
Waktu menunjukkan jam dua sore.
"Blay, anter yuk?" Ucap Hendrik dengan nada sedikit kalem karena baru baikkan.
"Kemana blay?" Ucapku.
"Ambil buku laporan." Ucap Hendrik.
"Ok, gw ganti baju dulu." Ucapku.
Selepas dari pada itu, aku mengantarkan Hendrik mengambil buku laporannya yang ada di Counter, di Mall yang sama dengan Nina dan juga Memey.
*Di Depan Mall*
"Blay tungguin dulu ya?" Ucap Hendrik.
"Ok." Aku menunggunya di depan Mall, lebih tepatnya di pinggir jalan raya. Aku menunggu di pinggir jalan raya bersama dengan motornya.
Tak berapa lama kemudian, Hendrik telah keluar kembali bersama dengan membawa buku laporannya.
"Makan dulu enak kali blay?" Ucapku.
"Mau makan dimana lo?" Ucap Hendrik.
"Nasi uduk ajalah yang deket pasar." Ucapku.
"Iye." Ucap Hendrik.
Lantas kita meluncur ke Nasi uduk. Setelah makannya selesai, kita pun kembali lagi ke kosan Omah.
"Tong, tong, tong, Allah hu akbar2x.. Tap, tap,tap.." Tepat Ashar kita menaiki tangga.
"Blay, gw ke kamar ya?" Ucapku sambil berjalan ke arah kamarku.
"Iye." Ucap Hendrik sambil berjalan ke arah pintu kamarnya.
Aku masuk ke dalam kamar meminum air mineral yang aku taruh diatas lemari.
"Cklek, kreeeek." Hendrik membuka pintu kamarnya.
Seketika Ia terdiam, merinding, terhenti dan sama sekali tidak mau bergerak. Ia terbengong dan menghirup aroma yang di ciumnya. Terasa busuk, sangat busuk, lebih busuk dari yang sebelumnya.
"Owk, owk, owk.." Hendrik mual-mual ingin muntah.
"Blaaaaay.!!" Seketika Ia teriak memanggilku dari dalam kamarnya.
Aku pun langsung keluar dari kamar lalu berlari dan berdiri di depan pintu kamarnya Hendrik.
"Sini blay?" Hendrik menyuruhku untuk masuk ke dalam kamarnya.
Aku pun masuk ke dalam kamarnya.
"Seg!!!" Aromanya benar-benar sangat busuk, sangat menyengat dan melebihi dari yang sebelumnya, dan seketika itu juga tubuhku merinding drastis.
__ADS_1
"Lo! Lo! Gw! Gw!" Reflek aku pun berteriak seperti itu dengan kondisi merinding drastis tersebut.
Wallahu a'lam, aroma tersebut langsung pergi menghilang begitu saja. Seolah mengerti perkataan manusia.
Aku langsung keluar dari kamarnya lalu duduk di kursi besi. Hendrik pun mengikutiku.
"Aroma tadi semenjak kapan blay?" Ucapku.
"Pas gw baru masuk ke kamar, tidak berapa lama setelah gw memasuki kedalam kamar blay." Ucap Hendrik.
"Gw yakin itu bukan bau kloset blay. Bau kloset gak bakalan ngerti bahasa manusia blay." Ucapku.
Hendrik terdiam.
"Ya udah blay, gw mau istirahat dulu. Capek gw."
Didalam Kamar, aku beberapa kali berucap:
"Bau ini kedua kalinya dan benar-benar sangat busuk mengikuti lo berada."
"Jangan-jangan selama lo diemin gw juga, sebenernya lo sering nyium beginian?"
*
*
*
*Sehabis Maghrib.*
Hendrik sedang menggosok bajunya.
"Blay, lo masih nyimpen rambut yang dulu pernah lo temuin di tukang kupat tahu?" Ucapku dengan nada santai dan pelan.
"Masih." Ucap Hendrik dengan nada santai.
"Coba deh liat. Gw mau ngetes." Ucapku.
Hendrik segera mencari rambut tersebut didalam dompetnya. Aku segera mencari piring kecil, lalu masuk kembali dan mengunci pintu kamarnya.
Hendrik mengeluarkan kedua helai rambut tersebut dari dalam dompetnya.
"Ini blay?" Hendrik memberikan rambut tersebut.
Aku menerimanya dan langsung mengetesnya.
