Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Part 55


__ADS_3

...Bayangan Kalong, Memey Kerasukan, Kuntilanak Hitam...


Usai Shallat Ashar, kita mengajak Rudi untuk berjalan-jalan di sekitaran Danau. Selama di Danau tersebut, Rudi terlihat sangat diam dan juga tidak berucap.


Menjelang Maghrib kita semua (aku, Memey, Via, Aji dan Rudi) baru pulang ke rumahnya. Kini kita semua (termasuk keluarga Uni) tengah mengobrol di ruangan tamunya. Kita mengobrol duduk di lantai.


Selama kita semua mengobrol tersebut, Rudi selalu memainkan Televisi. Bagaikan anak kecil yang sedang bermain-main Televisi. Yang mana, Ia mematikan dan menghidupkan kembali tombol televisi tersebut.


Selama aku berada disitu, tentunya senantiasa aku membaca dzikir di dalam hati. Hingga terdengar suara Adzan Maghrib berkumandang.


"Udu, udu, udu.." Ucap Rudi sambil berdiri mengajak untuk berwudhu.


Kita semua pun merasakan senang mendengarnya. Uni (kakaknya Rudi) segera berdiri lalu mengambilkan sarung untuk Rudi. Namun kali ini Ia hanya ingin di temani oleh Uni (Kakaknya).


Dikala Rudi yang sedang berwudhu tersebut, seperti biasa terjadi Insiden. Yang mana Ia hanya memanipulasi untuk mengajak berwudhu. Rudi tetap tidak bisa untuk berwudhu.


Aku dan Memey akhirnya pulang ke kosan. Dan setelah Maghrib, Via datang ke Kosan.


"Tap, tap, tap." Jejak Via melangkah di tangga.


Aku dan Memey tengah mengobrol di Kursi Besi.


"Kak, Rudi ngamuk." Ucap Via dengan rasa kepanikannya sambil berdiri di depan kita.


Aku dan Memey segera berdiri lalu berjalan cepat ke rumahnya Rudi. Aku, Uni, Memey, dan Aji segera memegang kedua kaki Rudi dan juga kedua tangannya.


Rudi tengah mengamuk, mengaum sangat seram.


"Uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu... 15 menitan." Teriakkan panjang mengaum sangat menyeramkan. Suara tersebut bukanlah suara asli Rudi.


"Deg, deg, deg, deg,!!!" Seketika jantungku berdebar sangat cepat, tubuhku merinding dan keringat dinginku mengucur di sekujur tubuh.


Semua yang berada disitu merasa panik, sedih dan juga terlihat sangat tersiksa tubuhnya Rudi di buatnya. Semua yang berada disitu selalu membaca ayat-ayat.


"Uuuuuuuuuuuuuuuuu.." Setiap Rudi mengaum, tatapannya menatap tajam, melotot kearah kedua bola mataku.


Aku terus membaca ayat-ayat dan juga dizikir di dalam hatiku. Hingga akhirnya aku merasakan detak jantung yang sangat cepat, benar-benar sangat cepat, mendengar teriakkannya yang sangat kencang, seram dan juga tatapannya yang sangat tajam tersebut.

__ADS_1


Selama aku memegang kakinya tersebut, aku meneteskan air mataku dan terus membaca dzikir di dalam hatiku. Dikala dirinya yang sedang mengamuk tersebut, Ia menatap tajam kearah kedua bola mataku. Pandangannya benar-benar sangat menyeramkan.


Hingga akhirnya terdengar suara Adzan Isya Rudi baru tenang. Dan setiap mendengarkan suara Adzan tersebut, Rudi baru merasa tenang.


Setelah Rudi merasa tenang, aku dan Memey kembali lagi ke kosan. Mengingat tatapannya Rudi saat mengamuk tersebut, aku merasa sangat tidak nyaman, aku juga menduga bahwa sosok yang berada di dalam tubuhnya Rudi itu tidak menyukai keberadaanku.


Hingga akhirnya sekitar Jam sembilan malam Memey mengajakku untuk ke rumahnya kembali. Namun aku menolaknya, aku juga tidak menceritakan kepada Memey dikala Ia sedang mengamuk tersebut menatap tajam ke arahku.


Memey tidak menyadari akan hal tersebut, karena Memey memegang kakinya Rudi yang sedang mengamuk, akan tetapi pandangannya Memey mengarah ke bawah.


Begitu pun yang lainnya, tidak menyadari akan hal tersebut. Uni terus mengucapkan ayat-ayat di kupingnya.


Dan ada satu hal yang aku ingat, yaitu aku pernah meminta ke Via dan Uni untuk menyetel Ayat Suci. Seketika itu Rudi panik dan meminta segera mematikan ayat suci tersebut.


Setiap aku menjaga Rudi yang sedang mengamuk, maka tatapan tajam menyeramkan tertuju kepadaku. Sementara aku sendiri, terus membaca ayat-ayat dan dzikir yang aku bisa.


