Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Bab 42


__ADS_3

Di pagi hari yang masih terasa dinginnya menusuk ke jantungku, aku baru saja memejamkan mataku sejenak untuk tidur.


Waktu menunjukkan Jam 03.15.


"Tok, tok, tok, Kaak, Kaaak." Suara berbisik sambil mengetuk pintu kamarku.


Aku memelekkan mataku yang baru saja ingin terpejam. Aku membangunkan badan dan membuka pintu kamarku untuk melihat siapa yang memanggilku dengan suara berbisik.


"Hmmm.. Jam berapa Mey?"


Eko duduk di kursi besi dengan posisi yang masih mengantuk dengan kedua tangannya yang memegang kursi besi.


"Mau jam setengah 4 Kak." Memey berbicara sambil melihat-lihat kebelakang, kearah pintu kamar Nina dan Hendrik.


"Yakin Lo mau berangkat sekarang?" Kalian berdua belum lama tidur loh.”


"Yakin Kak. Gak papa nanti tidur di Rest Area aja Kak." Ucap Memey berbisik.


"Gw mandi dulu ya Mey?"


"Gak usah Kak. Nanti kita mandi di Giri Tirta aja."


"Ok deh kalo gitu. Gw ganti baju dulu."


Lantas kita bertiga berjalan pelan dan santai menuju gedung sekolahan tempat Eko dan Memey menaruh mobilnya.


"Horeee!!" Memey terlihat senang.


Aku pun melihatnya merasa sangat senang, kalo melihat orang lain sedang senang. Terlebih dengan Memey, yang udah aku anggep adik sendiri.


"Gila Lo Mek!"


"Hahaha, akhirnya gw bisa kesana uga Kak?"


"Iye, iye!"


Kita bertiga berangkat menuju Giri Tirta.


*Di Jalan Raya.


"Kak, kita mampir ke tempat temen kita dulu ya?" Ucap Eko sambil menyetir mobilnya.


"Terserah Bapak Supir aja deh.." Ucapku meledek Eko.


Kita bertiga mampir sejenak ke daerah karawang, untuk melihat keadaan temannya mereka berdua, yang sedang sakit. Usai menengok dan memberi bingkisan kepada temannya, kita bertiga melanjutkan kembali perjalanan.


*Di Rest Area.


"Hoaaahh!" Eko menguap sambil merentangkan kedua tangannya.


"Bener kaaan, masih pada ngantuk?"

__ADS_1


"Gak papa Kakak bencooong."


Kita bertiga tidur sejenak di Rest Area tersebut. Sekitar jam setengah lima pagi, kita kembali melanjutkan perjalanan ke Resort Giri Tirta.


*Di Tol


*Di Jalan pedesaan dan pegunungan.


*Di Resort Giri Tirta.


Sekitar jam delapan pagi, kita telah berada di area Resort Giri Tirta.


Eko langsung memarkirkan mobilnya. Kita bertiga keluar dari mobil sambil merentangkan kedua tangan keatas.


“Heeeehaaaaahhh..” Kita menghirup sejuknya udara pagi pegunungan.


Dengan sigapnya, dua orang pemuda menghampiri kita bertiga.


“Mau masuk Om?” Ucap salah satu pemuda tersebut kepada Eko.


Kita bertiga mengabaikan dan hendak berjalan masuk ke loket.


“Om, om?” Pemuda tersebut mencegat dan menahan kita yang sedang berjalan menuju loket.


“Kenapa Bang?”


“Kalo mau masuk, bayarnya ke kita aja Om?”


“Emang berapa Bang?” Padahal Eko udah tau harga tiket masuk ke dalam Resort tersebut.


“Om, mau sekalian ambil penginapan atau tidak?”


“Masih di fikir-fikir Bang.” Ucap Eko.


Aku dan Memey hanya memperhatikan gerak-gerik kedua pemuda tersebut.


“Oh, kalo tidak mengambil penginapan mah, dapet potongan 10 ribu Om?.”


“Yakin tuh, kita harus bayar ke Abang?” Ucapku.


“Iya Bang. Nanti kita berdua yang antar kalian kedepan loketnya.”


“Ya udah Ok.” Ucap Eko.


Eko membayar tiket masuk tersebut kepada kedua pemuda tersebut dan kita bertiga diantar oleh kedua pemuda tersebut kedepan loket. Penjaga loket pun langsung memberikan dua tiket dan dua gelang saja. Meskipun begitu, kita bertiga tetap dikasih masuk. Mungkin, kedua pemuda tersebut sudah bekerja sama dengan pemilik maupun pengelola Resort tersebut.


