggak pa-pa sayang, gak masalah juga kalau kamu tambah berat, Abang pasti kuat kok," jawab Aslan demgan suara yang terdengar ngos-ngosan.


Bukan lantaran Aslan sudah tidak kuat mengge dong iatrinya tetapi karna dia juga merasa kelelahan setelah beberapa jam menempuh perjalanan, ditambah lagi dengam dirinya yang bari saja makan, itu membuat perutnya begah. Tapi mau bagaimana lagi, rasa cinta dan sayangnya telah mengalahkan semua itu.


Sampai di salam kamar, Aslan langsung membaringkan istrinya di atas kasur demgan sangat hati-hati.


"Kamu tunggu dulu yah, jangan ngapa-ngapain, Abang mau turun lagi sebentar ambil koper," pamit Aslan, meninggalkan Namira.


"Makasih ya bang, sudah dengan tulus mencintai aku dan anak ini," ucap Namira sambil tangannya mengelus perut yang sudaj terlihat buncit, setelah Aslah telah keluar dari kamar.


*****


"Assalamualaikum Dion," ucap Maher di telpon.


"Wa'alaikumsalam, lu di mana sih! Gue dah di kantor nih," sahut Dion dari sebrang sana.


"Makanya sekarang gue telpon lu, gue mau ngasih tau kalau pagi ini lu gantiin gue metting sama klien yah, gue ada urusan mendadak."

__ADS_1


"Urusan mendadak apa coba pagi-pagi gini, gak usah ngarang deh lu, bilang aja emang lu gak mau, soalnya hari ini kita ada meating di kantor bokapnya cewe yang lu tolak kan, hehehe," ledek Dion yang mengira gara-gara itu Maher tidak mau mengikuti rapat pagi ini.


"Nah! Itu lu paham! Ya udah lu tolongin gue yah, wakilin gue," Maher beralasan, hanya agar Dion enggak banyak bertanya.


Sampai sekarang Maher tidak memberitahu apapun pada sepupunya itu, dia sangat yakin jika sepupunya Dion itu sampai tau maksud dan tujuannya datang ke pesantren, Dion pasti tidak akan segan-segan menghalangi jalannya.


Walaupun selama ini Dion terlihat takut pada Maher, bukan berati dia penakut. Maher sangat tau bagaimana sifat sepupunya yang satu itu, jika Maher melakukan kesalahan atau berbuat salah apa lagi semgaja melakukannya, Dion gak akan segam-segan menghajar dirinya.


Tiba-tiba saja Majer bergidik ngeri, teringat dia akan masa lalunya, waktu dia masih suka mengkonsumsi minuman alkohol, malam itu Maher ingat betul, bagaiman Dion menghajarnya habis-habisan sampai dia diikat di pohon semalaman oleh Dion. Dan di malam itu juga dirinya menyakiti wanita yang sekarang ingin dia perjuangkan.


Dan alasan papah mau membatalkan perjodohanku karna aku mengatakan pada papah jika aku sudah punya calon sendiri,


"Papah enggak mau denger penolakan dari kamu Her, selain baik untuk perusahaan papah juga kesepian Her, papah pengen main sama cucu." ucap papah waktu itu.


*


"Tenang ya Pah, ini udah satu paket kok, menantu plus cucu, dan itu anak aku Pah," ucap Maher pada dirinya sambil senyum-senyum.


Di liriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan, "Mending aku berangkat sekarang, biar gak kena macet, udah gak sabar pengen liat kamu?" gumamnya.


Lalu Maher berkirim pesan dengan asistenya, mengatakan jika dia ingin berangkat sekarang juga, dan menyuru asistennya itu untuk segera menyusul.


**


"Sejak subuh Namira sudah sibuk berkutat di dapur bersama mbok dalem dan beberapa santriwati, selain membantu memasak untuk makan para santri, rupanya pagi ini Namira ingin membuatkan suaminya menu spesial, karna semenjak menikah, Namira belum pernah memasak menu spesial untuk Aslan.


"Ning, mau masak apa? Biar si mbok bantu," tawar Mbok dalem yang sejak tadi melihat Namira tenga sibuk mengiris bumbu.


Mamira beralih menatap Mbok dalem dan tersenyum, "enggak usah Mbok, aku mau buatkan bang Aslan makanan spesial.


"Mbok lanjut masak aja yah, bantuin .ereka," kata Namira sambil melirik ke arah para santri.


"Namira!" panggil Aslan, tiba-tiba dirinya sudah ada di dapur.


"Nih!" tunjuk Namira pada bahan yang akan dimasaknya.


"Kamu jangan sampai kecapean yah, Abang mau pergi dulu yah, mau nemuin Ustadz fatih,"Aslan meminta izin.


Namira pun memcuci tangannya dan mengikuti Aslan bejalan di belakang, sadar Namira berjalan dibelakangnya, Aslan pun memperlambat langkah kakinya, dan langsung mengambil tangan wanita yang di cintainya itu, menggenggamnya erat di depan dada.


"Ya, udah Abang pergi dulu yah," sekali lagi Aslan pamit sambil mengulurkan tangan.


Namira mengambil tangn suaminya dan menciumnya takzim, lalu Aslan menangkup wajah cantik milik sitrinya dengan ke dua tangan, dan menciumnya mulai dari kening, ke dua mata dengan bulu mata lentik, pipi, hidung dan terakhir Aslan menyibak sedikit cadar istrinya, lalu mengecup bibir ranum itu sekilas, walaupun dia ingin sekali melu**tnya. Aslan berani melakukan semua itu karna saat ini dirinya sedang berada di belakngbrumah, yang ada kebun sayur. Aslan sengaja lewatnkebun sayur, karna dia mau bertemu dengan ustadz fatih yang saat ini sedang berada di tempat pembenihan ikan.


"Assalamualaikum cantik," ucap Aslan.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam Abang sayang," jawab Namira yang membuat Aslan tersenyum.


Lalu Aslan meninggalkan rumah setelah Namira terlebih dulu masuk. Wajah Aslan sangat ceria, wanita yang sangat dicintainya, telah mau menerima dirinya, dan membalas cintanya.


__ADS_2