Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )

Hantu Kosan Angker "Omah" ( Kisah Horor )
Part 46


__ADS_3

Kini kita bertiga telah keluar dari jalan tol dan sudah mulai memasuki jalan pedesaan. Setelah setengah perjalanan menuju lokasi tempat yang dituju, Memey melihat tukang pisang di pinggir jalan raya.


"Yank, berhenti yank?" Ucap Memey ke Eko


Eko langsung memberhentikan mobilnya.


"Ayo Kak?"


"Ok."


Lantas kita bertiga keluar dari mobil dan berjalan ke tukang pisang tersebut.


"Pak, kalo Leuwi Hejo masih jauh gak ya Pak dari sini?" Tanya Memey ke Bapak tukang pisang.


"Sudah deket Nenk. Dari sini tinggal lurus saja." Ucap tukang pisang.


"Oh iya Pak, pisang ini harganya berapa Pak?" Ucap Memey.


"25 ribu Nenk."


"Tolong di bungkus ya Pak?"


"Baik Nenk. Apa lagi Nenk?"


"Itu aja Pak."


"Ini Nenk?" Tukang pisang memberikan buah pisangnya.


"Makasih banyak ya Pak?" Memey menerima pisangnya.


"Sama-sama Nenk."


"Hayo cuss kita jalan lagi. Udah deket katanya." Ucap Memey.


Kita bertiga masuk kembali kedalam mobil. Eko mulai menjalankan mobilnya kembali.


"Kak, lo tau gak sih nama pisang ini?" Ucap Memey sambil mengangkat dan menunjukkan pisang yang di belinya.


"Tau, kalo di daerah gw, itu namanya pisang cau muli."


"Enak loh Kak. Pisang ini juga kesukaannya Ndut, Ya Ndut? Secara Ndut kan masih keturunan aa uu." Ucap Memey sambil meledek Eko.


"Hahaha, dasar lo Mek. Kalo Eko aa uu, berarti lo emaknya aa uu Mek?"


"Dasar Lo Kak!"


"Hahaha.."


Kini kita telah memasuki jalan setapak, hanya satu roda kendaraan yang dapat melintasi. Selain jalannya yang terus naik, tikungan tajam, jalanan juga lumayan parah.


"Srrrrrrrrr..." Roda mobil menggusar dijalanan yamg berlumpur.


Eko selalu menancap gasnya. Eko memberhentikan gasnya. Mobil ingin mundur turun ke belakang. Eko menancapkan gas mobilnya kembali.


"Srrrrrr..." Mobil tidak bisa bergerak.

__ADS_1


Rombongan motor Mahasiswa melintas.


"Berhenti-berhenti sob?" Ucap salah satu perempuan Mahasiswa tersebut.


Rombongan Mahasiswa pun berhenti lalu turun menghampiri.


"Bang, kita dorong ya?" Ucap Mahasiswa cowok.


"Waduh jadi tidak enak bang."


"Gak papa bang." Ucap Mahasiswa tersebut.


Salah satu warga menghapiri.


"Taro di rumah saya aja Pak?" Ucap pemilik rumah yang berada di dekat jalanan tersebut.


"Baik Pak." Ucap Eko.


Mahasiswa mendorong ke arah belakang dan alhamdulillahnya bisa turun dengan selamat. Eko memarkirkan mobilnya di halaman rumah warga barusan.


"Makasih banyak ya Mas-mas?"


"Gak usah bang, kita ikhlas koq." Ucap Mahasiswa.


"Gak papa bang, tolong terima aja?"


"Baiklah, terima kasih ya bang?"


"Saya yang berterima kasih ke Abang-abang sudah membantu kita."


Eko telah mengganti dan menggunakan pakaian trainingnya. Kita bertiga akhirnya berjalan menuju curug Leuwi Hejo berjalan kaki, karena mobil Eko tidak bisa naik. Jarak tempuh dari rumah warga tersebut naik turun dan sekitar satu jaman lebih. Sesekali kita berlari-larian, ngas nges ngos sambil sesekali mencari spot untuk selfie.


Kini kita telah berada didepan loket.


"Lumayan loh Ko, traking menuju curugnya?" Ucapku sambil melihat rute yang memang curug Leuwi Hejo ini terletak di atas gunung.


"Yakin kamu Yank bakalan kuat?" Ucap Memey.


"Pasti kuat lah Yank." Ucap Eko.


Lantas kita bertiga mulai berjalan memasuki area pegunungan tersebut. Kita harus berjalan melalui jalan setapak di sisi pegunungan tersebut. Sebelah kanan kita berjalan adalah jurang dan tidak ada pohon yang besar, hanya rumput-rumput kecil saja.


