
Di Restoran Kuta.
"Hayo-hayo kalian lagi pada ngobrolin apaan?" Ucap Arfan sambil menaruh makanan Azam dan Hendrik diatas Meja.
"Biasa kak, palinngan lagi ngobrolin buleleng yang itu?" Ucap Irfan sambil membuka kaca mata bulatnya dengan jari lentiknya.
"Enggak koq enggak?" Ucap Hendrik.
"Kita memang lagi tatap-tatapan sih kak. Hehe" Ucap Azam.
"Sudah kita makan dulu? Selepas dari ini? Kita lihat pantai kuta." Ucap Arfan.
"Ok." Ucap mereka bertiga.
Selepas makan, mereka berempat pun langsung menyebrang jalan raya lalu memasuki ke area Pantai Kuta. Pemandangan Pantai Kuta di malam hari, lumayanlah gelap. Sehingga mereka tidak dapat berlama-lama dipantai tersebut. Selepas ke Pantai, mereka semua berjalan kembali menuju ke Hotel.
"Awas loh blay, jangan ngeces!" Ucap Hendrik.
"Yang ada juga, Lo kali blay?" Ucap Azam.
..."Srekkk, kresekkkk"...
Mereka berempat lsngsung memberhentikan sejenak langkahnya karena mendengar suara sesuatu.
"Apaan itu?" Ucap Arfan sambil mengengok-nengok kearah kebun.
"Jangan berisik makanya kalo di Jalan perkebunan kayak gini?" Ucap Irfan sambil berjalan cepat.
Lantas mereka berempat kembali berjalan cepat.
Sesampainya di Hotel
"Besok jangan lupa bangun pagi? Biar dapet breakfast. Jam breakfast disini hanya sampai jam 10 pagi." Ucap Arfan.
Jam 10 pagi dibali, berarti mereka harus bangun jam 8 pagi (Wib) agar masih mendapatkan breakfast.
"Gak janji deh kak. Kita berdua pasti kayak kebo. Apalagi badan gw serasa berat gini." Ucap Azam kepada Arfan.
"Yo wes lah, mendingan sekarang kita tidur." Ucap Irfan.
"Oke."
Mereka berempat segera masuk kedalam kamarnya masing-masing.
Azam bersama Hendrik membersihkan badan terlebih dahulu secara bergiliran. Setelah Hendrik selesai bersih-bersih, giliran Azam yang memasuki kekamar mandi.
Sejena Azam menaruh liontin koinnya dilemari yang berada didepan pintu kamar mandi Hotel, lalu setelahnya baru melakukan bersih-bersih dikamar mandi. Selepas daripada itu, Azam keluar kembali dari dalam kamar mandi.
"Blay, lo tidurnya disebelah jendela ye?" Ucap Hendrik sambil tiduran diatas kasur.
"Atur ajalah blay." Ucap Azam sambil berjalan menuju kasur.
Hordeng telah ditutup rapat oleh Hendrik, begitupun dengan pintu kamar telah dikunci olehnya.
"Blay, berdoa dulu Lo?" Ucap Azam.l
"Krrkrrrkrrrr.." Hendrik telah berdengkur mengorok.
Melihat Hendrik yang sudah tertidur, Azam pun segera menarik selimut. Ditengah mereka berdua yang telah tertidur, tiba-tiba ada suara angin yang berhembus dari jendela.
..."Hussssssss."...
Azam langsung terbangun dan membuka selimut yang menutupi wajahnya.
"Aneh! Gak ada pentilasi udara tapi ada angin masuk dan membuka hordeng?" Ucap Azam didalam hati sambil menatap kearah hordeng yang terbuka.
..."Krintiinggggg."...
__ADS_1
Liontin koin Azam terjatuh dari lemari Hotel yang Ia taruh pada saat sebelum membersihkan badan.
"Aneh! Gak ada angin tapi koinku terjatuh dengan sendirinya." Ucap Azam sambil menatap kearah koin yang terjatuh dilantai.
"Aaaaaaaau?" Hendrik teriak sangat keras sambil menatap keluar jendela.
"Berisik bancet!" Azan menutup mulut Hendrik dengan tangannya sambil menatap kearah luar Jendela.
Mereka berdua melihat sosok dua perempuan memakai kebaya hijau, sedang menatap kearah mereka berdua dari luar jendela. Dua sosok perempuan tersebut terlihat seperti layaknya manusia biasa, wanita/perempuan kisaran berusia 19 atau 20 tahunan. Dua sosok perempuan tersebut menatap kearah mereka tanpa mengedipkan matanya sama sekali.
Entah mengapa Azam pun tidak merasa merinding, ataupun merasakan getaran detak jantung yang berdebar cepat. Beberapa saat kemudian, secepat kilat sosok perempuan tersebut menghilang.
..."Aaaaaauuuuu."...
Hendrik terbangun sambil teriak sangat keras, mungkin tetangga kamar pun ada yang mendengarnya.
Azam pun langsung terbangun dengan kondisi yang biasa saja. Ia terbangun sambil membuka selimut yang menutupi wajahnya.
mereka berdua terbangun langsung menatap kearah jendela. Posisi hordeng tersebut terbuka lebar, sama persis didalam mimpi terakhirnya Azam. Azam membangunkan badannya.
"Lo ngeliat dua perempuan tengah menatap kearah kita dari luar jendela ini ya blay?" Tak sengaja Azam langsung nyeletuk seperti itu kepada Hendrik.