Semenjak kejadian tersebut, kosan Omah benar-benar terasa semakin menyeramkan dan juga semakin terasa keangkerannya.


Sekitar jam setengah dua belas malam, aku dan Memey sedang mengobrol. Sementara Via tengah di rumahnya Rudi.


Kita berdua mengobrol saling bertatapan. Memey berada di Kursi Makan dan aku di Kursi Besi. Dikala kita berdua sedang mengobrol tersebut, seekor bayangan kalong menubruk kebawah melewati di tengah-tengah kita berdua yang sedang mengobrol.


"Astaghfirrullah."


Spontan Memey langsung mejingkrak ke belakang dan hampir terhatuh dari kursi makan. Sementara aku meloncat naik ke atas kursi besi dengan posisi badanku yang terjedag ke penyangga kursi besi.


"Buk!!!" Sosok bayangan seekor kalong tersdbut menubruk ke bawah meja.


Suara tubrukkannya benar-benar terdengar oleh kuping kita berdua. Kita berdua langsung mencari seekor kalong yang menubruk kebawah Meja Makan tersebut. Akan tetapi tidak ada. Kita berdua juga langsung menatap ke arah langit-langit kosan. Namun pada malam itu, tidak ada kalong yang menggantung.


Lantas kita saling bertatapan.


"Menurut lo tadi apaan Mey?" Ucapku dengan posisi kakiku yang masih di atas kursi besi.


"Bayangan kalong kak." Ucap Memey.


Memang terlihat bayangan hitam kalong.

__ADS_1


"Tapi kenapa bisa nubruk gitu ya Mey?" Ucapku.


Memey terdiam.


"Udahlah Mey, masuk aja yuk? Ucapku."


Akhirnya kita berdua masuk ke dalam kamarnya Memey. Memey langsung tiduran di kasurnya menghadap ke arah barat. Sementara aku, tiduran selonjoran mengarah utara. Kita tiduran membentuk leter L.


Aku tidak langsung tertidur, sementara Memey langsung memejamkan matanya. Dikala dirinya yang sedang tidur tersebut. Ia di rasuki oleh sosok mahluk.


"Pergi, pergiii, pergii kalian semua dari siniiiii.." Suara berbisik yang keluar dari mulutnya Memey yang sedang tertidur.


Sangat jelas, suara yang keluar bukanlah suara Memey. Akan tetapi suara bisikkan seorang perempuan lain yang bukan seusia. Suara bisikannya sangat menyeramkan. Ia berkata sambil menudingkan tangannya Memey ke arah depan, ke arah tembok.


Aku yang mendengarnya segera membangunkan badanku untuk duduk, lalu menghadap Memey yang sedang tertidur dan sedang kerasukan tersebut. Sejenak aku memperhatikan nada suaranya. Dan benar saja bukanlah suara asli Memey.


Tubuhku merinding drastis di buatnya. Sejenak aku berucap dan membaca ayat-ayat, lalu setelahnya aku membangunkan Memey.


"Mey, mey, bangun Mey." Ucapku dengan nada pelan sambil menoel tubuhnya Memey.


Memey menjingkrak lalu menangis.


"Hukhukhukkkkk.." Memey terbangun terjingkrak dari tidurnya sambil menangis.


Sepertinya Memey pun merasakan sosok yang merasukinya.


Setelah menangis, Memey kembali menlanjutkan tidurnya ke arah tembok.


Aku sejenak menjaga dan menatapnya. Sekitar setengah jaman aku pun tiduran kembali menatap kearah tembok yang berada di sebelah barat.


Tak berapa lama kemudian, Sosok perempuan muncul berada di sebelah Memey. Tepat berada satu langkah daru gigir Memey yang sedang tertidur tersebut.


Aku yang tengah menatap ke arah tembok tersebut sangat kaget dan seperti tidak mempercayainya. Karena baru kali ini sosok kuntilanak hitam yang pernah aku lihat.


Sosok kuntilanak hitam tersebut duduk berada satu langkah di gigir Memey, dan berada satu meter setengah berada di hadapanku. Sosok kuntilanak hitam tersebut berada dengan posisi duduk, menunduk ke arah bawah dan rambutnya menutupi seluruh wajahnya. Rambutnya terurai panjang dan posisi duduknya tidak berubah.


Aku berucap dan beberapa kali aku memejamkan mataku, namun dua kali aku memejamkan mata, sosok tersebut masih berada. Aku duduk dan menatap ke arahnya tersebut. Seluruh tubuhku benar-benar merinding.

__ADS_1


Sejenak aku menatapnya dan juga melihat kondisi Memey yang baru saja di rasuki. Setelah beberapa saat, aku menggerakkan tubuhku secara perlahan-lahan untuk tidur. Aku mengabaikan dan melanjutkan tidurku.


Aku tidak membangunkan Memey, yang pastinya dia akan sangat ketakutan jika aku membangunkannya.


__ADS_2