Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Bab 29


__ADS_3

Sekitar Jam 21.13, mereka berempat sudah sampai di depan pintu masuk Pantai. Sejenak mereka berempat membayar tiket masuk, setelah itu mereka masuk ke area pantai.


Suasana pantai sangatlah sepi dan lumayan gelap. Mereka berempat berkelilling terlebih dahulu mencari spot untuk berenang.


Usai mendapatkan spot yang tepat, mereka bermpat memarkirkan motor diparkiran. Suasana parkiran pun lumayan sepi dan juga gelap karena lampunya tidak dinyalakan. Setelah memarkiran motor, mereka berempat berjalan menuju spot tersebut untuk berenang.


Sebelum berenang, mereka berempat foto-foto selfie terlebih dahulu. Lalu setelahnya, berenang-renang sambil teriak, tertawa, bermain-main didalam air.


Terlihat sangat menyenangkan seolah mereka berempat tidak memiliki beban hidup sama sekali.


Saat berenang, Azam melihat sesuatu didalam pantai, hanya saja seperti siluman. Fikir Azam mungkin salah satu siluman air, karena matanya berwarna merah dan air yang berada disekitarnya membentuk pusar kecil.


Selepas mandi, ketika mereka berempat hendak membilas badan, Azam melihat sosok seorang perempuan yang masuk kedalam ruangan kamar mandi.


Secara diam-diam Azam pun membukanya. Ia membuka pintu kamar mandi tersebut bukanlah tanpa suatu alasan. Selain sosok perempuan itu bergerak sangat cepat, kamar mandi dimasukinya tersebut merupakan kamar mandi seorang Pria. Sehingga Azam berani untuk membukanya.


Ketika Azam membukanya, sosok perempuan tersebut tidak ada didalam ruangan tersebut. Seketika bulu-bulu disekujur tubuhnya merinding. Azam terdiam sejenak lalu segera menyusul ketiga temannya yang sedang berada di ruangan bilas bersama.


Selepas daripada itu, mereka berjalan dan menikmati keindahan Malam Jum'at Kliwon.


Mereka berempat berjalan santai sambil berbincang disepanjang pesisir pantai.


"Thanks ya Jeng, Blay, Wahyu, kalian selalu menemani dan menuruti permintaan gw, dikala gw sedang merasa bosan di Kosan?" Ucap Azam sambil memberhentikan jalannya. Azam menatap Indahnya rembulan malam di pinggir pantai.


Ketika temannya pun memeluknya.


"Ngomong apa si Cong.." Ucap Mas Adam sambil memeluk Azam.


"Maafin gw ya blay? Gw selalu kasar sama lo!" Ucap Hendrik sambil menitikan airmatanya memeluk Azam.


"Sorry ya Cong? Kalo gw suka ketus sama lo?" Ucap Wahyu memeluknya.

__ADS_1


"Gak tau Blay, malam ini serasa Indah, serasa tidak ada masalah." Ucap Azam.


"Mungkin Hendrik lebih tau penderitaan gw selama ini.", Ucap Azam kembali.


"Hendrik tahu kenapa gw bisa terdampar di Kota Perantauan ini. Begitupun sebaliknya, Gw sangat mengetahui penderitaannya Hendrik." Ucap Azam.


"Gw juga tau koq Cooong." Ucap Wahyu karena Hendrik suka bercerita banyak mengenai persahabatannya dengan Azam.


"Kalian bertiga adalah teman sekaligus keluarga gw disini." Ucap Azam.


"Terlebih dengan Lo Ndrik? Kita pernah berjanji tidak akan pernah berpisah kan Ndrik? Susah bareng akan selalu kita hadapi bersama." Ucap Azam.


"Iya Blay, gw juga masih ingat koq sama janji gw." Ucap Hendrik.


"Lo adalah sahabat dan keluarga gw satu-satunya di Kota ini. Tanpa adanya Lo? Gw gak akan sampe seperti sekarang ini." Ucap Hendrik kembali.


"Ah udah ah! Ngapain sih jadi pada mellow dan cengeng begini! Hahaha." Azam berkata ngegas dan tertawa sambil mengusap air matanya yang menetes.


"Ah dasar kamu Cong! Bisa saja bikin aku mewek." Ucap Mas Adam sambil mencubit pipinya Azam.


