Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Bab 38


__ADS_3

Waktu menunjukkan jam sekitar Pukul 17.17, Terlihat Nina sedang berjalan menuju pulang kerja ke Kosan Omah.


"Nanana..." Suara nyanyian Nina sambil sedikit berlari menaiki tangga.


Nina masuk kedalam kamarnya. Nina mengganti pakaian kerjanya menjadi pakaian santai. Nina membuka pintu kamar sambil membawa pakaian kotornya ke arah kamar mandi. Nina merendam pakaiannya didepan kamar mandi dan tidak langsung mencucinya.


Nina masuk kembali kedalam kamarnya. Nina tiduran sambil mendengarkan musik. Tak terasa Nina pun tertidur sebelum maghrib. Sekitar jam delapan malam, Nina baru terbangun dari tidurnya.


“Duh, laper banget nih perut?" Nina berkata sambil duduk dan memegang perut langsingnya.


"Mereka bertiga juga masih lama lagi pulangnya?",


“Coba deh nyari makanan yang ada didepan saja.."


Nina mendirikan badannya. Nina membuka lalu memngunci pintu kamarnya kembali. Nina berjalan menuruni tangga lalu berjalan keluar dari kosan Omah menuju ke Jalan dekat portal gang perumahan.


Nina pun akhirnya menemukan tukang bubur ayam yang sedang berkeliling di Jalan dekat portal gang perumahan.


"Bang, satu ya bang? Pake sate telor dan sate hati ayam?" Ucap Nina.


"Iya Nenk.” Ucap Tukang Bubur.


"Ini Nenk? Tukang bubur memberikan bubur ayam kepada Nina.


"Ini Bang?" Nina membayar bubur ayam.


"Terima kasih Nenk?" Ucap Tukang Bubur.


"Sama-sama Bang." Ucap Nina.


Setelah itu Nina segera berjalan kembali menuju kekosan Omah.


Kreeek, kreeeek.. Pintu gerbang kosan Omah dibuka lalu ditutup kembali oleh Nina.


“Hihiiiihiiiihiiiiiihiiiiiiiii..” Terdengar suara lirih sosok kuntilanak.


Nina langsung terdiam. Nina menghentikan langkahnya disamping kamar mandi lantai bawah.


“Hiihiiihiiiiiihiiiiiiii..” Suara lirih kembali muncul.


Nina menengok-nengok kesamping dan kebelakang.


“Hihiiiiihiiiiihiiiiiiiii..”

__ADS_1


Nina segera berlari masuk kedalam kosan lalu menaiki tangga. Nina lansung masuk dan mengunci pintu kamarnya. Nina pun langsung menyantap bubur ayam didalam kamarnya. Setelah memakan bubur, Nina keluar kembali lau berjalan ke araj kamar mandi ingin mencuci pakaiannya yang telah direndam disore tadi.


“Cekkk, cekk, cekkk..” Suara cucian yang sedang dicuci Nina.


“IHihihihiiiiiiii.. Hihiiiiihiiiiiihiiiii..” Suara lirih kembali muncul.


Nina langsung terdiam. Tangannya langsung memegang lehernya yang merinding. Nina berdiri? menengok dan melihat kearah sumber tersebut berada.


“Hihihiiiiihiiiiiihiiiii..”


Semakin merinding dan terdiam Nina melihatnya. Nampak terlihat jelas sosok kuntilanak dimatanya sedang berayunan dan menatap kearahnya diatas pohon mangga yang berada didepan halaman rumah Omah.


“Aaaaaaaa..Happ!” Nina teriak menjerit dan langsung menutup mulut dengan tangan kanannya semdiri.


Tubuh Nina gemetar dan meneteskan air mata. Matanya melirik kesana-kemari tanpa menggerakkan badannya sama sekali. terdiam, lalu berlari kedalam kamarnya.


Nina berjalan cepat menuju ke arah kamar lalu mengunci pintu kamarnya. Nina menangis pelan dengan posisi kedua tangannya memeluk dengkulnya yang ditekuk.


“Hihiihihiiiiiiiii...” Suara lirih tersebut seakan berada didepan pintu kamarnya.


“Hukhukkkkhukkkhukkk.. Pergiii! Pergiii!” Nina menangis dan teriak bersama dengan rasa ketakutannya.


Sekitar Jam 22.37, Hendrik baru menaiki tangga kosan Omah. Nina mendengar pijakan langkah kaki sedang menaiki tangga. Nina segera membuka pintu kamarnya.


“Kenapa Lo?” Tanya Hendrik.


“Tadi gw liat Kuntilanak kaak..” Ucap Nina dengan nada suara sangat pelan bersama matanya meliririk kesana-kemari melihat ke setiap sudut.


"Ya udah Lo tiduran dikamar gw aja." Ucap Hendrik.


