
Waktu menunjukkan jam 17.15. Via bersama Rudi baru saja pulang dari kerjaaannya. Mereka berdua langsung masuk ke kosan Omah lalu menaiki tangga. Mereka berdua duduk bersebelahan dikursi besi.
"Kaaak.." Seru Via memanggil Azam.
"Iya Dek." Seru Azam dari dalam kamar mandi.
Azam segera keluar dari kamar mandi lalu duduk dikursi besi yang diujung dekat cermin.
"Kalian berdua sudah pada kerja ya?" Ucap Azam yang baru mengetahui mereka berdua sudah bekerja dan terlihat masih menggunakan seragam Restorannya.
"Sudah Kak." Ucap Via.
"Di Cabang mana Dek?" Kebetulan nama Restoran tersebut sangat familliar dan cabangnya ada dimana-mana.
"Di Mal ini Kak." Via menunjukkan fotonya yang sedang berada di depan Mall tersebut.
"Enak ya deket? Bisa ngirit biaya hidup." Ucap Azam.
"Alhamdulillah Kak." Ucap Via.
"Sudah pada makan belum lu Dek?" Tanya Azam.
"Sudah Kak. Kebutulan kita berdua dapet jatah makan dikerjaan." Ucap Via.
"Rud, ngeliatin apaan?" Ucap Azam yang sedari tadi melihat Rudi selalu menatap kelangit-langit gedung kosan.
Rudi tidak menjawabnya. Rudi tetap menatap kearah atap langit-langit kosan. Seketika bulu kuduk Azam pun merinding melihatnya.
"Lu bisa ngeliat Rud?" Tanya Azam.
"Enggak Kak." Rudi menjawab sambil tetap menatap ke atap kosan.
"Horor amat ini bocah? Bikin gw jadi merinding." Gumam Azam sambil memegang leher dan juga sambil menatap kearah Rudi.
Via langsung menengokkan wajahnya yang sedang bertatapan dengan Azam kearah belakang, kearah wajah Rudi yang sedang menatap langit-langit kosan.
"Kenapa kamu si Yank?" Ucap Via sambil meraup wajah Rudi dengan satu tangan kanannya. Mungkin Via baru menyadari tingkahnya Rudi.
"Hehe, Gak apa-apa yank." Ucap Rudi sambil tetap menatap kearah atap kosan.
Semakin merinding bulu kuduk Azam dan mendadak lehernya terasa berat.
Via kembali menatap kearah Azam.
"Kak, yang cewek itu beneran sodara Kakak? Sodara kandung?" Tanya Via kepada Azam.
"Iya Dek. Dia sodara Gw. Tapi sodara angkat." Azam berkata sambil memijat-mijat lehernya yang terasa berat.
"Kenapa emangnya Dek?" Sambung ucapan Azam.
"Hehe, Gak apa-apa Kak." Ucap Via terlihat merasa tidak enak ingin menanyakan sesuatu kepada Azam.
"Lu cerita saja Dek? Kalo emang ada yang salah sama Nina ngomong saja Dek? Biar nanti Kakak kasih saran ke Nina." Ucap Azam.
Rudi tengah melirikkan matanya kekanan dan kekiri ke langit-langit kosan Omah. Membuat Azam semakin merinding melihat tingkahnya.
"Aku ngomong ya Kak? Tapi Kakak jangan marah?" Ucap Via.
__ADS_1
"Iya Dek ngomong aja? Gw gak bakalan marah koq." Ucap Azam sambil terus memijat-mijat lehernya yang terasa berat dan merinding.
"Orangnya sombong Kak." Ucap Via.
"Sombong gimana Dek?" Tanya Azam.
"Iya Kak sombong. Setiap aku sapa? Dia gak pernah jawab sapaanku." Jawab Via.
"Kapan lu menyapanya dan dimana?" Tanya Azam.
"Kalo dia lagi turun kebawah. Kalo dia ingin berangkat kerja Kak." Ucap Via.
"Mungkin dia buru-buru kali Dek. Atau memang gak ngedenger kalo lu menyapa." Ucap Azam.
"Tapi aku sering Kak menegurnya? Di Mall juga aku suka menyapanya kalo dia lagi istirahat keluar." Ucap Via.
"Masa Iya sih Nina seperti itu?" Gumam Azam.
"Ya udah, nanti kalo orangnya balik, gw tanya ya Dek?" Ucap Azam.
Rudi tengah menatap kearah pojokkan langit-langit kosan Omah.
