
Di malam hari yang indah, di penuhi dengan bintang-bintang di langit, bersama dengan rembulan yang bersinar terang benderang dan cahaya merah yang menghiasi atmosfere bumi di Kota Perantauan.
Kita bertiga baru sampai di Halaman depan gedung sekolah. Kita berjalan santai kearah gedung kosan Omah. Kini kita telah berada di depan gerbang kosan Omah.
Via dan Rudi beserta dengan keponakannya yang bernama Aji sedang mengobrol di depan teras Omah.
"Itu Kak Memey sama kak Azam." Ucap Via.
Via melihat kita dan segera berjalan menemui kita bertiga yang baru saja membuka pintu gerbang kosan Omah.
"Dari mana Kak?" Ucap Via.
"Habis keluar Dek." Ucap Memey.
"Aku pengen main Kak. Boleh gak Kak?"
"Boleh bangeet. Ya udah hayu ke atas." Ucap Memey.
"Yank, nanti nyusul ke atas ya?" Ucap Via ke Rudi yang sedang duduk didepan bersama Aji di kursi besi depan rumah Omah.
"Iya." Ucap Rudi.
Eko dan Memey naik duluan. Eko langsung tiduran di dalam kamar Memey. Memey masuk dan mengganti pakaiannya. Aku dan Via berjalan menaiki tangga.
"Dek tungguin sebentar ya? Nanti kakak Memey juga keluar lagi." Ucapku menyuruh Via untuk menunggu di kursi besi sambil masuk kedalam kamar.
"Iya Kak." Ucap Via sambil duduk di kursi besi.
Memey sudah keluar kembali dan duduk di kursi makan. Aku pun sudah selesai mengganti baju dan sudah duduk dikursi ujung dekat cermin.
"Udah dari tadi lo pulang Dek?" Ucap Memey ke Via sambil merokok.
"Iya Kak. Aku masuk pagi tadi." Ucap Via.
Aku menyalakan rokokku.
"Tumben Kak bertiga doang?" Ucapnya keheranan.
Via hanya berani main keatas, kalau ada kita berdua saja.
"Iya, masih pada kerja kali Dek. Kak Hendrik sama Ninanya." Ucap Memey.
"Emangnya Kak Memey sama Kak Azam gak kerja?" Ucap Via.
"Libur gw Dek." Ucap Memey.
"Kalo gw, udah nganggur." Ucapku.
__ADS_1
"Lagian kalo ada mereka juga, lo gak bakalan mau main ksini kan?" Ucapku sembari merokok.
"Hehe, Iya kak." Ucap Via polos.
"Gimana dengan kerjaan lo Dek?" Ucap Memey.
"Baik Kak. Hanya saja, Rudi habis di omelin supervisorku tadi kak." Ucap Via.
Rudi sama Aji sedang menaiki tangga. Aji ini merupakan keponakannya Via, meskipun usianya masih sangat kecil kisaran berusia 13 Tahunan, namun pemikirannya sudah lumayan dewasa, karena Ia tumbuh bersama dengan salah satu komunitas persatuan Islam.
Rudi duduk di sebelah Via, sedangkan Aji berdiri di pagar pembatas sambil melihat-lihat ke bawah.
"Ji, kenalan dulu sama kakaknya?" Via memanggil Aji yang sedang berdiri di Pagar Pembatas.
Aji mendekatiku dan berdiri didepanku.
"Oh iya Kak, kenalin namaku Aji?" Ucapnya sambil menyodorkan tangannya.
"Azam."
Aji mendekati Memey.
"Kenalin Kak, namaku Aji."
"Memey."
"Kelas berapa Ji?" Ucap Memey.
Aji melihat-lihat kamarku.
"Kak, ini kamarnya siapa?"
"Kamar gw Ji."
"Kalo kamar kak Memey yang mana?"
"Itu kamar gw Ji." Ucap Memey sambil menuding ke kamarnya yang tertutup.
"Ji, kalo pulang sekolah temenin gw ya?" Ucapku.
"Kemana Kak?" Ucap Aji.
"Disini." Ucapku.
"Emang gak kerja kak?" Ucap Aji.
"Gak Ji."
__ADS_1
"Ok, nanti aku main kesini kak."
"Udah biasa Via? Masalah di omelin mah. Gw aja suka di omelin sama atasan gw. Tapi kita harus menyikapinya menerima, dan berusaha menurutinya." Ucap Memey memberikan motivasinya ke Via.
