HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 14


__ADS_3

HAMIL TANPA DI SENTUH (14)


Laki-laki itu adalah Maher Arkhana Mager, seorang pria tampan, bertubuh atletis, lulusan luar Negri, dan dia merupakan CEO dari banyak perusahaan. Ayahnya Mahendra Mager merupakan pengusaha kaya raya yang memiliki banyak perusahaan baik di dalam maupun luar Negri.


Maher di juluki kulkas 2 pintu, fahamkan arti nya? Iya, dia laki-laki sangat dingin di kalangan para gadis, sampai saat ini saja tidak satu orang gadis pun yang mampu merebut hatinya.


Selama ini jangankan untuk menyentuh, untuk melirik seorang wanita saja dia seperti tidak sudi. Karna sikap dinginnya sampai ada rumor jika maher penyuka sesama jenis.


*****


Seorang laki-laki tampan baru saja keluar dari kamar mandi, yang berada di dalam ruang kerja nya. Dia berjalan lunglai, wajahnya terlihat pucat dan lemas, setelah berkali-kali bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk mengeluarkan isi yang ada di dalam perutnya. Tapi nyatanya tak ada sedikit pun yang ke luar hanya cairan saja yang di muntahkan, karna sejak pagi dia seperti tidak berselera untuk memakan apapun.


Di seretnya kaki menuju meja kerjanya, di dudukinya kursi empuk lalu bersandar. Tangannya mengambil tisyu yang ada di meja lalu mengelap bibir nya dari sisa-sisa muntahan.


Di pejamkan ke dua matanya, tangannya memijit pangkal hidung dan pelipis. Maher merasa bingung dengan keadaannya yang sudah beberapa hari ini merasakan pusing dan mual.


"Si*l, ada apa sih sama gua? Kenapa tubuh gue selalu lemas kaya gini, seperti kurang asupan gizi saja." Maher mengumpat dirinya sendiri.


Di tengah rasa lemasnya, terdengar ketukan pintu,


Tok ..tok ..tok..!


Maher menarik nafas dalam, sebelum meminta seseorang di balik pintu itu masuk,


"Masuk!" Maher sedikit mengeraskan suaranya.


Pintu terbuka setengah, suara langkah dari sepatu seseorang yang memasuki ruang kerja Maher, membuat Maher menautkan ke dua alisnya. Maher merasa heran dengan sikap sepupunya yang baru saja masuk ke ruangannya.


"Tumben pake ketok pintu segala?" tanya maher yang sudah tidak lagi fokus pada laki-laki yang sekarang duduk di hadapannya.


Laki-laki yang tak kalah tampan dengan maher, sekarang tengah duduk dengan satu kaki di angkat, sambil memutar-mutar kursi yang tengah di dudukinya.


"Luh kenapa sih dateng senyum-senyum gak jelas kaya gitu?" tanya Maher dengan nada kesal.


"Ah pura-pura aja luh, pokoknya selamat yah." Dion berkata sambil berdiri dan berjalan menuju sofa empuk yang ada di sisi lain.


"Maksud luh apa sih Dion? kasih ucapan selamat? Buat menang tender? Kan udah biasa."


Seketika tawa menggema dari mulut Dion.


"Lah lu emang gak tau atau sengaja mau main rahasia sama gue, hmm."


Maher memutar bola matanya malas. Dion adalah sepupu yang paling menjengkel kan tapi paling dekat dengannya.


"Luh serius enggak tau pa-pa?" Dion menatap serius ke arah Maher.

__ADS_1


Maher berdiri, berjalan mendekati dion dan menjatuh kan bok-ongnya di sofa, dan membalas tatapan Dion dengan tatapan tidak kalah serius.


"Wah, gimana sih Om Hendra. Luh yang mau kawin tapi luh gak di kasih tau, parah sih bokap luh." dion menggeleng-gelengkan kepalanya.


"To the poin aja, dion," sahut Maher tanpa senyum.


"Mmm ...tapi luh janji yah jangan bilang Om hendra kalo luh tau dari gue?" ucap dion sabil menaikan ke dua alisnya.


"Iya, cepet kasih tau gue!" jawab Maher sedikit kesal.


"Jadi kemaren malam itu Bokap luh dateng nemuin Bokap gue, and gue gak sengaja denger obrolan mereka ...." Dion nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


Dion menarik nafas dan diam sebentar,


"Om Hendra mau jodohin luh." Dion memberitahu dengan suara pelan.