"Jeng!!!" Azam berkata ngegas.


Mereka bertiga melepaskan pelukannya dari badannya Azam. Mereka berempat berdiri saling beriringan dipagar jembatan pantai, menatap indahnya rembulan dimalam Jum'at kliwon.


"Baru kali ini aku bisa menikmati Indahnya malam di Pantai." Ucap Mas Adam.


Wahyu mendadak tidak menjadi centil. Wahyu memandang rembulan sambil memeluk Mas Adam dengan satu tangannya.


Sementara Hendrik terlihat termenung meneteskan air mata sambil menatap memandang rembulan.


Azam tidak mengetahui apa yang sedang difikirkan oleh Hendrik, karena masalah dalam kehidupan mereka, bukan hanya masalah pertemanan saja, akan tetapi mereka memiliki permasalahan yang lain, yang berkaitan dengan keluarga dan juga dunia pekerjaan mereka masing-masing.

__ADS_1


Azam sangat memahami sekali dengan sikap Hendrik, dari dulu mereka berdua selalu terbuka. Apapun masalahnya, baik masalah keluarga maupun masalah yang lainnya, jangan sampai ada yang ditutup-tutupi. Akan tetapi akhir-akhir ini Hendrik sering menutupi sesuatu darinya.


Azam pun selalu menerima dengan perubahan sikap Hendrik kepadanya. Sewaktu dulu, Hendrik maupun Azam tidak berani untuk saling mencela, merendahkan, bahkan mempermalukan didepan orang lain.


Azam menerima meskipun seringkali Hendrik berkata kasar, seringkali Hendrik ingin mempermalukan, bahkan menjatuhkan harga dirinya.


Azam tetap diam dan menerimanya, Ia pun lebih memilih untuk mengalah. Meskipun begitu, sebenarnya Ia sedang mencari hal apa yang membuat Hendrik ini menjadi sering memanas dan sangat mudah tersinggungan kepada Azam.


Sifat Hendrik yang dulu, adalah seorang Pria yang melemah, merendah dan tidak suka merendahkan orang lain.


Hendrik memang tidak suka merendahkan orang lain, akan tetapi Ia seringkali menjatuhkan harga dirinya Azam didepan teman-temannya. Sekalipun Hendrik marah-marah kepada temannya yang lain, karena teman yang dipinjamkan uang olehnya telah membawa kabur darinya.


Hendrik selalu curhat dan meminta saran kepada Azam, sama seperti dahulu. Hendrik selalu meminta saran dan juga meminta mencari jalan keluar untuk masalahnya tersebut kepada Azam.


Masalah berat Hendrik, tidak jauh berbeda dengannya. Hendrik memiliki masalah dengan Ayahnya, yang seringkali memukulinya, jikalau dirinya sedang berada di Rumah.


Azam pun sama. Azam pergi merantau karena malas melihat tingkah Ayah Tirinya di Rumah.


Dari kecil Hendrik tidak memiliki seorang Ibu kandung, karena Ibu kandungnya pergi meninggalkannya. Begitupun Azam, dari usia dua bulan Azam lahir ke Bumi ini, Ayahnya pergi menghilang.


Meskipun kampung halamannya Hendrik tidak jauh dari Kota Perantauan, akan tetapi Hendrik tidak suka pulang ke rumahnya.


Azam selalu memberikan motivasi kepada Hendrik untuk terus berjuang, jangan pernah menjadi manusia lemah.


"Tunjukkan pada Bapakmu yang tempramen itu Ndrik, kalau lu bisa hidup tanpa dia! Lo gak sendiri! Lo ada gw!" Itulah ucapan motivasi Azam kepada Hendrik sewaktu dulu.


Hendrik pun menangis tiada henti waktu dahulu.


"Nangis lah selagi lo bisa Ndrik! Jika semua itu bisa membuat lo merasa Lega."


Mereka berdua memiliki background yang hampir sama dan memiliki permasalahan hidup yang hampir sama. Sehingga mereka berdua merasa, tidak pernah merasakan kasih sayang yang utuh dari keluarganya sendiri.

__ADS_1


Itulah alasannya mengapa mereka berdua ini menjadi seperti itu. Mereka berdua tidak memiliki hasrat untuk mencintai ke seorang perempuan.


__ADS_2