
Pada waktu itu Memey pulang malam. Seperti biasa Ia selalu chat atau menelponku terlebih dahulu. Sekitar jam setengah sebelas kurang, Memey sudah sampai di depan portal gang. Seperti biasa aku pun menjemputnya.
Suasana jalan gang sama seperti biasanya, gelap, sepi, hening, senyap dan mencekam dan suasanya lumayan dingin. Kini aku telah berada di depan portal menemui Memey.
"Mey, mau makan dulu gak?" Ucapku.
"Mau Kak." Ucap Memey.
"Ya udah makan Indomie aja Mey, di warung kopi langganan gw."
"Ok."
Aku dan Memey makan di Warkop yang berada di depan portal gang. Lebih tepatnya berada di seberang portal. Selepas makan kita pun berjalan kembali menuju kosan. Kita berjalan sambil sesekali menengok-nengok kesana kemari seperti biasanya.
Apalagi Memey, yang suka berjalan sedikit cepet kalo melewati kebun, gedung dan juga rumah kosong didaerah tersebut.
Sekitar jam sebelas malam, kita telah berada di Kosan Omah. Seperti biasa aku suka mondar-mandir di sekitaran pagar pembatas melihat-lihat ke bawah, melihat-lihat ke sekitar gang, lantai bawah dan juga ke depan halaman rumah Omah.
Tak disangka aku pun melihat kembali Rudi tengah duduk di kursi besi depan rumah Omah sendirian. Seperti biasanya juga di depan halaman Omah tersebut sangatlah gelap.
Aku melihat Rudi kali ini berbeda dari yang sebelumnya. Ia tengah berkicau dan mengomel-ngomel sendiri. Ia juga tidak sedang ngedumel sendirian. Ia ngedumel sambil menatap ke arah depan.
"Aku juga udah ngomong ke dia, aku gak tau harus bagaimana. Aku gak tau ini itu,." Ocehan Rudi.
Seketika aku terdiam, terhenti, bulu kuduk di sekujur tubuhku merinding tiada henti. Seketika itu juga aku terbengong, seolah tidak mempercayainya.
Ia tengah ngedumel bersama dengan yang membuatku sangat merinding dan terasa berat.
Kini aku tengah menatap dan tetap menatap ke arah Rudi sambil melihat dengan seksama sosok tersebut. Rudi memalingkan wajahnya ke arahku seolah memang ada yang berbisik kepadanya. Aku segera memundurkan langkahku, aku segera berjalan pelan mendekati Memey yang sedang merokok.
Sejenak aku terduduk dan terdiam dan semakin merinding. Aku berusaha untuk bersikap biasa saja di depan Memey.
"Mey, ke bawah yuk?" Ucapku.
"Kemana Kak?" Ucap Memey.
"Ke kamar Via." Ucapku.
"Ya udah hayu." Ucap Memey.
Aku dan Memey segera turun menuju ke kamarnya Via. Pintu kamar Via tertutup dan seluruh pintu kamar yang berada di lantai bawah tertutup. Suasana kosan sangatlah sepi seperti biasanya.
"Tok, tok, tok,, Dek, dek." Ucapku sambil mengetuk pintu kamarnya Via.
Memey selalu berada di sebelahku. Agak sedikit lama juga Via tidak membuka pintu kamarnya.
"Dek.." Ucapku kembali.
Via membuka pintu kamarnya dengan kondisi matanya yang berair.
"Kenapa Kak?" Ucapnya dengan nada sedih sambil mengusap air matanya yang masih menetes.
"Rudi kemana?" Aku berpura-pura bertanya.
"Gak tau tuh, didepan kayaknya Kak." Mendengar nada dan caranya Ia berbicara sepertinya habis berantem kecil.
__ADS_1
"Gw liat pacar lo lagi ngomel-ngomel sendiri." Ucapku sambil terus merinding.
"Biarin aja kak." Ucap Via acuh.
"Gw bukan sekali ini loh dek, ngeliat dia selalu duduk disitu?" ucapku."
