Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Bab 50


__ADS_3

Di Pagi Hari, aku mendadak kangen dengan sotonya Bang Dadir. Selain aku kangen dengan sotonya, aku juga merasa kangen dengan Nabila dan Juga Dadir si Tukang Soto.


Meskipun tempatnya lumayan jauh dari kosan Omah, aku tetap kesana. Aku segera mandi, lalu setelahnya aku menggunakkan pakaian. Setelah itu aku langsung mengorder Ojek Online. Setelah mengorder, seperti biasa aku menunggunya di depan kosan Omah.


"Lewat jalan Raya yang ini aja ya Pak?" Aku meminta melewati jalan Raya yang pernah aku mengalami kecelaan sewaktu yang lalu, karena lebih cepat sampai kalau melewati jalan tersebut.


"Baik Pak."


Kita berdua langsung meluncur ke Mall tersebut. Sesampainya disana, aku segera memberikan helm kepada driver. Lalu setelahnya aku berlari memasuki area parkiran besar terbuka, ke tempat si tukang soto.


Di Soto Bang Dadir.


"Assallamu'allaikum.." Ucapku sembari duduk di kursi sotonya.


"Wa'allaikum salam.." Ucap Nabila dan Dadir secara bersamaan.


Suasana di parkiran tersebut sangatlah ramai, banyak staff kantor dan juga para karyawan yang memarkirkan motor dan juga makan di deretan warung tersebut.


"Blay, udah lama lo gak keliatan? Kemana aja blay?" Ucap Nabila.


"Ada aja Kak. Gw udah keluar dari kerjaan kak, makanya gak pernah di tugasin kesini."


"Terus sekarang kerja dimana blay?"


"Ada deeeh, Gw kangen sama soto Lo. Makanya gw kesini." Ucapku.


"Ah lo bisa aja blay." Ucap Nabila.


"Beneran kaaak."


"Eh blay, tau gak sih kabarnya si Malika?"


"Enggak Kak. Emangnya kenapa dengan dia?"


"Dia di keluarin tau? Gara-gara nilep uang penjualan parfume."


Malika adalah satu BA Parfum yang membenci aku (Ada di Part 23).


"Deg!" Mendadak aku merasa sedih. Meskipun dia membenciku, gak tahu kenapa aku merasa bersalah. Aku merasa bersalah karena susuk emas yang di pakainya keluar pada saat Ia sangat marah kepadaku.


"Terus sekarang dimana kak?" Ucapku.


"Denger kabar sih pulang kampung blay." Ucap Nabila.


"Ngomong-ngomong lo koq keliatan sedih dan sendu banget kak?"


"Gw udah beberapa hari ini gak tidur blay. Bapak gw lagi di rumah sakit."


"Turut prihatin ya Kak? Semoga Bapak lo cepet sembuh."


"Amien.." Ucap Nabila sambil menitikan air matanya yang mendadak menetes.


"Blay, nanti lo pulang bareng gw ya? Kebetulan rumah orang tua gw ngelewatin daerah lo blay. Gw mau ngambil baju salin." Ucap Nabila.


"Ok, tapi gw lagi nungguin temen gw dulu kak. Mau liat-liat barang discount dulu. Gak papa ya kak?"


"Iya, gak papa blaaay."


Randy sedang berjalan kemari, Ia memasuki pintu gerbang parkiran.

__ADS_1


"Assallamu'allaikum.." Ucap Randy memasuki warung tukang soto.


"Wa'allaikum salam." Ucapku.


Meskipun Randy dulunya kerja di Mall tersebut, Randy tidak pernah makan di luar. Makanya Nabila maupun Bang Dadir tidak mengenalnya.


"Nah, ini kak temen gw. Namanya Randy, dulunya dia salesman disini, temennya adek lo si Rio."


"Oh gitu blay." Ucap Nabila.


"Iya Kak. Ya udah deh kalo gitu, gw liat-liat dulu ya kak?"


"Ok blaay.." Ucap Nabila.


Lantas aku dan Randy masuk kedalam Mall untuk melihat barang-barang yang discount. Kebetulan aku sedang mencari baju kemeja. Selepas membeli baju kemeja, aku sama Randy mengobrol di Taman yang berada di dalam Mall tersebut.


Di Taman Mall


"Rame juga ya blay?" Ucapku. Kebetulan sedang ada acara costplay di Mall tersebut.


"Iya Mak." Ucap Randy.


"Mak, gw pengen masang susuk lagi deeh? Susuk gw yang kemaren udah luntur Mak. Gw salah makan Mak." Ucap Randy.


"Tapi Blay, masih mending lo polosan aja kali? Wajah lo juga lebih bercahaya loh ketimbang kemaren sewaktu di Puncak."


