
Beberapa hari kemudian, tepatnya di hari selasa malam rabu. Sekitar jam setengah satu malam, aku mendadak merasa ngantuk. Aku mulai memejamkan mataku. Setelah beberap menit aku tertidur aku pun bermimpi.
...Di dalam mimpiku....
Disebuah daerah yang sama sekali aku tidak mengenalinya. Daerah tersebut seperti hutan dan gunung dengan berbagai candi kuno berwarna abu tua, setiap sembilan langkah akan menemui candi tersebut. Candi tersebut berukuran kurang lebih satu meter dan terletak di daerah datar sekitar pegunungan tersebut berada. Selain itu, terdapat aliran sungai yang mengarah ke arah timur dan barat, sungai tersebut terlihat seperti sungai alami bukan sungai irigasi.
Aku berlari ke daerah candi tersebut, hingga akhirnya aku berlari di sepanjang aliran, air sungai tersebut berwarna hitam. Tak berapa lama aku berlari, muncul sosok ular berwarna hitam pekat dengan ukuran yang sangat besar dan juga sangat panjang. Panjangnya melebihi dari lebar sungai tersebut.
Setiap aku berlari, ular tersebut menggelosor mengikutiku, aku berlari sangat kencang dan ular hitam besar tersebut terus menggelosor mengikutiku.
Hingga akhirnya aku berlari memasuki undagan area pegunungan, dan di setiap undagan pegunungan tersebut terdapat perkampungan yang terbuat dari bambu-bambu. Aku masuk dan mengumpat di salah satu rumah bambu tersebut. Dan ular tersebut menggelosor ke atas undagan rumah bambu tersebut. Hingga akhirnya ular besar tersebut menggelosor naik ke atas gunung.
Selepas dari pada itu, aku keluar dari rumah bambu tersebut, lalu berjalan ke undagan melewati jejak ular hitam besar tersebut menggelosor keatas. Aku berjalan lalu muncul di area pasar tradisional di jaman dahulu.
Yang mana, semua orang yang berada di pasar tersebut mengenakkan kain tapi yang digunakkan sebagai pakaiannya. Adapun seorang laki-laki yang berada di pasar tersebut menggunakkan pakaian sehelai kain putih yang di balut miring di badannya.
Tidak ada satu pun orang yang aku kenali, akan tetapi ada salah satu pria yang menghampiriku. Seorang bapak-bapak lumayan berusia dan hatiku berkata Ia adalah sepuh atau orang yang di hormati di tempat tersebut. Dia menyapa dan menghampiriku, sempat ada kata yang Ia katakan kepadaku. Namun aku lupa perkataannya.
Selepas dari pada itu, aku pun terbangun. Tepat jam setengah dua, aku terbangun. Aku langsung meminum air dan membaca ayat-ayat yang aku bisa.
Esok harinya. Hari dimana Jin itu berkuasa dan merasuki tubuh Rudi.
Aku terbangun dan langsung keluar dari kamarku. Aku duduk di kursi besi. Memey tengah mandi di dalam kamar mandi. Sementara Nina dan Hendrik sudah berangkat ke kerjaanya.
"Gila, ini kosan bagaikan sarang kelelawar yang lebih dari dua."
Lantai kosan, Meja, kursi besi, kursi makan, lemari piring penuh dengan kotoran kalong seakan ada yang sengaja menaburkannya. Padahal, selama aku dan Memey mengobrol hingga dini hari. Maupun dikala aku tidur hingga di jam empat, aku maupun Memey, tidak pernah melihat dua kalong tersebut membuang kotorannya.
Akan tetapi aku berfikir, mungkin saja dua kalong tersebut dapat membuang kotorannya sangat banyak dalam waktu yang cepat. Namun secara logika kurang masuk akal kalo kedua kalong tersebut dapat membuang kotorannya yang begitu banyak hanya dalam satu malam saja.
Memey keluar dari kamar mandi sambil memasang wajah rasa kesalnya. Memey masuk ke dalam kamarnya. Setelah mengganti pakaian, Memey keluar kembali dan duduk di kursi makan lalu menyalakan rokoknya.
"Jijik gw, udah beberapa kali ini gw menyiram kotorannya si Nina!" Ucap Memey dengan rasa kesalnya sambil mengeluarkan asap rokok.
"Gak tau apa! Kotoran darah itu bisa ngundang setan!" Ucap Memey kembali.
Aku merokok dan menyimaknya.
"Bilang tuh Kak, adek lo!" Ucap Memey ngegas.
Dikira Memey, sikap Nina bersikap biasa saja kepadaku. Padahal setelah kejadian pada Hendrik itu, Nina bersikap cuek kepadaku. Kalaupun melewati kamar dan bertemu aku, Nina tidak menegurku. Sebaliknya, aku pun bersikap seperti itu dan terus memperhatikan Nina.
"Iya, nanti gw bilangin." Ucapku dengan santai sambil mengeluarkan asap rokok.
"Emangnya udah berapa kali Mek lo nemuin kotorannya Nina?" Ucapku.
"Ada kali dua sampai tiga kali Kak!" Ucap Memey.
Sambil merokok aku pun sambil berfikir.
"Selain karena adanya rambut yang ada pada Hendrik, apa gara-gara Nina membuat kotoran darah plus pembalutnya sembarangan, ditambah bawaan Rudi. Sehingga mengundang hal-hal lain yang bersemayam disitu bermunculan dan menampakkan dirinya." Semakin banyak praduga yang muncul pada diriku dan aku mencoba untuk mengkaitkannya.
__ADS_1
Sekitar jam tiga sorean, aku dan Memey sedang mengobrol. Aku juga lupa kita berdua sedang mengobrol apaan pada waktu itu. Tak berapa lama kemudian disaat kita berdua sedang mengobrol tersebut.
