
“Huaaaaach..” Azam menguliat badan sambil memelekkan kedua bola matanya. Azam segera membangkitkan tubuh langsingnya lalu berjalan membuka pintu kamarnya.
“Itu anak koq belum berangkat?” Azam melihat pintu kamarnya Hendrik terbuka.
Sejenak Azam mengambil handuk lalu berjalan keluar menuju ke kamar mandi sambil bernyanyi “Pernahkah kau merasa..”
“Seneng amat lo rupanya?” Hendrik Menegurnya sambil merendam pakaian didepan kamar mandi.
Azam langsung memberhentikan jalannya.
“Ya senenglah.. Target gw udah nyampe, Over malah”,
“Eh ngomong-ngomong, lu koq ngerendem baju? Gak kerja emang?”
“Libur gw.” Ucap Hendrik sambil membolak-balikkan pakaiannya yang sedang di rendam.
“Sama dooonk. Eh blay, kita masak aja yuk? Bosen gw makan diluar mulu. Gw lagi kepengen makan makanan emak gw.”,
“Lumayan kaaan bisa ngirit juga?”
“Bisa masak lo? Bukannya cuma bisa masak nasi doang?” Ucap Hendrik.
“Jiaaah ngremehin. Udah biasa kaeles gw masak. Kalo dirumah, ya gw yang masak blaay.”
“Terus selama ini kemana aja lo? Seinget gw dulu lo gak pernah masak? Bisanya cuma nyolokin magiccom doang!” Ucap Hendrik ngegas.
“Jangan banyak cingcong deh Ndrik! Mau apa nggak lo?” Azam berkata cepat.
“Lagian kan ada lo?"
"Mantan Waitress Japanesse kaaan Lo duluu? Hahaha.” Azam meledek Hendrik.
“Sialan lo!” Hendrik menyipratkan air rendaman pakaiannya kepada Azam.
“Hahaha, Mau apa kagak lo?” Azam berlari masuk kedalam kamar mandi.
“Lo juga belum pernah ngerasain kan blay masakan daerah gw?” Ucap Azam dari dalam kamar mandi.
“Iya-iya gw mau!” Ucap Hendrik.
“Cuuuus siapin duit lo dari sekarang!”
Selesai Mandi dan menggunakan pakaian..
“Mau belanja dimana blay?” Ucap Hendrik sambil memainkan ponselnya dikursi makan.
“Kita kepasar aja lah blay.” Ucap Azam sambil menutup pintu kamar.
“Eh Blay, hubungi Mas Adam sama Wahyu suruh kesini? Biar kita masak sekalian buat mereka juga.” Azam berkata sambil berjalan mendekati Hendrik.
“Iye!” Jawab Hendrik sambil menaikkan satu kakinya diatas kursi makan.
Azam telah berdiri disampingnya Hendrik.
“Noh udah gw hubungi.” Hendrik memperlihatkan chat whastappnya.
“Ok deh.., Ya udah ayok kita jalan!”
Hendrik segera mengangkat bokongnya dari kursi makan. Mereka berdua langsung berjalan menuruni tangga lalu mepuncur ke pasar menaiki motor.
Di Pasar
Azam membeli beras, tempe, kangkung, terasi, cabe, Ikan Asin, telor, dan yang lainnya sesuai dengan bahan-bahan masakan yang biasa Ia masak di daerahnya.
“Blay, lo mau apa’an? Mungpung kita masih disini (di Pasar).” Azam berkata sambil berdiri didepan tukang sayuran.
“Udahlah itu aja.” Jawab Hendrik.
“Ok.”
“Yakin tuh Mas Adam sama Wahyu bakalan suka?” Tanya Hendrik.
“Pasti lah blaaay. Mereka kan lidahnya gak beda jauh kayak kita? Lagian, kita juga jarang-jarang makan yang beginian. Gw yakin mereka juga pasti suka.”
“Ooh, ya udah ayok balik.” Ajak Hendrik.
“Ok.”
Mereka berdua kembali pulang menaiki motor menuju kosan Omah.
__ADS_1
Sesampainya di Kosan.
“Blay-blay, kayaknya ada anak kos baru deh itu?” Ucap Hendrik sambil memberhentikan motornya di depan pintu gerbang kosan Omah.
Mereka berdua melihat Omah sedang berjalan dari rumahnya sambil membawa sprei, hordeng dan Bantal kedalam kosan.
