
Sekitar jam empat sore, Randy sahabatku mengirimkan whatsapp. Ia mengabarkan ingin datang bersama dengan temannya yang bernama Juan. Bahkan Ia telah berada di depan kosan Omah saat mengirimkan whatsapp kepadaku. Randy suka memanggilku dengan panggilan "Mak".
Lantas aku pun segera melihatnya dari pagar pembatas.
"Naik langsung aja Ran?" Ucapku dari pagar pembatas.
Randy dan Juan naik ke atas.
"Kenalin Mak, ini temen gw?" Ucap Randy.
"Juan." Ucap Juan.
"Azam." Hatiku mendadak bergetar dan bergejolak saat bersalaman dengannya.
Kita bertiga duduk di kursi besi.
"Dalam rangka apa blay main kesini?"
"Gw di undang buat ikut acaranya Hendrik Mak." Ucap Randy.
"Oh gitu."
"Lo udah gak kerja ya Mak?"
"Koq lo tau?" Ucapku.
"Gw pernah ketemu supervisor lo Mak. Gw deketin tuh Bu Riyanti waktu visit. Gw nanyain lo ke dia? Eh, katanya lo udah gak disitu."
"Lo sendiri masih jaga di kemeja?"
"Udah enggak Mak. Sekarang gw kerja jadi LSM yang nanganin HIV gituuu? Dan untungnya juga gw punya suami. Jadi gw kerja cuma buat iseng-iseng doang Mak."
"Tetep lah yaaa? Juara deh juara. Berarti, Juan ini suami lo ya?"
"Bukanlah Maak. Juan ini temen kerja gw yang sekarang. Gw ngajakin dia? Biar nambahin temen."
"Baguslah kalo gitu."
"Bukannya kalo kerja kayak gitu, lo harus ngumpulin data ya?."
"Alhamdulillah gw udah dapet data yang cukup bulan ini Mak." Ucap Randy.
"Kalo lo butuh data? Kontek gw aja Ran. Gw tau koq, gimana susahnya kalian mencari data yang harus berganti nama di setiap bulannya kan?"
"Koq lo tau sih Mak?" Ucap Randy.
"Ada temen gw yang udah almarhum, kerjanya sama kayak lo waktu dulu. Gw mah ikut-ikut aja buat ikut konselingnya, buat ngebantuin dia juga, biar diadapet data."
"Oh gitu, ya udah kalo gw kurang data, nanti gw kontek lo ya Mak?" Ucap Randy.
"Eh Mak, lo juga ikut kan ke acaranya Hendrik?" Ucap Randy kembali.
"Kayaknya gak deh blay."
"Emangnya kenapa? Ucap Randy.
"Kayaknya gw gak harus cerita sama lo deh. Dia juga pastinya udah cerita kan sama lo?"
__ADS_1
"Hehe, Iya sih Maak. Tapi kan lo tau sendiri? Itu masalahnya dia, Gw gak mau ikut campur."
"Setuju."
"Terus lo kerja dimana sekarang Mak?" Ucap Randy.
"Gw lagi fokus jualan aja blay. Lo taukan beranda sosmed gw?"
"Emak emang pinter." Ucap Randy.
"Anaknya lebih pinter dari gw. Pinter nyari laki. Hahaha."
"Hahaha, lo tau sendiri kan Maaak? Gw pake ini itu biar laris?"
"Iya gw tau." Ucapku.
"Tapi blay, selain lo sebagai LSM? Lo juga suka tes VCT-nya juga kan?" Ucapku kembali.
"Iya donk Mak, kan untuk kesehatan gw juga." Ucap Randy.
"Baguslah kalo gitu. Lo juga harus hati-hati, jangan ngasal berhubungan sama orang?"
"Iya Mak gw tau. Sekarang ini gw hanya berhubungan dengan satu orang doang Mak." Ucap Randy.
"Eh Mak, kapan pulang ke kampung? Bareng yuk? Gw kalo di kampung gak ada temen tau buat curhat. Disini juga kan temen curhat gw cuma lo? Walaupun sekedar by Phone doang gw bisanya." Ucap Randy kembali.
"Nanti juga ada saatnya gw akan pulang ke rumah blay."
"Mak, kita cari makan dulu yuk? Gw laper." Ucap Randy.
"Mau makan Indomie pasti?" Ucapku.
"Ya udah, makan di warung kopi langganan gw aja yang di depan portal gang."
"Ok." Ucap Randy.
'*Di Warung Indomie
Juan duduk dan terlihat alim banget. Sedangkan Randy selalu ngoceh kalau bertemu denganku.
"Mak, koq bisa sih lo sama dia jadi kayak gitu?"
"Kayaknya bukan hal yang penting untuk di bahas deh blay. Lagian kan lo mantannya? Pastinya, lo lebih tau kan sifatnya? Lo kenapa cuma sebulan doank sama dia?"
