Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Part 45


__ADS_3

Sekitar jam delapan pagi, Memey sudah terbangun dan telah mengirim chat whatsapp ke Eko. Setelah mengirimkan chat ke Eko, Memey bangun lalu keluar dari kamarnya untuk mandi. Selesai mandi, Ia ke depan pintu kamarku.


“Tok, tok, tok, Kaaak.. kaak..” Memey memanggilku sambil mengetuk pintu kamar dengan pelan.


“Iya..” Ucapku sambil membangunkan badan dari kasur.


Aku berdiri dan membuka pintu.


“Cepetan mandi Kak, Eko sebentar lagi datang.” Ucap Memey dengan nada pelan sambil melihat-lihat ke kamarnya Hendrik dan juga Nina.


“Ok.” Ucapku.


Memey berjalan masuk ke dalam kamarnya. Aku masuk ke dalam kamarku mengambil handuk, lalu keluar untuk mandi.


Selesai mandi, aku menggunakan kemeja hitam mengkilap, celana jeans panjang hitam dengan model dengkulnya yang robek dan juga mencangking Handbag berwarna hitamku. Tidak lupa juga, aku menggunakkan sepatu koleksi Cotton’On berwarna hitam.


Sedangkan Memey masih berada di dalam kamarnya. Aku keluar dari kamar dan merokok di kursi besi.


Sekitar jam setengah sembilan, Eko datang menaiki tangga. Eko duduk di kursi makan.


“Memey kemana kak?” Ucap Eko.


“Masih di dalam kamar Ko. Lo cepet banget datangnya Ko? Katanya Meeting?”


“Gw meeting pagi kak.”


“Oh gitu.”


Aku kalau meeting di kerjaanku, bisa sampe berjam-jam, selain ngobrolin omset, pasti ada tes. Sementara Eko, hanya sejam’an Meeting di kantornya.


Memey telah selesai dari dandannya dan telah membuka pintu kamarnya. Memey menggunakkan baju training bersama dengan sepatu sportnya.


“Yank, kamu mau ganti dimana?” Ucap Memey yang melihat Eko masih menggunakkan baju kantornya.


“Nanti aja ganti disana yank (di lokasi).”


“Ok deh kalo gitu. Hayu Kak?”


Aku pun mendirikan badanku, lalu kita bertiga berjalan santai ke gedung sekolahan seperti biasanya.


“Bentar, bentar Kak. Gw lagi ngidam itu deh?” Memey ngidam cireng isi yang berada di depan gedung sekolahan.

__ADS_1


Lantas Memey dan aku membeli cireng isi. Sedangkan Eko sudah masuk kedalam mobilnya.


Selesai membeli cireng isi, kita masuk ke dalam mobilnya Eko.


“Akhirnya Yank, kita bisa menculik Kakak bencoong lagi.” Ucap Memey sambil menutup pintu mobil.


“Tar dulu deh, kita ini sebenernya mau kemana?”


“Mau kemana Yank?” Ucap Eko ke Memey.


“Udah, jangan bawel deh Kak. Gw mau nyulik lo ke alam lagi.”


Eko telah menjalankan dan kita telah berada di Jalan Raya. Sepanjang perjalanan, seperti biasa kita sambil berbincang.


*


*Di Sepanjang perjalanan.


“Kak, gw mau nanya deh?” Ucap Eko sambil menyetir.


“Iya Ko nanya aja silahkan.” Ucapku.


Memey menghadap ke depan seperti biasanya.


“Kak, lo kenapa sih kalo lagi di rendahin sama Hendrik, lo suka diem dan tidak membalas ucapannya? Terus juga, kenapa lo masih bertahan berteman dengan dia Kak? Ya, kita berdua tahu sendirilah sikapnya Hendrik ke lo itu? Kalo menurut kita berdua, sudah kurang terdidik Kak.”,


“Lo sama dia juga memiliki karakater yang sangat bertolak-belakang. Sorry ya Kak, kalo gw nanya seperti itu? Lo jangan marah? Kalopun lo gak mau ngejawab juga gak papa koq Kak.” Ucap Eko secara halus sambil menyetir dan juga sesekali melihat ke arah Memey seperti biasanya.


Ucapku:


“Iya gw faham koq Ko.”


“Gw juga memahami tanggapan kalian mengenai Hendrik. Gw diem, karena gw gak mau memperkeruh suasanan Ko. Gw juga gak mau berantem. Gw tau sifatnya dulu itu, tidak seperti itu Ko. Dia berubah seperti itu, semenjak dia menjadi rentenir Ko. Sifatnya semakin memanas dan sangat sensitif, bahkan mungkin Memey juga mengetahuinya. Hanya saja, dia emang hanya berani merendahkan dan juga menjatuhkan gw doank.”


