Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Part 57


__ADS_3

Di Malam Hari.


Setelah Nina sudah sembuh dari sakitnya dan tetap bersikap acuh kembali kepadaku. Ia berjalan keluar dari kamarnya menuju ke dalam kamar mandi


Aku keluar dari dalam kamarku lalu berdiri di pagar pembatas sambil merokok.


Nina telah selesai dari kamar mandinya dan sedang sedang berjalan kembali.


"Tunggu!" Ucapku dengan nada kalem serius dan tegas sambil menatap ke arah depan gang.


Nina berhenti dan menghadap kearahku. Ia memasang wajah memelasnya yang terlihat sangat sendu.


"Iya Kak?" Ucap Nina so polos sambil berdiri di belakangku.


Sejenak aku membalikkan badanku lalu menatapnya.


"Duduk!" Ucapku dengan nada pelan serius dan tegas sambil mengedutkan mataku menyuruhnya untuk duduk di kursi plastik yang sudah aku siapkan untuknya.


Nina duduk di kursi plastik menghadap ke arahku.


Selama aku berbicara dengan Nina ini, aku menatap tajam ke matanya dan sebisa mungkin Ia tetap menatapku tanpa mengalihkan matanya kesana-kemari. Karena sifat jujur seseorang dapat terpancar dari matanya.


"Ada sesuatu yang mau gw tanyakan ke lo?”


"Tapi Lo harus jawab dengan jujur, berdasarkan hati nurani lo?"


Nina terdiam.


"Lo cukup Jawab, Iya atau tidak."


Nina tetap terdiam sambil memasang wajah memelasnya.


"Apa bener? Selama ini, lo suka ngomongin gw?" Ucapku dengan nada pelan serius dan tegas.


Nina terdiam tanpa kata.


"Jawab!" Ucapku dengan nada pelan tegas sedikit ngegas.


Nina mulai memerah matanya.


"Jawab, Iya atau tidak?"


Nina meneteskan air matanya dan tidak menjawabku.


"Kalo lo gak jawab? Berarti Iya." Ucapku dengan nada suara kalem dan tegas.


"Hukhukhuk.." Nina menangis terisak-isak.


"Gw gak pernah minta ya? Untuk lo? Membanggakan gw. Gw gak pernah minta, apapun dari lo? Gw juga gak pernah minta, kebaikan dari lo?"


"Tapi Lo? Tega sama gw.”


“Susah kalo ngangkat anak kampung! Pikirannya tetap anak kampung!” Ucapku dengan nada pelan dan tegas.


“Mulai sekarang? Lo gak usah kenal gw lagi, lo gak usah nyapa gw dan lupakan semua kebaikan gw ke lo! Anggep aja, lo gak pernah kenal sama gw!" Ucapku dengan nada kalem dan tegas.

__ADS_1


“Hukhukhukhuk..” Nina menangis terisak.


“Alaah, hapus! Air mata busuk lo itu Nin! Udah gak mempan di depan mata gw! Dasar busuk!” Ucapku dengan nada kalem serius dan tegas sambil berjalan ke arah kamarku.


*


*


*


**********************************************


Kita kembali ke suasana ketika aku tidak dapat tertidur, setelah tiga hari berturut-turut, aku bersama dengan Memey menjaga Rudi yang terkadang mengamuk hingga di jam setengah satu malam. Selama itu juga, aku tidak dapat tertidur kalau belum jam 6 pagi.


Setiap mataku ingin terpejam, sosok yang bersama dengan Rudi, selalu datang menghampiriku di dalam mimpi dan itu datang secara terus menerus apabila aku memejamkan mataku kembali.


...Mimpi yang pertama....


Didalam mimpiku waktu menunjukkan di sore hari. Aku melihat Rudi bersama dengan sosok yang bertali (Pocong), mereka berdua tengah berdiri bersampingan berada di pojokkan rumah Omah. Wajah sosok tersebut sangat menyeramkan. Ketika aku terbangun dari mimpi, pasti merasa kelelahan dan setiap aku ingin menyambung kembali tidurku, sosok itu kembali datang.


*


...Mimpi yang kedua....


Sosok Jin bertanduk tiga dengan tubuhnya yang berwarna merah muda. Sangat menyeramkan dan selalu datang menghampiri kalau aku memejamkan mataku untuk tidur. Sosok ini memunculkan aura rasa ketakutan yang lumayan hebat kepada diriku.


...Kejadian Aneh 1...


Setelah aku menjaga Rudi selama tiga hari berturut-turut, setiap sehabis Ashar, aku pasti mual-mual dengan sendirinya dan selalu terasa berat di bagian leherku apabila berada di Kosan Itu.


Mimpi ketiga di hari sekian, mimpi ini cukup menenangkan. Mimpi ini lebih tepatnya setelah Rudi di ngajiin selama 7 hari berturut-turut oleh para Ustadz.


Didalam mimpi tersebut, waktu menunjukkan di malam hari. Aku berjalan menuju ke sebuah Mesjid kecil yang bersinar, yang didalamnya ada seorang ulama yang sedang mengaji.


Aku pun melangkahkan kakiku menuju Mesjid kecil tersebut dan juga ingin menemui Ulama yang sedang mengaji didalam Mesjid tersebut.