"Tap, tap, tap." Via dan Aji berlari menaiki Tangga.
Via duduk di tengah-tengah kita berdua yang sedang duduk di kursi besi. Sementara Aji berdiri di depan Meja makan.
"Kak Mey, Kak Azam, Rudi sakit Kak!" Ucap Via dengan rasa kepanikannya.
Aku dan Memey langsung fokus menatap Via.
"Sakit gimana Dek?" Ucapku.
"Rudi gak bisa ngomong Kak. Rudi gak bisa menyebut. Tolong Kak, hayo liat Kak." Ucap Via dengan kepanikannya.
"Terus sekarang dia dimana?" Ucap Memey.
"Ada di Rumahnya Kak." Ucap Via.
Aku dan Memey berdiri dari kursi, lalu kita berempat segera berjalan menuju ke rumahnya Rudi.
"Itu Kak Rudi ada di dalam, tunggu sebentar ya Kak?" Ucap Via.
Via segera masuk ke dalam rumahnya Rudi.
Aku dan Memey berdiri didepan pintu gerbang rumahnya Rudi.
Kakak perempuannya Rudi keluar dari rumahnya menemui kita berdua.
"Rudi beberapa hari ini mengurung diri di dalam kamarnya. Setelah beberapa hari tersebut, Rudi gak bisa ngomong dengan lancar. Kita juga sudah memeriksakan dia ke Rumah Sakit, tapi katanya tidak ada penyakit Mas." Ucap Kakaknya Rudi.
Rudi berdiri di ruangan tamu menatap kita berdua sedang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Rudi menolak ajakan Via untuk menemui kita berdua dan hendak masuk ke dalam rumahnya.
Via berhasil mengajak Rudi keluar dari rumahnya menemui kita berdua. Mereka berdua berdiri di balik gerbang rumahnya.
"Ini Kak." Ucap Via.
Pandangan Rudi sangat kosong.
"Rud, coba kamu katakan Bismillah." Ucapku.
"Bi, bis, bis, bismi.." Rudi sangat terbata-bata dan terlihat sangat kelelahan untuk berkata Bismillah. Rudi sangat susah untuk mengucapkan bismillah dan tidak dapat meneruskannya.
Aku mengetesnya kembali.
"Coba Rud sebut nama gw Mulyazzam. Sebut nama Mulya nya aja Rud?" Ucapku.
"Mu, mu, mu, Mul.." Rudi tidak dapat mengucapkan namaku dan terlihat sangat kelelahan.
Sedangkan untuk menyebut nama Memey dan Via, dia sedikit terbata-bata namun bisa mengucapkannya.
"Vi, ajak ke dalam dulu suruh istirahat. Kasihan dia kelelahan." Ucapku.
__ADS_1
"Iya Kak." Ucap Via.
Via mengajak Rudi masuk ke dalam rumahnya. Via kembali keluar menemui kita berdua.
"Kita ke kosan dulu yuk sebentar?" Ucapku.
Kita berempat kembali ke kosan. Aku, Via dan Memey duduk bersebelahan di Kursi besi. Aji duduk di kursi makan.
"Awalnya gimana sih Dek?" Aku ingin mengetahui secara langsung dari Via.
"Jadi dia tuh habis di omelin lagi sama atasanku kak. Semenjak itu, dia mengurung diri dan tidak masuk kerja."
Aku dan Memey memang beberapa hari itu tidak melihat Rudi di Kosan.
..."Allah huakbar, allah hu'akbar." Suara Adzan Ashar berkumandang....
"Kita coba ajak Rudi untuk shallat Dek?" Ucapku.
"Bener tuh." Ucap Memey.
Lantas kita berempat kembali ke rumahnya Rudi.
"Uni coba di ajak untuk shallat." Ucap Via ke Uni.
"Udu.. udu.. Ayo udu." Ucap Rudi mengajak berwudhu.
Lantas aku dan Via bersama dengan Uni mengajak Rudi untuk berwudhu.
Sesampainya di dalam kamar mandi, aku sendiri yang memandunya untuk berwudhu. Via, Memey, Uni dan juga Aji berada di depan pintu kamar mandi.
"Ikutin ya Rud?" Ucapku.
"Bismillah.." Ucapku untuk Ia mengucapkan berniat berwudhu.
"Bi, bi, bi, bis.. I, i, i, lah." Ucap Rudi dengan nada yang terbata-terbata, terulang dan kelelahan. Sangat alot untuk mengucapkan Bismillah.
"Ya udah Rud, gak papa. Sekarang kamu cuci bagian tangannya." Aku memandukan tangan Rudi untuk berwudhu.
Selama aku berada di samping Rudi tersebut, keringat dingin bersama dengan nuansa merinding tiada henti dan jantung yang berdetak sangat kencang, turut menemaniku. Didalam hatiku pun terus membaca dzikir.
"Panas." Ucap Rudi ketika tangannya mengenai air wudhu tersebut. Seketika tangan Rudi langsung menghindari air wudhu dan tidak mau di gerakkan, terlihat kaku.
"Coba pelan-pelan Rud. Gw yakin lo bisa." Ucapku.
Rudi mencoba kembali mendekatkan tangannya ke air kran dan aku mencoba menyiraminya ke lengannya tersebut.
"Panas!" Ucap Rudi kembali ketika aku membasuhkan air wudhu tersebut ke lengannya.
Melihat akan hal tersebut, aku pun menyudahkannya berwudhu. Selepas berwudhu, kita shallat. Meskipun shallatnya Rudi tidak sampai selesai.
Tubuhnya terasa kaku. Jika Ia melakukan Wudhu maupun Shallat.
__ADS_1