Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Bab 28


__ADS_3

Waktu menunjukkan jam 19.27. Kedua temannya Azam yang bernama Mas Adam dan Wahyu datang ke Kosan Omah.


Tiiit, tiiiit..


Hendrik segera melihatnya dari pagar pembatas.


“Bentar Mas Adam, aku turun?” Ucap Hendrik.


Hendrik segera berjalan kearah tangga. Hendrik turun kebawah membukakan pintu gerbang untuk mereka berdua.


Sementara Azam segera mempersiapkan makanan. Azam menaruh makanan di lantai. Sengaja Ia menaruhnya dilantai, agar suasanya serasa seperti makan di Lesehan.


Hendrik, Mas Adam dan Wahyu segera menaiki tangga.


“Wangi bener aromanya Cong?” Mas Adam berkata sambil berjalan kearah Azam.


Azam masih mondar-mandir menaruh piring, dll.


“Ah lo Jeung bisa saja menghinanya.” Ucap Azam.


Hendrik, Mas Adam dan Wahyu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangannya.


Mereka berempat duduk melingkar di lantai memutari makanan.


“Ini acara apa si cooong?” Tanya Mas Adam.


Hendrik menatap sinis kepada Azam.


“Ini acara kita berdua Jeng. Ini juga Idenya Hendrik koq.” Ucap Azam.


Hendrik bersikap biasa kembali.


“Kita sengaja masak, karena memang lagi libur bareng. Sekali-kali kaaan, kita makan bersama di Istana gw yang megah ini?” Canda Azam.


“Oh gitu..” Jawab Mas Adam.


Sementara Wahyu sedang duduk bersila sambil memegang piring. Wahyu terlihat sudah tidak sabar ingin menyantap makanan.


“Terus yang masak ini siapa Cong? Pasti lu ya?” Tanya Mas Adam mendesak.


Hendrik menatap sinis kembali kepada Azam.


“Ah lo Jeng nanya-nanya mulu? Mendingan, Lu tanya Hendrik sja deh Jeng, siapa yang masak ini makanan?” Ucap Azam.


Mas Adam langsung menatap ke Wajahnya Hendrik. Hendrik memberikan senyuman manis kepada Mas Adam. Mas Adam tidak melanjutkan pertanyaannya.


“Capcus deeh, gw udah laperrrr iniiiii!” Ucap Wahyu sambil mengelus-ngelus perutnya.


“Cepetan Jeng, Lo yang pimpin doa?” Ucap Azam kepada Mas Adam.


Mas Adam langsung memimpin doa.


“Amieen.” Ucap mereka semua.


Mereka berempat segera menuangkan nasi dan mengambil lauk secara bergiliran.


“Eh lupa deh Blay? Kita kan punya tetangga baru?” Ucap Azam kepada Hendrik sambil mencentong nasi di piring.


“Lo apa gw yang mau manggil blay?” Ucap Azam kembali kepada Hendrik.


“Lo aja lah blay.” Ucap Hendrik yang sudah nyaman duduk bersebelahan dengan Mas Adam.

__ADS_1


Azam memberhentikan sejenak mencentong makanannya. Azam berdiri lalu langsung menuruni tangga menuju ke kamarnya Via.


TOK! TOK! TOK!


“Dek, dek.” Azam memanggil Via sambil mengetuk pintu kamarnya.


Via langsung membukakan pintu kamarnya. Rudi terlihat sedang tiduran sambil menonton Televisi di dalam kamarnya Via.


“Iya Kak.” Ucap Via sambil berdiri di pintu kamarnya.


“Makan bareng yuk? Kita masak banyak soalnya.” Ucap Azam.


“Malu Kak.” Ucap Via.


“Ah, kayak ke siapa aja lu malu.” Ucap Azam.


Via terdiam.


“Udah ayok cepetan. Ayok Rud?” Azam mengajak Rudi.


“Oh iya Kak.” Jawab Rudi.


“Ya udah kak, nanti kita berdua nyusul keatas.” Ucap Via.


“Ok, Cepetan ya? Jangan lama-lama.” Ucap Azam.


"Iya kak." Ucap Via.


Azam segera menaiki tangga kembali menuju keatas.


“Udah Blay?” Tanya Hendrik kepada Azam.


“Udah, katanya bentar lagi mereka berdua kesini.” Ucap Azam sambil mendaratkan bokongnya di lantai.


Via dan Rudi baru naik keatas. Via naik keatas sambil membawa piringnya sendiri.


“Lama amat lu Dek? Kita udah selesai makannya, malah baru pada naik?” Ucap Azam sembari merokok di kursi besi.


Mas Adam sedang menusuk-nusuk giginya dengan tusuk gigi disebelahnya Azam.


Hendrik sedang masuk didalam kamarnya.


Wahyu sedang ke kamar mandi.


“Iya Kak.” Ucap Via Polos dan terlihat kaku karena mungkin masih canggung dan malu-malu.


Sementara Rudi hanya diam berdiri di belakangnya Via.


“Lo malu ya Dek?” Ucap Azam.


