
HAMIL TANPA DISENTUH (23)
Tidak terasa sudah empat puluh hari sejak kepergian Halim. Aslan mengajak Namira untuk kembali ke Pesantren, awalnya Aslan ingin mengajak istrinya kembali ke rumah pribadinya tetapi Aslan ragu, karena usia kandungan Namira saat ini sudah masuk tiga belas minggu. Bukan hanya tentang kandungan yang Aslan khawatirkan tetapi juga tentang laki-laki di masa lalu Namira.
Memang sampai hari ini laki-laki itu belum pernah sekali pun menampakan diri ataupun menemui Namira secara langsung, tetapi aku merasa jika dia selalu mengawasi. Lalu bagaimana jika dia nekat untuk menemui Namira pasti Namira akan shock dan yang paling Aslan khawatirkan adalah akan berdampak buruk bagi kandungan istrinya.
"Sayang, kita balik ke Pesantren yah," ucap Aslan di sela kesibukannya mencuci mobil.
"Emm... kalau kita kembali ke Pesantren, lalu rumah Ayah bagaimana Bang?" tanya Namira yang saat ini sedang duduk memperhatikan Aslan.
"Kalau masalah rumah, kan bisa di sewakan, atau suru aja Bibi tinggal di sini sambil ngurusin rumah," sahut Aslan.
"Coba nanti aku tanya Bibi yah, kira-kira mau enggak Bibi tinggal di sini."
Selang beberapa menit datang Bibi membawa dua cangkir dia atas nampan, lalu Bibi meletakan ke duanya di atas meja yang ada di samping Namira.
"Silahkan Non," ucap Bibi, sambil meletakan dua cangkir minuman ke atas meja.
Baru saja Bibi ingin kembali ke dalam, Namira memanggilnya "Bi, sini! Duduk dulu bentar, ada yang mau aku omongin!"
"Ada apa Non?" tanya Bibi sambil melangkah dan duduk di kursi yang ada di depan Namira.
"Bang!" panggil Namira pada Aslan yang tengah sibuk menyemprot busa yang ada di mobilnya.
Aslan langsung berhenti sesaat ketika mendengar teriakan dari istrinya "Ada apa sayang?! Bentar nih dikit lagi."
Namira pun tidak bicara lagi, dia menyuru bibi untuk ikut menunggu, dia ingin agar Aslan saja yang bicara.
Tidak membutuhkan waktu lama, Aslan telah selesai dengan kegiatannya, dan segera membereskan peralatan mencucinya. lalu langsung berjalan menghampiri ke dua wanita beda usia itu. Aslan duduk di kursi yang lain, sambil tersenyum kepada ke dua perempuan itu.
"Wah! Ada pisang gorengnya juga nih! Pas banget sore hari minum kopi di temani pisang goreng panas. Bibi tau aja nih!"
"Iya Gus, tadi pagi Bibi ke pasar, eh liat pisang, Bibi jadi inget Gus Aslan," ujar Bibi sambil tertawa.
"Sayang! Masa Bibi nyamain aku sama pisang." Cetus Aslan dengan wajah yang di buat-buat kesal.
Bibi yang melihat Tuannya seperti itu jadi merasa tidak enak hati, sedangkan Namira hanya tertawa geli melihat tingkah konyol suaminya.
"Eh maaf Gus, bukan maksud Bibi seperti itu!" Ucap Bibi dengan wajah tertunduk.
"Enggak pa-pa Bi, Abang cuma bercanda," sahut Namira sambil tersenyum ke arah Bibi.
Aslan malah tertawa "Maaf ya Bi! Aku cuma godain Bibi aja," seloroh Aslan pada Bibi sambil tangannya mencomot pisang goreng, lalu langsung memakannya.
"Tadi Non Mira mau bicara apa sama Bibi?" tanya Bibi mengingatkan kenapa dia dipanggil.
Namira melirik pada Aslan, dia yang mengerti langsung tangannya meletakan pisang yang hany tinggal separuh, dan menyesap kopinya sebentar.
"Begini Bi, aku mau ajak Namira kembali ke Pesantren. Tapi Namira bingung tentang rumah ini ... mau enggak Bibi tetap tinggal di rumah ini, seperti biasa aja Bibi nanti yang urus semuanya di rumah ini?" tanya aslan, sambil matanya menatap wanita tua yang sudah mengabdikan dirinya sejak Namira kecil.
Bibi diam, dia bingung harus menjawab apa, satu sisi dirinya sangat berat meninggalkan rumah ini karna banyak sekali kenangan. Tapi di sisi lain, dia tidak mungkin sendirian tinggal di sini mengingat usianya yang tidak muda lagi.
