Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Bab 32


__ADS_3

Malam ini merupakan malam Jum'at. Waktu menunjukkan jam 20.13 Wib.


Nampak terlihat Azam dan Hendrik, baru saja selesai mengaji yasin di dalam kamarnya masing-masing.


Sejenak mereka berdua membereskan, Kitab Al-Quran, merapihkan sajadah lalu memasukkan ke dalam lemari.


Mereka berdua berjalan keluar dari kamarnya masing-masing.


"Blay, cari makan yuk?" Ucap Hendrik.


"Ayok." Jawab Azam.


Mereka berdua segera mengunci pintu kamarnya masing-masing, berjalan menuruni tangga.


Hendrik langsung mengeluarkan mengeluarkan motornya dari lorong lantai bawah. Sementara Azam menunggunya sambil memegang pintu gerbang kosan Omah.


Hendrik sudah mengeluarkan motornya.


Azam langsung menutup pintu gerbang dan menggemboknya. Azam langsung membonceng di jok motornya Hendrik.


Hendrik pun langsung menancapkan gas motornya menuju ke Pasar Malam.


Setelah makannya selesai, mereka berdua pun kembali lagi ke kosan. Tentunya waktu pun terus berputar dan semakin malam.


Dengan segera mereka memasukkan motor, berjalan menaiki tangga lalu duduk di kursi besi seperti biasanya.


Suasana kosan malam Jum'at tersebut sangatlah sepi, hening dan seperti biasa sangat mencekam. Lampu rumah Omah selalu dimatikan, jika dimalam hari.


Waktu menunjukkan jam setengah sebelas malam, Azam berdiri lalu berjalan mondar-mandir kesana-kemari disekitaran pagar pembatas lantai atas kosan Omah dengan tatapan matanya melihat-lihat kearah bawah.


Sementara Hendrik, sedang berkicau mengobrol bersama dengan Azam sambil memainkan ponselnya duduk dikursi makan.


Ditengah Azam yang sedang mondar-mandir sambil mendengarkan kicauan Hendrik tersebut, Azam melihat seorang Pria tengah duduk dikursi besi, depan rumahnya Omah.


Seketika Azam pun langsung memberhentikan kegiatan mondar-mandirnya lalu memperhatikan pria itu.


"Blay sini deh?" Azam memanggil Hendrik dengan nada pelan.


Hendrik pun langsung menghentikan kicauannya, lalu menjawabnya.


"Apaan Lo?" Ucap Hendrik.


"Sssst, jangan berisik? Kesini aja Lo liat?" Ucap Azam dengan nada pelan.


Hendrik mendirikan badannya dari kursi makan, lalu berjalan mendekati Azam yang sedang berdiri dipagar pembatas memperhatikan pria tersebut.


"Menurut Lo itu siapa?" Ucap Azam.


Suasana depan rumah Omah sangatlah gelap, mereka berdu hanya melihat warna bajunya saja.


"Gak tau. Tapi dari postur badannya, itu kayaknya Rudi deh blay." Ucap Hendrik.


"Kita turun aja blay?" Ucap Hendrik kembali.


"Gak usah bancet! Kita perhatikan saja dulu dari sini, lagi ngapain dia itu disitu." Ucap Azam.


Rudi tengah duduk dikursi besi depan rumah Omah, dengan posisi tangannya yang sedang menggenggam sesuatu, sambil sesekali dicium olehnya. Ya, Rudi memegang sejenis lembar kain lawon putih.

__ADS_1


"Horor amat itu bocah." Ucap Azam.


"Kenapa emangnya blay?" Tanya Hendrik yang agak rabun matanya kalau ditempat gelap.


"Lo gak liat apa? Itu dia lagi memegang dan mencium apaan?" Ucap Azam.


Hendrik memperhatikan Rudi dengan seksama dan serius. Hingga pada akhirnya Hendrik menyadari benda yang dipegang dan dicium beberapa kali oleh Rudi.


"Ah udah biasa itu blay." Ucap Hendrik santai.


"Sinti*ing Lo!" Ucap Azam.


"Jangan-jangan Lo juga sama sint**nya kayak dia?" Ucap Azam.


Hendrik terdiam.


"Apaan si Lo! Gw masih waras kali!" Ucap Hendrik.


"Terus mau diapaain itu orang?" Ucap Hendrik kembali.


"Kita kebawah. Kita tanya lagi ngapain disitu sendirian?" Ucap Azam.


"Kan gw tadi bilang kayak gitu?" Ucap Hendrik.


"Iya! Tapi tadi dia belum mengeluarkan benda itu jablay." Ucap Azam.


"Risi juga gw kalo ada orang disekitar gw make begituan." Azam berkata sambil berjalan menuju kearah tangga.


Seketika Hendrik terdiam dan terlihat gerogi.


Azam berjalan kembali kearah tangga.


"Heh! Mau ngapain Lo ke dia?" Hendrik langsung menarik tangannya dari belakang.