Selain itu, jalanan sangat licin dengan kondisi tanahnya yang lumayan gembur, karena rintik hujan telah turun. Meskipun hujan turun, kita tetap menaiki gunung tersebut.


Selain sudah terlanjur ke tempat tersebut, kita juga sangat penasaran akan keindahan Curug Leuwi Hejo tersebut. Memey berjalan berada di depan, aku di tengah dan Eko berada di belakang. Sesekali aku melihat ke belakang ke arah Eko yang memiliki beban berat badan yang lumayan.


Sesekali kita berlari dan berhenti sambil merayap di pegunungan tersebut, sesekali juga kita bersimpangan dengan orang yang hendak turun dari gunung.


Kini kita telah berada di tengah perjalanan menaiki pegunungan, Memey berhenti berjalan berada 4 meter diatasku dan dia menyender di gunung, sedangkan Eko berada di 6 langkah dibelakangku.


"Huhhh, Hahhh!!" Kita semua mengambil nafas dan menghembuskan nafas lelah.


"Masih kuat lu Ko?"


"Masih Kak." Ucap Eko sambil memegang pinggangnya dengan kedua tangannya dan juga sambil ngos-ngosan.

__ADS_1


"Gw di belakang deh Ko? Lo sama Memey di depan?"


"Gak papa Kak. Kalian berdua aja di depan."


"Gak Ko, lo sama Memey harus berada di depan gw."


"Ya udah kalo gitu." Eko langsung berjalan pelan berpondah posisi berada di depanku.


Kini mereka berdua menaiki gunung saling berbelakangan, posisi Memey tetap berada di depan, Eko di depanku dan aku di belakang. Sesekali kita terperosot dan memegang batang pohon yang berada di sebelah kiri kita.


Eko terlihat sangat lelah, dia terlihat seperti mau tumbang kearah sebelah kanan. Eko hampir terperosok dengan tangan kanannya yang hendak meraih ke sebelah kanannya.


"Ekooooo!!!"


Memey berhenti dan melihat ke belakang.


"Astaghfirrullah." Eko baru tersadar dengan posisi hampir terjedag ke jurang.


Aku segera berjalan menaiki gunung menghampirinya.


"Kenapa Lu Ko?"


"Gw berhalusinasi kak? Tadi gw liat disini ada pohon besar disini, makanya gw mau megang itu pohon." Ucap Eko.


Eko berhalusinasi bahwa disebelah kanannya ada pohon besar. Padahal sebelah kanannya tersebut adalah jurang.


"Ya udah lo, jalan santai aja. Jangan terburu-buru."


Akhirnya kita berjalan santai sambil sesekali berjalan merayap memegang gunung yang berada di sebelah kiri kita.


*Curug Leuwi Hejo.


Hingga akhirnya kita telah sampai di Curug Leuwi Hejo. Suasana langit sangatlah gelap dan juga masih hujan. Derasnya air terjun sangatlah deras. Hanya saja kita bertiga merasa senang karena dapat mencapai ke curug tersebut. Suasana area curug tersebut, lumayan ramai dan rata-rata para kaula muda yang suka Hiking menaiki gunung.


"Mei, Ko? Gak sabar gw pengen ke puseran dan menaiki tebing untuk terjun dari tebing itu deh?"


"Gak berani gw kak." Ucap Memey.


"Gw disini aja ya Kak?" Eko duduk di area aliran air datar.


Aku segera membuka kemejaku dan hanya menggunakan singlet bertuliskan I Love Bali.


Aku dan Memey berjalan ke pusaran air terjun tersebut. Aku berenang memasuki kolam yang berada di tengah-tengah tebing, aku menaiki tebing dan juga terjun dari tebing tersebut. Sesekali aku terjun dan berenang serta terseret oleh derasnya air terjun tersebut. Derasnya air mengalir tersebut, tidak lain karena hujan deras yang tidak mau berhenti.


Sedangkan Memey hanya berada di sekitar pusaran saja.


"Mantep loh Mey?"


"Gak berani gw kak masuk ke daerah situ? Apalagi harus menaiki tebing dari situ."


Benar-benar memicu adrenalin dan juga menantang.


"Ya udah yok, kita samperin Eko?"


Aku dan Memey nyamperin Eko. Kita ke aliran air sungai yang datar dan melanjutkan mandi di tempat tersebut. Tak lupa juga kita foto selfie di beberapa titik. Hingga aku melupakan dan meninggalkan baju kemejaku.

__ADS_1


__ADS_2