"Bagaimana Bi?" tanya Namira yang ikut menatap Bibi.
Bibi menghela napas "Maafin Bibi ya Non, bibi enggak bisa tinggal di sini kalau Non enggak tinggal di rumah ini... Bibi sudah tua Non, lagian bibi kerja di sini bukan cuma buat ngurus rumah aja tapi buat ngerawat Non Mira sama Bapa juga. Bapak udah enggal ada, non Mira juga mau di bawa pergi, jadi Bibi udah enggak punya alasan lagi buat tinggal di rumah ini," terang Bibi, dengan mata yang sudah berembun.
Namira bangkit berjalan sedikit menghampiri Bini, dan mengusap lembut punggung wanita tua itu.
"Makasih ya Bi, selama ini Bibi sudah merawat aku dan Ayah bahkan sampai sekarang Bibi masih ngurusin aku," ucap Namira sambil ke dua tngannya memeluk leher perempuan itu dari belakang.
Setelah itu Namira kembali ke tempatnya duduk, Sdang Bibi yang tadi menahan air di matanya sekarang air itu malah tumpah membasahi wajah keriputnya.
"Ya sudah, jika Bibi tidak mau. Lalu Bibi mau ke mana?" tanya Aslan.
Bibi mengusap air mata dengan lengannya tangannya lalu dia pun mengutarakan niatnya "Saya mau pulang kampung aja Gus."
Aslan yang mendengar cuma manggut-manggut, dia juga tidak ingin memaksa, "Memang benar apa yang dikatakan Bibi jika dia sudah tua, nanti jika ada pa-pa di sini siapa yang akan membantunya?" batin Aslan.
Baru saja akan membuka mulut, terdengar suara notif dari ponselnya, Aslan pun mengambil benda pipih itu dari kantung celananya, dan di sana tertera nama Rio sebagai pengirimnya. Aslan bangun dari duduknya "Sayang, bentar ya, Abang mau telpon orang dulu!"
Namira hanya menganggukan kepala dan melanjutkan obrolan dengan Bibi. Sedangkan Aslan berjalan meninggalkan ke duanya.
Rio [Assalamualaikum Gus.]
Aslan [Wa'alaikumsalam Rio, ada apa?]
Rio [ Gus tadi siang ada yang ke restoran menanyakan Gus, katanya temanna Dion, dia bilang Gus mengenal Dion]
Aslan [Siapa namanya?]
Rio [ namanya Maher Gus, dia bilang, pernah datang ke pesantren tapi Gus enggak ada, mungkin bersamaan Gus berangkat ke Jakarta ]
Rio [ Dia menanyakan no telpon Gus, tapi saya enggak kasih, akhirnya dia yang meninggalkan no telponnya, nanti saya kirim]
__ADS_1
Aslan [Ya sudah kamu kirim ke saya].
Setelah Rio mengirimkan no, dan aslan meminta Rio untuk datang ke rumah, berbalas pesan pun Aslan akhiri, dirinya kembali menghampiri ke dua wanita yang masih asik mengobrol.
"Sayang, masuk yu! Liat tuh matahrinya udah mau pulang," cetus Aslan sambil satu jarinya menunjuk ke arah langit.
Benar saja semburat warna jingga mulai memenuhi langit di sebelah ufuk, waktu itu adalah waktu surup dan tidak baik untuk wanita hamil.
"Dan Bibi kalau memang sudah bulat dengan keputusan Bibi, besok Bibi bareng sama aku ya, jadi sebelum ke pesantren aku antar Bibi dulu pulang, malam ini kita packing ya!" pesan Aslan.
Lalu ke tiganya meninggalkan halaman, Namira dan Aslan lebih dulu jalan, sedang Bibi membereskan cangkir dan piring setelahnya menyusul dua orang yang menjadi tuannya.
"Bang, aku mau persiapan dulu yah, bentar lagikan magrib," ucap Namira, sesaat setelah masuk kamar sambil menghentikan langkahnya.
"YA sudah, Abang mau mandi dulu," jawab Aslan meninggalkan Namira, dan berjalan ke kamar mandi.
Baru berapa lama sudah terdengar suara dari dalam kamar mandi "Sayang ... sayang...!" teriak Aslan.
Namira yang baru saja mengambil perlengkapan sholatnya mengernyitkan alisnya, mendengar teriakan suaminya dia segera berjalan pelan ke arah pintu kamar mandi.
"Bang, kenapa?!" tanya Namira dengan panik, sambil tangannya mengetuk-ngetuk pintu.
Hehehe..yang di tanya malah cengengesan di balik pintu "Maaf sayang! Abang lupa bawa handuk! Bisa tolong ambilin abang handuk?!"
