HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 25


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH (25)


Maher juga asistennya yang bernama Rangga berangkat menuju pesantren dengn mobil yang berbeda. Rangga hanya memberi Maher serlok alamat rumah yang dibelinya. Maher benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan Namira, dia ingin sekali melihat perut wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya.


Di lihatnya serlocation yang dikirim Rangga, "Sepertinya sebentar lagi ini! Lumayan lah tidak begitu jauh dari Pesantren Kiayi," gumam Maher.


Maher terlebih dulu mampir ke tukang buah di pinggir jalan, sebab dia tidak akan mungkin menemukan apa yang ingin dia beli jika ke mall. Di tepikannya mobil mewah itu di pinggir jalan, tepat di depan tukang buah. Maher keluar dari mobil dengan menggunakan kaca mata hitam, menampah pesona seorang Maher dengan hidung bangirnya, yang membuat gadis ataupun Ibu-Ibu yang sedang berada di sana menatapnya penuh damba.


"Pak, saya cari mangga muda, ada?" tanya Maher pada si tukang buah.


"Ada tuan, sebelah sana," tunjuk si Bapak ke arah pojok, di mana tersusun banyak buah mangga yang masih segar-segar.


Di dekat tempat mangga itu ada seseibu uang sedang memilih buah mangga juga. Maher mendekat dan terlihat ragu. Matanya hanya melirik sebentar ke seseIbu itu, ada yang ingin maher tanyakan tapi dia malu.


Maher berdehem, guna menetralkan tenggorokannya, lalu dirinya menggeser sedikit ke seseIbu yang tengah sibuk memilih.


"Ehem ....! Maher kembali berdehem dengan mengepalkan tangan dan di dekatkan ke mulutnya.


SeseIbu itu menoleh sebentar, lalu kembali asik memilih mangga muda.


"Permisi, Mbak!" panggil Maher.


"Iya," jawab perempuan yang perutnya kelihatan sedikit menonjol.


"Em ... apa Mbaknya sedang hamil?" tanya Maher malu-malu, sambil menggaruk kepala yang tak gatal.


Perempuan itu mengerutkan dahinya, sementar di sisi lain beberapa perempuan sibuk memperhatikan ke duanya sambil berbisik.


"Ada apa ya?" tanya perempuan itu ketus.


Maher merasa aneh melihat reaksi perempuan itu, kenapa dirinya tidak terpesona seperti para wanita yang ada di sebelah mereka.


Maher garuk-garuk kepala yang tak gatal, kok dia berasa harga dirinya jatuh di depan perempuan ini.


"Apa semua wanita hamil akan suka mangga muda," tanya Maher malu-malu.


"Istrinya lagi hamil?" Perempuan itu bukannya menjawab malah bertanya.


"Emm... iya, istri saya sedang hamil."


"Pasti! Kebanyakan sih gitu, suka mangga muda. Tapi gak semuanya juga sih," jawab perempuan itu yang malah membuat Maher bingung.


"Di beli aja mas, siapa tau aja istrinya suka, ya 'kan!" seloroh perempuan itu memberitahu.


Maher mngangguk, dan memanggil penjual mangga agar mengambilkannya mangga sebanyak 5 kilo. Setelah selesai membayar Maher kembali lagi ke mobil mewahnya.


"Aku yakin, kamu pasti suka." Maher mengangkat plastik berisi mangga ke depan wajahnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Dia pun kembali melajukan mobilnya, membelah jalan yang tidak terlalu macet, hanya butuh beberapa puluh menit dia telah sampai, di tempat sesuai serlocation dari Rangga.


Di halaman rumah yang terlihat mewah itu, sudah terparkir mobil milik Rangga. Sedangkan Rangga yang sedang duduk langsung berdiri menghampiri tuannya yang batu saja sampai.


Rangga mengernyitkan ke dua alisnya saat melihat kresek yang di bawa oleh Maher.


