Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Bab 41


__ADS_3

...Racun Mulut Berbisa...


Didalam Gedung Mall tempat Hendrik, Nina dan Memey Bekerja.


Hendrik, Nina, Memey, Uci dan Delli sedang berkumpul di Outlet.


"Kak gimana tuh temen lo yang namanya Azam?" Ucap Delli kepada Hendrik.


"Gak tau deh gw. Gw udah gak perduli sama dia!" Ucap Hendrik.


"Iya, gw juga udah gak perduli sama dia!" Ucap Nina.


Memey terdiam, tidak ikut angkat berbicara. Memey hanya memperhatikan mereka berbicara.


"Bla, bla, bla, bla.. Mereka berbicara panjang kali lebar dan selalu menjelekanku."


"Deg!" Memey merasa kesel melihat tingkah mereka yang selalu menejelek-jelekanku dibelakang.


"Eh Kak, Lo kan mau ultah? Masih mending, Lo ngadain acara ultah Lo kemana kek? Biar dia itu panas ke Lo?" Ucap Delli ke Hendrik.


"Bukannya sifat Lo yang selalu panasan ke Azam ya Ndrik?" Gumam Memey.


"Boleh tuh boleh Kak? Gw setuju." Ucap Nina.


"Boleh. Tapi kemana ya?" Ucap Hendrik.


"Ke Puncak aja Kak? Nanti kita patungan deh, untuk bayar sewa mobilnya." Ucap Uci.


"Terus gw harus ngajak Azam gitu?" Ucap Hendrik


"Gak usah Kak!" Ucap Delly.


"Ya, terserah lo lah Kak." Ucap Uchi.


"Masih mending diajak aja deh Kak? Lumayan kan buat nambahin patungan sewa mobil?" Ucap Nina.


"Ikut doonk.." Ucap Icha sambil berjalan dari counter parfumnya mendekati mereka yang sedang bergibah.


"Pasti gw ngajak lo lah Kak." Ucap Hendrik ke Icha.


Memey terlihat sangat kessl dan mengepalkan satu tangan kanannya. Memey merasa kesal, karena mereka berdua telah menjelekan-jelekanku dan bukan sekali dua kali saja mereka berdua menjelek-jelekanku. Hingga akhirnya mulut kompor yang ada disitu, yang sama sekali aku tidak kenal, ikut angkat bicara membuat api semakin berkobar didalam hati Hendrik.


Teeeet.. disambung dengan informasi jam shift pagi telah selesai.


"Nin, Kak? Gw duluan ya?" Ucap Memey.


"Iya Mey, hati-hati lo di Jalan?" Ucap Mereka semua."


Memey segera berjalan kearah loker, lalu berjalan cepat keluar dari gedung Mall tersebut. Memey berjalan kearah mobil Eko yang sudah menunggunya didepan Mall tersebut. Memey masuk kedalam mobil Eko. Memey memasang wajah kesalnya.


"Mau kemana Yank?" Eko ngajakin jalan.


"Pulang ke kosan aja Ndut, kasihan Kak Azam sendirian di Kosan." Ucap Memey.


Didalam mobil menuju kosan, mereka berdua sambil berbincang.

__ADS_1


"Kenapa sih kamu Yank?" Ucap Eko yang melihat wajah Memey terlihat kesal.


"Kesel Gw ndut!" Ucap Memey.


"Kesel sama aku?" Ucap Eko.


"Bukan Nduuut? Kesel sama Hendrik dan Nina."


"Emangnya kenapa dengan mereka berdua?" Ucap Eko.


"Kamu tahu kan Ndut, Azam kayak gimana orangnya?" Ucap Memey.


"Dia sangat baik. Aku sama kamu aja bisa baikan lagi. Karena dia yang ngasih saran ke kamu." Ucap Eko.


"Kamu tahu kan Hendrik ke dia kayak apa?" Ucap Memey.


"Tau. Hendrik suka ngomong kasar dan suka menjatuhkan harga dirinya Azam." Ucap Eko.


"Yang aku kesel banget tuh Ndut? Azam selalu diem kalo lagi direndahin sama Hendrik! Aku juga sangat kesel melihat tingkahnya Hendrik dan Nina yang selalu menjelek-jelekkan dia dibelakang! Sampe naik darah sendiri aku melihat tingkah mereka berdua!" Ucap Memey.


"Mungkin Kak Azam punya alasan tersendiri untuk tidak membalas ucapannya Hendrik kali Yank? Atau mungkin? Dia gak mau ngeladenin Hendrik, karena nantinya akan berantem." Ucap Eko.


"Tapi aku gak bisa kayak gitu Ndut! Aku harus bilang ke dia? Kalo Hendrik dan adek angkatnya itu busuk!" Ucap Memey sangat kesal.


"Tau gak sih Ndut? Sekarang mereka lagi ngerencanain buat jalan ke Puncak? Hanya untuk bikin memanas Azam doang."


