
Kejadian ini tepatnya di hari keempat selama Azam bersama dengan ketiga temannya berada di Bali.
Seperti biasa mereka berempat mengunjungi tempat wisata dari Hotel selalu diatas Jam 11 siang. Seperti biasa juga, merek berempat menuju ke tempat wisata menggunakan Google Maps.
"Kemana kita hari ini kak?" Tanya Hendrik kepada Arfan.
"Ke Pasar Sukowati." Ucap Arfan.
Sekitar jam setengah satu siang, mereka berempat telah sampai di Pasar Sukowati. Sejenak mereka memarkirkan motor terlebih dahulu, lalu langsung memasuki Pasar Sukowati.
Mereka berempat membeli berbagai macam oleh-oleh, terutama Azam bersama Hendrik paling banyak membeli Kue Pie dan Selendang Bali. Sementara Arfan bersama Irfan tidak terlalu banyak membeli oleh-oleh, dengan alasan tujuan liburan mereka berdua hanyalah sekedar berliburan saja.
"Dek Gw duluan ya? Ada orang yang mau ketemu sama gw di Hotel?" Ucap Arfan kepada Azam.
"Blay, masih inget gak lu jalan pulangnya?" Azam bertanya kepada Hendrik.
"Inget gw." Jawab Hendrik.
"Ya sudah kak silahkan kalo mau duluan mah." Ucap Azam kepada Arfan.
"Oke. Kita duluan ya Zam, Ndrik?" Ucap Arfan.
"Oke Kak." Ucap Azam bersama Hendrik secara bersamaan.
Arfan bersama Irfan pun langsung keluar dari Pasar Sukowati lalu segera mengendarai motor menuju pulang ke Hotel. Sementara Azam bersama Hendrik masih memilah-milih dan cukup banyak oleh-oleh yang mereka berdua beli. Selesai memilah-milih mereka berdua pun mengantri di kasir. Hendrik berada didepan Azam.
"Blay, Gw tunggu diluar ya?" Ucap Hendrik setelah membayar belanjaannya.
"Iya, jangan jauh-jauh Lo?" Ucap Azam sambil berdiri didepan kasir.
"Gw tunggu didepan pintu masuk." Ucap Hendrik.
"Oke blay." Ucap Azam.
Setelah selesai membayar, Azam pun berjalan keluar dari pasar menuju ke halaman depan pasar yang tidak jauh dari pintu masuk pasar sukowati.
Terlihat Hendrik tengah ditato kakinya oleh dua orang tukang tato, didepan teras pasar sukowati tersebut. Azam segera berjalan mendekati Hendrik lalu mendaratkan bokongnya dibelakang Hendrik yang sedang duduk di tato oleh si tukang tato.
"Blay, mau gak Lo?" Ucap Hendrik kepada Azam sambil mengerakkan pundakknya.
"Gak blay." Ucap Azam.
"Murah Koq blay, cuma 30ribu." Ucap Hendrik terlihat memaksa.
"Gak blay." Ucap Azam.
Tanpa permisi, satu temannya si tukang tato langsung memegang kakinya Azam dan langsung melukis kakinya Azam.
"Apa-apaan ini Pak? Saya tidak mau ditato!" Ucap Azam reflek dengan nada ngegas sambil menangkis koasnya dengan tangannya hingga terjatuh ke bawah.
"Udah blay, gak apa-apa?" Ucap Hendrik sambil menggerakkan pundaknya kepada Azam.
Tukang tato pun mengambil koasnya lalu mentato kembali kakinya Azam.
"Pak, Saya bilang tidak ya tidak!" Ucap Azam ngegas.
__ADS_1
Tukang tato tetap terus melanjutkan mentatonya.
"Udah, nanti gw yang bayarin." Ucap Hendrik.
"Gw gak minta loh blay?" Ucap Azam.
"Iya gak apa-apa." Ucap Hendrik.
