HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 44


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH


Benar saja Maher berniat memberitahukan papanya setelah Maher bertemu dengan lelaki itu. Maher akan langsung menceritakan segalanya tentang dia dan Namira.


Saat ini Mahendra sudah berada di kota yang sama tapi Maher meminta agar Mahendra menginap di hotel saja, karna di rumah ada Dion. Sekarang Ayah dan anak itu sedang berada di restoran yang mengusung konsep alam, jadi suasana sekitar restoran terasa nyaman dan terlihat sepi. Padahal aslinya ramai. Tetapi karna sangat luas dan satu tempat ke tempat lainnya lumayan berjarak.


"Ada apa, Her? Sampai-samapai kamu minta papa yang datang menemuimu, di sini pula?" Mahendra menatap putranya intens.


Maher mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja, raut wajahnya terlihat jelas mengguratkan keraguan.


Mahendra tetap diam, seperti ingin memberikan waktu pada anak semata wayangnya itu. Dia juga yakin apa yang ingin di katakannya juga alasan dari penolakannya di jodohkan dengan putri dari relasinya.


"Pah... papa akan segera punya cucu," ucap Maher pelan di akhir kalimat.


"What!" pekik Mahendra sampai terbangun dari duduknya.


"Kamu nikah gak izin papa! Malah sekarang udah mau punya anak?! Anak macam apa kamu ini, Maher?!" Suara Mahendra semakin meninggi.


Maher mengibaskan tangannya ke depan, memberi kode jika yang di tuduhkan papanya tidaklah benar.


"Gak pah, aku belum nikah!" jawab Maher, sambil meminta papanya supaya tenang dan mau mendengarkannya dulu. Tetapi bukannya tenang Mahendra bertambah marah.


"Kamu bilang belum menikah, tapi sudah mau punya anak?!"


"Pahh, tolong dengerin aku dulu, ya!" Maher sampai memohon dengan menangkupkan ke-dua tangannya di depan dada.


Mahendra menghela nafas panjang dan kembali menjatuhkan pan*atnya di kursi. Lelaki tua yang masih keliatan tampan itu bersedekap sambil menatap tajam pria di hadapannya.


"Aku ... aku minta maaf Pah. Aku melakukan kesalahan fatal, tapi aku gak sengaja. sumapah demi Allah Pah."


Mahendra masih diam, tetapi kali ini dahinya mengerut, jantungnya juga sedikit berdegup lebih kencang. Sebetulnya lelaki ini sudah bisa menebak arah pembicaraan putranya ke mana, jangan lupakan jika dia juga adalah laki-laki dewasa. Mahendra ingin mendengar sendiri dari putranya.


"Aku telah ...."


"Telah apa?!" tanya Mahendra tidak sabaran


"Aku telah menodai seorang gadis, Pah." Maher menatap wajah pria dihadapannya dengan perasaan takut.


Plak!


Satu tamparan langsung di layangkan Mahendra saat tatapan ke-duanya pas beradu, bahkan Mahendra sampai berdiri.


"Pah," lirih Maher, tapi lelaki itu tetap diam menerima tamparan darinPapanya.


"Maher! Papa tidak pernah mengajari kamu menjadi laki-laki bejat!" hardik Mahendra.


"Jika Mamamu tau perbuatanmu, bisa-bisa dia bangkit dari kubur!"


"Papa malu punya anak seperti kamu!" bentak Mahendra sambil menggeser kursi hendak pergi.


Maher langsung menghalangi langkah papanya, dan bersimpuh memohon agar Mahendra mau mendengar dan membantunya.


"Pahh, aku tau aku salah, tapi aku sudah bilang aku gak sengaja. Aku melakukannya dalam pengaruh alkohol. Apa Papa gak mau melihat dan merawat cucu Papa satu-satunya?" Maher menunjukan wajah memohon pada Mahendra, sambil ke-dua tangannya memegangi kaki lelaki itu.


Mahendra berfikir dan mencerna perkataan putranya. dirinya merasa apa yang di katakan putranya memang ada benarnya. Lalu ke-dua tangan kekarnya memegang bahu pria yang saat ini masih bersimpuh, diangkatnya dan di bawanya kembali pada tempat yang sama, duduk dan saling berhadapan.