"Lo gak merasa aneh apa?" Aku tidak ingin mengucapkannya secara langsung.
"Udah biasa kak dia mah emang suka disitu." Ucapnya santai.
"Ini malem jum'at loh Dek?" Ucapku semakin merinding karena terngiang di ingatanku Ia tengah berhadapan dengan sosok tersebut.
"Udah hayo kita samperin aja Dek?"
"Ya udah hayu Kak."
Lantas kita bertiga langsung melenggangkan kaki ke depan rumah Omah. Sengaja aku menyuruh Via untuk di depan karena dia adalah ceweknya.
Via langsung terduduk nongkrong di hadapan Rudi. Via menangis dan meminta maaf kepada Rudi.
Aku dan Memey hanya berdiri di sampingnya. Aku melihat-lihat ke samping halaman rumah Omah, karena sosok tersebut telah tiada. Aku melihat kearah pohon pisang yang berada didekat kamar mandi, melihat kearah pohon mangga yang berada di halaman rumah Omah. Memey hanya melihat mereka berdua bernostalgia.
"Hayu Yank masuk?" Pinta Via ke Rudi.
"Maafin aku Yank." Ucap Rudi sambil mengeluarkan air matanya.
Seketika aku pun meneteskan air mata, meskipun sejatinya aku tidak mengetahui permasalahan mereka berdua.
"Masuk yuk?" Ucapku kepada mereka.
Mereka telah berdiri dan berjalan masuk kedalam. Aku dan Memey berjalan di belakangnya sambil menengok-nengok ke sekeliling depan rumah Omah. Aku tidak ingin bercerita ke Memey, mengingat riwayatnya yang dulu. Ia akan sangat sensitif dan sangat jeri, jika di kosan tersebut ada sosok yang selalu menatapnya.
Kita berdua duduk kembali dan mengobrol saling bertatapan. Dan pada malam itu, aku memperbincangkan pengalamanku sewaktu kecil.
Aku bersama Memey berbincang, Hingga jam satuan malam, saling bertatapan dan juga dengan suara berbisik. Dengan posisi duduknya Memey yang sedikit menunduk menatap ke arahku dan sangat serius.
"Mey tau gak lo?" Ucapku dengan nada berbisik kepadanya.
"Apaan lo Kak?
"Gw pengen bercerita mengenai pengalaman sewaktu kecil gw ke lo, tapi sedikit horor?" Ucapku ke Memey.
Alasan aku bercerita ini, agar Memey terbiasa dan tidak merasa takut.
"Ah lo Kak! Bikin gw takut aja."
"Kleberrrrrrrrr...." Sosok dua kalong besar bermata merah masuk dan menggantung di langit-langit kosan.
Seketika kita berdua langsung melihat dan menatap kearah dua kalong tersebut dan terihat lumayan besar, sekepal tangan dengan kedua matanya yang merah. Seketika itu juga aku merinding.
"Tuh Mey? Kalo udah begini? Gw gak tau deh bakalan ada apa yang akan terjadi."
"Emangnya kenapa lo Kak?"
"Menurut mitos? Kalong itu salah satu tunggangannya Jin/Setan Mey."
__ADS_1
"Lo bisa liat tuh matanya?" Kita berdua masih menatap ke arahnya.
Seketika Memey pun terlihat tidak centil dan ganjen.
"Mudah-mudahan gak ada apa-apa Mey?" Ucapku.
"Kita kembali ke topik aja Mey. Masih mau dengerin gak lu pengalaman kecil gw?" Ucapku ke Memey.
Kita berdua kembali saling bertatapan dan mengabaikan kedua kalong tersebut. Sementara kedua kalong tersebut seperti sedang menguping, mengintai menatap ke arah kita berdua.
"Iya Kak." Ucap Memey dengan nada berbisik dan menunduk ke arahku yang berada di depannya.
"Jadi, sewaktu kecil itu, gw sering mendengarkan tangisan, tertawa, suara lirih dan suara ular raksasa yang sedang berjalan, bahkan pernah tidur sejajar dengan ular berwarna-warni yang menghilang dengan sendirinya." Ucapku.
