Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Part 56


__ADS_3

Di malam hari. Dihari ke empat setelah Rudi di rasuki oleh Jin di dalam tubuhnya, Nina mendadak sakit menggigil berlebihan. Ia tidak berani untuk meminta tolong kepadaku karena Nina tengah bersikap acuh kepadaku. Aku juga tidak mengetahuinya kalau Nina di hari itu sakit, karena di siang harinya aku habis pergi ke tempat teman.


Sekitar jam setengah tujuh malam, aku sudah tiduran di dalam kosan. Dan sekitar jam delapan malam, Memey baru pulang dari kerjaannya.


"Tap, tap, tap." Memey menaiki tangga dan langsung menuju ke kamar Nina.


"Kaaaak!" Memey memanggilku sambil duduk menjongkok melihat kondisi tubuh Nina yang sedang meringkuk sambil memegang perutnya di atas kasur.


Aku langsung keluar dari dalam kamarku dan langsung menemuinya. Aku berdiri lalu duduk melihat kondisi Nina.


Nina meringkukkan badannya sambil memegang perut, terlihat sangat pucat, bergetar, menggigil dan terlihat seperti merasa sangat kesakitan.


Seketika aku meneteskan airmataku dan mendadak panik melihat keadaan Nina tersebut, aku langsung berdiri kembali lalu berjalan cepat kearah tangga.


"Kak!" Memey memanggilku.


Aku berhenti di tangga.


"Gw ikut." Ucap Memey sambil berjalan ke tangga.


"Ya udah cepetan!" Ucapku.


Aku berjalan cepat kembali dengan sedikit berlarian sambil meneteskan air mata, aku merasa sangat panik kepada Nina. Memey terus mengikutiku berjalan cepat maupun berlari.

__ADS_1


"Kak!" Ucap Memey dengan ngegas ketika aku berada di pertigaan jalan gang kosan Omah.


"Apa lagi si Mey!" Ucapku ngegas sambil memberhentikan jalanku dan menatap ke arahnya yang berada di belakangku.


Kita berdua berhenti di pertigaan gang kosan Omah. Wajah Memey terlihat sangat kesal dengan matanya yang sangat merah sambil meneteskan air mata.


"Kenapa si Lo masih peduli sama Nina!" Ucap Memey dengan kesal.


"Bukan saatnya untuk di bahas Mey." Ucapku sambil berjalan kembali.


Memey berjalan tetap terdiam sambil meneteskan air matanya.


"Dia itu klenik kak! Lo itu berada di pengaruhnya dia! Dia itu suka ngomongin lo! Sedikit pun dia tidak pernah menghargai lo! Sedikitpun dia tidak pernah menganggap lo baik!" Ucap Memey dengan rasa kesal sambil mengeluarkan air mata dan juga sambil sesekali menyibakkan rambutnya ke belakang dengan tangan kanannya.


"Maksudnya Mey?" Ucapku sambil meneteskan air mata antara kasihan melihat kondisi Nina dan juga melihat ekspresi Memey dengan kodisi tubuhku yang seketika melemas dengan sendirinya.


"Iya, dia itu Klenik Kak! Dan dia tidak pernah menghargai kebaikan lo! Setiap hari dia hanya menjelek-jelekan lo! Sedikit pun, lo tidak pernah di anggap baik di matanya!" Ucap Memey dengan nada suara yang sangat kesal dan juga sambil meneteskan air matanya.


"Lo itu berada di bawah pengaruhnya dia Kak!" Ucap Memey sangat ngegas.


"Deg, serrr!!!" Seketika aku merasakan seperti ada ular kecil yang menggelosor kebawah dibagian dalam belakang pundakku.


Seketika itu juga aku langsung terdiam sambil terus meneteskan air mata, aku seperti baru tersadar dan seperti baru melek. Namun aku tetap dengan pendirianku.

__ADS_1


"Bukan saatnya untuk membicarakan itu Mey." Ucapku dengan nada suara yang sangat pelan.