"Nanti juga Lo tau sendiri." Ucap Azam.


Mereka berdua segera menuruni tangga, keluar kosan dan ke depan rumahnya Omah.


"Rud, lagi ngapain Lo sendirian disini?" Azam berkata sambil berjalan mendekati Rudi.


Dengan sigapnya Rudi menyembunyikan benda yang terbungkus lawon putih tadi, dan tidak menjawab pertanyaannya Azam.


Azam berhenti dan berdiri disamping Rudi. Sementara Hendrik berjalan dibelakang Azam.


"Via kemana?" Tanya Azam sambil matanya melirik kesana-kemari mencari barang yang disembunyikan Rudi.


"Gak apa-apa kak. Ee, Via lagi keluar membeli makanan kak." Ucap Rudi terlihat gugup.


"Kita naik keatas aja Rud? Kita tunggu Via diatas. Gak baik malam-malam kayak gini duduk sendirian ditempat beginian?" Ucap Azam.


Hendrik hanya diam sambil melihat-lihat suasana halaman Rumah Omah yang memang begitu sangat sepi, gelap dan juga lumayan menyeramkan.


"Iya kak." Ucap Rudi.


"Ya udah nanti keatas ya Rud?" Ucap Azam.


Azam bersama Hendrik naik duluan keatas lalu mendaratkan bokong di kursi besi bersebelahan.

__ADS_1


Rudi menyusul mereka berdua keatas, lalu duduk dikursi makan. Selepas Rudi duduk, Azam segera berdiri kembali.


"Bentar ya Blay, Rud, Gw mau kebawah dulu? Ada yang ketinggalan dikamar mandi bawah." Ucap Azam sambil berdiri.


Azam berjalan menuju kearah tangga.


Rudi langsung menatap kearahnya yang sedang berjalan kearah tangga. Sepertinya Rudi memahami gerak-geriknya Azam, atau memang ada sesuatu yang berbisik kepadanya tujuannya turun kebawah? Entahlaaaah..


Azam segera mengecek kursi yang barusan diduduki Rudi, kursi besi yang berada didepan Rumahnya Omah. Azam tidak menemukan apa-apa. Azam kembali berjalan masuk ke kosan.


"Untung Arloji gw ada dikamar mandi." Azam berkata sambil berjalan mendekati mereka berdua, dan sambil menggunakan Arloji yang di ambil dari saku celananya sendiri.


Azam duduk kembali dikursi besi bersebelahan dengan Hendrik. Untungnya Hendrik juga mengajak Rudi mengobrol selama Azam meninggalkan kebawah.


"Kalo lagi sendirian di Kosan? Naik aja Rud? Gak usah malu-malu." Ucap Azam.


KREEEK.. Suara pintu gerbang kosan Omah sedang di buka.


Rudi langsung berdiri dan berjalan kearah pagar pembatas.


"Yank, aku disini?" Ucap Rudi kepada Via.


"Iya, nanti aku keatas yank." Ucap Via.


Azam bersama Hendrik hanya duduk melihat dan memperhatikan Rudi, sejauh mana hubungan mereka berdua saling sayang-sayangan. Via langsung masuk kekosan lalu segera menaiki tangga naik keatas, menemui mereka bertiga.


"Darimana Dek?" Ucap Hendrik kepada Via.


"Ini kak, habis beli makanan." Ucap Via sambil duduk dikursi makan bersebelahan dengan Rudi.


"Lain kali, kalo kalian sedang sendirian di Kosan dan kebetulan ada kita-kita diKosan? Naiklah main kesini Dek?" Ucap Azam kepada Via.


Azam tidak ingin menyindir secara langsung kepada Rudi, karena melihat gelagat Rudi yang lumayan aneh menurutnya.


"Iya Kak." Ucap Via.


"Ya udah sana kalo kalian mau makan? Kita berdua juga mau tidur." Ucap Azam.


"Iya Kak." Ucap Via.


Sementara Rudi hanya diam sambil sesekali matanya melirik kesekitar langit-langit atap kosan.


Setelah Via bersama Rudi pergi kebawah, Hendrik pun langsung bertanya.


"Aneh amat itu orang blay?" Ucap Hendrik.


"Sama. Gak jauh beda kayak Lo?" Ucap Azam.


"Si*lan Lo!" Ucap Hendrik.


"Hahaha, udah ah gw mau wudhu lagi. Mau wudhu lagi gak lo?" Azam berkata sambil berjalan kearah kamar mandi.


"Ngapain gw wudhu lagi? Orang gw udah Isya." Ucap Hendrik.


"Iya. Tapi Lo habis melihat sesuatu? Nanti demitnya ngintil ke Lo loh?" Azam menakut-nakuti Hendrik.


Hendrik pun langsung bergegas berdiri dan berjalan mengikutinya untuk mengambil air wudhu. Selepas mereka berwudhu, mereka berdua masuk dan tidur dikamarnya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2