
“Terus Ken, terus?” Ucap Azam sambil menjejali mulutnya Niken menggunakan bakwan yang Ia ambil dari meja tukang soto.
“Dari tadi ngoceh-ngoceh mulu gak jelas!” Sambung ucapan Azam.
“Puiih,puih..” Niken melepehkan bakwan.
“Blay, blay?” Nabila menegur Azam.
“Biarin aja kak, biar Niken tau rasa! Marah-marah deh tuh ke gw?” Ucap Azam.
“Yah kan cong, baju gw jadi kotor?” Ucap Niken sambil mengibas-ngibas bajunya yang terkena bakwan yang dia lepehkan dari mulutnya.
“Bodo amat! Makanya diem!” Ucap Azam sambil memelototkan kedua matanya kepada Niken.
Misha melanjutkan kembali membenarkan bulu matanya. Ayu pun juga sama masih sedang membenarkan bulu matanya.
Azam kembali melanjutkan perbincangannya.
“Iya beneran Diir, itu bukan gosiip.” Ucap Azam.
“Ya udah makan dulu cong?” Ucap Bang Dadir sambil menaruh soto-sotonya ke meja.
...*Jeda makan Soto hingga selesai*...
“Srupuuut Ckaachh..” Azam menyeruput es teh manis.
“Dek, tolong geser sedikit?” Pinta Misha kepada Azam.
Misha berkata kepada Azam sambil mencium cincin cantik berwarna merah seperti merah delima yang dipakai dijari manis tangannya yang sebelah kiri, kepalanya menunduk kearah bawah, tangan kanannya menyangga keningnya yang sedang menunduk, rambutnya terurai menutupi tangannya yang sedang menutupi keningnya tersebut.
“Baik kak.” Azam mendirikan badannya dari kursi lalu beralih posisi duduk ke kursi yang berada di depan. Azam dan Misha duduk saling berhadapan.
Misha masih mencium cincin dengan posisi yang sama. Seketika Azam pun merasa khawatir jika Misha terus-terusan seperti itu.
“Gak apa-apa lu kak?” Tanya Azam kepada Misha.
Misha menarik nafas dalam, Misha mengibaskan rambutnya kebelakang dengan tangan kanannya tersebut. Misha menatap Azam lalu baru berkata.
"Tidak apa-apa dek.”,
__ADS_1
“Tapi beneran? Lo gak pernah memasang apapun ditubuh lo Dek?” Misha bertanya kepada Azam dengan nada suara pelan.
“Maksudnya Kak?” Azam berbalik tanya.
“Jujur aja Dek, Kakak punya,” “Kakak punya susuk," "Cincin dan kalung kakak ini juga peninggalan dari kakek.” Misha berkata sambil menunjukkan cincin merah dan juga sambil memegang liontin kalungnya.
“Gw minta lo untuk sedikit menjauh dari kakak, karena dari tadi, yang ada bersama lo itu benturan dengan milik kakak.” Sambung Misha.
Azam terdiam sejenak, lalu berkata.
“Jujur kak. Gw gak merasa memiliki yang seperti itu. Gw juga gak pernah memasang yang begituan. Memang sih pernah beberapa kali ada yang pernah bilang sesuatu ke gw, tapi gw gak terlalu nanggepin kak. Emangnya yang lo liat yang selalu bersama gw ini sosoknya seperti apa kak? Dan kira-kira baik atau tidak?” Tanya Azam kepada Misha.
Azam merasa penasaran, karena Misha ini orang yang kesekian kalinya berkata bahwa Azam ini ada sosok yang selalu mengikuti.
“Kakak melihat ada dua sosok yang selalu mendampingi kamu.” Misha berkata sambil menatap tajam ke sekeliling Azam.
“Yang Kakak lihat, di sebelah kanan kamu ini seorang Bapak-bapak, lumayan sepuh, Wajahnya tampan dan bersinar, menggunakan baju berwarna putih dan menggunakan sorban polos putih yang dililitkan di kepalanya." Misha berkata sambil melihat kearah kanan Azam.
"Sedangkan yang disebelah kiri kamu ini, seorang Bapak-bapak, agak sedikit kurus, tinggi, menggunakan pakaian adat kejawen.”, Misha berkata sambil menatap kesamping kirinya Azam.