"Iya Blay." Ucap Hendrik sambil menganggukkan kepalanya.
"Mereka berdua menatap, sambil memberikan senyuman dan juga tidak mengedipkan matanya sama sekali ya blay?" Ucap Azam.
"Iya Blay." Ucap Hendrik.
"Dan posisi terakhir didalam mimpi Lo? Posisi Hordengnya terbuka lebar seperti ini bukan?" Ucap Azam.
Hendrik menganggukkan kepalanya. Hendrik terlihat merasa ketakutan.
"Liat tuh koin gw? Ada dilantai." Ucap Azam sambil menatap kearah koin yang terjatuh dilantai.
"Emangnya kenapa dengan koin Lo?" Ucap Hendrik.
Ternyata untuk koin yang terjatuh, tidak masuk kedalam mimpinya Hendrik.
"Ya udah sono loh tidur lagi lo." Ucap Azam kembali.
Hendrik pun memejamkan matanya kembali. Sementara Azam menutup hordeng terlebih dahulu lalu lanjut tidur.
*
*
*
Keesokkan Harinya
"Blay, lo ngambil selendang gw ya?" Ucap Hendrik sambil mengobrak-ngabrik seisi kopernya.
"Selendang apaan?" Ucap Azam.
"Selendang gw? Jangan pura-pura belaga bego deh Lo?" Ucap Hendrik Ngegas.
"Maksud Lo apaan sih? Gak jelas Lo!" Ucap Azam ngegas.
"Selendang gw, yang warna I..." Ucap Hendrik yang tidak meneruskan perkataannya.
"Pasti selendang keramat Lo ya? Gak mungkin Lo sampe sepanik gitu kalo bukan selendang keramat?" Ucap Azam.
"Kalo iya kenapa?" Ucap Hendrik ngegas.
"Dari siapa Lo dapet barang begituan?" Ucap Azam.
"Lo pasti ngambil kan blay?" Ucap Hendrik.
__ADS_1
"Kalo gak ya gak! Ngapain gw sampe berbusa gini ngomong ke Lo!" Azam Ngegas sambil turun dari kasur, lalu berjalan kelemari Hotel.
Azam mengambil koinnya yang terjatuh semalam, lalu Ia taruh kembali di lemari.
"Periksa seisi Hotel ini? Sekalian tuh obrak-abrik seisi koper gw?" Azam berkata sambil berjalan memasuki kedalam kamar mandi.
Hendrik langsung mengobrak-ngabrik kopernya Azam, dan juga membuka seluruh laci lemari Hotel. Sampe berkali-kali Ia mencari, namun tidak ditemukan.
"Ada gak Ndriiiik?" Teriak Azam sambil mandi didalam kamar mandi.
Hendrik tidak menjawabnya.
Selepas dari mandi, Azam melihat Hendrik tengah melamun sambil memeluk bantal.
"Ketemu gak lo?" Tanya Azam.
Hendrik hanya menggelengkan kepalanya.
"Inget, ini tuh di Pulau orang? Nanti kesambet, baru tau rasa Lo!" Ucap Azam.
"Apaan si Lohh!!" Ucap Hendrik ngegad.
"Gw mau nanya? Selendang Lo yang warna apa? Barangkali saja gw bisa mimpiin itu selendang?" Ucap Azam.
"Ngledek Lo?" Ucap Hendrik.
"Gw lagi serius dodool? Tinggal meminta doa aja kepada yang diatas. Kalo memang selendang lo baik dan bermanfaat, gw yakin diberi petunjuk." Ucap Azam.
"Selendang gw yang warna Ijo!" Ucap Hendrik.
"Hadeeeeuh, kan gw udah pernah bilang blay? Jangan bawa barang yang berbau warna Ijo? Masih ngotot aja lo." Ucap Azam.
"Pantesan aja semalem ada yang dateng. Lo bawa benda keramat!" Ucap Azam.
"Dari mana Lo dapet?" Ucap Azam kembali.
"Kepo deh Lo?" Ucap Hendrik.
"Ok. Kalo ada apa-apa jangan minta tolong ke gw ya?" Ucap Azam.
"Hmmm.. Nasib gw emang harus disalahkan terus sama Lo Ndrik." Ucap Azam didalam hatinya.
"Terus salah gw apa?" Ucap Hendrik ngegas.
Maksud Hendrik kesalahannya dia membawa selendangnya tersebut ke Pulau Bali itu apa.
"Lo gak salah. Gw yang salah." Ucap Azam.
"Lain kali kalo punya benda begituan? Cerita sama gw? Gak usah ditutup-tutupin?" Ucap Azam kembali.
"Bilang aja Lo kepengen!" Ucap Hendrik ngegas.
"Idiiih ngapain gw nyimpen barang begituan!" Ucap Azam.
Sepertinya Hendrik masih belum percaya kalau bukanlah Azam yang telah mengambilnya.
...Tok, tok, tok.....
"Dek, dek.." Suara Afra memanggil.
"Bentar Kaak." Ucap Azam.
"Udah pada siap belum Lo?" Ucap Arfan.
"Mendingan Lo tanya Hendrik aja deh Kak, dia habis kehilangan barangnya." Ucap Azam.
"Hilang barangnya bagaimana?" Ucap Arfan.
__ADS_1
"Tanya aja orangnya? Kalo gw yang ngomong, nanti disalahin." Ucap Azam sambil menepuk pundaknya Arfan.
Azam keluar menemui Irfan di Loby Hotel.