“Gak usah malu-malu sama kita mah. Karena kita biasa malu-maluin.” Sambung Ucapan Azam.


"Hehe." Via cengengesan sambil tangannya memegang leher.


“Ngapain kalian bawa piring sendiri Dek? Noh disitu juga ada piringnya Omah.” Ucap Azam sambil menatap kearah rak piring.


“Hehe, gak tau Kak.” Ucap Via.


“Nih, gw juga udah nyiapin buat kalian berdua. Terserah kalian deh mau makan disini apa dimana.” Ucap Azam sambil memberikan piring berisi lauk kepada Via.


“Kalo Nasinya, kalian ambil sendiri ya? Gw gak tau porsi kalian berdua soalnya.” Ucap Azam kembali.

__ADS_1


"Iya kak." Ucap Via.


Via segera mengambil Nasi dari Magiccom.


“Kak, kita berdua kebawah ya? Kita mau makan dikamar saja.” Ucap Via.


“Oh iya Dek, silahkan. Kalo Nasinya kurang, ambil kesini aja ya?” Ucap Azam.


“Iya Kak, makasih kak?” Ucap Via.


“Sama-sama." Ucap Azam.


Via dan Rudi turun kembali masuk kedalam kamarnya.


“Masih muda itu cong?” Ucap Mas Adam kepada Azam.


“Iya, baru lulus sekolah Jeng.” Ucap Azam.


“Itu Cowoknya Cong?” Tanya Mas Adam.


“Iya itu cowoknya. Lo Naksir ya jeng?” Ucap Azam.


“Hmmm, mulai deh mulai..” Mas Adam mencubit tipis bibirnya Azam.


“Mmm, Hahaha.” Azam melepaskan cubitannya dan menertawakan Mas Adam.


Azam terdiam sejenak sambil melirikkan kedua bola matanya kekanan dan kekiri.


"Jangan lagi-lagi kayak gitu ke gw Jeng! Nanti ada yang marah ke gw!" Ucap Azam kepada Mas Adam dengan nada suara berbisik.


"Untung Hendrik masih berada didalam kamarnya, kalau tidak? Aku bisa bertahun-tahun di marahinya, atau mungkin seumur hidup, karena cowok yang disukainya ini suka kesel sama aku." Gumam Azam.


Sementara Wahyu masih berada didalam kamar mandi. Kalaupun Wahyu tahu, itu tidak masalah karena Wahyu memahami mana yag namanya teman dan mana yang namanya seorang pacar.


Azam sama Mas Adam ini suka bercanda berlebihan, karena dulunya mereka berdua pernah kerja di satu tempat. Azam sama Mas Adam sudah terbiasa suka membuat lelucon.


Mas Adam sedari dulu memang suka memeluk dan juga suka menggoda Azam di kerjaan. Akan tetapi, Azam menganggapinya sebagai sahabat dan juga sebagai kakak, karena Mas Adam ini usianya lebih tua 5 tahun darinya.


Sementara Hendrik, suka gelap mata dan gelap hati. Meskipun Hendrik mengetahu kalau Azam bersama Mas Adam itu sahabatan. Bahkan, Hendrik pun kenal dengan Mas Adam, karena Azam yang memperkenalkannya.


Namun Hendrik menyikapi lelucon mereka berdua itu sebagai tanggapan yang serius. Azam tidak ingin nantinya Hendrik menjadi salah faham kembali kepadanya, seperti kejadian tempo dulu.


"Kenyangnya..." Ucap Wahyu sambil berjalan keluar dari kamar mandi.


"Blay, enaknya kemana ya?" Hendrik berkata sambil berdiri menggunakan Arloji di depan pintu kamarnya.


"Tanya ke mereka berdua aja blay." Ucap Azam menjawab Hendrik sambil berjalan masuk ke kamarnya.


"Ya, aku sih ngikut aja kemana kalian pergi." Ucap Mas Adam.


Wahyu tengah asyik bercermin sambil memenyon-menyonkan bibirnya kekanan dan kekiri di cermin besar sebelah kursi besi.


"Udah lah, kita ke Pantai aja blay. Sekalian buang sial. Inikan malam Jum'at blay." Ucap Azam dari dalam kamar.


"Boleh. Ya udah ayok?" Ucap Hendrik.


"Iya. Ini gw lagi ganti pakaian dulu. Wahyu suka bawel kalo gw pake boxer doank soalnya." Ucap Azam dari dalam kamar.


"Oh iya, jangan lupa pada bawa boxer ya?" Sambung ucapan Azam.


"Nanti lewat jalan kosanku aja Cong?" Ucap Mas Adam.

__ADS_1


"Mas Adam? Yang ada juga ke rumah gw dulu? Baru ketempatnya Mas Adam." Ucap Wahyu.


"Udah si cong, Lo bareng gw aja! Biar Mas Adam bareng si Jablay aja ke kosannya. Nanti kita ketemuan di pertigaan danau aja biar cepet." Ucap Hendrik kepada Wahyu.


__ADS_2