Aku berjalan kembali. Memey sempat terdiam, namun pada akhirnya Ia turut mengikutiku berjalan kembali. Aku dan Memey membelikan Nina obat, lalu setelahnya kita berdua memberikan obat kepada Nina. Entah kenapa, meskipun Nina sudah bersikap acuh dan sama sekali tidak menghargaiku, aku merasa sangat tidak tega ketika dia sedang terkapar sakit pada waktu itu.


Memey menangis antara kesal karena setiap laporan yang diberikannya kepadaku, namun aku menanggapi laporannya tersebut biasa saja dan tidak terlihat terpengaruh sama sekali. Memey juga menangis, karena merasa kasihan kepadaku yang melihatku merasa panik disaat Nina sedang terkapar sakit tersebut.


Sedangkan Memey, yang setiap hari bertemu dengan Nina didalam kerjaannya. Setiap hari juga Memey melihat dan mendengar kalau Nina dan Hendrik selalu menjelek-jelekanku di belakang secara berlebihan. Bahkan Memey pun sempat debat dengan mereka berdua di kerjaan, karena sudah tidak tahan lagi melihat tingkah mereka berdua tersebut di kerjaan.


Akan tetapi, ketika Memey berkata sambil menangis dan aku berada di pengaruhnya Nina. Seketika itu juga aku mengingat akan pertama kalinya aku hendak menampung Nina, yaitu disaat aku belum bertemu sama sekali dengan Nina.


Yang mana, perasaanku mendadak merasa sangat Iba kepada orang yang belum sama sekali aku temui dan belum aku kenali, dan hal itu benar-benar nyata. Aku pun mengingat kalau Nina pernah bilang, memiliki Welas Asih. Sehingga aku tersadar bahwa keluguan dan kepolosannya tersebut adalah sebuah tipu muslihat untuk mengelabui targetnya.


Hal ini juga aku perdalam dari sifat aslinya Nina kepada Via tersebut. Sehingga, mungkin memang benar perkataannya Memey. Namun bukan berarti aku merasa tega terhadap Nina. Aku tetap membelikannya obat dan juga memberikannya kepada Nina.


Esok harinya Memey menghilang. Selama dua atau tiga harian dia tidak pulang ke kosan. Aku sendiri, menginap di tempat temanku. Karena kalau aku berada di kosan Omah, aku merasa tidak nyaman dan juga tidak pernah bisa tertidur kalau sebelum jam 6 pagi. Setiap mataku ingin terpejam, sosok yang bersama dengan rudi selalu menghampiriku.


Aku merasa bersalah, karena setiap Memey membuat laporan kepadaku, aku menanggapinya biasa saja dan nenar-bena tidak terlihat terpengaruh oleh perkataannya Memey. Sehingga wajar saja kalo Memey merasa kesal. Di malam itu, puncaknya Memey meluapkan rasa kesalnya bercampur dengan rasa kasihannya kepadaku.


Yah, selama tiga hari tersebut aku menyesali telah melukai hatinya Memey. Selama tiga hari itu juga, aku memikirkan cara untuk mencari kebenaran yang Memey katakan kepadaku.


Sangat tega sekali rasanya jikalau aku langsung menanggapi laporannya Memey di malam itu juga untuk melabrak langsung ke Nina, dengan kondisi Nina yang sedang terkapar kesakitan. Karena walau bagaimana pun, aku tetap merasa kasihan kepada orang yang sedang terkapar sakit yang lumayan hebat terlihat di depan mataku pada malam itu.


Selama tiga hari tersebut, aku merenung dan berfikir untuk mencari kebenarannya secara langsung. Aku berfikir untuk mencari kebenaran tersebut dari mulut dan hatinya Nina sendiri. Karena fikirku, sejahat-jahatnya manusia hatinya tetaplah manusia, bukanlah sekeras batu. Aku yakin dengan cara seperti itu, Nina akan jujur. Aku menunggunya setelah Nina benar-benar sembuh dari sakitnya.

__ADS_1


Selama tiga hari itu juga aku merenung dan menangis di kamar temanku. Aku seperti berada di posisi yang serba bersalah. Yang mana, jika aku menanggapi laporan Memey secara langsung di malam itu juga, namun hati kecilku merasa tidak tega kalau aku mengorek secara langsung dengan kondisi Nina yang sedang terkapar.


__ADS_2