Kita bertiga segera mencari tempat duduk untuk santai, kita taruh cemilan di Meja dan bergegas berenang di Kolam Renang Resort Giri Tirta. Suasana di Tempat tersebut, berkabut, berembun sangat dingin, dan juga tidak terlalu ramai. Sehingga membuat kita yang liburan lebih leluasa untuk menikmati pemandangan alam dari Resort tersebut.


Kita bertiga berenang-renang sambil sesekali saling mencipratkan air kebadan kita. Saling meledek-ledekkan dan juga foto selfie di Kolam Renang.


“Kak, kita berdua naik duluan ya?” Ucap Eko.

__ADS_1


“Iya.” Ucapku.


Eko dan Memey naik duluan dari Kolam Renang dan duduk bersantai dikursi sambil merokok dan juga menikmati hidangan makanan dan minuman serta cemilan.


Sedangkan aku, masih berenang kesana kemari. Aku sangat betah berenang di tempat tersebut, karena airnya tidak bau kaporit. Airnya sangat jernih dan aromanya khas air alami pegunungan. Sama seperti kalau aku sedang liburan di Kotaku sendiri.


Dikala aku yang sedang berenang sendirian tersebut, ada gerombolan mahasiswa yang sedang berenang. Salah satu mahasiswa tersebut berenang menghampiriku.


“Sendirian Bang? Teman-temannya pada kemana?” Ucap Mahasiswa tersebut.


“Iya, sendirian. Tuh temen-temen saya, lagi pada duduk.” Ucapku sedikit cuek sambil menatap kearah Eko dan Memey yang sedang duduk.


“Dari mana Bang?”


“Sedari tadi kita disini.” Ucapku.


Mahasiswa tersebut berenang kembali dan meninggalkanku.


Sebenarnya, Mahasiswa tampan ini sudah sejak tadi memperhatikanku berenang. Mungkin, karena aku berenangnya hanya memakai ****** ***** saja. Namun aku sengaja bersikap cuek, karena aku sedang tidak ingin membuka hatiku untuk seseorang.


Aku pun berenang kembali kesana kemari. Dikala aku yang sedang berenang tersebut, seketika langit mendadak sangat gelap, sangat berkabut dan juga kilatan petir bersama dengan suaranya yang menggelegar.


Seketika itu juga, tubuhku terasa keram, menggigil, bergetar, detak jantungku berdebar cepat, nafasku terasa sesak dan gigiku menggigit-gigit bibir. Dan hal tersebut, menurutku hal yang kurang wajar yang aku alami.


Aku segera naik dari Kolam Renang dan berjalan menghampiri Memey dan Eko. Aku duduk di depan mereka berdua.


“Heeeheehheeeh, heeehheehhh..” Aku duduk sambil menggigil, bergetar dan gigiku menggigit bibir.


Ekspresi Eko dan Memey terlihat merasa sangat khawatir dan cemas kepadaku.


“Kenapa Lo Kak?” Ucap mereka berdua dengan rasa kekhawatirannya.


Aku tidak menjawab, aku tetap merasakan rasa yang kurasakan tersebut. Serasa ingin pingsan aku dibuatnya.


“Gak papa Mek.” Ucapku sambil menggigil dan gigiku menggigit bibir.


“Sakit Lo Kak?” Ucap Memey.


“Enggak Mek.” Ucapku.


Seketika gemuruh angin sangat kencang, membuat area Resort sangat gelap, semakin dingin dan berkabut. Rintikan air gerimis pun turun dibarengi dengan kilatan dan suara petir yang semakin menggelegar.


Kita bertiga langsung ambil posisi berdiri dan berpindah di Pondok yang berada disebelah Kolam Renang tersebut.


Tak berapa lama, tubuhku telah stabil kembali. Aku berdiri didinding kaca Pondok tersebut, menatap indahnya pemandangan bukit pegunungan yang gelap.


Eko dan Memey tengah mengobrol.


Sementara di ujung pondok, mahasiswa tampan yang pernah bertanya kepadaku saat berenang, tengah menatap ke arahku. Aku tidak membalas tatapannya. Karena aku tidak ingin memberikan harapan kepada orang tersebut. “Pedenya aku.”


“Yah, aku tidak ingin membalas tatapannya. Karena kalau aku membalas tatapannya, aku yakin akan timbul hasrat yang lebih dalam di dalam hati Mahasiswa tampan tersebut.”

__ADS_1


__ADS_2