HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 39


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH


Setelah acara tujuh bulanan selesai, Aslan selalu nampak murung. Dia tidak menyangka jika Maher mengungkapkan semuanya pada Dion. Entah apa yang sekarang Dion fikirkan. Aslan berfikir, haruskah dia menanyakan pada istrinya tentang Maher? Tapi bagaimana jika itu membuat Namira kembali trauma?


"Abang kenapa sih, aku perhatikannya ngelamun terus?" tanya Namira. Perempuan itu tengah duduk di halaman depan sambil memegangi perutnya yang sudah mulai turun.


"Gak ada pa-pa sayang, maaf ya kalau Abang buat kamu cemas, hm," sahut Aslan.


"Sayang, kita ke dalam yu, udah sore," ajak Aslan, kini lelaki itu membantu istrinya berdiri dan memapahnya berjalan hingga ke kamar.


"Abang ke luar sebentar, ya. Mau ketemu Ustdaz Fatih," kata Aslan, sambil membantu Namira duduk di sofa dalam kamar.


"Ada urusan apa, Bang?" tanya perempuan itu.


"Kamu inget 'kan, program Ustadz Fatih buat para santri?"


"Iya aku inget. Ya udah, tapi jangan lama-lama, ya?" ucap Namira.


Lalu Aslan ke luar kamar. Sebetulnya Aslan bukan ingin menemui Ustadz Fatih, melainkan Abah dan Uminya. Aslan tidak bisa menyimpan masalah ini seorang diri. Dia ingat akan ucapan Dion, agar dirinya berhati-hati, juga selalu menjaga Namira juga Anaknya.


"Assalamualaikum, Abah, Umi," Aslan mengucap salam saat sudah bertemu Farah dan Karim.


"Eh, Aslan. Wa'alikumsalam, Ada apa Nak," tanya Farah yang melihat kecemasan di wajah putranya.


"Ada yang mau Aslan ceritakan pada Umi dan Abah," Aslan langsung duduk di dekat Uminya.


"Mau bicara apa kamu, Lan," tanya Karim


Aslan diam, dia bingung harus memulainya dari mana. Tetapi dia juga tidak bisa menyembunyikan semuanya, pasalnya ke-dua orang tunya sudah mengetahui perihal Namira.


"Ini soal Namira Bah," sahut Aslan, memperlihatkan kecemasanya.


"Mantu kesayangan Umi? Ada apa dengan Namira Aslan, dia baik-baik aja 'kan? Berondong Farah, dia memang sangat menyayangi Namira.


"Namira baik-baik aja, Umi. Tapi ... ini tentang kehamilannya," cetus Aslan.


"Kenapa sama kehamilan Namira Aslan? Namira dan bayinya baik-baik aja 'kan?" Farah terlihat cemas.


"Alhamdulillah Namira dan bayinya baik-baik aja."


"Lalu apa, jangan buat Abah dan Umi cemas. Liat wajah kamu, keliatan banget kalau kamu srdang stres," ucap Karim.


"Aslan mau kasih tau, tentang ... Ayah biologis bayi dalam kandungan Namira," ungkap Aslan.


"Apa?!" Ke-dua orang tua itu hampir memekik berbarengan. Kini Farah dan Karim saling tatap.


"Maksudnya bagaiman Nak?" Umi kembali bertanya, kali ini wajah Farah sedikit berubah pucat dan panik. Bagaimana tidak hal yang mereka khawatirkan akhirnya terjadi.


"Maher, Bah!"


Karim mengerutkan keningnya mendemgar kata Maher, sosok anak muda yang belum lama di kenalnya.


"Kenapa dengan Nak Maher, Lan?" tanya Karim yang belum mengerti arah pembicaraan Aslan.


"Maher ... Maher adalah Ayah biologis anak Namira.

__ADS_1


Apa?!" Sekali lagi ke-duanya memekik.


Farah bertambah pucat, tangannya bergetar. Farah benar-benar di buat takut.


"Lamu yakin, Lan?" Karim bertanya sambil menatap manik hitam putranya.


"Dia sendiri yang kasih tau Aslan, waktu Aslan ada di Jakarta,"ujar Aslan.


"Ya, Allah bagaimana ini, Bah. Apa yang kita takutkan akhirnya terjadi," Farah merasa terpukul.


"Apa istrimu tau soal ini?" tanya Karim. Saat ini pria tua itu menggeser duduknya lebih dekat dengam Farah.


Aslan menggeleng, dirinya tertunduk lesu. Dan terdengan isakan kecil dari mulutnya. Farah bergeser mendekat pada putranya dan mengusap punggung anaknya.


"Apa sebaiknya kita beritahukan Namira tentang Maher?" tanya Karim.


"Gak, Bah. Aku takut Namira tidak siap dan kembali trauma. Aku gak mau istriku kembali sakit lagi," sahut Aslan.


"Ya udah, sementara waktu kita rahasiakan dulu. Nanti saja setelah Namira melahirkan," usul Farah yang di setujui Aslan dan Karim.


Setelah memberitahu ke-dua orang tuanya, Aslan sedikit merasa lega. Lalu dia pun keluar kamar dan kembali ke kamarnya.


"Sayang, lagi ngapain?" tanya Aslan saat dirinya sudah berda dalam kamar.


"Aku lagi nyiapin keperluan lahiran nanti bang," jawab perempuan itu. Tangannya tengah sibuk memasukan perlengkapan bayi dalam satu koper kecil.


Aslan mendekati istrinya dan membantu memasukan perlengkapan bayi ke dalam koper.