"Hahaha.. Lo Mak, Uhukuhukk." Ucap Randy sambil tersedak makanan Indomie.
"Hahaha.." Aku ikut tertawa.
"Lo bikin ngingetin gw aja Mak, Gw kira dia itu laki mak? Eh ternyata dia pewita. Udah gitu, lo tau sendirikaaan?" Ucap Randy sambil sesekali nunjuk dengan telunjuknya kalau sedang berbicara.
"Iya gw tau. Pasti lo di porotin kan?"
"Hahaha.." Ucap Randy.
"Susah kalo sama kucing liar. Untungnya ketemunya sama kucing jinak kayak lo? Nurut, tapi pada akhirnya kualahan. Hahaha."
"Sialan lo Mak. Hahaha" Ucap Randy.
__ADS_1
"Ya udah yok balik. Bentar lagi juga bokin lo kayaknya mau dateng Ran." Ucapku ke Randy.
Randy orangnya agak bocor, sama kayak aku kalo lagi ngelawak. Gak suka pake maen hati kalau sedang bercanda sama temen sendiri. Makanya dia merasa klop sama aku. Bahkan, tiga bulan sebelum Ia meninggal dunia pun sempat main ke rumah dan menceritakan hidupnya, bahwa Ia sudah merasa tidak kuat untuk menjalani hidup.
Kini aku, Randy dan Juan telah berada di Kosan Omah kembali. Aku dan Randy duduk di kursi besi bersebelahan, Juan duduk di kursi makan.
Sekitar jam setengah 6 sore. Memey, Hendrik, Nina, bersama dkk pulang ke Kosan Omah. Mereka semua satu per satu menaiki tangga. Kebetulan Memey yang datang duluan.
"Udah pulang lo Mek?"
"Udah Kak, yang lain juga ada di bawah."
"Oh.. Oh iya kenalin nih kakak lo yang baru? Namanya Randy dan yang ini Juan?" Ucapku memperkenalkan mereka berdua.
"Juan, Randy." Ucap mereka berdua berkenalan dengan Memey.
"Memey."
"Ya udah Kak, gw masuk ke kamar."
"Ok."
Memey masuk ke dalam kamarnya dan menelpon Eko untuk meminta ijin ke Eko.
"Blay, Ju ngobrolnya di kamar gw aja ya? Gw mau tiduran sambil ngupload produk."
"Ok, Mak."
Lantas aku dan mereka berdua mengobrol di dalam kamar dengan posisi pintu kamarku yang terbuka lebar seperti biasanya.
"Tap, tap, tap." Rombongan menaiki tangga.
Randy berdiri ke depan pintu kamarku.
"Udah dari tadi kamu dateng?" Ucap Hendrik ke Randy.
"Lumayan, dari tadi gw sama Emak." Jawab Randy.
Randy pun di panggil ke dalam kamarnya Hendrik. Mungkin, tujuan Hendrik mengajak Randy? Supaya aku juga mau ikut dan ternyata memang benar. Akan tetapi Randy mengetahui sifatku, Randy tidak berani untuk berbicara kepadaku, terlebih aku sudah mengatakan tidak akan mau ikut.
Tak berapa lama kemudian, mereka berdua keluar kembali. Rombongan dkk (dan kawan-kawan) mengobrol di kursi besi. Sekitar 11 orang lah disitu.
Randy selalu mondar-mandir keluar masuk ke dalam kamarku seperti ingin mengatakan sesuatu. Akan tetapi, Ia tetap tidak berani. Hingga akhirnya Hendrik memanggilku.
"Blay lo mau ikut kan?" Seru Hendrik kepadaku.
"Beneran lo Ndrik negur gw?" Gumamku sambil tiduran di kamar.
Aku tidak menjawabnya. Setelah dia memanggilku bersama dengan Randy, aku baru keluar. Aku sudah beberapa minggu tidak diajak mengobrol dengannya.
Di hari itu juga, karakter kedua Nina yang aslinya mulai terlihat. Yang mana, Nina tidak menyapaku sama sekali. Dari situ juga, aku mulai menilai dan mungkin ucapan Memey menang benar. Akan tetapi, aku masih tetap memperhatikannya lebih lanjut.
Singkat cerita aku pun ikut di acara ke puncaknya tersebut. Aku ikut karena Memey ingin sekali ikut ke acara tersebut, Memey juga menginginkan aku untuk ikut.
Aku pun sangat tidak tega kalo Memey harus sendirian disana. Aku ikut ke acara tersebut, karena untuk memastikan Memey tidak menyetir mobilnya sendiri.
Ya, meskipun Memey akhirnya harus bertengkar dengan Eko. Karena Eko tidak menyetujui Memey untuk ikut ke acara tersebut.
__ADS_1
Semenjak dari acara tersebut hubungan pertemanan kita, secara kasat mata terlihat baik. Ya, mereka bersikap berpura-pura seolah tidak ada masalah. Aku pun menyikapinya dengan positif thinking.