"Tapi Mak, gw udah di hianati sama temen gw Mak. Temen gw ngerebut suami gw." Ucap Randy dengan nada sedih.


"Terus lo mau masang dimana?"


"Ada Mak. Bapak angkat gw bisa masang susuk." Ucap Randy.


"Iya Mak. Harus mau gimana lagi soalnya, kebutuhan biaya untuk keluarga gw, gw semua yang nanggung Mak. Kalo gw gak make susuk, nanti gw gak laku Mak?" Ucap Randy.


"Iya gw tau. Yang penting lo bisa jaga diri blay dan jangan pernah untuk berfikir membalas dendam ke temen lo itu."


"Iya Mak. Makasih ya Mak?" Ucap Randy.


"Makasih buat apaan lo?"


"Udah di ijinin buat make susuk lagi." Ucap Randy.


"Yah, mau gimana lagi. Gw hanya sebatas temen lo blay. Gak bisa berbuat lebih, gw hanya bisa mendukung lo doang.


Selepas daripada itu, aku kembali menemui Nabila. Sedangkan Randy, langsung pulang ke kosannya. Aku pulang ke Kosan Omah diantarkan oleh Nabila.


Kini aku dan Nabila telah berada di depan Kosan Omah.


"Ini Kak kosan gw?" Ucapku ke Nabila.


"Bagus ya blay." Ucap Nabila.


Ya udah kalo gitu gw balik dulu ya blay?" Ucap Nabila sambil duduk di motornya.


"Gak mampir dulu kak?"


"Gak lah blay. Nanti gw mau langsung ke Rumah Sakit soalnya." Ucap Nabila.


"Ya udah kalo gitu, hati-hati di jalan lo Kak?"

__ADS_1


"Ok blaaay. Daaah.." Ucap Nabila sambil menancapkan gas motornya kembali.


Kini aku mulai membuka pintu gerbang kosan Omah. Dikala aku yang sedang membuka pintu gerbang ini, Aji telah berada di atas. Dia berada di Pagar pembatas melihatku yang sedang membuka pintu gerbang kosan Omah. Aku pun segera masuk dan menaiki tangga kosan Omah.


"Dari mana Kak?" Ucap Aji sambil menyender di pagar pembatas.


"Habis maen Ji." Ucapku sambil duduk di kursi besi.


"Udah lama lo disini?" Ucapku.


"Lumayan Kak. Sengaja aku nungguin."


"Ada apa emangnya Ji?"


"Ini aku membawa ini buat di kamar Kamar kakak?" Aji memberikan aku sebilah bambu kuning.


"Emangnya itu buat apaan Ji?"


"Bukan untuk apa-apa Kak. Kakak simpen aja. Ini tongkat pemberian Habib Kak." Ucap Aji.


"Berarti barang itu barang berharga Ji. Gw gak mau menerimanya Ji."


"Gak papa Kak. Gw ikhlas koq." Ucapnya memaksa.


"Ok, gw terima. Tapi bukan berarti gw memilikinya ya Ji? Anggep aja lo nitipin barang ke gw." Ucapku yang tidak ingin memiliki barang tersebut, karena menurutku barang tersebut adalah miliknya.


"Ok kak."


"Emangnya buat apaan sih Ji fungsinya?" Ucapku penasaran.


"Gak papa Kak. Pokoknya kakak simpen aja di Pojokkan kamar." Ucapnya yang membuatku semakin penasaran.


Aku berfikir bahwa Aji ini, melihat sesuatu yang lebih dari aku ketahui.


"Ok, kalo lo nyuruh begitu? Berarti lo yang harus nyimpen di kamar gw."


Aku segera berdiri dan berjalan ke pintu kamar, lalu ku buka pintu kamarku. Aji langsung masuk dan menyimpannya di balik lemari yang posisinya berada di Pojokkan kamarku.


"Aku taro disini ya Kak?" Ucap Aji sambil menaruh barang tersebut.


"Ok, makasih ya Ji?"


"Sama-sama Kak. Oh iya Kak, kamu udah makan belum?"


"Udah Ji. Lo tuh yang udah makan belum?"


"Beneran kak? Kalo belum, aku ambilin makanan dari rumah."


"Beneran Ji udah. Gw udah makan tadi."


Tanpa kata Aji langsung berlari keluar. Ia berlari pulang ke rumahnya dan kembali lagi sambil membawa lauk yang dimilikinya.


"Gila lo Ji? Di bilang gak usah. Nanti di marahin loh sama Bapak dan Ibu lo?"


"Gak lah Kak. Aku sudah sering melakukannya. Apalagi Bapakku, sangat menyukai kalo aku berbagi ke orang kak."


"Makasih ya Ji?"


"Sama-sama Kak."

__ADS_1


__ADS_2