"Bang ... " Namira diam, sambil menatap Aslan.


sayang, kok diam?" tanya Aslan.


"Aku kok ngerasa kalau Ustadz Fatih suka ya sama Ismi."


"Rio juga sama, suka dengan Ismi. Abang malah bilang sama Rio, kalau emang serius di segerakan aja.


"Coba kamu tanya Isminya dia ada rasa sama siapa, jangan sampai ada yang namanya pacaran."


"Iya, Bang. Nanti aku tanya Ismi, ya."


******


Sudah satu minggu, Dion mengacuhkan sepupunya. Dion tidak pernah menemui Maher, tetapi laki-laki itu diam-diam tetap mengawasi ssaudaranya itu. Dion sangat hafal, jika Maher tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan berusaha melakukan sesuatu pada Namira juga Bayinya.


Dion juga tidak lagi berbicara dengan Aslan setelah acara Tujuh bulanan Namira. Dion sangat malu pada Aslan.


"Apa sebaiknya gue temuin Maher, ya," monolog Dion.


"Tapi gue males, bukannya apa, gue takut gak bisa nahan emosi kalo liat dia."


Argghh!


"Si-al lu, Her! Gara-gara lu, gue jadi kena imbasnya."


Saat ini Dion sedang berada di kantornya. Saat Dion akan keluar dari ruangannya, terdengar notif dari ponselnya. Dion melihat di layar ponselnya terpampang nama yang sedang tidak ingin di lihatnya.

__ADS_1


@Maher


[ Gue mao ketemu, ntar malam gue ke rumah lu.]


Dion hanya membaca lewat layar ponselnya.


Dia kembali melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan. Rasanya dia perlu menghubungi istrinya agar bersiap-siap. Dion akan mengajak pergi Wulan, sebab dia tidak mau bertemu Maher dulu. Dion cuma tidak ingin kembali baku hantam dengan laki-laki itu.


Sementara di tempat lain, Maher di buat kesal dengan sikap Dion yang mengacuhkan pesan darinya.


"Gue gak bakal mundur. Gue bakal terus berusaha buat dapetin hak gue, sebagai seorang Ayah." Maher berucap pada dirinya sendiri.


Maher sudah menghubungi Rangga dan menyusun rencana. Maher berniat akan membawa bayi Namira saat sudah melahirkan nanti. Maher benar-benar melakukan tindakan nekad.


Sedangkan Rangga masih berada di Villa. Maher sengaja menyuru asistennya itu untuk sementar waktu tinggal di sana. Maher tidak ingin kecolongan, jika Namira melahirkan nanti. Dia ingin herak cepat. Tetapi tanpa Maher ketahui, Aslan juga menyuru Rio untuk mengawasi Rangga. Aslan benar-benar ingin melakukan pencegahan sejak Dion memperingatinya hari itu, Aslan me jadi lebih waspada.


Aslan meminta Rio agar datang ke Pesantren untuk membicarakan tentang rencananya terhadap Maher. Aslan tidak mengatakan jika yang menjadi alasannya adalah Namira. Aslan hanya mengatakan kepada Rio joka Rangga memiliki niat tidak baik.


Saat ini Aslan juga Rio berada di saung tempat dulu dirinya bersama Namira.


"Gus, Rangga saat ini berada di Villa." Rio memberitahu tentang penyelidikannya kemarin.


Sesuai dugaan Aslan, jika Maher akan melakukan itu. Lelaki itu akan menyuru orang kepercayaannya untuk mengawasi dirinya juga Namira.


"Bagus Rio. Kamu terus saja awasi Rangga. Dan untuk urusan restoran saya akan meminta yang lain menggantikan kamu, mengurus restoran.


"Baik, Gus."


"Apa di dekat Vila itu ada Villa lain," tanya Aslan.


"Ada sih, Gus. Tapi agak jauh. Sepertinya Pak Maher sengaja memilih Villa yang jauh dari dan sepi," jawab Rio.


"Beres Gus. Kalau gitu saya pamit," Rio mencium takzim tangan Aslan. Dan lelaki itu pun pergi meninggalkan Aslan sendirin.


Aslan tidak langsung pergi. Dia merenung, menahan sesak dan sakit di dada juga hatinya. Aslan merasa geram, dia berfikir mengapa laki-laki itu harus kembali.


"Apa sebaiknya aku bawa Namira pergi? Menyembunyikannya sampai dia melahirkan?" tanya Aslan pada dirinya sendiri.


"Lebih baik, aku diskusikan masalah ini pada Umi dan Abah," ucapnya kembali, sambil banhkit dan berjalan meninggalkan saung.


Dion sudah memberitahukan semuanya pada wulan. Tentu saja itu membuat wanita yang tengah hamil besar itu menjadi kaget.


"Abang serius?" tanya Wulan dengan wajah yang sudah tidak dapat di artikan lagi.


"Iya, sayang. Dan Abang benar-benar geram. Abang tau Maher tidak sengaja, tapi tetap saja perbuatannya itu tidak dapat di maafkan."


"Terus rencananya Abang mau ajak Wulan ke mana?"


"Kita ke rumah papa aja gimana?" tanya Dion yang berencana pergi ke rumah mertunya. Kebetulan Maher belum tau di mana rumah mertuanya Dion.


"Ya udah, ayo!" ajak Wulan.


"Sauang, tolong ya, nanti kamu jangan cerita apapun ke Papa sama Mama.


"Iya Bang. Aku juga ngerti kok."

__ADS_1


Sepasang suami itu pun langsung pergi. Dion berencana akan menginap di rumah orang tua Wulan untuk beberapa hari.


__ADS_2