HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 38


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH


Waktu yang di tunggu akhirnya datang. Acara Tujuh bulanan Namira yang di adakan di kehamilan yang sudah menginjak Delapan bulan. Baik Farah atau pun Karim tidak mengundang banyak tamu, hanya sanak saudara terdekat.


"Bang, kok ngelamun, ada apa?" tanya perempuan yang memakai gamis berwarna putih dengan kerudung dan cadar senada.


"Gak pa-pa, Abang agak ngantuk aja," Aslan beralasan.


"Ya udah kita keluar, tamu udah pada datang," ajak Namira sambil berdiri dengan tangan memegangi perut bagian bawah, karna kandungannya yang sudah berasa berat.


Aslan tidak lagi mengucapkan apa pun, dia langsung berjalan mensejajarkan langkahnya dengan istrinya. Fikirannya saat ini sedang kalut memikirkan tentang pria itu.


Baru saja membuka pintu terdengar suara dari luar menyebut nama seseorang yang dia kenal.


"Eh, Nak Dion!" Terdengar suara Karim dari luar.


Aslan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menarik Namira kembali ke dalam kamar. Perbuatan lelaki itu membuat Namira kaget.


"Abang kenapa? Narik aku ke dalam lagi?" tanya perempuan itu.


"Kamu tunggu di kamar dulu, hm! Abang keluar duluan, ya."


Tidak menunggu jawaban istrinya, Aslan langsung keluar kamar dan berjalan ke depan mendekati asal suara tadi


Saat ke luar, Aslan melihat Dion dan Wulan istrinya. Aslan tidak langsung mendekati Dion, matanya melihat ke sekeliling, dia khawatir ada sosok yang tidak dia inginkan.


"Assalamualaikum, Gus!" Sapa Dion dari jarak tidak terlalu jauh.


Dion dan Wulan berjalan mendekati Aslan. Setelah itu ke-duanya berjabat tangan. Sedang Wulan menangkupkan ke dua tangannya di depan dada.


"Namiranya mana, Gus?" tanya Wulan kemudian.


"Ada di dalam kamar, kamu ke sana aja, ya! Kamar tamu, yang itu." Tunjuk Aslan pada salah satu kamar.


Wulan pun meninggalkan ke- duanya dan berjalan ke arah kamar untuk menemui Namira.


"Ikut yu, On!" ajak Aslan.


"Ke mana?" tanya Dion


"Kita ngobrol di belakang aja," Aslan langsung berjalan ke arah kebun belakang dengan di ikuti oleh Dion.


Setelah samapi di belakang, Aslan duduk di balai kecil yang ada di dekat kebun sayur. Dion pun ikut duduk tidak jauh dari tempat Aslan.


"Sepupu kamu gak ikut 'kan? tanya Aslan menunjukan wajahnya yang cemas.


"Saya heran sama kamu Lan, memang ada apa sih kamu sama Maher, sampai kamu melarang saya ngajak dia?" Dion sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Saya bingung Dion harus cerita dari mana. Tapi saya belum siap memberitahu kamu, lebih baik kamu tanya sendiri sama Maher!"


"Sudah! Saya udah tanya , dan dia bilang gak ada pa-pa."


"Terang aja dia bilang gak ada pa-pa. Bagaimana mungkin dia menceritakan aibnya sendiri. Astagfirullahalazim," Aslan


keceplosan.

__ADS_1


"Aib?" tanya Dion pada Aslan yang terlihat sekali jika sedang menyembunyikan sesuatu.


"Lan, Maher itu saudara saya, bagaimana pun saya akan ikut bertanggung jawab dengan apa pun yang dia lakukan. Jika dia berbuat salah, saya juga akan ikut merasakan malunya."


Aslan diam mencerna kata-kata Dion. Baru saja Aslan akan membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara yang sangat dia kenal.


"Assalamualaikum, Dion," ucap seorang laki-laki yang bersiri di tengah pintu.


"Maher!" Dion hampir memekik, lelaki itu langsung berdiri dan menghampiri sepupunya itu.


Sedangkan Aslan menatap tajam pada sosok itu, ke-dua tangannya mengepal di samping. Aslan pun langsung berdiri dan menghampiri. Maher benar melakukan pesan yang dia kirim ke Aslan, tentang dia yang akan datang.


Rasa marah sudah menyelimuti laki-laki itu. Aslan berjalan cepat dan memegang kerah baju Maher lalu menariknya ke luar. Sedangkan Dion kaget melihat sikap Aslan uang seperti itu, dia langsung berusaha melerai ke-duanya.


Bugh...Bugh...Buggh!


Tiga kali bogeman di berikan Aslan pada Maher. Bibir Maher pecah dan keluar sedikit darah di bagian itu. Maher tidak melawan, dia hanya mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan.


Dion memegangi Aslan, "Ada apa ini sebetulnya?! Apa yang kalian sembu gikan dari saya?!" Teriak Dion.


Aslan membuang muka, sedang Maher berdiri dan sedikit menjauh.


"Ada yang bisa kasih tau gue?! ... Maher! Apa sebetulnya yang udah lu lakuin ke Aslan, he! Sampai dia marah kaya gitu? Jawab gue!"


Dion sangat marah dan menatap tajam pada pria yang menjadi saudara satu-satunya itu.