"Sst, ssst,, sssst,," Azam memberi kode kepada Via sambil mengedutkan kedua matanya kearah Rudi.
Via langsung menatap kearah Rudi.
"Yank, kenapa sih kamu Yank?" Ucap Via sambil menatap wajah Rudi yang sedang menatap ke pojokkan langit-langit kosan Omah.
"Gak apa-apa Yank. Itu ada dia?" Celetuk Rudi sambil menunjuk kearah pojokkan langit-langit kosan.
"Owkkk, Owkkk" Azam pun merasa mual dan mendadak pusing.
"Dek, Gw mau maghrib dulu ya?" Ucap Azam sambil mendirikan badannya dan tetap memijat lehernya.
"Oh Iya Kak. Kalo gitu kita turun ya Kak?" Ucap Via.
"Iya Dek." Ucap Azam.
Sejenak Via mendirikan badannya.
"Hayu Yank turun?" Ajak Via kepada Rudi.
Rudi turut berdiri lalu ikut menuruni tangga menuju kebawah bersama Via.
Azam masuk kedalam kamar sebentar untuk meminum air. Azam keluar kembali lalu berwudhu di dalam kamar mandi. Setelah berwudhu tersebut, seketika rasa merinding dan terasa berat di lehernya Azam langsung menghilang.
Malam Harinya
Sekitar jam setengah sebelas malam, Nina bersama Hendrik baru pulang.
"Tap,tap,tap." Jejak langkah Nina berlari ditangga.
Hendrik berjalan berada dibelakangnya Nina.
Azam mendirikan badan lalu berjalan keluar menuju kursi makan. Azam mendaratkan bokongnya dikursi makan dengan posisi satu kakinya yang di naikkan ke kursi.
"Udah makan Kak?" Tanya Nina.
__ADS_1
"Belum. Sengaja gw nungguin kalian berdua." Jawab Azam.
"Mau makan apaan blay?" Tanya Hendrik.
"Biasa blay." Jawab Azam.
Hendrik pun memahaminya. Yaitu Pecel Ayam langganannya Azam.
"Ya udah gw ganti baju dulu?" Ucap Hendrik.
Setelah Nina dan Hendrik Ganti Baju.
"Ayok Blay?" Ajak Hendrik.
"Kalian berdua ajalah blay yang keluar?" Ucap Azam.
"Yakin Lo gak mau keluar?" Tanya Hendrik.
"Iya Kalian berdua saja." Ucap Azam.
"Lagian kasihan juga kalo harus Nina yang nungguin disini?" Ucap Azam.
"Itu Doank blay?" Tanya Hendrik.
"Iya itu aja." Jawab Azam.
Lantas Hendrik bersama Nina segera berajalan menuruni tangga lalu meluncur ke tukang pecel ayam. Setelah itu mereka berdua kembali lagi ke Kosan Omah. Mereka bertiga makan melingkar di atas lantai.
"Gimana keadaan Outlet yang Lo jaga Nin?" Tanya Azam.
"Lumayan Rame Kak." Jawab Nina.
"Betah Lo disini?" Tanya Azam.
"Betah Kak." Ucap Nina.
"Betah lah blaaay, orang ada kita." Jawab Hendrik.
"Oh Iya, tadi sore Via sama Rudi main kesini. Dia sempet cerita sesuatu ke gw." Ucap Azam.
"Apa bener? Lo kalo disapa sama mereka, Lo gak- suka menjawab sapaannya?" Tanya Azam kepada Nina.
Nina terdiam dan memberhentikan tangannya yang sedang memasukkan makanan kedalam mulutnya.
Azam menyikapi orang yang terdiam disaat ditanya? Menandakan Ia merasa.
"Gw sih gak apa-apa Nin. Gw gak marah. Hanya saja, lain kali kalo disapa mereka? Minimal Lo berhenti dan menjawabnya. Kalopun emang lagi buru-buru? Cukup sekedar menjawab sambil berjalan dan memberikan senyuman aja." Ucap Azam.
"Jangan lebay deh Lo blay?" Ucap Hendrik yang tidak menyetujui saran Azam.
"Bukan lebay Jablay? Itu juga untuk kebaikannya dia juga." Jawab Azam.
Hendrik pun langsung terdiam.
"Iya Kak. Nanti gw akan begitu." Ucap Nina yang teelihat seperti menolak untuk melakukannya.
Selesai makan mereka bertiga pun bercanda-canda ria seperti biasanya. Sekitar jam setengah satu dini hari, mereka bertiga baru masuk kedalam kamarnya masing-masing.
__ADS_1