"Abang! Kok bisa sih?! tanya Namira sedikit kesal.
"Ya bisa dong sayang! Namanya juga lupa, hehehe."
"Tapi kalau kamu enggak mau juga enggak pa-pa kok! Abang bisa keluar tanpa pakai handuk," seloroh Aslan sambil menutup mulutnya, Aslan merasa lucu saat membayangkan jika wajah istrinya saat ini sudah merah.
"Eh! Awas aja yah kalau berani!" sungut Namira kesal dengan wajah yang sudah memerah seperti udang rebus.
Namira langsung membalikan badan dan berjalan enuju lemari, lalu tangannya mengambil handuk berwarna putih. Setelahnya kembali lagi mendekati pintu kamar mandi.
"Abang!" panggil Namira sambil mengetuk pintu.
Pintu kamar mandi langsung terbuka yang hanya menampakan kepala Aslan. Namira langsung membalikkan badan, tangannya terulur ke belakang, tetapi Aslan tidak langsung mengambilnya, dia sengaja melakukan itu untuk menggoda istrinya.
Namira merasa aneh, handuk yang di pegangnya tidak juga di ambil, dia merasa khawatir lalu membalikan badannya menghadap ke kamar mandi, matanya langsung melotot melihat suamianya yang lagi tersenyum menatap dirinya.
"Abang! Sengaja yah, mau bikin tangan aku pegal hm!" sungut dirinya yang sudah benar-benar di buat kesal.
Namira merasa semenjak hamil dirinya jadi gampang marah dan juga sensitif.
Melihat gaya suaminya seperti itu Namira begidik ngeri sambil mengangkat ke dua bahunya.
Aslan malah tertawa melihat istrinya langsung melempar handuk dan melengos pergi meninggalkan dirinya.
.
Aslan telah berganti pakaian memakai baju koko dan juga sarung. Aslan juga Namira mengajak Bibi berjamaah bersama di mushola kecil yang ada di rumahnya.
Selesai mengerjakan tiga rakaat Mereka pun zikir dan berdoa bersama. setelah selesai Aslan mengajak Namira untuk duduk di bangku ruang tamu, sebelumnya Aslan sudah memberitahu jika Rido akan datang ke rumah. Aslan sudah memberitahukan semuanya pada Namira.
Tidak menunggu lama terdengar suara motor di halaman, Aslan langsung bngkit untuk melihat siapa yang datang, benar ternyata itu suara motor Rido.
"Assalamualaikum Gus," ucap Rido memberi salam dan mencium tangan Aslan.
Wa'alaikumsalam," jawab Aslan kemudian.
"Duduk!" Aslan mengulurkan tangannya menunjuk kursi yang ada di luar.
Sebelum menyusul Rido di luar, Aslan lebih dulu melihat ke arah istrinya,
"Abang ngobrol dulu yah sama Rido!"
"Iya bang, aku ke kamar aja yah! tapi nanti aku kasih tau Bibi supaya bikin minum buat Abang," sahut Namira.
Setelahnya Aslan keluar sedang Namira langsung beranjak menuju kamar setelah memberitahu Bibi.
Aslan duduk di bagian kursi satunya, dia sengaja tidak langsung mengajak Rido bicara, sebab menunggu Bibi membawakan minum terlebih dahulu. Aslan hanya tidak ingin jika pembicaraannya ada yang mendengar.
"Silahkan Gus, Nak...?" tanya Bibi pada Rido sambil tangannya meletakan 2 gelas berii kopi.
"Rido Bi," Rido memperkenalkan diri pada Bibi.
Setelahnya Bibi pamit masuk ke dalam.
"Ridho, besok pagi saya akan balik ke pesantren. Tolong kamu handle urusan restoran dan kamu awasi terus laki-laki yang tempo hari datang ke restoran."
"Baik, saya akan handle semua urusan restoran. Tapi nanti Gus akan sering-sering datang ke Jakarta kan?" tanya Rido tanpa ingin tahu apapun tentang alasan Aslan menyuruhnya untuk mengawasi laki-laki yang tempo hari datang ke restoran.
"Sepertinya tidak dalam waktu yang lama, masalahnya kandungan istri saya juga sudah mulai besar jadi saya tidak mungkin terlalu sering bolak-balik Jakarta. Saya juga harus bantu Abah mengurusi Pesantren dan saya sendiri ada urusan yang harus saya selesaikan.
__ADS_1
"Baik akan saya lakukan semua perintah Gus Aslan. Kalau begitu saya pamit pulang."
Setelah kepergian Ridho, Aslan pun mengambil benda pipih yang ada di meja dia mencari kontak nama atas nama Maher yang tadi sempat diberikan Rido padanya.
