
Semenjak aku melihat penampakkan Mahluk halus menyeramkan yang berada di atas genteng kamar mandi.
Setiap malam aku tidak bisa tidur, perasaanku merasa gelisah, merasa tidak nyaman berada di kosan Omah. Terlebih setelah aku mengingat kejadian demi kejadian aneh seperti secara beruntun dan seolah saling berkaitan.
Bayangan sosok kepala diatas genteng tersebut selalu terngiang di benakku, Ia tengah menatap sangat menyeramkan. Ya, meskipun mungkin menurutnya hanya sebatas menatap. Namun menurutku menyeramkan, karena baru kali ini aku melihatnya.
Akan tetapi, sebisa mungkin aku tetap menyebut dan mempercayai bahwa hantu maupun Jin itu tidak dapat berbuat lebih. Mereka hanya bisa menakut-nakuti.
Dalam kesendirianku pada malam itu, selain suasana kosan Omah yang begitu hening, sepi, senyap bersama dengan dua kalong mata berwarna merah. Entah ada apa di pojokkan tangga atas, di atas kamar mandi, di kamar kosong lantai bawah yang menghadap gang dan juga pohon mangga yang berada di depan halaman rumah Omah yang gelap.
Waktu menunjukkan jam sepuluh malam lebih, Memey sedang berada di perjalanan menuju pulang ke kosan Omah. Aku sendiri sedang merokok di atas kasur sambil terduduk menyender di tembok, dengan pintu kamar yang tertutup dan hordeng jendela yang terbuka.
Dikala santaiku tersebut, sebuah SMS Misterius tanpa nama masuk ke nomer hapeku: "Blay kemana lo? Koq gw gak ngeliat ada lo? Nina dan Hendrik sedang karokean merayakan ulang tahunnya Nina."
Aku mengabaikan dan tidak membalasnya. Aku pun menyikapi isi pesan tersebut, sebuah pesan yang tidak terlalu penting menurutku. Aku tidak merasa kaget jika Nina maupun Hendrik melakukan hal tersebut, karena mereka berdua tengah membenciku.
Memey sudah berada di depan portal gang, Ia mengambil hape dari tasnya dan mengubungiku Via Whatsapp.
"Kak, gw udah sampai di Portal." Whatsapp Memey.
"Tunggu di Warkop aja Mey." Whatsappku.
"Ok." Whatsapp Memey.
Aku segera berdiri dan membuka lalu mengunci pintu kamarku. Sejenak aku menatap ke arah ke kamar mandi, seketika aku merinding merasakan aura yang begitu seram. Sejenak aku menatap ke arah Pojokkan tangga. Akan tetapi aku menyikapinya hal biasa.
"Tap, tap, tap.." Aku segera turun dari tangga.
Suasana lantai bawah terlihat sedikit berbeda, seakan terlihat lumayan berasap dengan seluruh pintu kamar yang tertutup. Entah Via sedang menginap di rumah Rudi atau mungkin sedang berada di Rumah Aji keponakannya.
Aku sedikit berjalan cepat melewati kamar-kamar lantai bawah menuju ke arah pintu gerbang kosan Omah. Aku melirikkan mataku ke sebelah kiri, ke halaman rumah Omah, tidak ada siapapun disitu, namun berasa seperti ada yang sedang..
"Kreeek.." Aku membuka pintu gerbang kosan Omah. Aku menutupnya kembali sambil menatap ke arah lantai atas dan genteng kamar mandi lantai atas. Sangat berasa auranya, benar-benar sangat kuat membuat bulu-bulu di sekujur tubuhku merinding tiada henti. Sejenak aku menatap ke arah utara gang depan kosan Omah, begitu gelap.
Aku mulai berjalan cepat menuju portal gang. Terasa sangat sepi, sunyi dan gelap. Aku sedikit berjalan cepat melewati gedung sekolahan, kebun kosong dan juga pertigaan jalan. Aku berjalan lebih cepat melewati kebun kosong kembali dan melewati pertigaan kembali, aku mulai melewati pos hansip penjaga portal.
"Kemana Bang?" Ucap Hansip.
"Ke depan Pak." Ucapku.
Aku menerobos portal gang dan menyebrang masuk ke dalam warung kopi.
