
Di Sore hari.
"Blay lo bawa apaan aja?" Ucap Hendrik sambil berdiri didepan pintu kamar Azam.
"Gw gak terlalu banyak bawa baju blay." Azam berkata sambil memasukkan beberapa helai kaos, celana, dan liontin koin kedalam koper.
"Awas loh? Kalo kehabisan baju?" Ucap Hendrik.
"Pusing amat blay? Disana juga kan ada tukang baju?" Ucap Azam.
"Udah di Calling belum tuh kakak senior Lo?" Ucap Azam kembali.
"Udah, katanya sih mereka berdua lagi on the way kesini." Ucap Hendrik.
"Ya udah cepetan prepare!" Ucap Azam.
Hendrik segera berjalan masuk ke dalam kamarnya. Hendrik mengganti bajunya, dan ternyata dia sudah menyiapkan persiapannya dari semalam tadi.
Sekitar Jam 17.17 kakak seniornya Hendrik yang bernama Arfan bersama dengan sepupunya yang bernama Irfan telah datang. Mereka berdua menunggu Azam bersama Hendrik di depan jalan gang kosan Omah, mereka menunggu bersama dengan Go-Car yang dinaikinya.
Lantas Azam bersama Hendrik segera berjalan cepat menemui mereka berdua. Setelah mereka berempat bertemu, mereka berempat langsung meluncur ke Bandara Soekarno Hatta.
*Ditol Menuju Bandara
Di Bandara Soekarno
Pesawat yang mereka naiki mengalami Delay lumayan lah lama. Pesawat yang seharusnya berangkat jam delapan malam lebih, mereka berempat baru cepat landas dari Bandara Soekarno Hatta- Ngurah Rai Bali, sekitar jam sebelas malam lebih.
*Perjalanan di Udara
Bandara Ngurah Rai Bali
Sekitar jam setengah satu malam lebih (WIB), mereka berempat baru sampai di Bandara Ngurah Rai Bali. Mereka berempat segera berjalan keluar dari Bandara.
"Owkkk, owkkk, craaaat.." Hendrik muntah dan mengeluarkan seisi perutnya di tong sampah.
"Aduduuuh blaay pusing." Azam sempoyongan sambil memegang kepala dengan astu tangannya.
Sementara Arfan dan Irfan menutup hidungnya masing-masing.
Mereka berempat baru pertama kali menghirup aroma dupa dan kembang tujuh rupa, dan aroma tersebut selalu mengiringi mereka berempat setiap hari selama berada di Bali (Aroma Khas Bali).
Setelah keluar dari Bandara, mereka berjalan ke area Parkiran. Para driver taxi pun langsung menghampiri mereka berempat.
"Mau kemana Abang-abang ganteng?" Ucap para driver menawarkan jasanya kepada mereka.
"Berapa Blih Argo ke Jl Poppies 2?" Azam terlihat gerogi saat berkata blih karena belum terbiasa.
"Murah koq bang. Untuk abang-abang yang ganteng ini, hanya sekian ratus ribu saja, plus dengan berbagai macam drama yang abang itu buat" Ucap Abang Driver.
Mereka berempat segera ambil posisi berdiskusi ala emak-emak arisan. Setelah ditimbang-timbang dengan jarak tempuh yang ada di Google Maps, harganya kurang wajar.
__ADS_1
"Maaf Abang sayang, mungkin kita belum jodoh." Ucap mereka berempat ke para Driver.
"Coba Lo download Aplikasi Grab?" Ucap Arfan kepada Azam.
"Baik Kak." Azam langsung mendownloadnya.
Setelah didownload dan dibandingkan, harganya sangat jauh, bahkan bedanya berkalilipat. Mereka berempat segera mengorder grab lalu langsung meluncur menuju ke Hotel Melati yang sudah mereka Booking.
Perjalanan dari Bandara menuju Jl.Poppies sangatlah lancar, tidak sesuai dengan drama yang dibuat oleh para driver taxy sewaktu di Bandara.
Di Hotel Melati Pantai Kuta
"Selamat malam Abang? Ada yang bisa saya bantu?" Ucap Resepsionis tampan.
"Selamat malam kembali Abang tampan." Ucap Arfan.
"Kita berempat mau chceck-in kamar yang telah kita Booking." Ucap Arfan Kembali.
"Boleh di Lihat bukti Bookingnya?" Ucap Resepsionis.
Azam langsung memberikan ponselnya kepada Arfan.
"Ini Bang?" Arfan menunjukkan bukti booking kepada Resepsionis.