“Kamu juga memiliki sifat penyembuh Dek." Sambung Misha.
“Maksudnya kak?” Tanya Azam.
“Tapi beneran kak, Gw merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa.” Jawab Azam.
“Iya Dek, tapi itu yang gw lihat. Sesuatu yang seperti itu bisa saja terjadi tanpa lo memintanya. Biasanya, dulunya keluarga, leluhur atau kakek lo pernah memilikinya. Sehingga, bisa saja yang mengiringi kamu ini mengikuti kamu dengan sendirinya.”
“Kakak mau tanya deh ke lo? Apakah lo pernah merasa seperti ada yang ngikutin kalo jalan dimalam hari? Tanya Misha.
"Apakah Lo pernah bermimpi bertemu dengan seseorang yang tidak pernah lo kenali sama sekali didalam mimpi tersebut?” Tanya Misha.
“Ya, kalo yang berjubah putih sih, Gw pernah bertemu didalam mimpi kak, tapi hanya sekali. Dan kalo yang mengikuti? Setiap gw berjalan sendiri dimalam hari ya selalu seperti ada yang mengikuti gw berjalan.” Ucap Azam.
“Nah, kalo kamu mau tau? Itulah mereka Dek.” Jawab Misha.
“Lalu kenapa bisa jadi benturan sama punya lo kak?” Tanya Azam.
“Entahlah Dek, yang begituan meskipun auranya sama-sama positif, terkadang terjadi benturan energi. Entah karena perbedaan daerah atau tingkatan ilmunya.” Jawab Misha.
__ADS_1
“Gw taau. Lo memegang cincin dan menunduk tadi? Pasti karena lo sedang berkomunikasi dengan milik lo?" "Karena punya lo sedikit gerah? Makanya lo menyuruh gw untuk agak menjauh.” Ucap Azam.
“Itu lo tau Dek?” Ucap Misha.
“Nebak doank gw kak.” Ucap Azam.
“Iya, makanya meskipun lo tidak merasa memiliki apa-apa? Tetapi banyak customer yang langsung nempel ke lo Dek. Dan pas saat lo kecelakaan pun, selain Tuhan yang masih sayang ke lo? Mereka juga spontan ngejaga lo Dek.” Ucap Misha.
“Tuh kan bener!” Celetuk Niken.
“Ken!” Azam menegur Niken sambil memelototkan mantanya. Niken pun langsung terdiam.
“Hanya saja..” Ucap Misha yang tidak meneruskan perkataannya.
“Hanya saja kenapa kak?” Azam merasa penasaran.
“Banyak perempuan yang menyukai tubuh lo Dek.” Ucap Misha.
“Maksudnya kak?” Tanya Azam.
“Iya, banyak perempuan yang suka sama lo.” Jawab Misha.
“Maksud gw perempuan asli atau perempuan sebangsa itu kak?” Tanya Azam.
“Perempuan sebangsa itu Dek.” Jawab Misha.
Azam pun terdiam dan bergumam “Pantesan saja akhir-akhir ini gw sering dilihatin, dimimpiin sama sosok Nyai. Serem amat hidup gw!”
“Udah ah, lo gak usah baca-baca aura gw lagi? Buang-buang energi aja lo kak?” Ucap Azam.
“Justru ini yang pengen gw obrolin dari tadi sama lo Dek? Gw didalem merasa penasaran yang ada didiri lo ini, emang bawaan atau memang dapet dari seseorang?” Ucap Misha.
“Pasti lo kepengen ya Kak, dengan sesuatu yang ada diri gw ini?" Ucap Azam.
"Jangan terlalu memakai yang begituan kak? Gak baik. Cukup yang lo punya sekarang ini aja kak? Aura lo juga terlihat cantik koq kak, tidak terlihat kusam.” Sambung ucapan Azam.
"Ya pengen lah. Tapi kalo bawaan, mana bisa dilemparin ke tubuh Gw Dek?" Ucap Misha.
"Ah udah ah kak. Gw gak ngerti sama yang begituan. Mendingan kita masuk yuk?" Azam mengajak untuk masuk kedalam Mall kembali.
__ADS_1
Selepas daripada itu, mereka berempat kembali lagi masuk ke dalam kerjaannya.