Nina pun masuk kedalam kamarnya Hendrik, lalu langsung meringkukkan badannya didalam kamarnya Hendrik.


Sejenak Hendrik keluar dari kamarnya. Hendrik membersihkan badannya dikamar mandi lalu setelahnya itu, Hendrik masuk kembali ke dalam kamar menemani Nina didalam kamarnya.


Sekitar Jam setengah dua belas malam, Azam, Mey dan Eko baru membuka dan menutup pintu gerbamg Kosan Omah. Mereka bertiga berjalan menaiki tangga lalu menaruh barang didalam kamarnya masing-masing.


Mereka bertiga keluar kembali lalu mendaratkan bokongnya di kursi. Mey duduk dikursi makan sambil merokok. Eko duduk di Kursi besi ujung dekat meja makan sambil bertatapan dengan Mey. Sedangkan Azan duduk dikursi besi ujung dekat cermin. Mereka bertiga mengobrol sambil merokok.


"Mey, Rokok Lo masih ada?" Ucap Azam.


"Masih kak." Memey menyodorkan bungkus Mild-nya.


Sejenak Azam berdiri lalu mengambil rokoknya Memey pun menyambung kembali rokokku sambil bersenda gurau dengan Eko dan Mey.

__ADS_1


CKLEK! Terdengar pintu kamarnya Hendrik terbuka. Hendrik berdiri keluar dari kamar lalu berdiri di depan pintu kamarnya.


"Dari mana Lo?" Tanya Hendrik ngegas dan terlihat marah kepada Azam.


Seketika Eko dan Mey langsung terdiam.


"Baru pulang kerja lah blay." Jawab Azam


"Dasar gak tau diri Lo!" Celetuk Hendrik.


Sejenak Azam terdiam. Azam tidak ingin membalas ucapannya karena takut akan memancing keadaan yang semakin memanas jika Ia meladeni Hendrik.


"Bayar hutang Lo?" Hendrik menagih hutang bersama dengan menagih bunganya kepada Azam.


"Iya, nanti gw bayar ya blay setelah pas gajian?" Ucap Azam.


"Gak! Gw butuh sekarang!" Ucap Hendrik.


Azam terdiam jemali. Ia menyadari tujuannya Hendrik tersebut ingin mempermalukannya didepan Eko dan Mey. Dan hal tersebut sudah biasa yang di lakukan oleh Hendrik. Setiap kali Azam sedang berkumpul dengan teman-teman yang lainnya, Hendrik selalu melakukan hal yang sama, menceritakan kalau Azam hanyalah orang yang selalu membebaninya.


Azam sangat memahami perubahan sifat Hendrik yang seperti itu. Hendrik selalu ingin menjatuhkan harga dirinya Azam dan melakukan hal yang sama, ketika Ia sedang bersama dengan teman-teman yang lainnya. Akan tetapi jika tidak ada orang, Hendrik bersikap biasa saja kepadanya.


Eko dan Mey pun terlihat biasa saja dan tidak berani untuk ikut campur. Mungkin Eko dan Mey juga memandang hal yang biasa terjadi dalam sebuah pertemanan, akan selalu ada bumbu pertengkaran.


"Gila Lo Ndrik?" Ucap Azam.


"Braggggg!!!" Hendrik masuk kedalam kamarnya sambil menutup pintunya dengan sangat keras.


"Kak, kita masuk kedalam kamar dulu ya?" Ucap Mey bersama Eko sambil menatap kearah Azam.


"Oh iya Mey, Ko." Ucap Azam.


Eko dan Mey masuk kedalam kamarnya. Azam berdiri lalu mencuci muka dan masuk kedalam kamarnya. Azam kembali melanjutkan merokoknya didalam kamarnya sambil duduk menyender di ke tembok.


"Hheeeeheeeheeee...", "Heheeeeheeeeheee" Suara lirih rintihan kuntilanak sedang menangis.


Suaranya sangat lirih dan seolah tidak jauh dari kamarnya Azam. Azam pun langsung menghentikan sejenak kegiatan merokoknya. Azam berdiri lalu mengintip kearah luar dari hordeng kamarnya.


Seketika bulu kuduk disekujur tubuhnya naik merinding. Nampak terlihat sosok perempuan (kuntilanak) tengah duduk dikursi besi, dengan posisi duduk menunduk, rambutnya menutupi seluruh wajahnya dan sedang merintih menangis.


Entah hanya Azam saja yang mendengarnya, karena Azam sendirian yang masih melek dimalam itu. Azam menutup jendela kamarnya kembali secara pelan-pelan. Azam duduk kembali diatas kasur dan melanjutkan merokok.


Setelah beberapa saat kemudian, suara rintihan kuntilanak tadi menghilang. Azam pun mengintipnya kembali. Secara perlahan Azam membuka hordeng jendela kamarnya dan memang sudah tidak ada sosok kuntilanak tersebut.

__ADS_1


__ADS_2