"Hey, hey, jangan gegabah gitulah yank? Belum tentu omongan kamu itu akan dipercaya sama Kak Azam? Terlebih dia itu orangnya dapat membaca karakter orang. Takutnya? Nanti dikira sama dia, kamu itu hanya cerita mengada-ngada. Kamu juga kan belum tahu, alasan Kak Azam memilih diam? Meskipun seringkali dijatuhkan dan direndahkan sama Hendrik. Kamu juga belum tahu kan, mereka bertiga itu bertemannya sudah sejauh mana?" Ucap Eko.


"Lagian, Kak Azam juga bukan tipe orang yang suka panasan kayak gitu." Ucap Eko.


"Pinter kamu Ndut?" Ucap Memey.


"Iya sayang. Tapi kamu jangan nunjukkin rasa kesel kamu itu ke Kak Azam? Aku yakin, dia akan langsung bertanya? Kalo kamu memasang wajah kesel yang seperti itu didepannya." Ucap Eko.


"Iyalah, aku juga tau. Kita harus memasang wajah yang biasa-biasa saja seperti biasanya. Aku akan memasang wajah ceriaku didepannya." Ucap Memey.


Eko dan Memey telah sampai dan memarkirkan mobilnya didepan gedung sekolahan. Mereka berdua menaiki tangga kosan Omah.


Eko duduk dikursi besi. Memey kedepan pintu kamarku yang masih tertutup.


"Tok, Tok, Tok, Kaaaak!" Memey memanggilku sambil mengetuk pintu kamarku.


Aku sedang tiduran sambil bermain hape. Aku membangunkan badan dan membuka pintu kamarku.


"Kenapa Mey?" Ucapku.


"Makan yuk Kak?" Ucap Memey.


"Mau makan dimana?"


"Udah ikut aja!" Ucap Memey memaksa seperti biasanya.


"Ya udah hayu."


Memey tidak mengganti bajunya. Kita bertiga langsung meluncur ke Restoran seafood yang pertama kali Memey dan Eko ngajakin makan.

__ADS_1


*Di Restoran Seafood*


Eko dan Memey duduk bersebelahan. Sedangkan aku duduk didepan mereka berdua.


"Kak, gw mau nanya? Lo itu aslinya dari daerah mana?" Ucap Memey.


"Subang Mey. Kalo Lo sendiri dari mana aslinya?" Ucapku berbalik tanya kepada Memey.


"Rumah gw ditanggerang Kak." Ucap Memey.


"Di daerah mana Lo Kak subangnya? Gw juga punya sodara tuh disana?" Ucap Eko.


"Didaerah pantura Ko. Kalo sodara lo, didaerah mana Ko?" Ucapku.


"Gak jauh dari jalan tol Kak. Di daerah Kali Jati." Ucap Eko.


"Lumayan jauh sih dari tempat gw, daerah itumah Ko." Ucapku.


"Gw juga udah lupa Kak tempatnya. Soalnya gw main kesananya, waktu gw masih kecil." Ucap Eko.


"Eh Kak, besok temenin kita berdua ya? Lo masih gak ada jadwal kan?" Ucap Memey.


"Kemana Mey?" Ucapku.


"Ke Giri Tirta. Bagus loh kak tempatnya? Gw kepengen kesana Kak? Soalnya kita berdua belum pernah ke tempat itu." Ucap Memey.


"Ah, gak enak gw Mey? Masa iya sih, kalian berdua mau pacaran, gw harus ngikut?" Ucapku.


"Udah kakak bencooong ikut aja! Gak mau tau gw!" Ucap Memey maksa.


"Iya Kak, Lo harus ngikut pokoknya!" Ucap Eko maksa.


"Ya udah iya gw akan ikut! Dasar pasangan pemaksa!" Ucapku ngegas.


Eko dan Mey saling bertatapan, seperti merasa senang aku bisa ikut.


"Eh Mek, Ko? Emang kita hanya bertiga doank kesananya? Gak sekalian ngajakin Nina sama Hendrik?" Ucapku.


"Ah, gak usah lah Kak! Lo juga? Jangan bilang-bilang ke mereka kita mau jalan Kak!" Ucap Memey sedikit ngegas.


"Emangnya kenapa Mey?" Ucapku.


"Pokoknya? Lo jangan bilang! Awas loh kalo bilang-bilang!" Ancam Memey sambil menggebrak minuman ke Meja.


Aku terdiam.


"Yank?" Ucap Eko menegur Memey.


"Pokoknya? Gw maunya hanya kita bertiga doank Kakak bencooong." Ucap Memey dengan nada santai.


"Iya, Iya." Ucapku.


"Ya udah yuk kita pulang?" Ucap Eko karena kita telah selesai makan.


"Inget Kak? Pagi-pagi kita berangkatnya? Soalnya lumayan jauh tempatnya." Ucap Memey.

__ADS_1


"Iya, iya. Nanti gw gak tidur." Ucapku.


__ADS_2