
...Malam harinya, sekitar jam sebelas malam. Memey dan Nina baru pulang dari kerjaannya....
"Tap, tap, tap," Jejak langkah mereka berdua menaiki tangga.
Aku segera keluar dan duduk di kursi besi. Memey segera duduk di kursi besi menemaniku. Sementara Nina langsung masuk ke dalam kamarnya Hendrik.
Memey menyalakan rokoknya. Aku berjalan mondar-mandir kesana kemari di sekitaran pagar pembatas. Aku merasa gelisah, merasa sudah tidak nyaman. Aku juga merasa antara ingin mengatakan atau tidak kepada Memey.
Aku terus mondar-mandir di sekitaran pagar pembatas tersebut sambil melihat-lihat ke bawah seperti biasanya. Tanpa di sangka, seketika bulu kudukku langsung merinding drastis ketika aku melewati lorong antara kamarku dengan kamar mandi.
Sepintas aku melihat, namun aku tidak berani untuk menatapnya. Akan tetapi sangat jelas di lirikkan mataku tersebut. Nampak jelas sosok mahluk kepala, laki-laki, berbulu hitam, bertaring berada diatas genteng kamar mandi. Ia menatap ke arah bawah, ke arahku yang sedang berjalan di lorong tersebut.
Aku terhenti sejenak dan segera membalikkan badanku, lalu duduk di sebelah Memey.
Tak berapa lama Nina pun keluar dari kamar Hendrik, Sejenak Ia menatapku dengan tatapan sinis, lalu setelahnya Ia memasuki ke dalam kamarnya.
Memey tidak melihatnya, karena Memey sedang merokok sambil menatap ke arahku, ke arah depan (pagar pembatas).
"Mey, udah makan belum?" Ucapku.
"Udah Kak. Tapi gw lagi pengen ngopi sama beli rokok. Rokok gw habis." Ucap Memey.
"Ya udah hayo kita ke Warkop." Ucapku.
Lantas aku dan Memey pergi berdiri, berjalan dan ke warung kopi. Saat kita berdua sedang berjalan ke arah portal gang, sempat ada kata ingin aku katakan kepadanya.
"Mey."
"Iya Kak." Ucapnya.
"Gak papa, gak jadi Mey." Ucapku.
"Ah, lo kak." Ucap Memey.
Aku merasa bingung ingin mengatakan sesuatu hal yang terjadi kepada Hendrik tersebut. Akan tetapi aku tidak jadi mengatakannya kepada Memey. Tentunya jika aku berkata padanya, akan timbul berbagai macam praduga dan juga spekulasi pada dirinya.
Aku sengaja tidak mengatakannya, agar pertemanan Memey dengan mereka berdua tetap terjalin dengan baik, karena sudah barang tentu Nina semakin terlihat karakternya kepadaku. Aku tidak ingin merusak pertemanan mereka bertiga hanya dikarenakan hal tersebut. Yah, jika aku mengatakan bahwa Hendrik menggunakkan hal tersebut tentunya Memey akan segera meminta pindah dari tempat tersebut.
Aku sudah memperkirakan Nina akan pasti ikut menjauhiku, terlebih setiap aku memberikan saran kepadanya, Hendrik selalu tidak setuju dengan pendapatku, Hendrik selalu membela Nina bahwa sikap acuh Nina kepada orang lain tersebut suatu sikap yang biasa-biasa saja.
__ADS_1
Namun tak di sangka, ternyata selama ini Memey pun meminta untuk di pindahkan ke cabang yang lain ke kantornya. Memey sudah merasa tidak betah harus bekerja di Mall yang di sekelilingnya tersebut memiliki rasa kebencian dan selalu berbuat gibah.
Di Warung Kopi.
Kita berdua berdua berbincang sambil meminum es kopi moccaccino dan juga sambil merokok.
"Kak, minggu depan gw di pindahin loh?" Ucap Memey.
"Minta di rolling kemana lo Mek?" Ucapku.
"Di daerah selatan." Ucap Memey.
Kebetulan daerah tersebut adalah daerah kerjaan lamaku sebelum bekerja di Cosmetike.
"Mantap. Lo pastinya disitu akan bertemu dengan orang-orang berkelas Mey. Bukan hanya customernya yang berkelas, tapi juga para pekerjanya." Ucapku.