Setelah menemukan nama itu Aslan langsung beralih ke aplikasi si hijau dengan niat menanyakan maksud dan tujuan Maher datang ke restoran menanyakan dirinya.
Aslan
[ Assalamualaikum, apa betul ini dengan Bapak Maher?" ]
Sementara di sebrang sana, Maher yang mendengar bunyi notif dari no tidak di kenal, dengan malas mengambil benda pipih yang tergeletak di atas kasur, sejak pulang dari kantor Maher langsung membaringkan sirinya di kasur, dia merasa lelah.
Sejenak dahinya mengkerut melihat no tidak dikenalnya itu, dengan malas Maher membuka isi chatnya,
Maher
["Wa'alaikumsalam, iya betul saya Maher, anda siapa?"]
Aslan
["Saya dapat nomor telepon anda dari salah satu pegawai restoran saya, katanya anda menanyakan saya?"]
Seketika Maher menyunggingkan senyumnya,
Maher
["Oh ya maaf saya sepupunya Dion. Bukankah Dion temannya Pak Aslan?"]
Aslan
["Kalau boleh saya tahu Pak Maher ada perlu apa ya dengan saya? Kata karyawan saya pak Maher sama dia pernah datang ke pesantren?"]
Maher
["Apa boleh kita bertemu pak Aslan ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Bapak."]
Aslan
["Mohon maaf Pak Maher, saat ini saya tidak bisa bertemu karena besok pagi Saya berencana akan kembali ke pesantren."]
"Apa! Dia akan kembali ke pesantren, itu artinya Namira juga akan ikut dengan dia. nggak.. nggak..nggak! Aku harus memikirkan cara agar aku bisa segera bertemu dengan Namira secara langsung. Aku ingin memastikan, benar-benar memastikan anak yang dia kandung adalah milikku walaupun aku sudah tahu jika anak itu adalah memang milikku." gumam Maher.
Maher
"[Apa boleh lain waktu saya berkunjung ke pesantren anda Pak Aslan? Kebetulan waktu saya ke pesantren saya sudah bertemu dengan Pak Kyai dan saya pun sudah meminta izin untuk menjadi donatur di pesantren, karena sesuatu alasan Pak Kyai tidak mengizinkan saya untuk menjadi donatur dan Saya pikir anda pasti tahu alasannya apa."]
Aslan
["Silakan tentu Pesantren selalu pergi untuk siapa saja yang dimiliki niat baik."]
Maher
["Baik terima kasih Pak Aslan, kalau begitu saya tutup teleponnya Assalamualaikum."]
Aslan
["Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh."]
Setelah selesai berbicara dengan Maher melalui chat-an, Aslan pun beranjak masuk ke dalam dan melangkahkan kakinya ke kamar. Namun saat sudah sampai dalam kamar Aslan melihat istrinya yang sudah tertidur pulas, Aslan pun berjalan mendekati Namira dan duduk di pinggir tempat tidur. Dengan lembut Aslan mengusap pipi istrinya yang selembut kulit bayi, dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata Namira.
"Sayang bangun dong Lupa ya Ini malam apa hm?" tanganya terus mengusap setiap inci wajah istrinya.
"Ini malam jumat loh."
Setelah mengatakan itu Aslan melihat Namira menggeliat, dan perlahan Namira membuka mata. Aslan tersenyum sumringah.
Setelah mengerjap-ngecapkan mata Namira membenarkan posisinya menjadi bersandar di kepala tempat tidur.
"Maaf ya Bang, aku lupa," ucap Namira sambil tersenyum walaupun wajahnya menunjukkan Jika dia masih mengantuk.
"Ya udah kalau gitu Abang ambil wudhu dulu ya, setelah Abang selesai kamu lanjut tidur." kata Aslan.
Namira hanya mengangguk dan menata punggung Aslan yang sedang berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai berwudhu Aslan kembali menghampiri Namira.
"Sayang kamu agak geser ya ke tengah tidurnya nanti Abang jatuh," ucap Aslan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hehehe.. Namira tertawa, lalu dia menggeser posisinya menjadi di tengah. Setelah itu Namira langsung berbaring dan Aslan tersenyum senang melihat itu, Aslan pun mengambil posisi dekat Namira.
Aslan menyibak baju tidur Namira, dia dapat melihat dengan jelas perut Namira yang putih mulus. Diusapnya perut buncit itu, Aslan menata Namira sambil tersenyum dan tangannya beralih membelai rambut hitam milik istrinya. Aslan mengangkat sedikit tubuhnya agar dia dapat mencium kening Namira.
"Siap sayang?" tanya Aslan dengan lembut.
__ADS_1
Namira mengangguk seraya tersenyum.