“Iya bener Blay.”
“Ya udah cepetan bukain pintunya! Malah berdiri kayak patung!” Ucap Hendrik.
“Iya-iya, lo malah ngajakin gw ngobrol.”
Sejenak Azam membuka pintu gerbang kosan. Baru saja Ia menutup pintu gerbang kosan, Omah berjalan mereka berdua dari dalam kosan.
“Habis dari mana?” Tanya Omah.
“Habis dari Pasar Omaah. Nih, habis beli ini.” Azam menenetengkan belanjaannya di depan Omah.
“Mau masak apaah?” Tanya Omah dengan suara berbisik.
“Biasa Omah, lagi kangen masakan kampung.” Ucap Azam.
“Omah, ada penghuni kosan baru ya?” Tanya Hendrik sambil duduk di motornya.
“Iya, he-he.” Jawab Omah sambil cengengesan.
“Laki apa cewek Omah?” Tanya Hendrik sambil berjalan masuk ke kamar mandi bawah.
“Ya sudah Omah ke Rumah dulu ya?” Jawab Omah sambil berjalan ke Rumahnya.
“Blaaay blay, udah tau Omah begitu? Malah nanya ke dia sambil berjalan?” Ucap Azam.
“Ah, lupa gw.” Hendrik lupa kalau sedang berbicara dengan Omah harus bertatap muka.
“Ya udah cepetan masuk? Kita liat cewek apa cowok anak kos barunya?”
“Iya.”
Mereka berdua berjalan santai saling beriringan menuju lorong kosan lantai bawah sambil menuntun motornya.
“Ditutup blay.” Ucap Hendrik yang melihat kamar kosan yang baru saja di isi terlihat tertutup.
“Udahlah gampang kenalannya nanti aja blay. Mungkin mereka masih capek karena baru pindahan.”
Azam segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci berasa. Hendrik mencuci sayuran di depan pintu kamar mandi.
"Yang bersih tuh nyuci berasnya!" Ucap Hendrik Ngegas sambil mencuci sayuran didepan pintu kamar mandi dan sambil melihat Azam yang sedang mencuci beras didalam kamar mandi.
"Iya-iya. Nih, gw cuci bersih!!!" Azam menggeol-geolkan bokongnya sambil mencuci beras.
"Hahaha, jablay-jablay." Hendrik pun menertawakannya.
"Gak bisa kan lo? Goyang sambil nyuci beras?" Azam berkata sedikit ngegas sambil tetap bergoyang meledek Hendrik.
"Craaaat, ehehehe." Hendrik melemparkan sayuran kepadanya sambil tertawa.
"Harusnya lo tuh blay? cuci sayurannya yang bener! Jangan sampe ada cacing, maupun lintah didalamnya!" Azam berkata ngegas.
"Iye, Bawel lo!" Hendrik terpancing emosi.
"Hahaha, takut ah bentar lagi ada nenek-nenek marah-marah." Azam berkata sambil menutup pintu kamar mandi.
BRAG!!! Hendrik melempar sesuatu kepintu kamar mandi.
Azam tetap melanjutkan mencuci berasnya. Azam pun sekalian mandi. Tak berapa lama kemudian datang seorang Gadis bersama dengan seorang Pemuda menaiki tangga ke lantai atas.
"Hy kak, kos disini ya?" Tanya Gadis itu kepada Hendrik.
"Iya." Jawab Hendrik.
"Kenalin kak, namaku Via. Aku tinggal dikamar bawah." Gadis itu menyodorkan tangan kanannya.
"Hendrik." Hendrik berjabat tangan dengan Via.
"Rudi." Kekasihnya Via berkenalan dengan Hendrik.
Via bersama Rudi segera mendaratkan bokongnya di kursi besi saling beriringan. Sementara Hendrik duduk di kursi makan. Mereka bertiga sedang mengobrol.
Azam mendengar suaranya. Azam mematikan kran mandinya sejenak.
__ADS_1
"Kayak ada suara cewek?" Azam berucap sendiri di dalam kamar mandi.
"Ndriiik, lagi ngobrol sama siapa lo?" Teriak Azam dari dalam kamar mandi.
"Berisik lo!" Hendrik tetap tidak bisa menutupi emosinya meskipun ada orang baru.
Azam langsung terdiam. Azam membuka kran kamar mandi kembali untuk melanjutkan mandinya.