Memey terlihat sangat fokus dan tidak berani menambahkan kata-kata.
"Gw pernah tinggal di rumah sendirian Mey selama dua tahun. Di waktu itu juga, gw banyak mendengarkan sesuatu."
"Kalo nyai kunti? Setiap orang yang masih melek di malam hari? Jika ia tertawa pasti orang lain akan mendengarnya."
"Akan tetapi suara yang paling menyeramkan adalah suara ular raksasa yang bergerak dan berhenti di depan kamar gw Mey?"
"Kejadian itu tepatnya berada diatas jam dua belas malam, Gw sedang tertidur di kamar seorang diri dengan keadaan pintu kamar terkunci. Dari kecil gw Insomnia Mey. Jarang sekali tidur di sore hari."
"Dikala gw yang lagi tiduran tersebut. Seketika jejak langkah ular raksasa menapak, menggelosor sangat pelan dari arah belakang."
"Sreeeeek,, kreseeeek, Kreseeeek, ngooooos, ngoooos, ngoooos." Aku memperagakan denngan suara berbisikku. Jejak suara ular raksasa yang sedang menggelosor bersama dengan dengusannya yang sangat keras. Terdengar benar-benar sangat besar bersama dengan suara dengusan dan langkahnya seperti yang sedang menggelosor diatas dedaunan."
"Ular raksasa tersebut terhenti tepat berada didepan kamar gw Mey. Suara dengusannya benar-benar sangat besar. Gw langsung menutupi tubuh gw dengan selimut, seketika itu keringet dingin gw mengucur dan gw terus menutupi tubuh dengan selimut sambil meringkuk."
"Kalo ular berwarna-warni Mey? Tepatnya pas setelah gw pulang sekolah SMP. Sepulang dari sekolah, sekitar jam setengah 1 siang, gw merasa sangat capek dan langsung tidur. Sekitar jam 5 sorean gw baru terbangun dengan kondisi di sebelah gw ada seekor ular dan ular tersebut seolah tidur sejajar dengan gw. Lurus dan berwarna-warni. Pada saat itu juga gw langsung lari dan nyariin emak gw. Gw ngomong ke emak gw kalo ada ular di kasur gw, emak gw langsung bawa sapu lidi dan ingin mengusir ular tersebut. Akan tetapi ularnya tidak ada. Sampai sekarang pun warnanya masih terngiang di benak gw dan ukurannya seukuran badan gw di umur yang segitu, kalo untuk besarnya tidak terlalu besar."
"Kalo suara aki-aki di dapur rumah gw Mey, suaranya dehem. Ehem, ehem.."
Memey tetap dengan kondisi yang menunduk dan tidak berani menengok kesana-kemari.
"Dan kalo suara kuntilanak? Ihihihiiii.. Ihihiiiiihihiii.. Ihihiiihiii.." Kebetulan aku bisa memperagakan suara mirip seperti nyai kunti.
Disaat yang bersamaan seketika suasana kosan sangat hening dan kedua kupingku serasa seperti ada yang menutupi.
"Ihihihiiii.. Ihihiiiiihihiii.. Ihihiiihiii.." Suara kuntilanak asli menyeru, meniru gerakan irama yang barusan aku peragakan ke Memey.
Kita berdua langsung terdiam dan saling bertatapan sejenak. Sekitar dua menit kita menunggu, namun suaranya hanya cukup mengikuti iramaku yang barusan.
"Lo denger gak kak?" Memey berbisik kepadaku.
"Denger Mey. Kirain gw, gw doang yang denger."
"Suaranya ngikutin gw ya Mey?"
"Iya Kak." Ucap Memey.
Suaranya dari arah pagar pembatas, sangat jelas dan lirih seolah ada angin yang membawa suara tersebut. Seketika kita berdua memegang leher.
Memey langsung berdiri. Aku pun menemaninya di dalam kamar. Aku tutup pintu kamar dan merokok, Memey langsung tertidur.
__ADS_1
Sekitar jam setengah duaan, Nina dan Hendrik baru pulang.