Akan tetapi ketika aku hendak ingin memasuki ke halaman Masjid, sosok tinggi dan besar, berbulu hitam, tengah berdiri di luar Masjid tersebut berada. Akan tetapi sosok tersebut terlihat tenang dan diam.


Lantas aku memasuki mesjid tersebut dan melihat ulama tersebut yang sedang mengaji. Ulama tersebut melihatku, lalu Ia berdiri dan berjalan menemuiku. Sempat mengobrol sebentar, namun aku lupa perkataannya. Setelah mengobrol bersamanya, aku pun keluar kembali dan terbangun dari mimpiku.


Keesokan harinya. Lebih tepatnya sekitar jam dua siang, aku dan Memey ke rumah Rudi. Saat kita berdua berada di depan rumahnya Rudi. Via dan Aji keluar dari rumahnya Rudi menemui kita berdua.


"Kak, maaf ya. Katanya kakak gak boleh masuk. Tadi Rudi berbisik ke Uni Kak. Nunjuk ke kakak, kalo bisa orang itu gak boleh masuk." Ucap Via kepadaku.


"Emangnya kenapa Dek?" Ucapku.


"Katanya sih kakak berisik. Aku juga gak ngerti Kak sama alasannya Rudi. Perasaan selama kakak disini, kakak tidak pernah berisik." Ucap Via.


"Oh gitu. Ya udah gak papa dek." Ucapku.


Aku pun sudah menduganya, karena setiap Rudi mengamuk, Ia menatap tajam kepadaku.


Ustadz yang suka memimpin mengaji di komunitas persatuan islam Aji telah datang. Ia datang dan tidak langsung masuk kedalam rumahnya Rudi. Ia menghampiri kita berdua.


Kita berdua langsung sungkem bersalaman dengannya.

__ADS_1


"Kamu Azam dan Memey ya?" Ustadz tersebut berkata akan tetapi tatapannya menatap ke arahku.


"Betul Pak."


Memey berada di sebelahku.


Ustadz tersebut merangkulkan satu tangannya kepundakku sambil berjalan sedikit menjauh dari depan rumahnya Rudi. Aku merasa nyaman dan tenang berada di sampingnya dan hatiku mengatakan bahwa Ustadz ini yang aku temui didalam masjid didalam mimpiku tersebut.


"Untuk malam ini, kalian berdua jangan dulu menjaga Rudi ya?" Ucap Ustadz tersebut.


"Baik Pak." Ucapku menurutinya.


"Tapi kalo boleh tau, sebenarnya apa yang terjadi kepada Rudi ini ya Pak?" Ucapku kembali.


"Tidak apa-apa." Ucap Pak Ustadz.


"Beneran Pak bukan kiriman?" Ucapku secara polos menanyakan akan hal tersebut.


Sejenak Pak Ustadz terdiam dan tetap menatapku.


"Takut Su'Udzon." Ucapnya yang penuh dengan teka-teki.


"Kalo bisa, kalian shallat ya?" Kebetulan kita berdua selama menjaga Rudi tersebut memang mengabaikan Shallat.


"Baik Pak." Ucapku.


"Ya udah kalo gitu, saya masuk dulu?" Ucap Pak Ustadz.


“Iya Pak, silahkan.” Ucapku.


Ustadz tersebut masuk ke dalam rumahnya Rudi. Sementara kita berdua berjalan ke Warung kopi untuk meminum es kopi dan juga merokok.


Tepat setelah Ashar, kita berdua kembali lagi berjalan menuju kosan. Baru saja berjalan melewati Pos Portal Gang Kosan. Aku mendadak mual-mual seperti biasanya. Namun kali ini sangat berbeda.


Yang mana, aku merasakan mual, leherku terasa sangat berat, pundakku seperti ada sesuatu yang menggandok, ubun-ubunku berasa seperti ada yang menusuk, kedua telapak tangan dan telapak kakiku terasa sangat dingin seperti es batu.


Sejenak aku menghentikan langkahku. Memey pun ikut berhenti.


"Mey, pegang deh telapak tangan gw?" Ucapku sambil menggenggamkan tanganku ke lengannya Memey.


"Gila Lo Kak! Dingin banget. Jangan deket-deket gw lo Kak!" Ucap Memey ngegas.


Spontan Memey sangat sensitif kepadaku.


"Bener kata Pak Ustadz Mey, kayaknya gw harus ambil Shallat." Ucapku.


Aku merasakan seperti ada sesuatu yang ingin merasuki tubuhku dan itu benar-benar terjadi. Sangat terasa di badanku.


Sekitar jam setengah lima, aku pun mandi besar. Ditengah mandi besarku tersebut, sosok suara muncul didalam kamar mandi.


"Keeeeekkk, Keeeekkk, keeeeekkkk." Suara berbisik yang keluar dari tenggorokan. Suara tersebut sosok laki-laki besar dan sumber suaranya berada di pojokkan kamar mandi.


Sejenak aku terdiam dan merinding, namun aku terus meneruskan junubku. Hingga wudhuku selesai, Alhamdulillahnya seketika itu rasa dingin sedingin batu es, yang berada di telapak tangan dan juga kakiku langsung menghilang. Tusukkan yang berada di ubun-ubun dan juga leherku langsung menghilang.


Lantas aku segera menggunakkan pakaian dan Shallat di Mesjid. Setiap aku Shallat Maghrib dan Isya, aku menjalankan shallat di Mesjid yang tidak jauh dari portal gang perumahan di daerah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2