"Mau sekalian ambil sewa Motor Abang ganteng?" Ucap Resepsionis.
"Boleh." Ucap Hendrik.
"Emangnya harganya berapa Abang ganteng?" Ucap Hendrik.
"Rp.70 Ribu/24 Jam, kondisi bensin full dan setelah selesai sewa, bensin harus full kembali." Ucap Resepsionis.
"Baik Bang, Kita ambil dua Motor dan untuk 4 malam." Ucap Hendrik.
"Baik, silahkan tinggalkan satu KTP sebagai jaminan menyewa motor?" Ucap Resepsionis.
"Ini Bang." Hendrik memberikan KTP-nya.
Selepas daripada itu, mereka segera memasukkan barang-barang kedalam Kamar Hotel. Mereka berempat ini mengambil dua kamar.
Azam sekamar dengan Hendrik. Sementara Arfan bersama dengan Irfan. Mereka mengambil kamar yang bersebelahan.
Setelah menaruh barang-barang, mereka berempat keluar kembali lalu mengobrol didepan Resepsionis.
"Kak, perutku laper? Ucap Hendrik kepada Arfan.
"Mau makan apa?" Tanya Irfan sambil berdiri memainkan ponsel dengan jari lentiknya.
"Mau makan bebong?" Ucap Arfan yang memang terkadang suka makan bebong.
"Makanan yang sewajarnya aja lah kak. Kita gak biasa makan itu?" Ucap Azam.
__ADS_1
Irfan segera mencari makanan Halal melalui Google Maps dari ponselnya.
"Ada nih MCD, gak jauh dari sini. Sekitar lima belas menitan dari sini, kalo berjalan kaki." Ucap Irfan.
Lantas mereka berempat pun segera berjalan kaki menuju ke MCD yang berada di Pinggir Jl.Raya, disisi Pantai Kuta.
Jalanan dari Hotel Melati menuju Jalan Raya sangatlah sepi, sunyi, dan juga lumayan seram. Selain sepi dan sunyi, mereka juga harus melewati beberapa kebun kosong dan juga pertigaan/tikungan jalan.
Mereka berempat jalan, sambil sesekali menengok kekiri dan kekanan.
"Kak itu apaan?" Ucap Hendrik kepada Arfan sambil memegang erat pundaknya Arfan.
Mereka berempat melihat sosok Besar dan Tinggi, Matanya Melotot besar, Taringnya Panjang, kukunya panjang, selain itu memang bau dupa dan juga kembang tujuh rupa."
"Itu Patung Khas Bali, dan bau dupa sama kembang tujuh rupa itu memang sesajennya." Ucap Arfan setelah mereka berempat mendekati patung tersebut ditikungan jalan.
Ternyata memang disetiap pertigaan maupun tikungan jalanan di Bali, mereka akan berjumpa Patung Khas Bali berikut dengan sesajennya.
Di MCD PANTAI KUTA
Arfan bersama Irfan langsung memesan makanan mereka berempat. Sementara Azam bersama Hendrik duduk di Meja Makan menunggu mereka berdua.
"Blay, gw demen deh sama Bule itu?" Ucap Hendrik kepada Azam.
Azam menengokkan wajahnya ke belakang.
Terlihat ada gerombolan Bule Tampan, berumur lumayan dewasa, yang sedang memandang dan memperhatikan mereka berdua. Para bule itu memandang sambil memberikan senyuman manisnya.
"Mau emang? Gw panggilin nih?" Ucap Azam.
"Ah Lo? Mana bisa gw bahasa linggis?" Ucap Hendrik.
"Gw bantuin kalo lo mau? Tapi yakin Lo bakalan kuat?" Ucap Azam.
"Kuatlaaah." Ucap Hendrik.
"Gw panggilin nih sekarang?" Azam mendirikan badan.
"Heh! Jangaaan? Nanti punya gw dooool." Ucap Hendrik dengan nada pelan.
"Hahaha. Nyali Lo ternyata segitu doank Blay?" Azam duduk kembali.
"Lagian gak mungkin juga kali gw nyamperin mereka?" Ucap Azam.
"Terus ngapain Lo tadi berdiri?" Ucap Hendrik.
"Ngetes nyali Lo doank? Hahaha." Ucap Azam.
"Sialan Lo! Kirain beneran mau nyamperin mereka?" Ucap Hendrik.
"Ngapain gw nyamperin mereka? Tinggal di kedip satu mata, mereka kesini kalo Lo mau." Ucap Azam.
__ADS_1
Bersambung..