"Tumben amat ini anak? Mau bayarin gw untuk sesuatu hal yang kurang berfaedah?" Tanya didalam hatinya Azam melihat sikap Hendrik yang lumayan aneh.
Mau tidak mau, Azam pun menuruti perkataan Hendrik, dan akhirnya kakinya dilukis oleh si tukang tato.
"Udah Pak udah?" Ucap Azam karena Hendrik telah selesai di Tato.
"Belum selesai." Ucap si tukang tato maksa sambil memegang erat kakinya Azam.
"Tidak apa-apa belum selesai juga." Ucap Azam sambil menangkis koas si tukang tato.
Lantas tukang tato pun memberhentikan mentatonya.
"Ini ya Bang?" Hendrik membayar sesuai dengan tarif awal, yaitu 30 ribu.
"Apa-apa'an ini? Kata siapa 30 ribu?" Ucap orang yang mentato Hendrik.
"Lah kan abang bilangnya 30 ribu?" Ucap Hendrik ngegas.
"Mana ada lukisan segede ini, dengan warna-warni yang kayak gini harganya 30 ribu?" Ucap si tukang tato berbalik ngotot.
"Terus berapa?!" Tanya Hendrik.
"100 ribu." Ucap si tukang tato.
"Blay-blay udah blay, bayar aja." Azam menyuruh Hendrik membayar bukan karena suatu tanpa alasan, akan tetapi Ia melihat gerak-gerik dua orang yang mentato tersebut sangat mencurigakan. Selain modus penjualan tato, Azam pun juga berfikir, takutnya dibalik tembok sana (diluar pasar) banyak komplotannya. Karena Azam melihat orang yang mentato Azam barusan sering keluar masuk tembok pasar.
"Udah cepetan bayar blay? Arfan sudah menunggu?" Ucap Azam.
Hendrik lalu membayarnya 2x 100ribu.
Di Jalan Menuju Hotel
Sekitar jam setengah tiga sore mereka berdua baru keluar dari parkiran pasar, lalu berangkat menuju pulang ke Hotel.
"Nanti gw bayar blay. Lo gak usah bayarin tato gw." Ucap Azam.
Hendrik melamun sambil menyetir motor.
"Woy!!!" Ucap Azam mengagetkan Hendrik.
"Iya Blay gw denger koq." Ucap Hendrik dengan nada suara pelan.
"Ini dijalan bancet! Jangan ngelamun Lo!" Azam ngegas.
"Iye-iye bawel Lo ah!" Ucap Hendrik ngegas.
Hendrik sudah berbicara dengan nada ngegasnya kembali, yang menandakan dia sudah sadar. Karena Azam fikir saat Hendrik memintanya untuk ditato di Pasar sewaktu tadi, dia berada dibawah kendali, yaitu Hipnotis.
__ADS_1
Setelah setengah dari perjalanan menuju Hotel, Ponsel Azam pun mati. Sementara ponselnya Hendrik pun sudah mati sewaktu dari Pasar tadi.
"Ndrik, ponsel gw mati? Lo masih ingatkan jalan pulangnya?" Tanya Azam.
"Masih." Ucap Hendrik sambil menyetir.
Akhirnya mereka berdua jalan menuju Hotel tanpa Google Maps. Mereka berdua menyetir motor saling bergantian. Sekitar jam setengah empat, mereka berdua hanya berputar-putar didaerah yang sama dan berujung di tempat yang sama. Yaitu daerah yang ada jalan motor diatas laut (Jalan Tol motor).
Padahal mereka berdua telah bertanya kepada orang yang mereka temui, akan tetapi tetap berputar dan selalu berujung ditempat yang sama.
Selama tiga kali putaran mereka hanya berputar-putar didaerah tersebut. Menurut orang-orang, kejadian tersebut merupakan jebakan "Oyot Mingmang".
