Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Bab 36


__ADS_3

Ditengah kesibukannya Azam di kerjaannya, beberapa kali Ponselnya bwebunyi. Sebuah pesan whatsapp dari seorang gadis yang beranama Nina.


Nina beberapa kali mengirimkan whatsapp kepada Azam dengan nada memelasnya.


Ringkasan pesan Whatsapp Nina:


"Hy kak.." Whatsapp Nina.


"Iya. Maaf dengan siapa?" Whatsapp Azam.


"Nina kak, aku anak cabang dari Jawa Barat satu kantor dengan kakak." Whatsapp Nina.


"Oh. Dari siapa ya lu dapet nomer gw?" Whatsapp Azam.


"Dari SPV kak." Whatsapp Nina.


"Iya nin, ada perlu apa?" Whatsapp Azam.


"Kakak ngekos ya?" Whatsapp Nina.


"Kak, aku ingin sekali kerja di Kota kak." Whatsapp Nina.


"Kalo Outlet yang disini tutup. Aku gak tau lagi harus kerja dimana lagi kak." Whatsapp Nina


"Tapi kalo harus dipindahin ke Kota. Aku bingung, karena aku tidak memiliki siapa-siapa disana." Whatsapp Nina.


Menanggapi akan beberapa pesan dan juga telpon dari Nina yang seringkali dengan nada memelas, seketika Azam pun mengingat penderitaannya sewaktu pertama kalinya Ia merantau di Kota Perantauan bersama Hendrik sewaktu dulu.


Pahitnya garam kehidupan di Kota Perantauan telah mereka telan dan mereka lalui. Entah mengapa Azam pun mendadak merasa sangat Iba kepada orang yang sebelumnya belum Ia temui dan belum Ia kenali.


Beberapa hari setelah mendapatkan whatsapp dan Nina tersebut, Azam pun memikirkan cara untuk mencari jalan keluar untuk si Nina, agar Nina tetap dapat bisa bekerja dan juga bisa kerja di Kota. Setelah beberapa hari Azam memikirkan jalan keluar, Azam pun akhirnya mendapatkan jalan keluar untuk Nina.


Malam Hari di Kosan Omah


"Blay, ke Danau Yuk?" Azam mengajak Hendrik untuk pergi kesalah satu Cafe yang ada di Danau.


"Iye bentar, gw hubungi Mas Adam sama Wahyu dulu?" Hendrik langsung menghubungi mereka berdua melalui whatsapp.


"Gimana blay?" Tanya Azam.


"Lagi pada gak bisa blay." Ucap Hendrik.


"Ya udahlah oke kita berdua saja. Gw juga lagi kepengen makan makan Seafood." Ucap Hendrik kembali.


Sejenak mereka berdua mengangkat bokongnya dari kursi makan, lalu berjalan menuruni tangga dan langsung meluncur ke Cafe Danau menaiki motornya Hendrik.


...Di Cafe Danau...


"Blay, ada anak BA gw yang mau dipindahin kesini?" Ucap Azam.


"Terus?" Ucap Hendrik ketus.


"Dia ditawarin pindah kesini karena Cosmetike gw yang ada di daerahnya akan ditutup." Ucap Azam.


"Iye, terus kenape! Apa urannya dengan gw?" Ucap Hendrik.


Azam beberapa kali berkata:


"Dia kebingungan blay, karena dia tidak punya siapa-siapa disini."


"Lo masih inget kan blay, dulu kita susahnya kayak apa disini?"


"Gimana kita ngerasain pahit getirnya di Kota ini?"


"Lo gak maukan blay, ngeliat orang lain Nasibnya akan sama seperti kayak kita dulu?"


"Maksud gw, gw mau ngajakin lo buat ngebantuin si Nina."


Hendrik sejenak terdiam dan mengingat masa-masa kesedihan mereka berdua, disaat mereka berdua menangis, tidak memiliki uang sama sekali, dan juga berjuang dengan berbagai macam cara demi sesuap nasi.


"Terus gw harus ngebantuin gimana?" Ucap Hendrik.


Azam beberapa kali berkata:


"Gini Blay. Untuk sebulan kedepan, Gw mau ngajakin Lo buat ngekos satu klamar bareng. Biar Nina, dalam sebulan tersebut tinggal sementara di Kamar gw."


"Gw tetep akan bayarin kamar gw sendiri yang untuk Nina, dan juga tetep bayar setengah harga kamar untuk menumpang sementara dikamar lo?"


"Itu saja. Gw gak mau maksain lo buat berbuat lebih."


"Ya udah iya. Tapi sebulan doang ya?" Ucap Hendrik.


Azam beberapa kali berkata:

__ADS_1


"Iyalah ngapain lama-lama. Lagian kan sebulan kedepan juga dia dapet gaji UMR blay?"


"Barangkali saja dengan kita membantu Nina, meskipun tidak ada yang membalas kebaikan kita? Gw yakin rezeki akan mengalir dengan sendirinya blay?"