"Baik, Papa akan dengarkan semua cerita kamu tentang perempuan itu ... siapa namanya?" tanya Mahendra akhirnya.

__ADS_1


"Namira. Namira Ardila Putri," jawab Maher lantang dan penuh semangat. Senyuman seketika terbit di bibir lelaki itu.


Mahendra manggut-manggut.


"Apa kamu mencintai perempuan itu," Mahendra bertanya seperti itu karna melihat rona bahagia ketika putra semata wayangnya menyebutkan nama perempuan tadi.


"Iya, Pah. Aku cinta sama Namira, tapi...."


"Kamu seorang Mager, apa yang membuatmu takut, he?"


"Dia sudah menikah." Maher menjawab dengan lesu. Di hadapan Papanya Maher bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus malu, bahkan menunjukan sifat sensitifnya pun pria itu tidak akan sungkan.


"Bagaimana bisa, dia menikah? Apa suaminya....!


"Suaminya seorang Gus, dan dia sudah tau jika Namira menjadi korban ... dan saat ini tengah mengandung anak orang lain." ungkap Maher.


"Wah hebat sekali lelaki itu, bisa menerima Namira apa adanya, pasti dia sangat mencintai istrinya." Mahendra merasa kagum.


"Siapa namanya? Papah jadi penasaran!"


"Aslan! Gus Aslan," sahut Maher sewot, karna Papanya memuji lelaki itu.


Tanpa Maher sadari, Mahendra menarik sedikit bibirnya ke samping. Lelaki paru baya itu tersenyum kecil melihat gurat cemburu di wajah putra semata wayangnya.


"Lalu apa yang mau kamu lakukan, boy?" Mahendra ingin tau rencana putranya.


"Aku ingin mengambil anakku, Pah. Aku ingin merawat anakku, aku juga punya hak 'kan, Pah?" seloroh Maher.


"Bagaimana dengan Namira?"


"Entah, Pah. Aku memang mencintainya, tapi...."


Mahendra bangkit dan bergeser duduk lebih dekat dengan putranya. Satu tangannya menepuk-nepuk punggung Maher.


"Papa akan bantu kamu, boy! Apa rencana kamu?


Maher mulai menceritakan rencananya, bagaimana nanti dia ingin mengambil bayinya dari tangan Aslan. Dia juga menceritakan tentang Dion yang telah mengetahui segalanya dan ingin menggagalkan rencananya.


"Apa kamu bilang? Dion sudah tau soal ini? Dan dia menentang kamu?" Mahendra terkejut. Pasalnya jika Dion sampai meminta bantuan pada Papanya yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri, sudah dapat di pastikan jika Maher akan mengalami kesulitan.


Tetapi sebagai seorang Ayah yang ingin melihat anak semata wayangnya bahagia, Mahendra akan melakukan apa saja. Apa lagi bayi itu adalah cucu pertama dan satu-satunya. Tapi bagaimana mungkin dirinya menentang kakaknya sendiri? Mahendra mulai dilema.


"Papa kenapa, Pah?


"Papa harus bicara dengan Dion. Ayo sekarang kita ke tempat kamu, sebelum Dion memberitahukan Papanya," ajak Mahendra.


Mahendra dan Maher meninggalkan restoran.


****


Gimana bang? Abang udah bicara dengan Bang Maher?" tanya Wulan sambil meletakan satu gelas kopi susu di meja kecil yang ada di hadapan suaminya. Setelahnya perempuan itu pun duduk di sebelah Dion.


Dion menggelengkan kepalanya, "Belum sayang. 'Kan si Mahernya keburu pergi.


Wulan mengernyitkan alisnya, "Pergi ke mana?"


Dion menggidikkan bahunya, "Abang belum sempat nanya, dia udah nyelonong aja."

__ADS_1


"Terus gimana dengan Gus Aslan? Abang udah kasih tau 'kan?"