Sekian menit kemudian.
"Lo liat deh blay? Masih hidup loh?" Ucapku dengan nada pelan dan serius sambil menatap ke kedua rambut tersebut.
Hendrik terdiam melihat pergerakkan kedua helai rambut tersebut. Yang mana, kedua ujung rambut tersebut saling mendekat.
"Iiiiih." Hendrik terlihat menciut dengan posisi duduk sedikit membungkukkan badannya ke belakang dengan dagunya yang ditempelkan ke dengkulnya yang ditekuk, melihat kedua helai rambut tersebut terus bergerak, bersentuhan dan juga mengelinting menjadi satu.
__ADS_1
"Kalo masih hidup gini blay? Berarti barang ini masih bisa di pake blay. Tapi gw gak tau jenis rambutnya ini rambut apaan. Yang jelas, ini tuh sejenis rambut penglaris, yang di ambil dari salah satu rambutnya setan. Dan tata-rata, rambut yang digunakannya adalah rambut kuntilanak." Ucapku dengan nada kalem, pelan dan serius.
"Lo udah nanya belum ke orang lo? Ini rambut apaan?" Ucapku kembali.
Hendrik menggelengkan kepalanya dengan dagunya yang masih di dengkul.
"Gw cuma nyimpen dan selalu ngebawa itu rambut di dompet gw doang blay." Ucap Hendrik dengan nada yang sangat pelan.
"Gila, lo. Ini punya orang loh, jangan maen sembarangan kalo gak tau fungsinya." Ucapku dengan nada kalem serius.
"Kalo lo gak percaya ini salah satu rambut setan? Lo nanti bisa nanya ke orang lo?" Ucapku kembali.
Hendrik terdiam tanpa kata, matanya memerah dengan posisi dagu yang masih diletakkan di atas dengkulnya menatap ke arah rambut tersebut.
"Ya udah deh kalo gitu. Ini lo simpen? Nanti lo tanya aja ke orang lo? Biar lebih jelas, barang ini barang apaan." Ucapku.
Hendrik tidak menjawabku.
Aku keluar dari kamarnya lalu tiduran di kamarku.
Tak berapa lama kemudian, Hendrik keluar dari kamarnya lalu duduk di kursi besi. Aku pun keluar dari kamarku dan menemuinya.
"Kenapa lo ngelamun?" Ucapku sambil mendaratkan bokongku di kursi besi.
"Emangnya kenapa blay kalo make barang yang begituan?" Ucap Hendrik.
"Bakalan laris. Tapi sifatnya akan jadi kayak setan. Hidupnya akan selalu di gandrungi kebencian dan selalu panasan kepada orang lain." Ucapku.
Hendrik terdiam dan matanya memerah.
"Terus gw harus gimana blay? Gw make blay, gw udah nelen." Ucapnya sambil mengeluarkan air mata.
"Berapa biji yang lo telen?"
"Empat blay. Itu juga buat jaga-jaga badan gw." Ucap Hendrik dengan nada suara sangat pelan.
"Gila! Lo udah gila Ndrik! Lo udah gila!" Ucapku dengan nada pelan ngegas.
"Ngapain lo jungkir balik shallat kalo masih percaya begituan!"
"Terus gw harus gimana blay?"
"Gw gak tau blay, ini udah diluar batas. Mendingan
lo cari jalan keluarnya sendiri. Dari dulu gw udah pernah bilang, jangan pernah maen rahasia-rahasiaan."
"Gw juga udah di ruqiah blay." Ucap Hendrik.
"Gw juga udah di terapi sampe di masukin telur ke ****** gw." Ucap Hendrik kembali.
"Gw gak ngerti masalah itu. Barang itu masih bisa keluar atau tidak." Ucapku.
Aku kembali masuk kedalam kamarku. Hendrik pun masuk ke dalam kamarnya. Semenjak dihari itu, Hendrik kembali mendiamiku.
__ADS_1
Aku benar-benar tidak menyangka, bahwa Hendrik sahabatku ini menggunakan rambut tersebut hingga menelannya. Secara logis, rambut itu dapat bergerak hanya dengan menggunakkan cairan tertentu. Aku tidak membayangkan jikalau ke empat rambut tersebut masuk kedalam tubuhnya. Begitu cepat dia akan bergerak.
Semoga Hendrik dapat sembuh dengan apa yang dia perbuat. Amien ya rob.