"Tuan Maher kenapa bawa mangga ... muda lagi," gumam Rangga.


Dia pun melangkah mendekati Maher, saat sudah di hadapan Maher, tangannya langsung terurur hendak mengambil plastik kresek berisi mangga itu, tetapi Maher langsung menyembunyikannya ke belakang tubuhnya.


"Gak usah," ucap Maher.


"Baik Tuan," jawab Rangga sambil tersenyum.


Mereka pun jalan beriringan, tapi belum melangkah ke rumah, Maher berhenti. Dia melihat rumah itu seksama, dan senyum terbit dibibirnya. Rangga yang melihat itu tau arti dari senyum tuannya, artinya dia merasa puas dan suka dengan rumah pilihan Rangga.


Maher kembali melangkahkan kakinya ke dalam, dan langsung menduduki sofa yang ada di ruang tamu, diikuti Rangga, mengambil duduk di sisi sofa yang lain.


"O iya, hari ini saya akan nginap di villa ini, kamu baiknya kembali ke Jakarta, dan kerjakan apa yang saya perintahkan," perintah Maher, yang langsung di angguki oleh Rangga.


"Baik tuan, saya akan menemui Rt yang di suru pak Aslan untuk menjaga rumah almarhum Ayahnya nona Namira. Dan saya akan segera menyewa Rumah itu, sesuai keinginan tuan.


Maher tersenyum sumringah, dia benar-benar ingin sekali tau tentang kehidupan Namira, sampai-sampai apapun dia lakukan.


Terdengar deru mobil di luar, Rangga langsung bangkit dan berjalan ke luar untuk melihat siapa pemilik mobil itu.


"Sudah sampai, cepat juga," ucap Maher saat melihat motor hitam miliknya yang sudah di turunkan dari mobil.


"Kenapa tuan membeli motor? Bukankah sudah sejak lama tuan tidak lagi mengendarai motor?" tanya Rangga penasaran.


Maher menepuk punggung Rangga lalu berjalan mendekati motor sport hitam yang baru saja dibelinya, jangan tanyakan harganya, dia adalah seorang Maher Arkhana Mager.


Dia mengitari motor barunya, dilihatnya setiap sudut motor itu, dan tangannya mengusap beberapa bagian motor.


"Saya sengaja membeli motor agar lebih mudah dan lebih cepat," ucap Maher pada Rangga.


"Apa Tuan akan menemui Nona Namira hari ini juga?" tanya Rangga sambil memandang tuannya.


"Gak, hari ini saya harus melakukan sesuatu, untuk bisa menjadi alasan saya bisa keluar masuk lesantren kapan saja," jawab Maher dengan senyum tersungging.


Rangga bergidik ngeri melihat ekspresi tuannya walaupun dia tau jika Maher seorang yang taat beribadah, tapi tetap saja Maher memiliki sisi gelap yang entah sudah hilang atau belum.


"Ya sudah, baiknya kamu kembali sekarang, lebih cepat kamu temui orang itu, saya takut sudah ada orang lain yang kebih dulu menyewa."


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi," Rangga berpamitan sambil sedikit membungkukan badannya.


Rangga melangkah menuju mobilnya, lalu meninggalkan Maher sendirian di villa besar yang baru saja di belinya, padahal dia bisa menyewanya. Apa dia berharap bisa menempati rumah itu bersama Namira?

__ADS_1


Sementara di tempat lain Aslan tengah sibuk membantu Ustadz Fatih menebarkan bibit ikan. Bibit sayur-sayuran pun sudah mulai ditebar oleh para santri. Memang untuk menyemai benih sayur akan di lakukan oleh para santri putra.


Setelah selesai menebar bibit ikan, Aslan kembali ke rumah, dia sudah tidak sabar ingin melihat istri cantiknya sampai-sampai langkah kakinya sangat besar.