"Itu kak, udah gw pesenin." Ucap Memey sambil merokok dengan menangkringkan satu kaki kananannya ke kaki kirinya. Memey telah memesankan es kopi moccaccino.
__ADS_1
Aku duduk di sebelahnya.
"A, Milor pake nasi ya, telornya di ceplok aja a?" Ucapku kepada Dede si tukang warung kopi.
"Ok."
"Lo gak makan Mek?"
"Udah, Noh bekas gw kak." Bekas makan Indomienya di taruh di bawah kursi.
*Selesai makan, sekitar jam sebelasan malam*
"Ayo Mek, balik." Seketika aku terngiang dan terbayang sosok di atas genteng kamar mandi.
"Ok." Memey mulai berdiri.
Kita berjalan keluar dari warung. Kita mulai menyebrang jalan depan portal gang. Kita berdua berhenti di portal.
"Bentar Mey?" Ucapku.
Memey menungguku di pinggir portal. Aku berjalan ke Pos menemui hansip.
"Pak kalo malem kelilinglah ke depan kosan saya?" Pintaku pada Hansip.
"Bapak pasti tau ya?" Ucapku.
"Pokoknya saya gak berani."
"Ok deh, makasih Pak."
Aku berjalan kembali menemui Memey.
"Ayo Mey?" Ucapku.
"Kenapa Kak?"
"Gak papa Mey, habis ngasih rokok biar gak kedinginan Bapak Hansipnya."
Kita mulai melewati Pos hansip, pertigaan jalan, kebun kosong, pertigaan jalan, kebun kosong kembali dan gedung sekolahan. Kita mulai melewati rumah-rumah warga.
Merinding bulu kudukku. Memey berjalan cepat. Aku berada di sebelahnya.
Kita sudah berada di depan kosan Omah. Memey membuka pintu gerbang. Aku menatap ke atas kamar mandi depan kamarku.
__ADS_1
Memey sudah membuka pintu gerbangnya.
"Ayo Kak."
"Ok."
Memey telah menutup kembali pintu gerbang.
Sambil berjalan memasuki lorong, mataku sambil melirik ke arah halaman rumah Omah. Kita berjalan santai menaiki tangga. Memey memasuki kamarnya, aku duduk di kursi besi sambil menatap ke atap kamar mandi. Seketika semakin merinding dan terasa berat.
Memey keluar kembali dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku tetap memantaunya. Memey keluar dari kamar mandi dan duduk di kursi makan.
"Yang lain pada kemana Mey?" Ucapku.
"Gak tau kak." Ucap Memey.
Ada yang sedang menatap di pojokkan tangga. Kedua kalong bermata merah tengah menggantung dan seperti biasa, seolah mengintai dan menguping.
"Gimana lo udah dapet surat pindahnya Mey?"
"Belum Kak. Palingan 4 harian lagi kak."
*Sekitar Jam setengah satu malam.*
"Kreeek.." Pintu gerbang kosan Omah ada yang membuka.
Aku dan Memey segera melihatnya dari pagar pembatas. Via sama Aji memasuki kosan Omah.
"Belum tidur kak?" Ucap mereka berdua.
"Belum." Ucapku dan Memey.
Mereka berdua memasuki kamarnya Via.
"Kak, gw tidur ya?" Ucap Memey.
"Ok." Ucapku.
Memey masuk ke dalam kamarnya. Aku pun masuk ke dalam kamarku. Aku kembali duduk menyender ke tembok dengan keadaan pintu kamarku yang terkunci dan juga hordeng yang tertutup.
Dan alhamdulillah untuk malam itu, aku bisa tidur lebih cepat. Sekitar jam tiga pagi aku baru tertidur. Hanya saja aku mengingat perkataan hansip yang tidak berani untuk berkeliling di malam hari di gang kosan Omah.
Memang sih, jikalau mereka berkeliling, di sebelah utara, tepatnya di ujung gang kosan Omah yang sebelah utara, mereka harus melewati jalanan yang benar-benar sepi, gelap dan juga terdapat beberapa rumah yang kosong dengan halaman rumahnya yang lumayan besar. Atau mungkin sebenarnya mereka mengetahui asal usul didaerah sini. Entahlaaah..
__ADS_1