Hingga pada akhirnya motor yang mereka naiki pun kehabisan bensin. Tepat maghrib motor yang mereka pakai kehabisan bensin. Mau tidak mau, mereka berdua pun secara bergantian mendorong motor tersebut untuk mencari Pom Bensin.
Tidak bisa menghubungi Arfan maupun mencari Pom Bensin melalui Google Maps, karena ponsel mereka berdua telah mati.
Kurang lebih sepuluh menitan mereka berdua berjalan sambil membawa motor, barula mereka berdua menemui jalan yang mereka kenali. Yaitu jalan yang menuju ke Monumen Bom Bali. Jalan tersebut berada disebelah kanan Hotel yang mereka tempati. Kurang masuk diakal? Tapi itulah yang dialami oleh mereka berdua.
"Blay bukannya jalan ini, Jalanan yang kemarin malam kita jalan-jalan ya?" Ucap Azam.
"Iya bener blay. Hotel besar ini juga tidak jauh dari MCD yang biasa kita makan setiap hari." Ucap Hendrik.
Seketika mereka berdua merasa senang dan berucap syukur Alhamdulillah, karena akhirnya mereka dapat kembali ke Hotel dalam keadaan yang tidak kurang sedikitpun dari diri mereka berdua.
Sesampainya di Hotel
"Blay, lo beneran gak sih tadi maksa gw buat ditato?" Tanya Azam.
"Sorry, bukannya gw gak mau nerima kebaikan Lo? Tapi aneh aja blay? Lo yang suka perhitungan ke gw, mau bayarin gw tato? Yang menurut gw gak ada manfaatnya?" Ucap Azam kembali.
"Gak tau blay. Gw setengah sadar." Ucap Hendrik.
"Tapi inget gak Lo? Lo sempet berantem tadi?" Tanya Azam.
"Inget." Ucap Hendrik.
"Gw takutnya blay, kejadian Oyot Mingmang ini masih ada kaitannya dengan keributan lo sewaktu di Pasar tadi? Kenapa gw nyuruh lo bayar? Karena satu temannya mondar-mandir keluar masuk pasar. Takutnya mereka memiliki komplotan blay." Ucap Azam.
"Lo juga pas nawarin ke gw buat ditato, pandangan mata Lo fokus menatap kearah abangnya mulu? Gw sempet curiga saat Lo maksain gw buat ditato?" Ucap Azam.
"Makanya pas di Pasar tadi? Gw sengaja ngajakin lo ngobrol terus, sambil sesekali gw cubit dan menepuk pundak Lo beberapa kali, Biar lo sadar." Ucap Azam.
"Masih berasa kaaan cubitan gw blay? Hahaha." Ucap Azam kembali.
"Pantesan paha gw membiru begini." Ucap Hendrik sambil memperlihatkan pahanya yang di cubit oleh Azam.
"Waduh! Jangan-jangan nyawa Lo sekarang? Masih ada disana lagi?" Ucap Azam.
"Sia*an Lo!!!" Ucap Hendrik.
"Oh udah sadar toooh? Udah ngegas kembali sekarang?Hahaha." Ucap Azam.
Selepas daripada itu. Malam harinya, mereka berempat keluar dari Hotel untuk mencari jajanan malam di sekitaran Jalan Kuta, Monumen Bom Bali.
Tak disangka merek berempat pun menemukan salah satu warung makan khas Jawa yang berada di belakang Ruko Outlet. Dengan girangnya mereke berempat makan dengan lahapnya diwarung tersebut. Sayangnya mereka berempat baru menemukan warung tersebut disaat dimalam terakhir mereka berempat di Bali.
__ADS_1
Keesokan harinya, mereka berempat bermain-main sebentar di Pantai, lalu di sore harinya mereka berempat Chceck-out dari Hotel lalu kembali pulang menaiki pesawat menuju ke Bandara SuTA.
Mereka berempat pulang ke tempatnya masing-masing. Arfan bersama Irfan pulang ke rumahnya. Sementara Azam bersama Hendrik pulang ke kosan Omah.