Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Bab 23


__ADS_3

BUG!!! "Astaghfirrullah." Azam terpental kesamping Jalan Raya dengan posisi terduduk, tangan kanannya menekuk menangkis jalan raya, ponselnya masih terpegang erat digenggaman tangan kanannya. Ia terpental benar-benar di pinggir jalan raya di depan gedung perkantoran yang ada di daerah terdebut. Lumayan jauh sekitar sepuluh meteran lebih dari jarak saat di lampu merah tadi.


Disaat yang bersamaan matanya menatap kearah driver Ojol. Ia juga mencari mobil yang telah menabrak mereka berdua.


"Pak.." Sahutnya memanggil Driver dengan nada suara sangat pelan.


Sang driver yang terseret dan tergeletak ditrotoar pun menengokkan wajahnya sejenak kepadanya lalu tergeletak pingsan.


"Dek, kamu tidak apa-apa?" Ucap salah satu pengendara motor yang berhenti sambil memberikan minum kepada Azam.


"Tidak apa-apa Pak. Tolongin Driver saya Pak?" Ucap Azam meminta tolong kepada orang tersebut sambil menunjuk kearah Driver Ojol.


Tak berapa lama Ia berucap, mobil ambulan pun datang. Mobil Ambulan memasukkan sang Driver, lalu membawanya ke salah satu Rumah Sakit terdekat.


Selepas daripada itu, ada seorang Pria Dewasa berbadan kekar, menggunakan Jaket kulit keluar dari mobilnya. Yang tidak lain, Pria tersebut orang yang telah menabrak mereka berdua.


"Kamu tidak apa-apa dek? Maafin saya dek?" Ucap Pria tersebut.


Sejenak Azam tidak menjawabnya, terlihat acuh. Ia berdiri lalu mengibas-ngibas celananya yang robek.


"Tidak usah memikirkan saya Pak. Yang harus Bapak fikirkan adalah driver ojol yang saya naiki!" Ucap Azam dengan nada suara pelan tegas sambil mengibas celananya.


"Mari dek, kita menyusul kesana?" Ucap Pria tersebut mengajaknya masuk kedalam mobilnya.


Lantas Azam pun menuruti permintaannya. Tak berapa lama di perjalanan Azam bersama pria itu sampai di Rumah Sakit. Dengan sigapnya Azam segera membuka pintu mobil lalu berlari ke Ruangan IGD.


Sesampainya di ruangan IGD, sejenak Ia mencari keberadaan sang Driver. Ia pun melihat sang Driver yang terkujur di Matras rumah sakit. Azam segera berjalan lalu berdiri di sebelah sang Driver yang sedang tiduran tersebut. Seketika tubuhnya terasa lemas, air matanya pun menetes dengan sendirinya, saat Ia melihat kondisi sang Driver.


Sang Driver terbangun lalu berkata kepada Azam.


"Pak, Maafin saya? Tolong jangan laporin saya ke Kantor?" Pinta Sang Driver kepada Azam.


"Ya Allah Pak, Mana mungkin saya melaporkan Bapak? Itu hanya kecelakaan. Sudah pak gak usah memikirkan hal itu. Ini hanya kecelakaan." Ucapnya dengan nada pelan.


"Makasih Pak?" Ucap Driver.


"Iya Pak." Ucap Azam.


Azam berjalan meninggalkan sang Driver lalu duduk dikursi tunggu depan resepsionis dengan kondisi tubuhnya yang masih terasa lemas. Sementara pelaku yang menabrak mereka berdua, entah kemana.


Tak berapa lama Azam duduk, para rombongan Ojol pun berdatangan, mereka langsung masuk ke IGD melihat kondisi Driver Ojol. Salah satu driver Ojol menghampiri Azam yang sedang duduk di kursi tunggu di depan resepsions.


"Mas, tolong jangan laporkan kejadian ini kekantor saya?"

__ADS_1


"Iya Pak saya tidak akan melaporkan. Si Bapak juga sempat menitipkan pesan kepada saya." Ucap Azam.


"Makasih Pak?"


"Sama-sama."


Sang Driver kembali menemui Driver Ojol.


Azam duduk kembali dan melamun.


"Kamu tidak apa-apa?" Pria itu berkata sambil mendararkan bokongnya di sebelahnya Azam.


Azam terdiam dan tidak menjawabnya. Pria itu meninggalkannya kembali. Azam melamun dengan tatapan yang kosong, seketika dalam fikirannya blank begitu saja. Tak berapa lama melamun, Azam pun mulai tersadar. Azam langsung membuka tas kerja lalu mengambil ponselnya.


"Blay, tolong jemput gw?" Whatsapp Azam.


"Kenapa lo?" Whatsapp Hendrik.


"Habis kecelakaan gw. Sekarang ini gw masih di rumah sakit A." Whatsapp Azam.


"Ya udah gw langsung kesana." Whatsapp Hendrik.


Hendrik yang sudah tertidur pun segera menaiki motornya. Sekitar 45 menitan mengendarai motornya yang lumayan ngebut, Hendrik telah sampai di Rumah Sakit tersebut. Sejenak Hendrik menaruh motornya lalu berlari menuju ke Resepsionis.