Sesampainya di rumah dia melihat istri, Abah dan Uminya tengah asik berbincang di ruang tamu, Aslan pun berjalan mendekat dan menyalami Abah serta Uminya, dan dicium takzim tangan miliknya oleh Namira.


"Ayo kita ke Masjid dulu?" ajak Karim ke Aslan.


"Bentar Bah, Aslan ganti baju dulu," sahut Aslan.


Aslan pun berjalan dan diikuti oleh Namira, ke duanya menaiki anak tangga, dan tentu saja Aslan akan memegangi istrinya. Jangan lupakan betapa cintanya Aslan pada istri cantinya.


"Abang mandi aja dulu, biar aku siapin bajunya," seru Namira, yang diangguki oleh Aslan.


AslAn langsung menyambar handuk dan berlalu masuk ke kamar mandi, sementar Namira sibuk mengambilkan kain, baju koko serta peci. Setelah mengambil semuanya dari dalam lemari, Namira meletakan semua di atas kasur.


Setelah beberapa belas menit terdengar bunyi pintu di buka, menampakan seorang pria dengan handuk melilit sebatas pinggang, memperlihatkan dada bidang dengan tubuh berotot, bau dari sabun menguar tercium oleh Namira, dan itu mebuat dirinya harus menelan saliva.


Bagaimana pun saat ini dia telah mencintai suaminya, dia pun menginginkan hal yang sama, tetapi kehamilannya yang tidak membolehkan. Maka mereka berdua harus menahan diri sebagai pasangan suami istri.


Yang awalnya pandangan Namira tertuju pada suaminya, sekarng dia memalingkan wajahnya yang sudah tidak lagi memakai cadar, karna melihat Aslan tengah berjalan ke arahnya.


Namira merasakan tangan kekar melingkar diperut buncitnya, siapa lagi yang berulah jika bukan suaminya.


"Abang, nanti Abah nungguin loh! Kasian kan?" kata Namira sambil tangannya memegang tangan Aslan yang melingkar dipinggang.


"Enggak sayang, Abah juga ngerti kok," sahut Aslan sambil mengendus leher Namira yang saat ini juga sudah tidak mengenakan hijab.


Leher jenjang dan mulus milik istrinya membuat darah Aslan berdesir, jiwa kelelakiannya meronjak. Tapi dia sadar ada hal yang menjadi pembatas antara dirinya juga Namira. Dia tidak ingin lepas kontrol, dilepaskannya pelukan pada istrinya, dan tangan kekarnya membalikan tubuh Namira agar menghadapnya.


"Maaf ya Bang," ucap dirinya karna merasa bersalah.


"Kenapa sayang, kok minta maaf?" tanya Aslan sambil satu tangannya menggangkat dagu perempuan yang di cintainya.


"Aku belum bisa menunaikan kewajibanku sebagai istri."


Aslan memeluk tubuh wanitanya, "Sayang, tujuan menikah itu bukan hanya soal hubungan di atas ranjang, tapi menyatukan segala perbedaan dan berusaha mengikis jarak yang membentang. Sebagai ibadah penyempurna untuk mendapat ridho Allah. Jadi kamu jangan terlalu memikirkan masalah itu hm. Akan tiba waktunya kita akan bisa bersatu sebagai pasangan suami dan istri."


Aslan kembali menatap wajah Namira yang sudah teesenyum, "Ya udah, Abang siap-siap dulu yah, bentar lagi azan."


Ke duanya pergi meninggalkan kamar, diantarkannya sampai depan rumah, suami yang sangat dicintainya. diciumnya takzim tangan itu, dan kecupan mendarat di kening wanita terkasih miliknya. dengan mengucap salam perpisahan,


"Assalamualaikum," ucap Aslan pada kekasih halalnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab wanita halal itu pada pemiliknya.


Lalu apa yang akan Maher lakukan untuk dapat melihat Namira?

__ADS_1


__ADS_2