“Gw juga sadar, emang sikapnya dia terhadap gw sudah diluar batas. Gw juga biasanya gak sesabar ini menghadapi orang yang memiliki karakter seperti itu.”


“Hanya saja, gw masih ingat dengan janji gw sama Hendrik Ko. Gw gak bisa ninggalin dia, karena gw kasihan sama dia Ko. Kalo gw ninggalin dia, takutnya suatu saat dia nyariin gw Ko.”


“Sebenarnya hal ini pernah terjadi. Bahkan gw pernah di usir dari kosannya saat gw bermain di kosan lamanya. Dia mengusir gw, karena waktu itu gw meminta antar ke cowoknya untuk ke pacar gw, itupun atas persetujuannya dan gw juga gak Cuma-Cuma di antarkan olehnya. Gw bayar biaya transportasi sesuai yang di minta oleh Hendrik.”


“Setelah kejadian itu, gw main ke kosannya seperti biasanya. Dan disaat itu juga gw di caci maki dan dia meminta untuk memutuskan tali persahabatan. Gw pun sangat kaget, gw di tuduh melakukan ini itu sama pacarnya itu.”

__ADS_1


Pertengkaran Dulu dengan Hendrik:


“Pergi lo! Gak usah kesini lagi dan gak usah ketemu gw lagi. Dasar gatel! Dasar gak tau diri!”


“Maksud lo apa Ndrik?” Ucapku.


“Alaah, lo godain cowok gw kan! Gak usah munafik deh lo!”


“Sint** lo!”


“Ok, gw faham, gw akan pergi, tapi asal lo tau ya? Gw bukan orang yang seperti kayak lo! Yang suka mencuri nomer hape disaat gw tidur, Terus ngajakin tidur ke orang itu? Gw bukan orang seperti lo! Yang doyan bekas temen sendiri!”


“Ok, gw gak akan nemuin lo lagi.”


“Setelah 4 bulan lebih, Hendrik nyariin gw Ko. Dia merasa menyesal dan juga meminta maaf ke gw. Dia minta kita baikkan lagi untuk berteman.”


“Selain gw mengetahui wataknya yang seperti itu, gw juga gak mau memutus tali persahabatan begitu aja Ko. Gw masih inget sama janjinya Hendrik dan gw. Kita berdua pernah berjanji susah senang akan selalu bersama Ko. Ya, biarlah Ko, nanti juga dia akan sadar kembali. Meskipun, gak tau kapan. Biar gw yang menjadi pelampiasan kemarahannya.”


“Tapi Kak, Hendrik itu tidak pernah menganggap kebaikan lo? Dia itu suka menjelek-jelekkan lo Kak! Setiap hari malah, sampe gw bosen! Dia juga sekarang ini lagi ngerencanain jalan ke puncak hanya untuk manasin lo?” Celetuk Memey.


“Maksudnya Mey?”


“Iya, Hendrik sama adek angkat lo itu? Lagi ngerencanain ke Puncak? Hanya buat manasin Lo doang!"


“Hahaha.. Gak ngaruh buat gw mah Mey.”


"Suka-suka dia aja Mey, nanti akan ada saatnya hatinya akan meledak sendiri. Kalo dia terus-terusan seperti itu.” Ucapku santai.


“Mau dia berbuat ini itu Kek, gw mah masa bodo Mey.”


“Udah lah Mey, Ko, gak usah ngurusin kita berdua."


“Lo Kak!” Ucap Memey ngegas melihat respon aku yang santai.


“Yank.” Ucap Eko menegur Memey.


Memey mengira mungkin perkataannya tidak ditanggepin olehku. Aku pun menyikapinya memang tidak terlalu menanggapi, selain aku masa bodo dengan sifat Hendrik yang selalu memanas kepadaku. Aku juga tidak mudah termakan, sebelum aku melihatnya secara langsung kalo Hendrik menjelek-jelekanku di belakang.


“Maaf ya Kak, kalo kita berdua merasa Kepo dan ikut berpendapat mengenai pertemanan kalian berdua?” Ucap Eko.


“Iya gak papa Ko, santai aja.”

__ADS_1


Dan hari itu, kesekian kalinya aku melihat ekspresi Memey yang merasa sangat kesal.


__ADS_2