"So tua lo! Ya udah iya." Ucap Hendrik.


" Idiiiih Orang mah Amien Kek!" Ucap Azam.


"Iye, iye Aki!" Ucap Hendrik.


"Dasar Nenek darting!" Ucap Azam.


"Sialan Lo Jablay!" Ucap Hendrik


" Yang asli Jabl** itu siapa yaaa?" Ucap Azam.


"Berisik Lo!" Ucap Hendrik.


"Hahaha..." Ucap Azam.


"Eh Blay, ngomong-ngomong kabar mantan Lo gimana sekarang? Masih suka kasih kabar ke Lo gak?" Tanya Azam.


Hendrik:


"Gak tau blay. Semenjak dia nikah, sudah sebulan ini dia gak ngasih kabar ke gw."


"Janjinya busuk blay."


"Mungkin udah bahagia kali sama Istrinya."


Azam:


"Makanya jangan so kecantikan blay?"


"Inget? Lo tuh laki? Serasa perempuan asli deh Lo ingin dimiliki oleh dia seutuhnya?hahaha"


Hendrik:


"Sialan Lo!"


"Lagian kan sekarang gw udah ada Mas Adam."


"Upsss.. Gak, gak gw keceploasan."


Azam:


Hendrik:


"Gak, gak, gw gak jadian sama dia Jablaaay.."


Azam:


"Kalo jadian juga gak papa keless blaaay?",


"Bayarin makan gw Lo ya? Hahaha."


Hendrik: "Enak aja Lo!"


Azam: "Berisik dodol? Gak malu apa itu dilihatin orang?"


Hendrik: "Lagian Lo mancing-mancing gw?"


Azam: "Susah kalo sama Nenek-nenek darting."


Hendrik: "Terus gimana sama pacar Lo yang ngegantungin Lo itu?


Azam:


"Ah blay, mungkin dia juga udah bahagia sama orang lain."


"Terakhir kasih kabar, dia tugas di Jambi. Setelah itu menghilang sampe sekarang."


"Lagian kayak lo gak tau aja dunia abu kayak gini? Apalagi orang seperti dia yang bisa beli kucing kapanpun dia mau."


Hendrik:


"Gw yakin palingan dia ngibulin Lo itu?"


"Kalo menurut gw dia masih tinggal di Apartemennya tuh blay?"


"Mana Nomer telponnya?"


Azam:

__ADS_1


"Jangan kumat deh Lo?"


"Masih mau bekas gw?"


Hendrik:


"Gw penasaran aja sama cowok yang Lo damba-dambakan itu?"


Azam: "Bilang aja Lo gatel?"


Hendrik: "Kayak apaan sih Jablay orangnya?"


Azam:


"Bodo amat deh Blay. Gw udah gak mikirin dia."


Hendrik:


"Gak mikirin tapi keliatan galau lo!"


"Mana Azam yang gw kenal? Yang gak suka mikirin cowok? Apalagi sampe segalau ini?"


"Pasti cowok itu tampan dan juga mapan ya blay? Sampe ngebuat hati lo sulit untuk melupakan dia?"


Azam: "Kayak Lo gak aja Lo Nenek?"


Hendrik: "Hahaha, Noh liat noh air mata lo keluar?"


Azam:


"Kena angin kelesss."


"Dari sekian mantan. Hanya dia yang paling memberi kesan terbaik blay.


Hendrik:


"Cieee, punya hati juga Lo ternyata? Katanya udah gak mau main hati?"


Azam: "Sekali-kali boleh kali gw mainin hati?"


Hendrik:


"Iye,iye Aki!"


"Blay kapan lo ngajakin gw main kekampung Lo?"


Azam:


"Gw masih males blay buat pulang."


"Masih males liat muka Bapak Tiri gw."


"Bapak lo gimana sekarang?"


Hendrik:


"Alhamdulillah dia udah gak galak kayak dulu blay."


"Bener kata Lo? Bapak gw bakal nyariin gw?"


"Dia nyariin gw ke sodara-sodara gw blay."


"Sekarang dia lagi sakit."


Azam:


"Tapi Lo gak dendamkan sama dia?"


"Ingat loh? Tanpa dia? Lo gak bakalan lahir kedunia Ini blay?"


Hendrik:


"Gak lah blay. Sekarang gw udah menyikapi segala sesuatu secara dewasa."


Azam: "Bukan dewasa blay? Tapi Nenek-nenek.Haha"


Hendrik: "Terserah Lo aki!",


"Udah hayo balik!".


Azam: "Bayar dulu kelesss. Bayarin punya gw juga. Gak mau tau gw?"


Hendrik: "Iye, Iye gw bayarin aki!."

__ADS_1


Azam juga meminta Ijin terlebih dahulu kepada Omah bahwa Nina ini adah saudaranya. Dengan bijaknya Omah pun menyetujuinya.


__ADS_2