"Berkelas gimana kak?" Ucap Memey.
"Iya berkelas. Orangnya ramah-ramah, cara berbicaranya juga sangat terjaga. Pokoknya sangat cocoklah untuk lo." Ucapku.
"Jadi gak sabar gw kak, pengen cepet-cepet di pindahin kesana." Ucap Memey.
"Iya Kak. Gw usahain akan tetap setia sama Eko (meskipun sebenarnya Ia tengah masih berantem dengan Eko)." Ucap Memey.
"Eh Kak!" Ucap Memey.
"Iya Mey?" Ucapku.
Memey terlihat ingin mengatakan sesuatu dengan ekspresi wajah sedikit melamun sambil merokok.
"Mau ngomong apaan lo Mek?" Ucapku.
"Gak ah gak jadi Kak."
Memey ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi Ia berfikir pasti omongannya tersebut tidak akan di dengarkan olehku.
"Gak jelas lo Mek!" Ucapku meledeknya.
"Dasar lo kakak bencong!" Ucap Memey.
__ADS_1
"Bodo amaaaat.. Hahaha."
"Berarti kalo gw disana? Gw bisa ngelancarin bahasa brithis gw donk Kak?"
"Yupz, lo bisa ngelancarin tuh british lo disitu. Biar lo cepetan jadi pramugari." Ucapku yang selalu mendukungnya, karena Memey ingin sekali menjadi Pramugari Garuda Indonesia.
"Tapi kalo lo disana? Pastinya lo juga harus pindah tempat tinggal ke daerah sana Mey." Ucapku.
"Belum tau gw kak masalah itu." Ucap Memey.
"Iya lah lo harus pindah. Ngapain lo tinggal disini." Ucapku.
Di samping aku berbicara tersebut, aku secara diam-diam nyambil mengirimkan whatsapp kepada temanku yang berada di kampung. Aku meminta kepada temanku yang di kampung untuk meminta formulir dan brosur kampus di daerahku.
"Nanti gw bakalan pisah donk sama lo Kak? Kalo gw pindah?" Ucap Memey.
"Iya, tapi kalo masih satu kota mah gampang Mey. Masih bisa ketemuan." Ucapku.
"Eh Mek, kenapa sih lo kalo pulang malem minta di jemputnya sama gw? Gak sama Hendrik aja?" Ucapku.
Aku berkata seperti itu, biar Memey terbiasa kalo suatu saat aku sudah tidak berada disitu.
"Gak kak. Lo tau sendirikan dia kayak apa. Gw gak berani kak, ngeri gw kalo harus meminta tolong ke dia." Memey.
"Oh gitu alasannya toh?"
"Iya kakak bencooong.."
Memey ngeri melihat sifatnya Hendrik yang suka ngegas dan juga marah-marah.
"Ya udah yok balik?" Ucapku karena kita telah selesai minum es kopi 2 gelas dan juga merokok beberapa batang di warung kopi tersebut.
Semenjak malam itu, jam tidurku selalu tidur di atas jam 4 pagi. Di hari itu juga dua sosok kelelawar bermata merah selalu datang di atas jam 9 malam.
Semenjak hari itu juga Nina bersikap acuh kepadaku, seolah orang yang tidak dikenal denganku. Ya, aku tidak pernah meminta Ia membalas kebaikan kepadaku,aku juga tidak pernah mengungkit sesuatu hal yang sudah aku lakukan kepadanya. Ia melupakan siapa orang yang memperjuangkan dirinya untuk tetap masih bekerja dan bertahan di Kota Perantauan saat pertama kalinya.
Sakit memang, akan tetapi aku tetap sabar untuk menghadapinya. Karena hal tersebut sudah aku lakukan kepada orang, sebelum aku melakukan hal yang sama seperti kepada Nina.
Berbeda dengan Memey, meskipun dirinya tidak menyukai mereka. Sebisa mungkin Ia tetap menutupinya. Begitu pun denganku, menyikapi Nina yang seperti itu, aku menanggapinya sesuatu hal yang biasa dan sudah aku perkirakan.
__ADS_1
Semenjak di hari itu, kita berempat tinggal dalam satu atap, namun seperti memiliki kubu masing-masing. Yang mana, Nina selalu bersama dengan Hendrik, Memey juga selalu bersama denganku.