"Blaaay.." Teriak Hendrik sambil berlari kearah Azam.


"Gak apa-apa blay. Hanya saja gw gak tega melihat kondisi Driver Ojol gw." Azam menjawabnya sambil duduk dengan tatapannya yang mengarah ke jendela rumah sakit.


"Terus yang nabrak lo kemana sekarang?" Hendrik terlihat emosi sambil melihat kesana-kemari.


"Gak tahu blay, udahlah gak usah difikirin. Yang penting gw gak kenapa-kenapa."


"Tapi tetep aja gak bisa kayak gitu blay. Meskipun lo tidak kenapa-napa? minimal lo harus diperiksa kondisi fisik lo!" Jawab Hendrik dengan nada ngegasnya.


"Yang nabrak lo juga harus bertanggung jawab! Liat tuh baju lo pada robek kayak gitu? Sepatu lo juga robek?" Sambung Hendrik.


Azam mendirikan badannya lalu menatap Hendrik "Udah-udah. Masalah sepatu sama baju gw masih bisa beli lagi. Mendingan sekarang anterin gw pulang aja blay. Gak kuat gw kalo berlama-lama disini."


"Enggak-enggak? Gw harus ketemu sama pelaku yang menabrak lo! Dia harus tanggung jawab!" Hendrik bersihkukuh agar pelaku bertanggung jawab.


Pelaku pun datang dan menemui mereka berdua yang sedang mengobrol.


"Keluarganya Adek ini ya?" Tanya si Penabrak.

__ADS_1


"Betul. Saya saudaranya!" Ucap Hendrik dengan nada ngegas sambil mengangkat bahunya.


"Jablay!" Azam pun menegurnya.


"Anterin gw pulang cepetan!" Sambung Azam.


"Enggak blay? Lo harus periksa kondisi fisik lo dulu!" Hendrik ngotot.


"Iya Dek, kamu daftar dulu saja. Terus periksa kondisi fisik kamu. Nanti saya yang bayar." Ucap si Penabrak.


"Tidak usah Pak! Saya punya uang sendiri!" Ucap Azam ketus.


Bukannya Azam ingin menolaknya. Akan tetapi caranya Pria itu berbicara, seolah menganggap enteng keselamatan nyawa orang yang bisa dibayar dengan uang. Selain itu juga, kenapa tidak dari tadi jika Pria itu ingin membayarinya. Sehingga Azam pun menolaknya.


Tanpa kata, Hendrik langsung mendaftarkan namanya Azam ke Resepsionis.


"Silahkan Pak, ke Dokter sekarang." Ucap Resepsionis menyuruh Azam untuk menemui Dokter.


Azam segera menemui Dokter yang sedang berada di Ruangan IGD di iringi Hendrik.


"Pak, tolong periksa badan saya? Saya hanya butuh dironsen saja? Karena saya tadi terpental lumayan jauh dan terduduk saat tertabrak." Ucap Azam kepada Dokter.


"Hahaha, Apa yang harus diperiksa? Orang kamu juga terlihat sehat kayak gitu? Hahaha" Dokter menjawab sambil menertawakannya, Asisten Dokter pun turut menertawakannya.


BRAGGG!!! "Heh! Gw mau periksa dan gw bayar sendiri! Apa susahnya lo tinggal meriksa? Lo sebagai Dok tapi cara lo menanggapi pasien seperti orang yang tidak pernah makan bangku sekolahan!",


"Lo juga? Ngapain lo ikut tertawa!" Azam berkata sangat ngegas bercampur emosinya yang lumayan meledak karena mendapati tanggapan yang kurang baik dari Dok maupun As-Dok tersebut.


Seketika Dokter langsung berjalan pergi meninggalkannya ke ruangan belakang, mungkin merasa malu karena telah digebrak olehnya didepan para pasien.


Asisten Dokter pun langsung terdiam dan menundukkan kepalanya ke bawah.


BRAGGG!!! "Jangan mentang-mentang pada makan gaji buta ya? Dengan seenaknya kalian memperlakukan pasien seperti ini!" Ucapnya kembali sambil menggebrak meja kembali di depan AsDok.


"Maaf Pak, maaf? Kami akan memeriksa Bapak. Sekali lagi kami minta maaf Pak." Asisten Dokter menjawabnya sambil menundukkan kepalanya kebawah.


Setelah itu Azam pun di periksa. Setelah di Periksa Ia pun kembali ke ruangan IDG menghampiri Hendrik.


"Ayo blay kita pulang! Bisa naik darah gw, kalo lama-lama disini!" Ucap Azam dengan nada ngegas penuh emosional.


Hendrik pun menurutinya. Sejenak Azam menemui kembali Bapak Driver Ojol.


"Maaf ya Pak, Bu, Bang, saya pulang duluan?" Ucap Azam kepada Driver, Istri dan teman Ojol.

__ADS_1


"Iya Pak, hati-hati Pak." Ucap Istri dan Ojol tersebut.


Azam bersama Hendrik pun segera berjalan keluar dari Rumah Sakit lalu langsung pulang ke kosan Omah.


__ADS_2