HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 28


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH (28)


Pagi ini Aslan memberitahu istrinya, jika tadi Pak RT memberitahu ada yang ingin menyewa rumah Ayah.


"Sayang, kata Pak RT, ada yang mau sewa rumah, gimana sayang?" tanya Aslan, sambil tangannya mengelus perut Namira yang semakin besar.


"Gak jadi disewakan Bang. Kemaren Ismi ada chat aku, katanya dia mau melanjutkan kuliah di Jakarta. Aku bilang, dari pada ngekos, mending tinggal di rumah Ayah aja."


"Iya sayang, lebih baik di tempati Ismi aja lebih aman."


"Ya udah, Abang chat Pak RT dulu yah! Mau kasih tau dia kalau rumah batal untuk disewakan." Aslan mengambil benda pipihnya dan mencari kontak atas nama Pak RT.


Sementara di jalan ada pria tampan yang melajukan motornya dengan kencang, siapa lagi kalau bukan Maher. Dirinya seperti berkejaran dengan waktu, padahal dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan wanita yang diinginkannya.


Tidak terasa Maher sampai depan gerbang pesantren yang terbuka. Setelah berhenti sebentar, dia langsung kembali melajukan motornya pelan ke area parkiran.


Setelah memerkirkan motornya, Maher menghampiri beberapa santri yang tengah bekerja bakti.


"Assalamualaikum, Dek!" salam Maher.


"Wa'alaikumsalam Pak, ada yang bisa saya bantu," tanya satu santri.


"Ustadz Fatihnya ada? Saya ingin bertemu." Maher menyampaikan maksudnya.


"Ustadz Fatih sedang tidak ada, beliau ada urusan di luar."


"Wah, gimana ini! Jauh-jauh saya datang, eh Ustadznya tidak ada," keluh Maher, pura-pura menunjukan wajah kecewa.


"Selain Ustadz Fatih, siapa lagi yang bertugas soal ikan yang di empang?" tanya Maher, dia tidak ingin kedatangannya sia-sia.


"Biarlah Ustadz Fatih gak ada, siapa saja tidak masalah. Yang penting hari ini aku bisa ketemu Namira, minimal melihatnya," gumam Maher.


"Sebentar Pak, saya panggilkan dulu orangnya," ucap santri itu, meminta izin pada Maher. "Silahkan," jawab Maher.


Selang belasan menit, datang santri senior menemui Maher.


"Bapak cari saya?" tanyanya setelah di hadapan Maher.


"Iya, saya mau menemui Ustadz Fatih, untuk masalah benih ikan yang saya bawa waktu itu, tapi beliau tidak ada."


"Kalau Bapak tidak keberatan bisa sama saya, kebetulan saya yang selalu menggantikan beliau, jika sedang ada urusan." jelas santri itu.

__ADS_1


"Apa Bapak ingin pergi ke empang?" Santri itu kembali bertanya.


"Iya, saya sekalian ingin liat ikan-ikan yang ada di sana, sekalian ingin belajar juga. Kamu mau 'kan bantu saya?" Giliran Maher yang bertanya.


"Mari Pak," ajak santri itu, sambil mengulurkan satu tangannya ke depan, mempersilahkan Maher berjalan lebih dulu.


"Mari," ajak Maher.


Ke duanya berjalan melewati pohon-pohon tinggi dan ladang sayuran. Dalam perjalanan Maher menanyakan beberapa hal.


"Apa Gus Aslannya ada?"


"Ada Pak."


"Oh iya, itu rumah siapa?" tunjuk Maher ke arah rumah ndalem bagian belakang yang letaknya tidak jauh dari kebun sayur.


"Itu rumah ndalem," jawab santri itu, yang ikut menunjuk.


"Rumah ndalem?!" Maher mengulang kata-kata santri tadi.


"Rumah ndalem itu, rumah yang di tempati oleh keluarga Kiayi." Santri itu memberitahu.


Maher manggut-manggut, lalu berkata, "Dek, boleh gak mampir ke kebun sayur itu, kok saya suka ya liatnya, seger-seger, jadi pengen metik," ucap Maher beralasan.


Maher mengikuti langkah santri tadi, dari jauh terlihat dua perempuan bercadar, sedang di pinggir kebun. Ke duanya sama-sama memakai cadar. Maher tidak dapat membedakan, apakah ke Duanya masih sama-sama muda atau susah tua. Karna hanya matanya saja yang terlihat, itu pun dari jarak pandang yang jauh.


"Dari jarak 5 meter santri tadi berhenti, dan membuat Maher bingung kenapa santri itu mendadak berhenti.