"Hehe, Iya kak. Namanya juga masih baru kerja."
Rudi hanya terdiam. Memey juga sukanya mengobrol sama Via saja.
"Iya Vi, Rud, sudah biasa masalah di Omelin mah? Jangan terlalu di ambil hati. Gw tau sih, rata-rata waitress jarang yang betah lama di tempat itu. Gw selalu lihat karyawan yang menggunakan seragam hitam putih dengan wajah yang berbeda di setiap bulannya. Hanya saja, untuk mencari pengalaman mah kalian harus kuat. Nanti, kalo lo berdua udah pengalaman? Lo berdua sambil bekerja sambil melamar di perusahaan yang lain. Anggep aja selama kalian bekerja disitu itu, sebagai batu loncatan aja." Ucapku.
"Hehe, Iya Kak." Ucap Via sambil sesekali satu tangannya memegang satu lengannya.
Rudi hanya senyum dan diam saja.
"Jangankan kerjaan yang kayak lo? Kerjaan yang kayak Memey juga suka di omelin habis-habisan kalo omsetnya lagi turun." Ucapku.
"Iya bener tuh Dek. Supervisor gw sangat galak. Kalian masih mending kerjaannya, omset di tanggung bersama. Kalo kerjaan kayak gw? Omset di tanggung sendiri dek?Selain itu juga kita harus bersaing dengan kompetitor. Lebih berasa menyakitkan sebenernya. Soalnya, Orang kantor gw itu marahnya ke kita secara langsung dan sangat pedes, bahkan tidak mau tahu, mau sepi atau tidak yang penting omset harus sampe target. Itu orang kantor gw." Ucap Memey.
"Cuma gw mah ya masa bodo. Gak terlalu di ambil pusing. Hanya saja, sebisa mungkin kalo memang sedang ramai dan ada customer, gw selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik." Sambung Ucapan Memey.
"Oh gitu ya Kak? Kirain kerjaan yang kayak kita aja yang di omelin?" Ucap Via polos.
Mungkin Via memandang para BA/BC yang terlihat wajahnya santai seperti Memey maupun aku dikiranya tidak ada beban yang begitu berat.
"Lebih serem Deeek? Bukan serem orang kantornya aja Dek? Temen-temen kita juga banyak yang serem. Selain bersaing penjualan, kita juga bersaing masalah penampilan, saling sirik-sirikkan dan saling kompor-komporan. Banyak yang suka berantem antar temen sesama BA, baik temen antar konter maupun antar temen sendiri. Untungnya waktu dulu, gw cuma tiga bulan doang jadi BA dan selebihnya jadi BC. Kalo gak? Gw udah keluar tuh dari kapan tau." Ucapku.
"Makasih ya Kak Mey, Kak Azam atas masukannya? Insya Allah aku juga akan seperti itu." Ucap Via.
"Sama-sama Dek. Maklumin aja lah, anggep aja angin berlalu." Ucap Memey.
"Ok Kak. Ya udah Kak, kalo gitu kita turun dulu ya Kak?" Ucap Via.
"Iya." Ucap aku dan Memey.
"Hayo Yank, Ji?" Ucap Via ke Rudi dan Aji.
Lantas mereka bertiga turun ke bawah. Dan kini mereka telah turun ke bawah.
"Eh Mey, masalah Hendrik mau ke Puncak itu lo bakalan ikut nanti?"
"Belum tau juga Kak. Gw belum ngomong sama Eko untuk ikut atau tidak." Ucap Memey.
"Gw yakin, Eko pasti gak ngebolehin lo buat ngikut. Apalagi kalo harus ngeliat lo nyetir sendiri?"
"Bener juga sih kata lo kak? Apalagi Eko juga gak suka sama mereka."
"Kalo gw sih terserah lo Mey. Mau ikut atau gak? Karena yang punya problem sama Hendrik itu adalah gw. Lo, kalo mau ikut? Ya ikut aja. Tapi gw saranin, jangan sampe lo bawa mobil sendiri, apalagi nyetir sendiri sejauh itu. Kalo pun lo bawa mobil sendiri? Sebisa mungkin lo jangan nyetir sendiri."
__ADS_1
"Iya Kakak bencooong. Ya, udah Kak gimana nanti lah. Gw mau tidur dulu ya kakak bencooong?"
"Iye, Mek! Mek!"