"Udah sayang. Nanti kita berkunjung ke sana ya! Kamu hati-hati kalau bicara sama Namira jangan sampai keceplosan, hm?"


"Siap bos," jawab Wulan sambil memberi hormat.


Sepasang suami istri itu tertawa bahagia. Dion mengelus perut istrinya yang semakin besar. Saat ke -duanya asik berbincang, terdengar deru duara mobil di halaman. Dion dapat melihat dari balik jendela siapa pemilik mobil itu. Tetapi ada satu pemandangan yang membuatnya seketika berdiri. Wulan yang melihat suaminya bereaksi seperti tadi, perempuan itu pun ikut berdiri.


"Ada, Bang? Kok muka Abang mendadak pucat?" tanya Wulan sambil mengoyangkan tangan suaminya. Perempuan itu belum melihat ke arah luar, jadi dia tidak tau siapa yang datang.


"Om Mahendra!" Dion segera melangkahkan kaki ke luar menuju halaman. Langkahnya lebar bahkan cepat, sampai istrinya tertinggal.


"Abang!" panggil Wulan tapi tak mendapat respon. Yang di panggil terus saja berjalan.


"Assalamualaikum, Dion!" ucap lelaki paru baya itu.


"Wa'alaikumsalam, Om," jawab Dion sambil mengulurkan tangannya dan mencium tangan Mahendra takjim.


"Kok Om ada di sini?" tanya Dion sembari melirik ke arah Maher. Tak ingin melihat tatapan Dion, Maher sengaja berpura-pura melihat ke arah lain.


Dion menggelengkan kepalanya.


"Ayo, kita bicara di dalam," ajak Mahedra sambil merangkul pundak ponakannya.


Sekarang mereka berjalan beriringan menuju depan rumah, yang saat ini sudah ada Wulan sedang melihat ke arah ke-tiganya.


"Om!" panggil Wulan. Dan mencium tangan Paman suaminya, setelah berhadapan.


"Gimana kabar kamu, sayang. Wah udah besar aja kandungan kamu!" tanya Mahendra sambil mengelus pucuk kepala Wulan yang tertutup hijab.


Mahendra memang menyayangi Wulan seperti dia menyayangi Maher dan juga Dion. Wulan adalah keponakan dari mendiang istrinya. Putri dari kakak istrinya.


"Alhamdulillah baik, Om. Om sendiri bagaimana?" Perempuan itu balik bertanya.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, tetap bugar dan tampan," seloroh Mahendra sambil meregangkan ke dua tangannya ke samping.


Dion dan Maher memutar mata malas setiap kali melihat sikap narsis Mahendra. Ke dua lelaki tampan itu lebih memilih masuk ke rumah lebih dulu.


Wulan dan Mahendra tertawa berbarengan melihat tingkah Dion dan Maher.


"Ayo sayang kita masuk." Mahendra mempersilahkan Wulan jalan lebih dulu.


"Wulan permisi dulu ya Om, mau siapain makan siang?" pamit perempuan itu swtelah di dalam.


"Iya, sayang masak yang enak ya buat Om!" Mahendra sedikit meninggikan suaranya.


"Apa sih, Om. Di kira istri aku pembantu," dengus Dion.


Hahahaha!


"Kamu jangan lupa ya Dion, selain dia istri kamu, Wulan juga ponakan Om, sama seperti kamu," ejek Mahendra.


Maher ikutan tertawa, lebih tepatnya mengejek. "Tau lu, gitu aja cemburu!"


"Eh, anda kalo bicara jangan sembarangan ya! Mana ada gua cemburu sama lelaki yang udah tua kaya Om," sarkas Dion.


"Enak aja kamu bilang Om tua. Papa kamu tuh yang udah tua," timpal Mahendra tidak mau kalah.

__ADS_1


Ke -tiganya tertawa dalam candaan remeh mereka, lupa dengan perbedaan yang akan mereka hadapi nanti. Suasana menjadi akrab dan hangat layaknya sebuah keluarga. Wulan yang melihat dari jauh justru di buat takut. Dia khawatir jika kehangatan yang nampak saat ini akan berubah panas sebentar lagi.


__ADS_2