"Kenapa Dek, kok berhenti," tanya Maher penasaran.


"Itu ada Umi sama Ning," jawab santri itu, dengan mata menunjuk ke arah ke Dua wanita tadi.


"Lalu?" Maher semakin penasaran.


"Kita tidak boleh dekat-dekat Pak, karna diantara mereka tidak ada Mahromnya." Santri itu menjelaskan alasannya.


"Assalamualaiku!" ucap santri itu sedikit kencang.


Suara santri tadi membuat ke Dua wanita yang asik memetik sayur langsung menoleh ke arah santri tadi. Ke Duanya saling tatap, bertanya satu sama lain dalam diam. Bukan sebab tidak mengenali santri tadi, tetapi mereka merasa asing dengan laki-laki yang ada di sebelahnya.


"Siapa yang di dekat santri itu Umi?" tanya Namira, yang langsung menghentikan tangannya memetik sayur.

__ADS_1


"Umi juga gak tau sayang. Umi baru liat."


"Wa'alaikumsalam!" jawab Farah.


"Bapak tunggu sebentar di sini." Santri itu meminta Maher, yang di jawab anggukan olehnya.


Santri itu sedikit berjalan, mengikis jarak satu meter.


"Mohon maaf Umi, Ning, mengganggu. Itu ... ada tamu Uatdaz Fatih, ingin bertemu Ustadz, tapi Ustadnya tidak ada. Beliau ingin melihat empang." Santri itu memberitahu, badannya berbalik sedikit untuk menunjukan Maher pada ke Dua wanita itu.


"Sini." panggil Farah, sembari melambaikan tangan agar santri itu mendekat.


Santri itu pun berjalan mendekati Farah dan Namira. setelah berjarak satu meter, santri itu menjelaskan tentang keberadaan laki-laki yang bersamanya.


"Namanya Pak Maher, Umi. Tadi Pak Maher mengajak berhenti sebentar untuk melihat kebun sayur. Maaf saya tidak tau jika ada Umi juga Ning," ucap santri itu sambil menundukan kepalanya.


"Oh, ya sudah. Umi juga sedah selesai. Silahkan kamu ajak tamu Ustadz Fatih untuk melihat-lihat. Umi ke dalam, ya." Farah memberi izin, lalu berjalan bersama Namira meninggalkan kebun.


Santri itu kembali ke tempat Maher, dan memberitahunya jika sudah ada izin dari Umi Farah untuk mengajaknya melihat-lihat kebun.


"Dek, perempuan yang berbicara sama kamu tadi siapa?" tanya Maher, sebetulnya Maher penasaran dengan perempuan yang satunya lagi.


"Tadi Umi Farah, istrinya Pak Kiayi. Yang di sebelahnya itu adalah Ning Namira, beliau istri dari Gus Aslan.


Degg ...


"Na-Namira kah?" ucap Maher dalam hati.


"Benarkah! Itu Namira? Perempuan yang aku cari?" Maher kembali bermonolog.


"Pak, ayo!"


Ke Duanya berjalan berkeliling, Maher sudah tidak lagi fokus melihat sekeliling. Justru pandangannya selalu melihat ke arah rumah ndalem.


"Dek ... sepertinya istri Gus Aslan sedang hamil?" tanya Maher yang melihat sedikit tonjolan di bagian perut Namira yang tertutup gamis longgar dan tertutup kerudung sampai melewati dada.


"Iya Pak, Ning Namira sedang hamil. Sebentar lagi acara tujuh bulanannya," jawab santri itu polos.


Terbit senyum di bibir ranum Maher, dirinya sangat senang dan bahagian. Hari ini dapat melihat wanita yang sudah menghuni hatinya. lebih-lebih, dia dapat melihat perut menonjol wanita itu yang menandakan adanya kehamilan, di mana ada calon buah hatinya.


"Ya Allah, terima kasih, hari ini saya di izinkan dapat melihatnya dan calon buah hati saya," ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Dek, sepertinya saya tidak jadi ke empang, saya lupa kalau saya ada urusan." Maher beralasan.


Lalu ke Duanya meninggalkan kebun sayur dan kembali ke depan Pesantren, di mana Maher memarkirkan motornya. Setelahnya Maher pamit pulang dengan membawa hati yang berbunga-bunga. Laki-laki itu juga berencana ingin menghadiri acara tujuh bulanan Namira nanti. Rupanya dirinya tidak sabar menanti kelahiran anak yang ada dalam kandungan Namira. Tidak hanya bayi itu yang dia inginkan, tetapi Maher juga ingin menjadikan Namira miliknya.


__ADS_2