"Gue ... gue udah ... Namira ..."


"Diem kamu lelaki bajingan! Jangan pernah sebut nama istri saya dengan mulut kotor kamu," geram Aslan.


"Maherrr!" pekik Dion menatap tajam pada Maher.


"Cukup Dion, tolong kamu bawa orang itu, saya gak sudi dia menginjakkan kami di rumah saya. Tolong, sekarang sekarang sedang ada acara, jangan buat keributan.


Tanpa bicara, Dion memegang lengan Maher dan menyeretnya ke tengah kebun. Tidak mungkin Dion membawa Maher lewat depan dengan keadaan babak belur seperti ini. Setelah jauh Dion mengajak Maher duduk di saung yang ada di pinggiran kebun itu dan kembali mengajaknya berbicara.


"Her, sekarang lu bisa cerita ke gue, ada apa?" Dion menatap intens manik mata Maher.


Maher menarik nafas panjang, dia sendiri bingung harus memulainya dari mana.


"Ok, gue bakal terus terang sama lu. Tapi gue gak yakin setelah lu tau, lu bakal diem aja."


"Maksud lu?"


"Anak ... "


"Anak?" Dion di buat penasaran.


"Anak dalam kandungan Namira, istri temen lu itu ... itu bukanlah anaknya Aslan," ungkap Maher, sambil menatap Dion serius.


Hahahahaha!


"Lu kalo bercanda jangan kelewatan deh, Her!" ucap Dion, menepuk pundak Maher.


"Gue serius."

__ADS_1


Dion terdiam, dia benar-benar nelum faham arti dari kata-kata Maher, apa malsudnya mengatakan seperti itu. Bagaimana mungkin itu bukan anal Aslan.


"Kalau bukan anaknya Aslan, lalu anaknya siapa? Elu?!" cetus Dion.


"Iya, Anak gue."


"Apa!" pekik Dion, lelaki itu langsung berdiri dan menghadap ke Maher. Matanya melotot menatap laki-laki di depannya.


Dia benar-benar tidak percaya dengan ucapan sepupunya itu.


"Lu jangan bercanda! Gue gak suka ya, Her!" Dion terlihat emosi.


"Gue serius, anak itu, anak gue. Keponakan lu."


Dion mengacak rambutnya sambil mondar mandir. Lalu dia kembali berdiri di hadapan Maher, dengan satu tangan meraih kerah baju lelaki itu. Gerakan Dion membuat Maher sampai berdiri dan kepalanya mendongak ke atas.


"Bilang sama gue, apa yang udah lu lakuin sama Namira?!" berang Dion sambil melayangkan pukulan ke wajah lelaki itu.


Maher tersungkur ke tanah, baju dan celananya menjadi kotor, penampilannya sudah awut-awutan. Maher langsung bangkit.


"Itu kesalahan yang gak sengaja gue lakuin, On!" pekik Maher, sembari meremas rambutnya.


"Sebelum Namira menikah dengan Aslan. Gue cuma pengen liat anak gue. Jujur, gue emang udah jatuh cinta sama peremouan itu," seloroh Maher.


"Lu, tau dari mana soal Namira dan Aslan," tanya Dion


"Lu, inget, waktu gue main ke rumah lu hari itu? Gue liat album foto nikahan lu, dan di situ gua liat foto Aslan dan Namira. Dan lu juga yang kasih tau gue, kalau Namira adalah istrinya Aslan." tutur Maher.


"Setelah hari itu, gue terus mencari tau semua tentang ke-duanya."


"Termasuk ke datangan lu ke sini, yang pengen ngajuin diri jadi donatur, he?!" sindir Dion.


"Iya, tapi masalah jadi donatur, itu gue sungguh-sungguh," sahut Maher.


Dion menggelengkan kepalanya, rasanya sudah sulit untuknya oercaya lagi.


"Terus, mau lu apa sekarang? Apa lu mau menghancurkan rumah tangga Aslan?!"


Maher diam, dia tidak ingin seperti itu, tapi tidak dapat dipunhkiri jika dirinya menginginkan Namira juga bayinya.


"Hee ... " Dion tersenyum smirk.


"Kalo lu berani macam-macam sama mereka, gue sendiri yang bakal ngancurin lu, Her! Sekali pun lu saudara gue, ngerti lu," sungut Dion.


Setelah itu Dion langsung meninggalkan Maher, tetapi baru beberapa langkah, Dion langsung menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang.


"Setelah ini, sebaiknya lu pergi, tinggalin tempat ini dan jangan coba-coba berani nekad masih ada di sini. Kalau gue masih liat lu ada di sini, gua sendiri yang bakal seret, lu," ucap Dion menatap sinis pada Maher. Lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju rumah ndalem.


Sepanjang jalan Dion merutuki Maher, dia juga merasa bersalah dan malu pada Aslan. Apa yang harus dia katakan nanti jika bertemu Aslan di dalam.


"Maafin gue, Lan. Karna ulah bejat saudar gue, hidup lu sama Namira jadi menderita," ucap Dion pada dirinya sendiri.


Sementara Maher langsung meninggalkan tempat tadi lewat kebun sayur yang pernah dia lewati bersama santri tempo hari.


Apa yang akan terjadi selanjutnya, akankah hubungan Aslan dan Namira retak karna Maher?

__ADS_1


__ADS_2