"Whatt," sahut Maher sangat terkejut.


Baru saja maher akan menjawab, sudah terdengar suara azan dari Masjid yang berada di area lerkantorannya.


Dion menunjuk jari telunjuknya ke atas,


"Tuh denger udah azan zhuhur, ayo isoma!" ajak dion sambil beranjak dari duduknya.


"Luh duluan aja, gue mao ganti baju dulu."


"Tadi gue mual terus muntah-muntah."


"Ohh." Dion menyahut, lalu meninggalkan Maher yang ingin berganti baju.


.


Selesai melaksanakan kewajiban sebagai muslim, dion dan Maher tidak langsun kembali ke kantor, mereka berdua duduk di teras Masjid sambil melihat lalu lalang orang-orang yang juga baru selesai melaksanakan sholat.


Tetapi ada satu pemandangan yang membuat maher fokus melihat, Dion seperti menyadari sikap sepupunya itu,


"Luh liat apa sih Her, serius amat?"


"Tuh," tunjuk Maher dengan bibirnya ke arah tukang buah gerobakan.


Dion nampak terkejut, tidak biasanya Maher tertarik dengan makanan jalanan.


"Luh pengen petis?"


"Petis?" ucap Maher mengulangi kata-kata dion.

__ADS_1


"Iya, yang luh mau itu namanya petis, buah yang di colek gula." Dion menjelaskan.


"Bang!" panggil Dion sedikit teriak.


"Petis 1 Bang, tolong bawa ke sini," lanjut dion ketika si Abang petis nengok ke arahnya.


Tak butuh waktu lama 1 bungkus bungkus yang isinya bermacam-macam buah berikut sambalnya sudah tersaji di hadapan Maher dan Dion.


Dion merasa aneh melihat kelakuan saudaranya ini, melihat petis sudah seperti liat cewe cantik, hampir mau ngeces.


Tanpa ba bi bu, Maher membuka mika yang isinya banyak buah, dan kangsung di colek ke gula merah. lihat Maher sampai merem melek menikmati petis yang rasanya akan biasa saja untuk Dion.


"Luh kenapa sih Her? Ini kaya bukan luh tau."


Maher yang sedang menikmati petisnya langsung berhenti.


"Gue juga bingung, udah seminggu ini badan gue lemes, kepala pusing, dan parahnya gue selalu mual pengen muntah-muntah," jelas Maher tanpa di minta.


"Dari waktu di kantor juga gue liat muka luh pucet. tapi luh udah ke Dokterkan? takutnya asam lambung." Dion bertanya sambil ikutan nyolek buah.


"Udah kok, kata Dokter sih semua ok. Gue cuma di kasih vitamin."


"Eh tapi ada ucapan Dokter yang bikin gue kepikiran." Maher diam setelah mengatakan itu.


Dion pun ikut diam sambil terus memasukan buah ke mulutnya.


"Dokter itu tanya, apa gue udah punya istri? Terus gue tanya, kenapa Dok? Luh tau Dokter itu bilang apa?"


Dion menggeleng dan sekarang menatap Maher


"Gue seperti mengalami gejala morning sickeness, dan luh tau itu apa?"


Sekali lagi Dion hanya menggeleng,


"Gejala yang biasa di alami oleh suami yang istri nya sedang hamil." ucap Maher serius sekarang tiba-tiba dirinya teringat sesuatu.


Buahahaha ...


Tawa Dion pecah, sampai menangis, dion merasa ucapan Dokter itu lucu. Dion fikir mana mungkin sda perempuan hamil anaknya Maher, ngelirik cewek aja Maher seperti alergi.


"Gila ya tuh Dokter kalo ngomong, ya kali ada perempuan lagi hamil anak luh." Ikut meberitahu apa yang ada di pikirannya.


Lalu dion kembali tertawa, sedang Maher justru fikirannya menerawang, saat dion mengatakan ada perepuan hamil anaknya.


"Luh salah Dion, luh gak tau kalau gue sudah berbuat dosa, walaupun itu gua lakukan tanpa sengaja. untuk yang pertama kalinya gua sudah menghancurnya hidup seorang gadis." ucap Maher dalam hati.

__ADS_1


Dan sekarang gue baru sadar kalau gue cuma laki-laki pengecut, yang tidak tahu malu. Laki-laki yang tidak pantas di maafkan.


__ADS_2