Usai mandi, Azam membalutkan handuk di setengah badannya. Azam berjalan keluar dari kamar mandi sambil membawa beras yang telah di cucinya.
Seketika Via bersama Rudi pun langsung menatap kearah Azam yang sedang berjalan.
Azam berhenti berjalan di depan kamarnya. Azam mencolokkan magiccom di depan tembok kamarnya.
Hendrik berdiri lalu berjalan mendekati Azam. Hendrik mengangkat dan ingin memerosotkan handunya Azam kebawah.
Reflek Azam pun langsung menutup Magiccom dengan cepat sambil memegang handuknya yang sudah sedikit renggang tinggal merosot ke bawah.
"Ndrik kebiasaan deh lo? Gak malu apa!" Azam berkata cepat dengan nada pelan sambil memegang handuknya.
"Hehehe." Hendrik cengengesan. Mungkin Hendrik ingin mempermalukannya.
Azam segera masuk kedalam kamarnya. Setelah menggunakan pakaiannya, Azam keluar kembali.
Via dan Rudi langsung mengangkat bokongnya untuk berdiri.
"Kenalin Kak, namaku Via." Via menyodorkan tangan kananannya kepada Azam.
"Azam." Azam berjabat tangan dengan Via.
"Rudi." Rudi berjabat tangan dengan Azam.
Karena dari segi usianya masih terlihat sangat muda, Azam pun memanggil Via dengan sebutan "Dek".
"Santai saja kali Dek? Gak usah kaku kayak gitu? Silahkan duduk kembali." Azam meminta kepada mereka untuk bersikap santai dan tidak usah terlalu formal maupun tegang seakan sedang di Intervew kerja.
Via dan Rudi pun turut mendaratkan bokongnya kembali di kursi.
"Kalian berdua ini, yang baru masuk tadi ya?" Tanya Azam.
"Iya kak, aku tinggal kamar bawah. Kamar yang pas dibawah tangga ini." Ucap Via.
Kamarnya Via ini kamar yang disebelah kiri, deretan bekas kamarnya Hendrik waktu dilantai bawah. Tepatnya kamar diujung lorong lantai bawah.
"Yakin tuh kalian tinggal disitu? Bukannya kamar itu gak ada jendelanya ya Dek?" Tanya Azam.
"Emangnya kenapa kak?" Ucap Via terlihat masih sangat polos.
"Gak apa-apa siih, cuma apa kalian gak merasa panas dan pengap disitu?" Ucap Azam.
"Oh kalo masalah itu, Rudi bawa exhaust dan Blower dari rumahnya kak." Ucap Via.
"Kenapa gak diatas aja Dek?" Tuh dikamar tengah sebelah gw masih kosong." Azam berkata sambil mengedutkan mata kearah kamar tengah.
"Gak kak, Rudi maunya disitu." Jawab Via.
"Emangnya, kalian berdua ini tinggal sekamar?" Tanya Azam polos sedikit kaget.
"Gak sih kak. Rudi itu orang sini koq kak. Itu rumahnya?" Via menunjuk ke genteng rumahnya Rudi yang bertingkat.
Rumahnya Rudi ini terletak empat rumah dari rumahnya Omah.
"Oooh, ternyata orang sini asli." Ucap Azam.
Sementara Rudi hanya diam, senyum dan menganggukkan kepalanya saja kalau sedang ditanya.
Hendrik pun paling anti untuk bertanya-tanya ini itu kepada orang baru.
Selama Azam meng-Interview Via tersebut, Hendrik hanya memperhatikan, bermain ponsel dan berjalan keluar masuk kedalam kamarnya.
"Lo sendiri asalnya dari mana dan kerja dimana Dek?" Ucap Azam.
"Asalku dari Padang kak. Rudi juga sebenarnya aslinya dari Padang juga. Hanya saja Orang Tuanya Rudi ini sudah memiliki usaha dan juga memiliki rumah disini." Jawab Via.
"Aku belum kerja kak. Masih sedang melamar kesini-kemari." Sambung ucapan Via.
"Oh gitu begitu." Ucapku.
"Ya udah kalo gitu Kak, kita turun kebawah dulu? Takut mengganggu soalnya." Ucap Via.
__ADS_1
"Iya Dek, silahkan." Ucap Azam.
Sejenak mereka berdua berdiri lalu berjalan menuruni tangga kebawah. Azam bersama Hendrik melanjutkan memasak sambil saling ledek-ledekkan kembali.